
Pernikahan Marvin dan Ica telah di tunda. Tapi dengan bijak Hendro Adikara tetap melangsungkan resepsi pernikahan dangan pengantinnya putra calon besannya. Vano dan Elvita lah yang duduk di singgasana.
Ia telah meminta putrinya Spica Adikara untuk ikhlas dengan pernikahannya yang tertunda. Putrinya menerima dengan lapang dada.
"Mama putri kita telah kembali. Kita bisa bersyukur walaupun harus menunda pernikahan mereka." Kata Pak Hendro.
"Iya Yah, mumpung hari masih pagi. Mari kita ke aula melihat Vano yang sedang bersanding." Kata Mama Diana.
Saat mereka sedang berbincang, Dave dan Marvin datang setelah menerima telepon dari Beni.Tanpa sadar Marvin menghambur memeluk Ica dengan erat. Ia lupa bahwa di aula adiknya sedang bersanding di pelaminan.
"Sayang kemana saja kamu? Saya sudah mencari mu sampai tidak tidur." Bisik Marvin.
"Nanti saya ceritakan Bang. Sekarang kita bersiap ke aula, kasihan Bunda dan ayah. Pikir mereka saya belum di temukan." Kata Ica.
"Iya sayang." Jawab Marvin.
MUA kemudian merias diri Ica secara sederhana karena waktu tidak memungkinkan lagi. Sedang Marvin dan Dave berganti memakai jas. Mereka segera menuju aula terbuka milik keluarga Adikara.
Hanya Ronald yang masih setia di kamarnya. Setelah semalaman berjuang mencari keberadaan keponakannya itu.
Mendengar kabar Ica sudah berada di halaman rumah keluarga Adikara, Ronald bisa bernafas lega. Hari ini ia bisa membuang bisa kantuk dengan bebasnya. Walaupun di bawa ada acara resepsi pernikahan.
Rombongan keluarga Adikara tiba di aula. Semua mata tertuju pada mereka. Melihat hal tersebut Bunda Lusi langsung turun dari singgasananya dan memeluk Ica. Begitu juga Pak David yang terharu melihat calon menantunya telah kembali.
Para tamu undangan ikut terharu dengan kembalinya putri Adikara. Mereka mengagumi sosok gadis yang sangat beruntung tersebut.
"Kamu baik-baik saja Nak?" Bisik Bunda Lusi.
"Iya Bunda, saya baik-baik saja seperti yang Bunda lihat sekarang." Jawab Ica.
Selesai melepas rindu pada putri angkatnya tersebut. Suami istri Wiraarga itu kembali naik di tempat duduk mereka tadi.
Ica kembali berjalan menuju kursi tamu yang ada di depan. Ia menggandeng tunangannya dengan mesra dan mereka terlihat sangat serasi.
"Bang, kenapa semua tamu menatap ke arah kita?" Tanya Ica.
__ADS_1
"Karena kamu cantik sayang." Jawab Marvin.
"Ayo kita duduk di sana." Kata Ica.
Mereka duduk di kursi tamu yang tersedia. Sedangkan rombongan Tuan Adikara sudah duluan duduk di meja lain.
Dua keluarga tersebut nampak bahagia. Di sela-sela kegiatan yang di langsungkan. Marvin dan Ica berjalan menuju singgasana pengantin, ingin berfoto bersama adik mereka.
Saat proses foto berlangsung, ada terbesit rasa bersalah di hati Marvin. Singgasana tersebut seharusnya tempat mereka juga. Sekarang mereka hanya bisa melihat adik mereka yang berbahagia.
Tapi rasa itu tidak mengurangi kebahagiaan Marvin saat Ica kembali dengan selamat. Mereka berfoto bersama pengantin dengan berbagai gaya.
"Selamat ya Van. Pangeran penyelamat saya dulu." Goda Ica.
"Eits, tuh Vita udah cemburu." Kata Marvin menimpali.
"Enggak Vit, dulu memang awalnya Vano yang membawa saya bertemu keluarga Wiraarga. Kamu kan tau saya dulu seperti apa?" Terang Ica.
