Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Nyonya Adikara


__ADS_3

Nyonya Diana menuju pintu utama rumah. Ia kemudian membuka untuk melihat siapa yang datang.


"Nak Marvin?" Kata Nyonya Diana terkejut.


"Siapa Ma?" Tanya Beni setengah berteriak.


"Ada Nak Marvin, Ica sayang ada Abang mu." Jawab Mama Diana.


"Nak Marvin, mari silahkan masuk." Kata Nyonya Diana.


Marvin mengikuti Nyonya Diana, mereka duduk di ruang tamu. Sedangkan Ica mendekati mereka.


"Sayang, kenapa masih berdiri di sana? Gak kangen sama Abang mu? Duduklah." Kata Mama Diana menggoda anak gadisnya.


"Iya Ma." Jawab Ica.


"Sebentar ya Mama ambilkan minum dulu." Kata Mama Diana.


Beni tidak beranjak dari ruang TV. Sedangkan Mama Diana kebelakang mengambilkan minum untuk tamunya.


"Ca kamu masih marah sama abang?" Tanya Marvin.


"Enggak." Jawab Ica singkat.


"Jadi kenapa nggak pulang ke rumah?" Kata Marvin.


"Sebentar lagi Ica pulang kok," Jawab Ica.


"Lagian tadi Kak Beni sudah minta izin sama Bunda." Jelas Ica.


"Sama Bunda? Sudah izin sama Bunda?" Tanya Marvin dengan mata terbelalak.


"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Ica balik.


"Bunda bilang tadi gak tau, kamu belum pulang dari kampus. Makanya saya ke kampus baru berinisiatif datang ke sini. Buat orang khawatir saja." Kata Marvin.


"Ica udah izin sama Bunda." Kata Ica malas berdebat.


"Kan bisa telepon Abang, Ica. Kamu anggap saya nggak sih?" Kata Marvin pelan tapi dengan nada meninggi.


"I-ya udah Ica minta maaf ya, Abang Marvin." Kata Ica.


Sebenarnya Ica mau menelepon Marvin. Tapi Ia ingat tadi malam Marvin mengusirnya. Bahkan jelas-jelas tidak ingin melihatnya lagi.

__ADS_1


"Nak Marvin, silahkan di minum? Ada apa sampai repot-repot datang kemari?" Tanya Mama Diana.


"Enggak Tante, kebetulan tadi lewat sini. Siapa tau Ica mau pulang bareng Marvin Tante." Kata Marvin berbohong.


"Marvin, Mama masih sangat merindukan Ica. Tolong ya Nak, malam ini Ica menginap di sini." Pinta Mama Diana Kepada Ica.


"Hem. Iya Ma." Jawab Ica.


"Nak Marvin juga menginap di sini ya. Sekali-sekali kan nggak apa-apa. Masih banyak kamar di rumah Mama ini." Kata Mama Diana.


Nyonya Diana sudah menganggap Marvin sebagai anak menantunya. Ia tidak membedakan status sosialnya yang lebih tinggi di banding keluarga Wiraarga.


Bagi Nyonya Diana, sudah cukup Ica menderita di luar sana. Ia tidak tega jika harus memisahkan Ica yang sudah terikat pertunangan.


"Tapi Tante, saya pulang saja soalnya tidak membawa pakaian ganti." Tolak Marvin Halus.


"Gak usah dipikirkan Nak Marvin, itu ada satu lemari pakaian Beni yang belum di pakai sama sekali,"Kata Nyonya Diana.


"Jangan menolak lagi Nak. Kami ini orang tua mu juga. Sepertinya Ica ini gak betah kalau tidak sama kamu." Goda Mama Diana.


Ica menunduk, ia tidak tau apa yang akan dilakukan orang tuanya ini. Seandainya memang Marvin tidak mencintai Ica.


"Ya sudah, Mama mau istirahat dulu. Kalian kalau mau ngobrol di taman belakang silahkan." Kata Mama Diana.


Mama Diana menuju kamarnya di lantai atas. Sedangkan Arbeni mematikan televisi lalu pergi keluar rumah.


"Iya, kenapa kamu terima tawaran Mama untuk menginap disini?" Tanya Ica.


"Biar dekat-dekat sama kamu." Jawab Marvin.


"Kekasih mu sudah kembali." Kata Ica.


"Huss... Jangan dibahas lagi. Kamu dengar kata Mama Diana tadi, Ica gak betah kalau tidak ada Marvin didekatnya." Kata Marvin cengengesan.


