Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Cepat, Bawa Dia!


__ADS_3

Malam ini keluarga besar Adikara menikmati makan malam bersama. Ica dan Marvin juga sudah duduk manis di pinggir meja.


Tanpa terkecuali para pembantu juga di izinkan ikut makan malam bersama. Di rumah besar keluarga Adikara, semua dianggap bagian dari keluarga.


Nyonya Diana duduk di sebelah Tuan Adikara di ujung meja. Sebelum menikmati hidangan, Pak Hendro menyampaikan ucapan terimakasih karena sudah membantu menyukseskan acara hari ini.


Setelah acara makan malam selesai, beberapa pembantu membereskan hidangan. Keluarga inti ngobrol santai di ruang makan tersebut.


"Selamat malam, apa kabar kalian hari ini? Silahkan kalau ada hal yang mau di bahas?" Kata Pak Hendro.


"Ronald gimana, aman? Sekarang dia seperti kepala keamanan saja." Goda Mama Diana.


"Kakak bisa saja. Sampai saat ini aman Kak." Jawab Ronald.


"Beni, Dave bagaimana kantor? Aman?" Tanya Pak Hendro.


"Iya, begitulah Pa. Tidak ada masalah yang sangat serius." Jawab Beni.


"Ada satu masalah Kak." Kata Dave dengan senyum uniknya.


"Apa Dave? Katakanlah biar kita bisa mendengarnya dan mencari solusinya bersama." Kata Pak Hendro.


"Masalahnya, kaki tangan Bos perusahaan ini sedang sakit." Kata Dave.


"Memang Uncle selama ini mengidap sakit apa?" Tanya Beni penasaran.


Beni melihat Dave selama bersamanya baik-baik saja. Tapi mungkin saja Uncle nya tidak mau bercerita mengenai sakit yang di deritanya.


"Sakit hati Kak, menahan kerinduan sudah lama tidak berjumpa dengan pengobat rindu." Kata Dave masih dengan senyum khasnya.


"Memang sudah ada pengobat rindunya Uncle? Kami selalu menunggu kabar baiknya." Tanya Mama Diana tersenyum penuh arti.


Dave George hanya tersenyum, seperti meminta penjelasan dari seseorang. Dave mengangkat bahunya ingin menjelaskan.


Tiba-tiba Ica yang dari tadi berdiam diri, akhirnya menyela pembicaraan.


"Iya Mama, Uncle sudah punya pujaan hati sekarang." Jawab Ica.


"Syukurlah kalau begitu. Siapa sih gadis yang mau sama perjaka lansia ini?" Goda Pak Hendro dengan gaya coolnya.

__ADS_1


"Itu loh Pa teman Ica, namanya Milka. Kami ketemu Uncle Dave pas kami di suruh Papa menjemput Uncle di hotel kemarin. Pakai acara perbaiki kaca mata segala. Eeh ternyata ada udang di balik bakwan." Kata Ica.


"Oh, sudah resmi nih?" Tanya Pak Hendro.


"Resmi apa Kak? Nembak aja belom." Jawab Dave.


"Aduh, ini nih modelnya. Dia baru mau naik angkot, di sana janur kuning sudah mau layu." Kata Pak Hendro.


"Sabar Kak. Kita harus selesaikan satu-satu dulu." Kata Dave mengalihkan pembicaraan.


Dave menutup mulut semua orang dengan perkataannya. Mereka hening sejenak, kemudian Pak Hendro membenahi duduknya.


"Bagaimana dengan Ica dan Marvin? Kalian ada masalah Nak?" Tanya Pak Hendro.


Pak Hendro tidak mungkin berkata setengah yang lain. Ia tau bahwa keluarga calon menantunya sangat berbahasa lembut. Berbeda cara Pak Hendro memperlakukannya dari ketiga prajurit yang lain.


"Baik Pa, kami sangat baik. Terimakasih Pa atas perhatiannya." Kata Marvin.


"Baiklah kalau semuanya sudah selesai di bahas. Malam ini kita melepas lelah berjalan-jalan di tepi pantai yuk." Kata Mama Diana.


"Oh iya, jarang jarang loh kita. Boleh deh bawa calon Kakak Ipar dan calon Tantenya." Kata Ica dengan semangat.


"Baiklah, bersiap-siaplah. Sepuluh menit lagi kita berangkat." Kata Pak Hendro.


