
Setelah mengambil beberapa ekor ikan nila dan ikan mas, Marvin dan Ica segera kembali ke Villa. Sesampainya di ruang tamu mata mereka beradu pandang dengan Dave dan Milka.
"Milka, kok udah dempet-dempet dengan Uncle saja?" Goda Ica.
"Ini nih, Dia saja yang dekat-dekat Milka dari tadi." Kata Milka.
"Ohh, jadi dari tadi?" Ica tersenyum.
"Sudah, ajak Milka masak di belakang Ca. Beni dan Sera di mana?" Kata Marvin.
"Beni lagi tidur, kalau Sera lagi bantu Bibi Murti." Kata Dave.
Ica menggandeng Milka untuk ke dapur. Mereka akan memasak ikan bakar dan ikan pindang bersama Pak Tardi dan Bi Murti.
Saat Ica dan Milka telah hilang dari pandangan dari balik dinding. Marvin memperbaiki duduknya.
"Uncle, maaf sebelumnya ada hal yang ingin Marvin sampaikan." Kata Marvin.
"Ada apa Vin? Silahkan katakan saja." Kata Dave.
"Tapi boleh tidak kita bangunkan Beni terlebih dulu." Kata Marvin.
"Iya, bangunkanlah Vin. Atau suruh Ica saja kalau kamu sungkan." Kata Dave.
Marvin kebelakang menemui Ica dan menyuruhnya untuk membangunkan Beni. Ica langsung memutar badan bergegas membangunkan Beni.
"Kak bangun, Bang Marvin dan Uncle menunggu Kakak di ruang tamu." Kata Ica sambil menggoyang kaki Beni.
"Baiklah, kalian sudah lama pulang?" Tanya Beni mengumpulkan kesadarannya.
"Sudah Kak." Jawab Ica.
"Kakak cucu muka dulu. Kamu silahkan temui mereka duluan." Kata Beni.
"Baik Kak." Kata Ica.
Ica keluar dari kamar tempat Beni tidur. Ia kembali kebelakang menemani Sera dan Milka. Beni keluar menemui Dave dan Marvin yang sedang ngobrol serius di ruang tamu.
"Maaf tadi saya ketiduran. Sudah lama pulang dari kolamnya Vin?" Tanya Beni.
__ADS_1
"Sudah Kak." Kata Marvin.
"Ben, Marvin ingin mengatakan hal penting kepada kita." Kata Beni.
"Apa Vin, apa ada masalah lagi?" Tanya Beni.
"Iya Kak, tadi ketika saya dan Ica mau mengambil ikan. Tiba-tiba saja ada yang menelepon Ica, mengatakan akan berbuat sesuatu jika rencana pernikahan kami di lanjutkan." Kata Marvin.
"Lah kok bisa mengetahui nomor ponsel Ica? Nomor keluarga Adikara sudah di filter sedemikian mungkin agar tidak di ketahui pihak lain." Kata Beni.
"Entahlah Kak, saya juga tidak menyangka ada orang yang tidak menginginkan kami bersatu." Kata Marvin.
"Begini saja kita siapkan pernikahan mereka lebih cepat. Kita lihat siapa yang ingin Ica dan kamu berpisah. Selain itu untuk menghindari pandangan buruk dari orang lain." Kata Dave.
"Baik Uncle, nanti saya akan menelepon Mama dan Papa. Agar kepulangan mereka di percepat.
" Habis ini kita pulang saja. Minta keluarga Marvin datang nanti malam, yang tadinya malam besok. Bisa kan Marvin?"Tanya Uncle Dave.
"Baiklah, saya akan menelepon Bunda untuk menceritakan kejadian ini." Kata Marvin.
Marvin menelepon Bunda Lusi, meminta kedua orang tuannya dan kerabat datang ke rumah Adikara nanti malam. Ia juga menceritakan permasalahannya supaya orang tuanya tersebut bisa menerima rencana mereka.
"Sudah Kak, Bunda dan Ayah bisa datang nanti malam." Kata Marvin.
"Mereka akan tiba di negara ini tiga hari lagi." Kata Beni.
"Kalau seperti itu, selesai makan nanti kita harus bersiap-siap pulang ke rumah." Kata Dave.
Saat mereka ngobrol dengan serius, Milka dan Sera datang mengajak tiga orang tersebut datang kebelakang. Supaya mereka menikmati ikan bakar dan ikan pindang di bawa pepohonan.
Mereka menikmati masakan Pak Tardi yang sangat enak tersebut. Dengan alas daun pisang, menambah lezat hidangan. Setelah kenyang mereka bersantai di bangku dan ayunan di belakang villa.
"Bi, enak sekali makanannya. Kalau seperti ini saya harus meminta Bi Murti menjadi chef di rumah saya saja." Goda Beni.
"Maaf Den, tapi kami sudah nyaman di sini." Jawab Bi Murti.
"Ya sudahlah, berarti saya yang akan sering datang kesini." Kata Beni.
