Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Lupakan Kebersamaan Kita


__ADS_3

Ronald merasakan celananya semakin sempit. Tangannya semakin luar menjelajah ke setiap sudut mangsanya.


Awalnya Ronald enggan untuk bicara. Takut kalau Sean mengenali suaranya. Namun setelah berapa kali Sean bertanya kepadanya. Ia menjawab walau dengan suara berat.


"Iya sayang, saya sangat menyukai satu seperti ini." Kata Ronald.


"Baby, Saya ingin lebih lagi." Kata Sean.


Ronald yang tadi khawatir Sean mengenali dari suara. Ternyata di luar dugaan ia sama sekali tidak menaruh curiga.


Entah ia tidak memperhatikan saat Dave bicara tadi siang. Atau ia tidak menyadari karena otaknya telah di bergairah dalam hasratnya.


Apapun alasannya, ini tentu menguntungkan bagi Ronald. Ia tidak usah menahan suaranya. Apalagi menyamarkan suaranya seperti Dave.


Walaupun Ronald sudah sedari tadi menahan. Ia ingin melihat seberapa berpengalaman wanitanya kali ini. Ia berusaha seperti pria yang belum ahli melakukannya.


"Baby, Kok berdiam diri?" Tanya Sean.


Sean tanpa ba-bi-bu, ia memegang batang milik Ronald. Lalu menjadikannya loli pop yang dengan kecepatan tinggi.


Setelah puas dengan aktivitasnya. Sean beralih ke wajah milik Ronald, Ia membenamkan wajahnya. Sedangkan tangannya tetap memainkan batang pendek milik Ronald.


"Ah, sayang." Kata Sean.


Sean merasa Ronald tidak membalas perlakuannya dan hanya berdiam diri. Hal itu membuat Sean gusar.


"Lakukanlah semau mu Baby." Kata Ronald.


Ronald menarik pelan rambut Sean. Ia mengarahkan wajah Sean kearah batang miliknya.


"Baby." Kata Ronald.


"Yes Baby. Kamu menginginkannya?" Kata Sean bersemangat.


Sean kembali melakukan hal yang sama. Seperti tidak ingin menyisakan sedikitpun apa yang sedang ia nikmati. Ronald sudah tidak bisa menahan permintaan alam yang ingin menyirami bumi.


"Baby, Apa kamu siap?" Tanya Ronald.


"Ohoo, sedari tadi sayang. Saya ingin menikmati semprotan darimu." Kata Sean semakin liar.


"Ahkkk." Erang Ronald.


Ronald berhasil menembak ke wajah Sean dengan peluru yang bertubi-tubi. Sean yang tidak mampu menelan semuanya. ia mengumpulkan kembali ceceran yang berhamburan dan menghabiskannya.


Ronald menilai bahwa seorang Sean memang sudah biasa melakukan aktivitas ini. Ia bisa melihat dari teknik yang dilakukannya.

__ADS_1


Sean kembali ke wajah Ronald. membenamkan wajahnya dengan wajah lawannya itu.


Sean tidak membiarkan satu inci pun wajah Ronald lepas dari terkaman. Ia melepaskan sejenak dan membisikan sesuatu.


"Baby, Apa kamu tidak berniat mengalahkan Sean?" Tanya Sean mencibir.


Mendengar hal itu Ronald yang sudah lama berdiam diri. Emosinya terpancing mendengar perkataan Sean. "Ronald Sang Casanova sejati pantang di remehkan." Kata Ronald dalam hati.


Ia segera membalas menjelajahi muka Sean. semua Jarinya menyelami lembah milik Sean dengan kelembutan.


Satu tangannya meremas dengan kuat gunungan kembar milik Sean. Sean yang menikmati perlakuan Ronald mengerang.


"Ahhk.. Baby lebih dalam lagi." Pinta Sean.


Ronald segera bangun, ia mengarahkan batang miliknya ke arah wajah Sean. Sedangkan wajahnya menyelami lembah milik Sean.


Mencoba sedalam-dalamnya mengukur lembah itu sampai dasar. Sean seperti menikmati sum-sum langsung dari tulangan, memperlakukan batang milik Ronald, begitu bergairah.


Demikian dengan Ronald yang berusaha menghisap air dari lembah milik Sean. Sean melepas batang milik Ronald.


"Baby, airnya sudah mau tumpah." Kata Sean.


"Tunggu, kita menumpahkannya bersama." Kata Ronald.


Ronald memutar badannya. Ia perlahan menancapkan batang miliknya ke lembah basah milik Sean. Menancapkannya berkali-kali sampai tertancap sempurna.