Mereka semua bersiap-siap. Tidak terlalu repot, hanya Mama Diana dan Pak Hendro yang berganti pakaian. Dari pakaian formal ke pakaian yang lebih santai.


Ica berjalan ke kamarnya untuk mengambil tas kecil dan topinya. Sedangkan empat pemuda tampan tetap santai di kursinya masing-masing.


Mereka berangkat menggunakan empat mobil. Beberapa pembantu yang sudah selesai bekerja juga diperbolehkan ikut. Juga rencananya Sera dan Milka akan ikut bergabung.


Memang mereka melewati rumah ke dua gadis itu ketika ingin ke arah pantai. Mereka akan menikmati suasana pantai pada malam hari.


Bersantai di dalam kafe sambil berlari ke bersama keluarga sangat menyenangkan bagi kebanyakan orang. Begitulah yang akan dilakukan keluarga Adikara.


Setelah menjemput Sera dan Milka, mobil beriringan tersebut akhirnya tiba di tepi pantai. Menuju sebuah kafe yang sudah sering mereka kunjungi.


Beni sudah memboking kafe tersebut sebelum berangkat. Jadi tidak ada lagi orang lain yang menggunakannya.


Mereka segera mengambil posisi bernyanyi bersama. Dari lagi pop tren sampai lagu kenangan, dari dangdut sampai ke lagu religi telah dinyanyikan.

__ADS_1


Suara musik beradu dengan deburan ombak yang memecah pantai. Suasana malam semakin dingin, namun belum ada pergerakan akan mengakhirinya. Memang waktu belum menunjukan pukul 22.00 malam.


Ica di samping Mama Dian yang asik melantunkan tembang kenangannya. Ia merasa kedinginan. Sedang yang lain sibuk dengan acaranya sendiri di dalam kafe.


"Ma, saya ambil syal dan jaket dulu dalam mobil." Ica mengatakan di dekat telinganya Mamanya.


" Iya sayang jangan lama-lama." Jawab Mama Diana.


Ica kemudian berlari ke arah yang membawa dirinya tadi. Sekitar tujuh meter dari bangunan kafe, diseberang jalan. Di sekitar mobil suasana remang antara cahaya bulan dan lampu jalan.


Ica membuka pintu mobil, ia mencari jaketnya namun susah di temukan. Ia terus mencari, Tiba-tiba Ica melihat bayang sosok laki-laki datang menghampirinya.


Melihat bayangan tersebut mendekat, Ica ingin berteriak. Namun naas mulut Ica sudah di bekap dengan sapu tangan oleh pria tidak di kenal.


Setelah itu Ica tidak merasakan apa-apa lagi. Pria tersebut memasukan tubuh Ica yang telah pingsan kedalam mobil mereka. Kemudian laki-laki gondrong itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Ia terlihat menghubungi seseorang. Sedang satu lak-laki yang lain, telah siap di depan setir mobil.


"Halo Bos, gadis incaran sudah di tangan kami. Sekarang dai pingsan." Kata laki-laki gondrong.


"Kerja yang bagus! Tidak salah saya memilih kamu. Sekarang cepat bawah gadis itu kemari." Perintah Bos dari sambungan telepon.


"Baik Bos, kami segera menuju ke sana." Kata Laki-laku rambut gondrong.


Setelah sambungan telepon terputus. Mobil yang membawa Ica terlihat melaju ka arah pusat kota.


Melesat beriringan dengan bermacam kendaraan. Seakan mereka tidak tau ada gadis yang terancam keselamatan di dalam sebuah mobil.


***


Lima belas menit sudah berlalu, namun Ica belum kembali. Mama Diana segera menanyakan kepada yang lain apakah melihat Ica. Namun jawaban nihil yang di terima oleh Mama Diana.


Akhirnya Mama Diana yang sudah cemas menanyakan keberadaan Ica dengan kaum laki-laki. Dengan wajah dan tubuh yang gemetar, Mama Diana mendekati Pak Hendro.


"Vin, apa Ica bersama mu?" Tanya Mama Diana.


"Enggak Ma, tadi kan di dalam sama Mama, Milka, dan Sera." Kata Marvin.


"Bagaimana ini Yah, putri mu tadi pamit ingin mengambil jaket di mobil. Sampai sekarang belum kembali." Kata Mama Diana.

__ADS_1


Dengan berlari Marvin dan Ronald menuju mobil mereka di perairan. Tetapi Ica tidak ada di sana dengan pintu mobil yang terbuka.


__ADS_2