
Sean dan Barrak keluar dari klinik dokter kandungan. Barrak sangat senang akhirnya istrinya menerima permintaanya. Ia berusaha menjadi yang terbaik untuk sang istri dan berjanji akan meninggalkan dunia malamnya ketika bayi mereka lahir.
Berbeda dengan Barrak, Sean justru sedang mencari cara agar pulang ke negara asal secepat mungkin. Karena sehari yang lalu anak buahnya sempat mendengar percakapan Tuan dan Nyonya Adikara saat di bandara.
Rencana pernikahan Marvin yang akan di laksanakan beberapa hari lagi, bagai cambuk panas yang menghujam dadanya. Rencana nya sudah bulat hari ini atau besok ia harus sampai di negara asal bagaimana pun caranya.
"Terimakasih sayang, kamu telah menjadi istri terbaik untuk saya." Kata Barrak.
"Iya sayang, semoga setelah ada anak kita. Kamu berhenti berkunjung dengan banyak wanita. Dan kamu juga tidak royal lagi dengan perempuan lain di luaran sana." Kata Sean.
"Memang sejak menikah saya tidak melakukannya. Kalau bukan atas permintaan kamu sendiri." Bela Barrak.
"Iya sayang saya mengerti. Terimakasih sudah mencintai saya." Kata Sean.
Dari klinik kedua suami istri itu pulang ke kediaman mewah mereka. Mampir sebentar karena Sean ingin mengambil sebuah koper kesayangannya.
"Sayang, kenapa harus membawa koper? Bukannya di rumah kita banyak sekali koper." Kata Barrak.
"Kak, saya mau pulang ke negara asal hari ini juga atau paling lambat besok." Kata Sean.
"Sekarang belum dua minggu? Mengapa kamu harus buru-buru pulang ke negara mu?" Tanya Barrak pada istrinya.
"Saya rindu rumah, rindu mengirup udara segar taman di negara saya." Kata Sean.
"Tapi kan sebentar lagi sayang, kurang lebih seminggu lagi. Saya takut anak kita kenapa-kenapa di dalam." Kata Barrak ingin meluruhkan hati istrinya.
"Tapi tinggal di sini lebih lama, membuat saya suntuk dan membuat saya stres. Jika saya stres bayi ini juga ikut merasakannya, apa kamu mau calon anak kita terganggu kerena ibunya stres?" Kata Sean mengiba kepada suaminya.
"Baiklah, tapi saya belum bisa menemani mu sayang. Sekitar dua atau tiga hari lagi saya akan menyusul." Kata Barrak.
"Baik Kak. Terimakasih sudah mengerti, saya akan mengemasi barang-barang terlebih dahulu. Sisanya tolong Kakak nanti yang bawa." Kata Sean.
__ADS_1
"Iya sayang." Jawab Barrak singkat.
Sebenarnya Barrak sedikit kesal dengan Sean. Hanya menunggu tiga hari lagi Sean tidak mau. Namun ia juga berusaha memahami keadaan istrinya yang sedang mengandung tersebut. "Mungkin saja emosi naik turun di rasakan setiap wanita yang akan menjadi seorang ibu." Pikir Barrak dalam hati.
Barrak membantu Sean mengemasi barang-barangnya. Kemudian ia mengantar Sean ke bandara.
"Sayang, jangan nakal di sana ya. Saya titip anak kita jaga dia baik-baik." Kata Barrak sambil melayangkan ciuman di kening Sean.
"Iya sayang, pasti saya akan jaga diri." Kata Sean.
Barrak melihat punggung Sean memasuki ke dalam pesawat yang akan lepas landas. Sedang Sean tersenyum lega saat bisa mengelabui Barrak suaminya, sang mafia kejam yang di takuti hampir sepertiga penduduk yang bermukim planet bumi.
Sean membayangkan betapa cinta seorang Barrak kepada dirinya. Namun rasa cinta itu di pandang hal bodoh oleh Sean. "Mungkin seperti inilah Marvin memandang saya, tapi saya tidak akan menyerah. Setelah mendapatkan harta Barrak, saya akan melenyapkannya." Kata Sean dalam hati.
