
Ica sudah beberapa hari menginap di rumah Bunda Lusi. Orang tuanya Pak Marjoyo dan Ibu Asmi sudah pindah ke rumah baru mereka.
Sedangkan Nyonya Diana dan Tuan Hendro sudah terbang lagi keluar negeri. Tinggal Kak Beni tinggal di rumah besar itu sendirian.
"Bang, kok badan Ica sakit semua ya?" Tanya Ica.
"Gak apa-apa sayang. Nanti juga pulih." Kata Marvin.
Marvin memijit punggung Ica. Mereka membersihkan diri, kemudian turun ke bawah untuk sarapan.
"Bi, Bunda sama Ayah sudah berangkat?" Tanya Marvin.
"Sudah Den." Kata Bibi Nina.
"Kalau Vano?" Tanya Marvin kemudian.
"Den Vano juga sudah berangkat." Kata Bibi Nina lagi.
"Hem... Baiklah Bibi, terimakasih masakannya." Kata Marvin.
"Sama-sama Den." Jawab Bibi Nina.
Marvin dan Ica menyantap nasi goreng yang di buat oleh Bibi Nina. Mereka sangat sepertinya sangat lapar.
"Ca bagaimana kalau aset Ayah tidak terjual?" Tanya Marvin.
Ica Hanya diam menunduk. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai Marvin harus menikah dengan orang lain.
"Ica nggak tau Bang." Jawab Ica.
"Atau seandainya terjual juga, keluarga Abang bukan orang berada lagi. Apa kamu masih mau?" Tanya Marvin.
Ica masih menunduk dan berdiam diri. Marvin memegang wajah Ica dengan kedua tangannya.
"Sayang kenapa nangis?" Tanya Marvin.
"Bagaimana kalau Abang benar-benar harus menikah dengan Sean?" Tanya Ica.
"Kita hanya bisa berdoa sayang, semoga takdir berpihak pada kita." Jawab Marvin.
***********
Kesehatan Sean nampaknya sudah membaik. Hari ini Ia di pindahkan ke ruang perawatan.
Setelah melakukan beberapa tindakan operasi di bagian tangan dan kepala atas telinga. Tuan Alex dan Nyonya Theresia selalu di samping putrinya itu.
"Mom, apa Marvin sudah mau menikahi Sean? Tanya Sean.
"Maaf sayang, kemarin belum bertemu dengan Marvin langsung." Kata Nyonya Theresia.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Mom?" Tanya Sean lagi.
"Daddy akan menelepon Pak David nanti setelah dokter masuk." Jawab Nyonya Theresia.
"Janji ya Dad. Sean nggak mau kehilangan Marvin." Kata Sean memelas di hadapan orang tuanya.
"Iya sayang, pasti Daddy usahakan." Jawab Tuan Alex.
Sean menginginkan Marvin menjadi suaminya. Walaupun Sean sadar bahwa Ia yang telah berkhianat dulu kepada Marvin.
Tuan Alex keluar sebentar dari ruangan. Ia berniat menghubungi David Wiraarga dari ponselnya. Tidak sampai hitungan menit sambungan telepon diangkat oleh nomor tujuan.
"Halo, selamat siang Tuan David?" Kata Mr. Alex Dari sambungan telepon.
"Selamat siang, Tuan Alex." Jawab Pak David.
"Bagaimana keputusan Marvin putra Tuan David Wiraarga?" Tanya Mr. Alex.
"Maaf Tuan, tapi sekarang Marvin belum berencana untuk menikah." Kata Pak David.
"Jadi bagaimana? Berikan penjelasan kepada kami." Kata Mr. Alex dengan nada meninggi.
"Maaf Tuan, dalam waktu dekat ini Marvin belum siap menikah." Kata Pak David menegaskan.
"Belum siap menikah? Atau tidak ingin menikah dengan putri kami? Ini sungguh penghinaan?" Kata Mr. Alex.
"Maaf atas keputusan anak kami Tuan Alex." Kata Pak David.
"Maafkan kami Tuan." Kata Pak David berulang kali.
"Baiklah, kalau itu keputusan kalian. Saya akan menghitung semua hutang perusahaan kalian kepada Alseanse Group. Saya beri waktu satu minggu untuk melunasinya." Kata Mr. Alex.
"Baiklah." Jawab Pak David.
Mr. Alex segera mematikan ponselnya dengan geram. Tidak Ia sangka akan menerima penolakan ini dari keluarga Wiraarga.
