Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Masih Perih


__ADS_3

Pagi ini, Marvin akan pulang ke rumah keluarganya ke kediaman Wiraarga. Ia akan meminta izin kepada orang tuanya, sekaligus merencanakan pernikahan dengan Ica.


Marvin akan pulang dengan membawa Ica ikut dengannya. Karena selain ingin meminta izin berdua, terlebih Bunda Lusi tentu sangat rindu dengan putri angkatnya itu.


Setelah berpamitan kepada Ayah Ibu Marjoyo dan Uncle Ronald. Ica dan Marvin segera membawa kantong oleh-oleh sebagai buah tangan kepada keluarga Wiraarga.


"Om, minta tolong iringi mobil kami berdua atau bertiga cukup." Pinta Marvin kepada Bodyguard.


"Baik Tuan. Segera kami laksanakan." Jawab salah satu dari mereka.


Pak Ujang membukakan pintu gerbang bagi Ica dan Marvin. Di ikuti sebuah mobil di belakang mereka. Ica melempar senyum kepada Pak Ujan sebagai ucapan terimakasih. Memang selama ini Ica memperlakukan Pak Ujang dan Bibi Tuti seperti orang tua sendiri.


"Kita nggak mampir dulu sayang?" Tanya Marvin.


"Mampir kemana Bang?" Tanya Ica.


"Mungkin kamu ada sesuatu yang ingin di beli." Kata Marvin.


"Nggak Bang, lagian juga kalau kita mampir akan memberi ruang untuk orang yang mengincar kita kemarin." Kata Ica.


"Benar juga sayang, kenapa Abang tidak berpikir kearah sana." Timpal Marvin.


"Berarti kita langsung menuju rumah Bunda ini? Kok nggak bergerak gitu?" Tanya Marvin.


Marvin melihat Ica tidak bergeser sedikitpun dari duduknya ketika masuk kedalam mobil. Hal itu aneh, karena biasanya Ica gelisah menahan muntah karena mabuk naik mobil.


"Iya Bang, bagian bawah Ica masih perih sekali." Jawab Ica dengan muka memerah seperti jambu.


"Hem, masih sakit ya sayang. Cup, cup, cup... Sayang Abang. Tapi bagus juga kamu jadi nggak mabuk mobil lagi, lain kali Abang minta lagi yaya. Enak nggak?" Tanya Marvin.


"Perih tau." Jawab Ica dengan wajah mengerucut.


"Ngga apa-apa sayang, kalau sering nanti terasa enak. Nanti kalau di rumah Bunda, sayang duduk saja biar Abang yang membuat minum." Kata Marvin.


Marvin melayangkan ciuman ke pipi Ica. Terasa hangat pipi merah jambu milik Ica, membuat benda di balik celana Marvin mengembang dengan sendirinya.


"Sayang, pengen lagi." Rayu Marvin.


"Bang, ini jalanan." Ica mengingatkan.

__ADS_1


"Oh, iya sayang." Jawab Marvin.


"Sayang, coba buka dalam tas Abang. Ada sesuatu untuk kamu." Kata Marvin.


"Apa Bang?" Tanya Ica.


Ica segera mengambil tas kecil yang biasa di selempangkan Marvin. Di bukanya tas tersebut, ia melihat kotak merah. Berisikan sebuah cincin bermata berlian.


"Bagus sekali Bang, terimakasih ya." Kata Ica.


"Itu bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Jadi nggak apa-apa Abang gak pakaikan langsung ya?" Tanya Marvin.


"Iya Bang, nggak apa-apa." Jawab Ica.


"Itu sudah lama Abang beli, baru sekarang sempat ngasih ke kamu nya. Sebagai obat menghilangkan perih kamu tadi sayang." Goda Marvin.


"Abang bisa saja." Jawab Ica sambil melempar ciuman kilat ke pipi Marvin.


Baru setengah perjalanan menuju rumah Bunda Lusi. Di tengah keromantisan dia sejoli yang sedang di mabuk asmara tersebut, tiba-tiba bodyguard di belakang mobil menelepon Marvin.


"Halo, Tuan harap berhati-hati karena ada sebuah mobil di belakang ingin mencelakai mobil Tuan dan Nona." Kata Eko salah seorang bodyguard.


"Ada apa Bang?" Tanya Ica.


"Ada yang mengikuti kita sayang, Kita sedikit ngebut ya." Kata Marvin.


Marvin telah menelepon penjaga yang ada di rumah kediaman Wiraarga. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan kekasihnya.


Setelah menelepon Marvin melajukan mobilnya dengan kecepatan. Tidak lama berselang terdengar tem-bakkan di belakang mobil Marvin. Sepertinya mengenai tepat di atas roda mobil.