Sean memandang awan dari kaca-kaca pesawat. Kadang terlintas di pikirannya bahwa Barrak adalah jodoh yang telah di pilih Sang Pencipta untuknya. Namun mengingat putri Adikara telah merebut Marvin darinya rasa sakitnya membuat ambisinya semakin menjadi.
Walaupun dalam hati nurani Sean, ia mengakui bahwa dirinya lah yang membuat Marvin seperti saat ini. Dirinya meninggalkan Marvin dan membuatnya patah hati dan sakit selama bertahun-tahun.
Masalah kehamilan sungguh Sean tidak suka. Benih siap tumbuh dalam dirinya, ia pun tidak ingin memastikan.
Lama Sean memikirkan kehidupannya. Pesawat yang membawa dirinya terbang ini akan segera mendarat. Suara peringatan dari tim penerbangan membuyarkan lamunan Sean. Ia pun bersiap-siap memperbaiki duduknya.
Lima belas menit kemudian Sean sudah duduk di kursi tunggu bandara. Ia segera menghidupkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
Setelah ponsel di nyalakan, terlihat pesan masuk. Sean mengerutkan kening membacanya.
"Sayang, kamu di mana? Saya sangat merindukan mu. Ayo kita mengulang kembali asmara kita yang tertunda. Saya tunggu di tempat biasa sayang, jangan mencoba pergi begitu saja. Karena bukti kita pernah melakukannya ada di tangan saya. Sekali memiliki akan tetap memiliki." Kata dari pesan whatsapp tersebut.
Sean mengusap wajahnya gusar, pertemuannya dengan Lekzo membuat pria itu semakin tidak tau diri. Sean mengambil ponselnya lalu berusaha mengetik sesuatu.
Ia tidak ingin Lekzo mengancamnya. Bagaimanapun juga laki-laki itu hanya pria bayaran. Jangan sampai dirinya terjebak dalam permainan pria tidak jelas tersebut.
__ADS_1
Belum sempat Sean menekan tombol kirim. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada nomor baru yang menelponnya.
"Halo, ini dengan siapa ya?" Tanya Sean.
"Apa kamu benar-benar tidak mengenali suara saya Baby?" Kata Lekzo dari sambungan telepon.
"Maaf siapa ya? Soalnya nomer baru." Kata Sean singkat.
"Maaf sayang, saya sedang butuh kamu sekarang. Saya jemput di mana?" Tanya Lekzo.
"Saya sudah kembali ke negara asal, itu artinya hubungan kita telah berakhir." Kata Sean.
"Tidak semudah itu sayang, saya akan mencari mu sampai ke ujung dunia sekali pun. Atau jangan-jangan benih yang kita tanam telah berkembang sayang?" Tanya Lekzo.
Sean yang jengkel segera mematikan sambungan teleponnya. Ia tidak ingin berlama-lama lagi mengobrol dengan pria tersebut. Perkataannya akan semakin membuat ia stres dan pusing.
Lama Sean duduk di kursi tunggu bandara. Ia memikirkan tentang peringatan Lekzo pria bayaran itu. "Siapa dia sebenarnya?" Tanya Sean dalam hati.
Ia teringat akan menelpon seseorang setelah sampai. Sean kembali mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Halo, saya sudah kembali ke negara asal. Bagaimana sudah kamu bereskan?" Tanya Sean.
"Rencananya malam ini Bos." Kata Orang dari sambungan telepon.
"Baiklah kamu selesaikan putri Adikara tersebut. Jika tidak di bereskan makan besok lusa saya akan sedikit mengotori tangan saya." Kata Sean.
"Baik Bos, biar saya yang akan melaksanakan misi malam ini. Jangan sampai Bos terseret ke dalam masalah yang tidak seberapa ini." Kata Orang tersebut.
"Baiklah saya tunggu kabar baik dari mu. Saya juga sangat lelah hari ini. Cepat suruh anak buah mu menjemput saya di bandara." Kata Sean.
"Baik Bos, sebentar lagi salah satu dari anggota kita akan menjemput Bos." Kata Orang itu.
__ADS_1
Sean segera memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak mengucapkan salam, kemudian ia memasukan kembali ponsel ke dalam tas kecil miliknya.