Ia kemudian masuk ke ruang rawat Sean dan memanggil istrinya. Wajahnya yang sudah sangar akan bertambah ketika orang setengah bule itu marah.
"Bagaimana Dad?" Tanya Nyonya Theresia.
"Anak sialan itu bisa-bisanya ia menolak Sean." Kata Mr. Alex mengusap kepalanya yang plontos.
"Hah... Kok bisa Dad?" Tanya Theresia tidak kalah terkejutnya.
"Saya akan menarik segala saham dan hutang mereka, kepada perusahaan kita.Sudah saya beri waktu satu minggu. Biar jadi gembel sekalian." Kata Mr. Alex emosinya meledak.
"Dad, bagaimana dengan Sean putri kita?" Kata Nyonya Theresia khawatir.
"Sean tidak perlu lagi memikirkan laki-laki itu, masih banyak yang lebih dari pada dia." Kata Mr. Alex.
__ADS_1
Kalau suaminya sudah marah besar. Ia tidak bisa lagi menenangkannya.
"Jangan beritahu dulu kepada Sean." Kata Mr. Alex.
"Baiklah Dad." Jawab Nyonya Theresia.
Nyonya Theresia masuk kedalam ruangan Sean di rawat. Mereka sepakat untuk merahasiakan kenyataan ini sementara.
Sedangkan Mr. Alex mondar-mandir di kali lima rumah sakit. Ia berpikir bagaimana cara menjatuhkan keluarga Wiraarga ini.
Berselang beberapa waktu kemudian. Sebuah telepon panggilan masuk di ponselnya. Setelah Ia melihat siapa yang menelepon. Mr. Alex mengangkat ponselnya.
"Selamat siang, Big Bos." Sapa Mr. Alex dari sambungan telepon.
"Selamat siang. Kabarnya anda sedang di negara ini? Kapan kembali? Bagaimana perusahan di negara K?"Kata orang yang di panggil Big Bos oleh Mr Alex.
" Iya, Big Bos. Putri kami mengalami kecelakaan." Jawab Mr. Alex.
"Bagaimana keadaan putri anda?" Tanya orang itu.
"Sudah dalam proses pemulihan Bos." Jawab Mr. Alex.
"Syukurlah kalau begitu. Kebetulan Mr. Alex ada di negara ini, Saya punya tugas buat anda." Kata orang tersebut.
"Baik Bos, dengan senang hati." Jawab Mr. Alex.
"Saya mendengar kabar bahwa keluarga David Wiraarga sedang dalam masalah keuangan. Saya tugaskan kamu untuk memberikan uang, bagaimana caranya agar identitas anda maupun saya tidak terlacak oleh keluarga David." Kata orang tersebut.
"Apa hubungan Bos dengan keluarga itu?" Tanya Mr. Alex penasaran.
"Hubungan saya dengan mereka tidak usah di cari tau, tugas anda hanyalah memberikan uang itu." Kata orang tersebut.
"Berapa jumlahnya Bos?" Tanya Mr. Alex.
"Satu triliun, mata uang negara kita." Kata orang tersebut.
"Siap Bos. Segera saya laksanakan." Jawab Mr. Alex.
"Jangan sampai ada terlihat identitas dari siapapun. Saya jadikan makanan blecky mata Anda nanti." Ancam orang tersebut.
"Baik Bos." Jawab Mr. Alex.
"Baiklah, selamat siang. Saya transfer untuk biaya berobat putri anda. Nanti di bilang saya Bos yang kejam." Kata orang itu.
"Baik Bos. Terimakasih." Jawab Mr. Alex.
Sambungan telepon sudah terputus. "Sial, siapa sih David ini? Hingga Big Bos saja tau masalah dia?" Kata Mr. Alex menggerutu.
Mr. Alex tambah pusing. Ia berpikir kalau uang ini dikasih tentu dengan mudah David membayar hutangnya. "Bos, memang baik kepada saya. Tapi mengapa baik juga kepada si bangsat David." Gumam Mr. Alex sambil meninju tembok kamar mandi rumah sakit.
__ADS_1
Mr. Alex menyandarkan tubuhnya ke tembok. "Bos, siapa anda? Puluhan tahun saya berkerja, puluhan juga perusahan anda saya jalankan. Tapi saya belum melihat wajah anda." Gumam Mr. Alex semakin geram.
Ia kemudian keluar dari kamar mandi. Berusaha menenangkan pikirannya. Kemudian masuk ke kamar tempat Sean dirawat.