
Pagi ini Ica mengurungkan niatnya untuk ke rumah keluarga Adikara. Pasalnya Ia harus ke kampus karena sudah banyak tugas yang harus Ia kumpulkan.
"Bang Vano, boleh Ica bareng ya berangkatnya?" Tanya Ica sudah siap.
"Boleh dong, silahkan naik tuan putri." Kata Vano membuka pintu mobil untuk Ica.
Tidak sampai setengah jam mereka sudah berada di parkiran kampus. Vano langsung berpamitan kepada Ica. Karena sekarang Ica sudah hafal dengan lingkungan kampus.
"Dah Ca... Abang duluan ya, nanti telepon kalau mau pulang." Kata Vano.
"Iya Bang." Jawab Ica melambaikan tangan.
"Hai... Ica, bareng yuk." Milka mengagetkan Ica.
"Ayok." Jawab Ica menggandeng tangan Milka.
"Kemana saja tidak ke kampus dia hari ini?" Tanya Milka.
"Ada urusan, Milka sayang." Kata Ica tersenyum.
Tiba-tiba dari belakang ada sebuah mobil hampir menyerempet Ica dan Milka. Mobil itu berhenti tepat di samping Ica.
"Miss Sean, Ca. Kenapa dia mau menyerempet kita? Padahal jalan masih luas." Bisik Milka.
"Nggak tau juga Mil." Kata Ica pelan.
Seorang wanita turun dari mobil, Ia adalah Miss Sean dosen Ica dan Milka. Hanya saja Milka tidak tau, Sean adalah kekasih tunangannya Marvin.
Seorang laki-laki tetap di dalam mobil. Ia adalah Rengga Anugrah, salah satu dosen fisika di kampus ini.
Miss Sean terlihat mendekati Ica. Milka hanya berdiam diri mematung. Sedangkan Ica nampak tenang, tidak ada rasa takut menghadapi Dosen muda itu.
"Hei kamu, saya minta kamu tinggalkan Marvin, atau kamu tidak akan pernah lulus di kampus ini." Ancam Miss Sean.
Ica masih menunduk, Ia mencerna baik-baik perkataan wanita yang ada di depannya. Ica sangat terkejut ketika Sean menghubungkan masalah pribadi dengan urusan kampus.
"Kamu dengar nggak perkataan saya?" Kata Sean dengan nada tinggi.
"Maaf Miss, saya mendengar tapi saya tidak mau menanggapi perkataan Miss pagi ini. Saya takut mood saya jadi gak baik saat belajar nanti." Kata Ica tetap menunduk.
"Oh, jadi kamu berani melawan saya hah?" Kata Sean mengarahkan tangannya ke pipi Ica.
Dengan sigap dosen Engga memegang pergelangan tangan Miss Sean. Ia mengajak Sean masuk ke dalam mobil. Sean masih belum puas mengata-ngatai Ica.
"Oh, jadi kamu bela anak tengil ini?" Kata Miss Sean kepada Dosen Engga.
"Bukan begitu Sean, ini kampus selai banyak orang di sini juga banyak CCTV tersembunyi. Jika kamu memukul salah satu mahasiswi dan terpantau CCTV, akan sangat berdampak buruk bagi karirmu." Jelas Dosen Engga.
Miss Sean menuruti perkataan Dosen Engga. Ia masuk kedalam mobil, meninggalkan Ica dan Milka di pinggir jalan.
"Ca, kamu kenal Miss Sean?" Kata Milka hati-hati.
__ADS_1
"Tidak terlalu kenal Mil." Kata Ica.
"Kenapa dia seperti benci sekali sama kamu Ca?" Tanya Milka lagi.
"Tidak apa-apa Mil, ayo kita ke kelas." Ajak Ica.
Milka merasa ada yang di sembunyikan Ica dari dirinya. Tetapi ia tidak mungkin memaksa Ica untuk bercerita.
Milka hanya bisa berdoa, semoga sahabatnya itu bisa melewati masalahnya dengan baik. Milka membuang nafasnya kasar, dan berjalan mengejar Ica yang sudah beberapa meter di depannya.
**********
"Sean, ada urusan apa kamu sama gadis itu tadi?" Tanya Dosen Engga.
"Tidak ada, hanya kesal saja." Jawab Sean asal.
"Tau nggak kalau sampai terlihat aksimu tadi, bisa terancam dirimu sebagai dosen di sini." Kata Dosen Engga mengingatkan.
"Iya, saya juga tau Pak Dosen." Kata Sean kesal, Dosen Engga terus menyalahkannya.
"Sean, selama ini saya memendam perasaan untukmu, saya menyukaimu. Entah karena kita terbiasa mengerjakan tugas bersama-sama atau yang lain saya tidak tau." Ungkap Dosen Engga.