Ica menggigil ketakutan, ia memeluk Marvin yang sedang mengemudi. Perasaan cemas dan takut telah menjadi satu dalam dirinya.


Sedangkan Marvin berfikir belum pernah terjadi kepada dirinya dan keluarga hal seperti ini. "Apakah keluarga calon mertuanya memiliki musuh? Ah, entahlah. Tapi saya akan melindunginya sekuat raga." Marvin berkata dalam hatinya.


"Nunduk sayang. Jangan takut." Kata Marvin.


"Tapi Ica takut Bang, sepertinya mau muntah juga." Jawab Ica.


"Iya sayang, kamu harus kuat." Jawab Marvin.

__ADS_1


"Bang biar Ica yang bawa mobilnya." Pinta Ica.


"Sayang kamu kan belum mahir mengendarai mobil, bisa nanti kita kecelakan berdua sayang." Jawab Marvin keberatan.


"Gak akan terjadi sesuatu Bang, Abang nggak percaya sama saya?" Tanya Ica.


Di katakan begitu Marvin tinggal pasrah, Ica telah menggantikan dirinya memegang kendali setir di pangkuan Marvin. Kesempatan dalam kesempitan mungkin itulah yang dirasakan Marvin saat itu. Ia dengan tanpa ragu memeluk pinggang Ica dengan erat.


Ica mengendarai mobil dengan kecepatan hampir sama pembalap di area balap. Marvin yang belum pernah melihat Ica mengendarai mobil antara percaya dan tidak.


"Sayang sejak kapan kamu bisa mengendarai mobil secepat ini?" Tanya Marvin masih belum percaya.


"Nanti saja sayang ceritanya, kamu minta saya jadi wanita kuat kan? Ini saya buktikan." Jawab Ica.


"Iya sayang, tapi nanti cerita ya." Kata Marvin.


Marvin terus memijat beda kenyal milik Ica. Sesekali ia tangannya bergerilya ke lembah milik Ica. Marvin semakin panas sedangkan Ica tetap pada konsentrasi, ingin sampai pada tujuan dengan selamat.


"Sayang, Abang mau nih." Kata Marvin.


"Bang apa gak lihat, nyawa kita terancam. Abang mau kita di culik atau di tembak berdua hah?!" Kata Ica.


Marvin tersadar dari halusinasi liarnya. Marvin tidak tersinggung sama sekali dengan perkataan Ica yang sedikit meninggi. Justru Ia membenarkan apa yang dikatakan Ica dalam hatinya. Tanpa menjawab apa yang di katakan oleh Ica.


Di belakang mereka, mobil bodyguard yang bertugas menjaga Marvin dan Ica berusaha menghalau mobil yang ingin mencelakai mereka. Melepaskan beberapa tembakan mengenai tepat pada kepala orang-orang tersebut sampai habis.


Marvin tidak tau atas perintah siapa mereka menghabisi orang-orang tersebut. Setelah melihat kebelakang tidak ada lagi yang mengejar mobil Marvin dan Ica.


"Sayang nampaknya tidak ada lagi yang mengikuti kita. Coba telepon Om yang ada di belakang tadi. Apa mereka selamat?" Kata Ica.


"Baik sayang." Jawab Marvin.


Ica mengurangi kecepatan kendaraanya. Segera Marvin menelepon bodyguard yang menjaga mereka tadi. Saat ditelepon ternyata mereka baik-baik saja dan berhasil mengalahkan musuh.


Kendaraan Ica segera masuk ke halaman rumah kediaman Wiraarga. Itu artinya mereka sudah aman dalam kandang. Ica menarik nafas lega, dan pindah ke tempat duduk di samping Marvin.


"Ada dua pertanyaan yang mengganjal sayang. Pertama siapa yang sangat ingin mencelakai kita? Kedua, dari mana kamu bisa mengendarai mobil secepat alien seperti tadi?" Tanya Marvin.


"Kalau untuk pertanyaan pertama Ica juga tidak tau Bang. Untuk yang kedua, Ica di desa dulu Ayah pernah memiliki mobil pick up. Ica pernah belajar, dan juga Ica pernah di ajari oleh Abang Vano sekali waktu kuliah. Habis itu hanya kekuatan dan keberanian." Jawab Ica dengan wajah masih pucat.

__ADS_1


Badan Ica gemetar, entah karena nekad tadi atau karena takut. Marvin menyandarkan kepala Ica di pundaknya untuk beberapa saat. Kemudian setelah Ica sudah kembali warna kulitnya, Mervin mengajak Ica masuk kedalam rumah.


__ADS_2