Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Adikara Group


__ADS_3

"Hem..Saya tidak tau Kak, mulai dari mana. Masalah saya sangatlah rumit." Jawab Ica menunduk.


"Saya mau ke kantor lagi, ayok kalau mau ikut saya. Nanti setelah pulang kantor baru saya bisa antar kamu." Kata Beni menawarkan.


"Saya di dini aja Kak, takutnya saya mengganggu di sana." Jawab Ica.


Beni yang mendengar Ica bersikap santun dan tidak ingin cari-cari perhatian kepadanya, membuat Beni mengagumi Ica. "Apa mungkin karena di tidak tau siapa saya sebenarnya yaa?" Tanya Beni dalam hati. "Baiklah akan ku tunjukan." Menjawab batinnya sendiri.


"Saya sangat senang jika kamu ikut dengan saya, sekedar melihat-lihat apa yang saya lakukan setiap hari. Tapi kalau kamu keberatan tidak apa-apa, kalau ada yang di perlukan minta tolong Bi Tuti." Kata Beni bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi, kasian juga kamu di tinggal sendirian." Kata Beni lagi.


Ica yang bajunya sedikit robek dan kotor di bagian tangan karena jatuh di jalan tadi. Bisa-bisa ia mempermalukan Beni jika ikut dengannya, meminjam baju pun itu tidak mungkin.


"Ada apa cantik?" Tanya Beni.


Beni yang tadi melihat Ica memegangi bagian lengan baju yang robek. "Pantas saja ia menolak diajak." Pikir Beni dalam hati.


"Oh..Iya, baju kamu robek yaa dek?" Gumam Beni.


"Baju di rumah ini semuanya baju laki-laki, Tidak mungkin juga memakai baju Bi Tuti..Mau pergi ke toko saya buru-buru." Gumam Beni.


Tanpa berpikir panjang Beni memakaikan jas miliknya ke tubuh Ica. Ia beradu pandang dengan Ica merasakan sesuatu yang berbeda. "Ahh..Gila mengapa dada ku bergetar menatap gadis ini?" Kata Beni dalam hati.


Beni yang memang tidak suka kepada wanita-wanita yang selalu mencari perhatian baik dari kalangan rekan bisnis maupun kalangan karyawan. Apalagi sekretaris yang di tunjuk ayahnya itu, Leni. "Akan ku perkenalkan dia sebagai kekasihku, Biar mereka panas dingin dan tidak mengganggu ku lagi." Gumam Beni.


"Ini nggak apa-apa Kak?" Tanya Ica.


"Iya, pakailah yang penting kamu nyaman. Walaupun kebesaran." Jawab Beni dengan senyumnya yang khas.


"Bi kami pergi dulu." Kata Beni setengah berteriak.


"Iya Den." Terdengar suara Bi Tuti dari dapur.


Beni membukakan pintu mobil untuk Ica, mereka melaju kekantor Beni. Karena tadinya Beni sudah kekantor dan pulang hanya mau mengambil berkasnya yang ketinggalan. Dalam perjalanan pulang itulah ia hampir menyerempet Ica.


Mereka sudah sampai di depan pintu kantor milik keluarga Adikara Group. Arbeni Adikara segera memarkirkan mobilnya di garasi khusus direktur dan pemilik perusahaan lain sebagai kolega.


"Sudah sampai Dek, silahkan turun permaisuri ku." Goda Beni yang sedari tadi memperhatikan Ica melamun.


"Oh, Iya Kak." Kata Ica

__ADS_1


Ica masih mengenakan Jas milik Beni, dan memakai rok selutut yang hampir tertutup dengan panjangnya jas. Ica berjalan di belakang Beni. Semua mata tertuju pada mereka. Beni melenggang santai masih menggunakan kemeja silver lengkap dengan celana hitam dan sepatu hitam mengkilat.


"Kak semua orang melihat kita." Bisik Ica mengejar Beni. Ia tidak enak menjadi pusat perhatian.


"Biarkan saja.. Berarti kita cantik dan ganteng, serasi." Jawab Beni.


Mereka sudah sampai didepan pintu ruangan Beni. Beni tiba-tiba membalikan badan dan hampir menabrak Ica yang mengikuti di belakangnya.


"Oh, Iya..Perkenalkan ini Ica, kekasih saya. Jadi barang siapa berani menggangu dia di kantor ini maupun di luar akan berhadapan dengan saya, Arbeni Adikara." Terang Beni.


"Ayok, masuk sayang." Ajak Beni.


Semua karyawan berbisik-bisik, terutama para wanita yang mengidamkan Beni pewaris tunggal perusahaan Adikara Group menjadi pasangan mereka. Mereka seolah baru terbangun dari mimpi indah. Begitu juga dengan Leni maryani sedang marah-marah sendiri dalam ruangannya.


"Kenapa Kakak bilang kayak gitu ke mereka?" Tanya Ica.


"Karena kamu cantik." Jawab Beni.


"Biar mereka tidak mengganggu kamu, Saya harus rapat dulu Ica sayang." Beni keluar ruangan tanpa menunggu jawaban dari Ica.