"Nggak apa-apa Den, Mamang dan Bibi tentu sangat senang kalau kalian sering main kemari." Kata Pak Tardi.
__ADS_1
"Iya Bi, tapi kedatangan kami kemari adalah untuk mengundang Bibi dan Mamang. Untuk hadir di pernikahan kami nantinya. Mengenai tanggal tepatnya kami belum pastikan, namun mungkin seminggu lagi." Kata Marvin.
"Iya Nak, kami pasti datang." Kata Bi Murti.
"Nanti kami akan jemput Bibi dan Mamang di sini. Jadi tidak usah khawatir untuk keberangkatan. Bunda sama Ayah akan bermusyawarah menentukan hari dan tangga pernikahan, setelah ditentukan kami akan menelepon Bibi." Kata Marvin.
"Baiklah Nak, semoga kalian berjodoh sampai akhir hayat. Itu doa kami sebagai orang tua." Kata Bi Murti.
"Juga kami tidak bisa menginap seperti rencana Bi, harap di maklumi karena ada sesuatu yang harus di kerjakan di rumah." Kata Beni.
Mendengar perkataan Beni tersebut, Mang Tardi berangkat mengambil ikan dan buah durian di keun sekitar villa. Kedua suami istri tersebut menyerahkan daging bebek yang telah di cincang.
Rencananya akan di masak untuk sore ini. Mendengar Marvin tidak jadi menginap Bi Murti memberikan mentahannya agar di masak di rumah.
Setelah berpamitan, Marvin dan rombongan melajukan mobil dengan pelan. Meninggalkan Bi Murti dan Mang Tardi yang masih melambaikan tangan.
Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Adikara. Walaupun capek Beni dan Dave mempersiapkan kedatangan tamunya nanti sore. Di bantu oleh Marvin sendiri dan beberapa karyawan kantor yang telah di telepon Beni tadinya.
Sekitar pukul 19.00 waktu setempat, rombongan keluarga Wiraarga datang. Sanak saudara Marvin yang datang sekitar lima belas orang. Uncle Ronald terlihat menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat datang Ibu, Bapak." Kata Uncle Ronald menyapa para tamu.
Kemudian mereka semua duduk di ruang tamu dengan tempat duduk di dusun sedemikian rupa. Bi Murti bersama Sera dan Milka menyiapkan makanan dan minuman. Mereka akan menikmatinya selesai rundingan menentukan tanggal pernikahan.
Beni membuka pertemuan tersebut, sedang Uncle Dave dan Uncle Ronald di samping Beni yang sedang berbicara.
"Selamat malam untuk kita semua. Saya langsung saja kepada inti pertemuan kita, untuk menentukan hari pernikahan adik saya Spicat Utami Adikara dan putra Tuan David Wiraarga, yaitu Marvinno Wiraarga.
Kami meminta pernikahan diadakan dalam minggu depan. Untuk hari pastinya kami persilahkan kesepakatan Bapak Ibu dari keluarga Wiraarga. Dengan hormat, kami persilahkan wakil dari keluarga Wiraarga." Kata Beni.
"Baiklah Nak Beni, kami tentu akan merestui dan sudah merestui hubungan mereka dari awal. Menurut kami hari pernikahan sebaiknya di lakukan hari selasa saja. Namun kami memiliki satu permintaan kalaupun di perbolehkan dari keluarga Adikara ini." Kata Pak David Langsung.
"Bagaimana Uncle, mereka meminta hari selasa depan ini. Berarti tersisa lima hari untuk persiapan, sedangkan Mama Papa sampai di negara kita hari sabtu." Bisik Beni pada Uncle Dave.
"Nggak apa-apa, keselamatan Ica dan Marvin lebih penting. Kita bisa membayar orang untuk menyiapkan segala sesuatunya." Bisik Uncle Dave.
"Baiklah, kami setuju untuk hari selasa. Dilaksanakan di aula terbuka milik keluarga di sini. Silahkan terangkan saja Tuan Wiraarga untuk permintaannya." Kata Beni.
"Baik, sebelumnya kami mohon maaf karena ini mendadak juga. Kalau berkenan kami meminta agar acara resepsi ini, juga untuk anak kami Vano. Artinya kita memiliki dua pasang pengantin di hari resepsi, sedangkan pernikahannya akan dilaksanakan hari senin sehari sebelum pernikahan Marvin dan Ica." Kata Pak David.
__ADS_1
"Oh, kalau itu tentu kami tidak keberatan Pak. Kami sangat senang, itu artinya kita memang sudah menjadi keluarga besar. Kami menyetujui permintaan dari pihak Wiraarga. Untuk masalah persiapan kita bersama bahu membahu." Kata Beni.
Setelah tidak ada sanggahan dan usul lain. Mereka ngobrol santai sambil menikmati makanan yang sudah di sediakan. Kemudian Keluarga Wiraarga beserta rombongan berpamitan untuk kembali ke kediaman mereka.