"Baiklah, baiklah. Saya akan pertimbangkan itu. Tapi dengan satu syarat." Kata Sean nampak mempermainkan Dosen Engga.
"Syarat apa? Katakanlah." Jawab Dosen Engga.
"Saya mau Dosen Engga mendekati mahasiswi baru tadi, sampai dia mencintai Bapak. Setelah itu putuskan dia, baru saya pertimbangkan perasaan Pak Engga kepada saya." Kata Miss Sean.
*************
Hari ini Dosen Engga mengisi mata kuliah di kelas Ica. Ia mengabsen mahasiswa satu persatu. Sebenarnya ia ingin mencari wajah yang tadi di marahi Sean.
"Hari ini kita melakukan ujian tengah semester. Seluruh catatan silahkan dimasukan ke dalam tas." Perintah Dosen Engga.
"Baik Pak." Kata mahasiswa serentak.
Setelah selesai mereka mengumpulkan kertas ujian masing-masing ke depan. Dosen Engga terlihat memeriksa lembaran ujian mahasiswa, sambil menunggu mahasiswa yang lain belum selesai mengerjakan.
"Bapak ganteng sekali hari ini." Kata Rani.
Rani adalah salah satu mahasiswi di kelas Ica. Penampilannya sangat mencolok, dia juga membawa mobil mewah berganti-ganti tiap minggunya. Ia menggoda Dosen Engga saat mengumpulkan lembaran ujian yang sudah ia kerjakan.
"Terimakasih." Jawab Dosen Engga singkat.
Ica sudah berkemas, Ia telah selesai mengerjakan soal. Sedangkan Milka sudah duluan keluar sejak tadi.
"Ini Pak." Kata Sean menyerahkan lembar ujian.
"Iya." Jawab Dosen Engga.
Ica memutar badan ke arah pintu. Dosen Engga langsung memanggilnya.
__ADS_1
"Spica utami." Panggil Dosen Engga.
"Iya Pak, ada apa?" Tanya Ica.
"Saya minta tolong antar ini ke kantor." Kata Dosen Engga menyerahkan tumpukan lembar ujian.
"Iya Pak." Jawab Ica.
Dalam hati Ica "Masa lembaran ini tidak bisa di bawa oleh Pak Engga. Dasar Dosen semena-mena." Gerutu Ica.
Ica mengiringi Dosen Engga berjalan menuju ruang Dosen di fakultas. Ia segera meletakkan kertas-kertas itu di atas meja Pak Engga. Beliau sudah duduk di kursinya.
"Ini Pak, saya kembali." Ica memutar badannya hendak keluar.
"Tunggu." Dosen Engga mencegah Ica.
"Kenapa Pak?" Tanya Ica.
"Sebagai ucapan terimakasih saya, bagaimana kalau saya traktir kamu makan." Kata Dosen Engga.
"Terimakasih Pak, tapi tidak usah saya belum lapar." Kata Ica menolak.
"Gak apa-apa. Kalian masuk lagi masih dia jam kan?" Kata Dosen Engga.
Ica tidak ada lagi alasan untuk menolak. Ia terpaksa menerima ajakan Dosen Engga.
"Ayo, mobil saya di depan. Kita makan di luar kampus saja." Kata Dosen Engga.
"Iya Pak." Ica mengikuti dari belakang.
Dosen Engga mencari tempat makan yang cocok dan agak sepi. Ia ingin membuat mahasiswi ini jatuh cinta kepadanya, seperti permintaan Sean.
"Kita duduk di pojok aja." Kata Dosen Engga.
"Iya Pak." Jawab Ica mengikuti Dosennya itu.
Pak Engga memesan makanan. Sambil menunggu pesanannya Dosen Engga melancarkan niatnya bersikap seromantis mungkin.
"Spica, apa kamu suka makan di sini?" Tanya Dosen Engga.
"Suka Pak, bagus sekali tempatnya. Ica belum pernah makan di tempat sebagus ini" Puji Ica.
Dosen Engga merasa aneh melihat Ica. Dari pakaiannya Ica adalah anak orang kaya. "Masa makan di tempat seperti ini saja dia belum pernah." Pikir Dosen Engga dalam hati.
"Oh iya, beberapa kali pertemuan kita di kelas. Saya sering memperhatikanmu." Kata Dosen Engga.
"Bapak ada-ada saja ini." Kata Ica.
"Ica, mau nggak kamu jadi pacar saya? Secara, umur kita masih wajarlah saya baru dua puluh delapan tahun." Kata Dosen Engga.
"Bapak gak lagi sakit kan?" Kata Ica sambil senyum
__ADS_1