"Satu, dua, Aghhkk." Teriak Ronald.


Sedangkan Sean sudah lemas. Itu artinya ia pun sudah menyelesaikannya.


Ronald segera memakai kembali pakaiannya. Ia meletakan amplop coklat yang sudah di berikan tulisan dari ruangan Dave tadi. Lupakan kebersamaan kita, seperti itulah tulisan di amplop coklat tersebut.


Ronald segera keluar kamar. Ia mengunci kembali kamar itu menggunakan pin yang biasa di gunakannya. Kemudian dengan tombol otomatis ia menghidupkan lampu kembali.


Dalam ruangannya Dave sedang menghembus kan asap rokok keatas. Kedua kakinya di letakan keatas meja. Dave memikirkan bagaimana kelanjutan kehidupannya kelak.


Sedang Dave melamun, Ronald mengagetkannya. Ronald sudah biasa melihat Dave seperti ini.


Dave segera menurunkan kakinya. Seakan Ia tidak sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana Bro? Sukses?" Tanya Dave.


"Sukses Bro, tapi...." Kata Ronald.


"Tapi apa lagi? Apa kurang?" Tanya Dave.

__ADS_1


"Nggak Bro. Maksud saya, syukur deh buka kamu yang menikmati." Kata Ronald.


"Kenapa Bro?" Tanya Dave.


"Gadis itu sepertinya sudah biasa melakukanya. Kasian juga jika CEO perjaka seperti mu di kasih barang bekas." Kata Ronald.


"Iya Bro, terimakasih." Kata Dave.


"Tapi nggak apa-apa juga kalau mau, dari pada jadi perjaka tua atau tua-tua masih perjaka?" Kata Ronald.


Ronald tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tergelak sampai perutnya sakit. Karena ia tau Dave tidak suka marah kalau soal perempuan.


Ia selalu bermimpi mengharapkan seorang bidadari perawan yang menghampirinya. Namun nyatanya dalam gemerlap kota besar hampir mustahil jika ada yang seperti itu kecuali bayi dan anak-anak.


"Hus, ku lepas kuku mu satu mau?" Bentak Dave.


Ronald terdiam seketika. Ia merasa bersalah kepada Ronald.


"Maaf Bro, kalau boleh kasih saran nih." Kata Ronald ragu.


"Saran apalagi Ronald? Bukannya kamu senang saya seperti ini terus menerus?" Tanya Dave.


Dave jengkel kepada sahabatnya ini. Ia sudah beri label casanova di mata orang lain. Demi melindungi Ronald dang melindungi dirinya dari banyak wanita yang menginginkannya.


Ia tidak marah soal itu dengan Ronald. Namun, saat Ronald meledeknya murkanya bisa naik level.


"Bro tidak pernah terlintas niat. Saya membiarkan dirimu terus menerus seperti ini." Kata Ronald.


"Terus Bagaimana rencanamu?" Tanya Dave.


"Bagaimana kalau kamu menyamar seperti kakak." Usul Ronald.


"Ronald, saya sudah pikirkan itu jauh sebelum kamu memikirkannya. Namun, saya sangat mengkhawatirkan mu di dunia hitam kita." Kata Dave menunduk.


"Terimakasih banyak Kak. Memang Kakak satu-satunya yang ku miliki saat ini." Kata Ronald.


Ronald adalah anak jalanan yang di temukan oleh Kakak kandung Dave. Namun setelah ia menikah Ronald di titipkan bersama Dave. Ia hanya terpaut usia enam bulan saja lebih muda dari umur Dave.


"Ronald, saya berencana mengumpulkan aset kita dalam bentuk aset luar negeri. Atau kita titi dengan Kakak. Biar musuh tidak bisa melacak kekayaan kita. Setelah beres kita menyamar keluar dari dunia hitam ini." Jelas Dave.


"Baiklah Kak, Ronald ikut rencana Kakak. Ronald tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini." Jawab Ronald.


Ronald meneteskan air mata mengingat masa lalunya yang begitu kelam. Sebenarnya sekarang pun masih dalam dunia kelam. Tetapi bedanya ia tidak lagi tertindas melainkan ia yang menindas orang lain.


"E-eh... Seorang casanova ternyata cengeng juga." Goda Dave.

__ADS_1


"Saya cuma terharu Tuan Dave george." Kata Ronald.


Dave hanya tersenyum mendengar jawaban Ronald. Sedangkan Ronald cengengesan, senyum-senyum malu.


__ADS_2