"Iya-iya. Untung saja saya hanya menganggap gadis ini tetap sebagai adik angkat. Yah, memang waktu itu Bunda sudah mengangkat Ica menjadi putri mereka." Goda Vano cengengesan.
"Ya udah kami mau berduaan dulu." Kata Marvin menarik tangan Ica.
"Hem. Jagain nanti hilang lagi." Goda Vano.
***
Di siang ini juga Barrak baru tiba di rumahnya. Karena ia mampir dulu di markas barunya. Tiba di rumah Barrak sangat terkejut ia menemukan Sean istrinya sedang menangis di dalam kamar mereka.
"Ada apa sayang?" Tanya Barrak lembut.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Barrak. Malah Sean semakin kencang menangis. Ia tidak menghiraukan pertanyaan dari Barrak.
"Sayang ada apa? Siapa yang membuat mu menangis?" Tanya Barrak lagi.
"Sayang, sebenarnya saya tidak pernah mengingatnya kembali. Namun mungkin bawaan bayi menjadi seperti ini." Kata Sean dengan tangis semakin menjadi.
__ADS_1
"Bawaan bayi bagaimana sayang? Kakak pasti berusaha mengabulkannya." Kata Barrak.
"Benarkah sayang? Apakah Kakak berjanji?" Tanya Sean.
"Iya sayang, demi bayi kita." Ucap Barrak kemudian.
"Dulu saya memiliki teman yang selalu membully saya, karena pada saat itu keluarga kami bisa di bilang miskin sekali. Karena ia dari keluarga yang serba ada. Suatu kali ia dan orang suruhannya pernah melempar saya ke dalam sumur hingga saya hampir meninggal saat itu." Kata Sean menghasut Barrak.
"Itu kan sudah lama sayang. Seharusnya di masa hamil ini kamu bisa lebih terbuka untuk memaafkan dia." Kata Barrak menenangkan Sean.
"Tapi saya tidak bisa tenang Kak. Saya ingin Kakak memberi dia pelajaran dalam waktu dekat." Kata Sean.
"Terus kemana kita harus mencarinya sayang? Dia itu teman mu loh." Barrak mengingatkan.
"Dia teman saya yang hampir menghilangkan nyawa saya. Jadi saya harus membalasnya agar dia tau bahwa Sean sekarang tidak bisa ditindas lagi. Saya sudah menyuruh orang untuk membawa perempuan itu kemari." Kata Sean berapi-api.
"Apa yang harus saya lakukan kepadanya nanti sayang?" Tanya Sean.
"Cukup kamu bermain dengan puntung rokok. Kemudian buang dia ke lautan biar di makan hewan laut." Kata Sean.
"Kamu serius sayang? Sampai sebegitu bencinya? Nggak baik loh pelihara dendam dalam waktu yang lama." Barrak kembali mengingatkan istrinya.
"Ah, sudahlah! Kakak mau bantu saya nggak sih? Jangan sampai ya saya bertindak sendiri dan membahayakan anak kita." Kata Sean dengan emosi.
"Apa nggak keterlaluan sayang? Apalagi teman mu itu perempuan." Tanya Barrak.
"Kakak lakukan saja yang saya minta. Atau saya akan pergi dari hidup Kakak dengan membawa calon anak kita." Ancam Sean.
Mendengar ancaman Sean yang akan membahayakan calon bayi mereka. Dengan terpaksa Barrak mengiyakan permintaan sang istri.
"Baiklah kalau begitu keinginan mu sayang. Saya tidak ingin kamu dan calon buah hati kita kenapa-napa. Siapa nama perempuan yang telah menyakiti mu itu sayang?" Tanya Barrak.
"Kamu tidak mengenalnya sayang. Tapi dalam beberapa hari ini, orang suruhan akan membawanya kemari. Kalau kamu tidak sanggup melakukannya, kita suruh saja mereka. Tetapi kita harus melihatnya secara langsung." Kata Sean.
"Terserah kamu saja sayang, saya ikut saja. Saya mau istirahat dulu soalnya sangat lelah hari ini." Kata Barrak.
__ADS_1
Setelah Barrak berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum beristirahat. Sean menatap cermin dan tertawa tanpa suara dengan wajah yang penuh amarah.