"Jadi, kalau Ica sayang sama Abang. Bisa Abang semena-mena sama Ica?" Tanya Ica.


"Nggaklah sayang, sebenarnya Abang lah yang gak bisa hidup tanpa mu." Kata Marvin sungguh-sungguh.


Hari sudah sudah sore. Mama Diana sudah bangun dan turun. Tidak lama Kemudian Pak Hendro pulang dari kantor.


"Selamat sore Om." Sapa Marvin.


"Kapan kalian kesini Nak?" Kata Pak Hendro.

__ADS_1


"Tadi siang Pa." Jawab Ica.


"Oh iya. Kan rame rumah Papa kalau begini. Semoga kalian betah." Ujar Pak Hendro


"Iya Pa." Jawab Ica.


"Maaf ya Nak, sore ini Papa belum bisa temani kalian ngobrol. Papa hanya pulang untuk istirahat sejenak. Nanti habis magrib Papa harus berangkat lagi." Kata Pak Hendro dengan perasaan bersalah.


"Iya Pa, tidak apa-apa." Ica memeluk Pak Hendro.


"Terimakasih sayang, Papa lebih semangat sekarang.


*************


Keesokan harinya Nyonya Diana sudah siap berangkat ke kampus tempat Ica berkuliah. Ia diantar oleh supirnya, duduk di belakang bersama Ica. Sedangkan Marvin mengiringi dari belakang.


Sesampainya mereka dihalaman kampus. Nyonya Diana meminta sopir memarkirkan mobilnya di samping mobil rektor. Di ikuti mobil Marvin.


Nyonya Diana menggenggam dengan erat tangan Ica. Seolah menandakan Ia pernah kehilangan anaknya dan tidak ingin hal itu terulang lagi. Sedangkan Marvin mengikuti mereka dibelakang.


Nyonya Diana segera menemui Bapak rektor. Ia menanyakan perihal Dosen yang bernama Rengga Anugrah dan Jasean di kampus tersebut.


Tidak lama kemudian kedua Dosen itu sudah ada di ruangan rektor. Di sana sudah ada Bapak Rektor dan kedua pembantunya, Nyonya Diana, Ica, dan Marvin.


"Silahkan duduk." Bapak pembantu rektor I mempersilahkan Dosen Sean dan Dosen Engga.


"Silahkan Ibu Adikara, apa yang apa yang mau disampaikan?" Kata Pak Rektor.


"Sebelumnya kenalkan Pak. Ini anak Saya Spica dan ini tunangannya Marvin." Kata Nyonya Diana memulai pembicaraan.


Sean melihat Marvin duduk sendirian di samping Nyonya Diana. "Marvin semakin susah membuatmu kembali lagi kedalam pelukanku, tapi Sean akan terus berusaha bagaimanapun caranya." Kata Sean dalam Hati.


Ia terus memperhatikan Marvin. Sedangkan Marvin mengalihkan tatapannya kepada dinding ruangan Kepala Universitas tersebut.


"Begini, Bapak Rektor yang terhormat. Saya mendapat laporan bahwa anak saya sudah mengalami bullyan dari oknum Dosen. Seandainya pun bukan anak saya yang mengalami, tentu hal ini pun tidak bisa di benarkan. Silahkan minta penjelasan dari mereka." Kata Nyonya Diana tegas.


"Baik Bu, segera kami proses." Kata Bapak Rektor.


"Oh, ya Pak. Saya minta dengan sangat pengawasan bagi anak saya Spica Utami Adikara. Dan satu lagi anak kami Revano Wiraarga yang juga berkuliah disini." Kata Nyonya Diana.


"Iya Bu, siap akan kami catat." Jawab Pak Rektor.


"Ok Pak, tolong berikan tindakan tegas. Kalau tidak jangan salahkan saya, jika suatu hari universitas ini saya ambil alih." Ancam Nyonya Diana kepada Rektor.

__ADS_1


Sean hanya bisa menelan salivanya mendengar ancaman Nyonya Adikara tersebut. "Rektor pun bisa diancam, Kaya sekali keluarga Adikara ini." Gumam Sean dalam hati.


Lain dengan Sean, Dosen Engga sesekali memperhatikan Ica. "Seperti anak pipit dalam pelukan harimau, kamu ca. Beruntung sekali memiliki orang tua sekaya Nyonya Adikara." Kata Dosen Engga dalam hati, kemudian ia tersenyum tipis.


__ADS_2