Ica duduk di sofa yang ada dalam ruangan kerja Beni. Ia hanya menonton televisi untuk sedikit melupakan apa yang di lihatnya tadi pagi. Hampir satu jam akhirnya Beni kembali ke ruangannya bersama sekretaris Leni.


"Sayang, sudah mendingan?" Tanya Beni sengaja di hadapan Leni.


"Leni, perkenalkan Spica pacar saya." Kata Beni.


Leni yang geram melihat hal itu. Tetapi tetap ia menekan emosinya. Mengingat Arbeni adalah bos di perusahaan dia bekerja saat ini.


"Leni, Senang bertemu dengan mu." Kata Leni sehalus mungkin.


"Oh, iya..Pak saya masih ada pekerjaan, saya pamit kembali keruangan saya." Kata Leni lagi.


Bukan karena ada pekerjaan menunggunya, tapi karena Leni tidak tahan berlama-lama melihat Ica dan Beni. "Lebih baik dia pergi." Pikirnya.


"Sepertinya kamu nyaman pakai jas saya?" Gurau Beni kepada Ica.


Sebenarnya suhu ruangan memang sangat dingin. Karena Beni biasa keringatan saat di dalam ruangan, dia lupa mengaturnya saat meninggalkan Ica. Beni melihat Ica memakai jasnya dengan di kancing rapi.


"I-iya Kak maaf. Tadi Ica kedinginan, Ica gak bisa mengatur suhu AC nya, soalnya di desa Ica hanya ada kipas angin." Jawab Ica mau melepaskan Jas Beni yang ia kenakan.


"hehe.. Nggak usah pakai aja. Kalau masih dingin sini Kakak peluk." Kata Beni cengengesan.

__ADS_1


"Hem..." Gumam Ica.


"Saya masih ada kerjaan sebentar, Gak apa-apa yaa Ca."


"Iya Kak." Jawab Ica singkat.


Sekitar setengah jam pekerjaan Beni selesai. Ia mengemasi barang yang harus di bawa ke rumah.


"Ayok Ca, Pekerjaan saya sudah selesai." Ajak Beni.


Ica yang dari tadi memikirkan sesuatu akhirnya tersadar.


"Iya Kak, ayok." Kata Ica.


Beni dan Ica keluar dari kantor tanpa menghiraukan banyak mata yang menatap mereka. Beni mempersilahkan Ica asuk kedalam mobil. Ia segera melajukan kendaraannya.


"Ica rumahmu dimana dek? Biar Kakak antar sekarang." Kata Beni.


"Saya tidak punya rumah Kak." Kata Ica.


"Gimana ceritanya kamu tidak punya rumah? Setidaknya tempat tinggal di kota ini, dari penampilanmu juga anak baik-baik." Kata Beni menyelidik.


"Rumit jika di ceritakan Kak. Terimakasih untuk bantuannya hari ini, sebaiknya saya turun di sini saja." Kata Ica.


"Ceritakan lah." Pinta Beni.


"Sebenarnya saya dari desa Kak. Saya ke kota ini berniat ingin kuliah. Saya di berikan beasiswa oleh orang tua angkat saya. Tapi anaknya meminta saya untuk bertunangan dengannya. Akhirnya saya menerima pertunangan itu. Dan Kakak tau hari ini saya melihat tunangan saya bermesraan dengan kekasihnya yang baru kembali."Tangis Ica pun pecah.


Tiba-tiba Beni ngerem mobilnya mendadak. Ia lalu membawa Ica dalam pelukannya.


"Gadis Cantik, jangan nangis lagi yaa." Kata Beni.


"Tidak apa-apa Kakak akan mengantarmu. Kalau mereka tidak mau menerima mu biarlah Kakak ganteng mu ini yang memberi pelajaran pada mereka semua. Senyum dong..." Beni sedikit menghibur Ica.


"Alamat rumahnya di mana?" Tanya Beni.


Ica menyebutkan alamat keluarga Pak David dan Bunda Lusi dimana ia selama ini tinggal. Beni yang merasa tidak asing dengan alamat tersebut ia merasa kaget. Beni tau bahwa David adalah rekan bisnis ayahnya. Dan setau Beni hanya ada satu anak dari David tersebut yaitu Marvinno yang dulu semasa kuliah selalu ingin bersaing dengannya. "Apa mungkin?" Gumam Beni.


"Kak, Kakak tau alamatnya? Atau Kakak kenal dengan keluarga Bunda Lusi?" Tanya Ica.


"Hem.. Enggak cantik. Perut Kakak sedikit mules." Kata Beni berbohong.

__ADS_1


"Kita pulang ke rumah Kakak sebentar untuk minum obat." Kata Beni.


Dalam hatinya Beni ingin memastikan apakah Bunda Lusi yang di maksud Ica adalah Ibunya Marvinno. "Selain saya memang menyukai Ica, saya ingin membuat Marvin sakit hati seperti saya dulu." Gumam Beni sambil melajukan mobilnya.


__ADS_2