Game World With System

Game World With System
Part 79 : Jurang kabut


__ADS_3

PART 79


Di perjalanan mereka berdua membicarakan seorang gadis cantik yang ada di kota Anema, ini membuat lilin yang berada di tengah-tengah merasa cemburu dan membuat wajah yang begitu marah.


"Ling? tunggu aku dulu jangan cepat-cepat jalannya nanti kamu bisa kesasar,"teriak Zen menyusul dari belakangnya.


"Makanya kalau jalan yang cepat dong, harus fokus nggak usah banyak omong,"dengan nada yang berbentak-bentak sedikit.


"Ehmm..... emangnya kenapa kalau aku ngomongin kepala Gadis kamu cemburu ya ??bukannya kamu itu nggak suka sama aku jadi wajar dong kalau aku cari cewek lain lagi,"kata zen sambil berjalan di sampingnya Ling Ling memancing amarah cemburu dari ling Ling.


"Ih.... apaan sih kepedean banget ya aku sama sekali nggak suka sama kamu soalnya aku sudah ada cowok yang aku suka, pokoknya dia itu tampan, kalau dipandang di manapun dia itu keren banget Jadi kamu jangan kepedean ya, udah ah aku mau lanjut,"balas Ling Ling menyombongkan sedikit dengan apa yang dia bicarakan.


"Oh,"Zen hanya menjawab singkat kemudian berlari ke arah Rey.


Ling Ling memperlihatkan wajah cemberutnya lagi kenapa Zen sama sekali tidak peduli terhadap dirinya, itulah yang dipikirkan oleh Ling Ling sekarang.


Mereka mulai terdiam lagi tanpa ada sepatah kata untuk berbicara satu sama lain, di saat menuju ke sebuah hutan Rey meminta kedua temannya untuk berhati-hati karena ketika memasukinya banyak sekali tanah yang sudah lecet, Jadi mereka terpaksa memasuki hutan-hutan tersebut karena sudah ada petunjuk dari Kompas yang ada di buku.


"Rey, emangnya nggak bisa gitu kita putar arah biar nggak memasuki hutan kayak gini soalnya aku lihat-lihat ini tempatnya nggak beres deh,"Zen memberikan usulan dengan rasa merinding melihat suasana perhutanan yang begitu gelap.


"Udah gpp ko, tenang aja aku yakin ini jalannya benar kok,"kata Zen.


Mereka menaiki sebuah pegunungan yang dipenuhi hutan-hutan yang lebat, bahkan bebatuan bebatuan yang ada di hutan tersebut juga sudah lumut karena sudah lama berada di sana.


"Zen, bantu aku dong aku capek banget nih,"Ling Ling mulai bermanja pada Zen.


Zen mengulurkan tangannya dan mengepal tangan Ling Ling agar tidak terpeleset, setelah menaiki tanjakan yang ada di pegunungan hutan sebuah kabut yang sangat tebal mulai datang meminta mereka untuk tidak terlalu jauh dari jaraknya.

__ADS_1


Namun Ling Ling mengatakan dia tidak bisa berjalan Kalau seperti ini takutnya berpisah Di saat kabut semakin tebal.


"Ling, sudahlah kamu tidak apa-apa biar aku yang menuntunmu sekarang,"Zen meyakinkan pada ling-ling dan memegang lengannya dengan erat.


Oleh karena itu perjalanan mulai dilanjutkan dan mereka tanpa menyadari sudah menuju ke sebuah tempat yang sangat suram sekali, Rey masih saja berjalan lurus ke depan bahkan buku yang ada di Kompas semakin tidak kelihatan karena betapa tebalnya kabut tersebut.


"Rey Apakah kita tidak bisa berhenti sebentar karena kabut ini semakin tebal dan aku saja hampir tidak bisa melihat dirimu dalam jarak satu langkah ,"kata zen sambil memegang lengan ling-ling dengan erat.


"Iya aku juga tahu semakin ke sini kabutnya semakin tebal padahal ini masih siang hari,"Rey juga ingin menghentikan perjalanannya terlebih dahulu namun sesuatu tiba-tiba terjadi Rey hampir terjatuh, karena kabut yang sangat tebal dia tidak bisa melihat kalau di depannya ada sebuah jurang yang sangat dalam.


KRETAK....


"Ahhhh....!".


"Rey!".


"Akh....ahhh...."Rey meraih Sebuah batu yang kuat dan menaikkan kaki kanannya terlebih dahulu setelah itu dia berhasil naik ke atas lagi, baru saja nyawanya dalam bahaya.


"Rey? kamu nggak apa-apa kan kenapa kamu tidak tahu kalau di depan ada lubang,"Ling Ling juga khawatir dan mendekati kepada Rey.


"Diam, kalian jangan bergerak terlalu cepat ini bukan sebuah lubang ini adalah jurang yang sangat dalam,"kata Rey meminta mereka berdua untuk dia berdiri sebelum terkena bahaya.


Akhirnya mereka semua langsung nurut dan Rey mencoba melihat seberapa dalamnya jurang yang ada di bawah, dia melemparkan sebuah batu ke dalam ternyata sama sekali tidak ada bunyi yang di mana Di dalam jurang di sana bisa kemungkinan adalah sebuah tanah atau bebatuan bukanlah air.


Dan karena sama sekali tidak ada suara bisa kemungkinan curang itu sangat dalam dan tidak bisa mendengar bunyi, biasanya kalau jurang akan memantulkan beberapa suara atau bunyi.


"Jadi? Apa yang harus kita lakukan apakah arahan dari buku sang tabib itu benar atau tidak?"tanya Zen yang masih was-was takutnya jatuh ke dalam jurang.

__ADS_1


"Ya, memang benar apa yang diarahkan dari buku ini, Coba biar aku lihat apakah kita harus lurus ke depan atau tidak,"kata Zen melihat buku lagi.


Mereka semua masih dalam keadaan berkabut yang tidak bisa melihat apapun dengan jelas untuk hal itu akhirnya rey menggunakan kekuatan apinya seketika telunjuknya mengeluarkan cahaya dan mereka bisa melihat satu sama lain.


"Bentar, biar aku baca panduannya lagi takutnya ada yang salah,"kata Zen.


Lalu yang dikatakan buku tersebut ternyata memang benar dan Kompas yang ada di buku sama sekali tidak ada perubahan yang ternyata mereka harus lurus ke depan.


"Apa!? buku ini gila Ya mana mungkin kita jalan ke depan sudah jelas di depan itu adalah jurang yang sangat dalam kemungkinan kita akan mati tahu,"Kesal Zen tidak percaya dengan buku tersebut.


"Mungkin di sekitar sini ada jembatan Coba kita cari saja,"kata Ling Ling mencari solusinya.


Di saat kamu tebal seperti ini mereka bertiga bersama-sama mencari sebuah jembatan yang ada di jurang ini, untuk pertama-tama mereka pergi ke bagian kiri dan berjalan secara perlahan namun setelah beberapa langkah yang cukup jauh sama sekali tidak ada jembatan.


"Aakh...... kurasa kita salah jalan dan kita akan terjebak dari sini,"kata Zen semakin emosi.


"Bentar, kita belum pergi ke bagian kanan siapa tahu ada jembatan,"Rey melangkahkan kakinya lagi dan menuju ke arah kanan untuk mencari sebuah jembatan tetapi tetap saja dalam beberapa langkah yang cukup jauh sama sekali tidak ada jembatan.


Jadi untuk sementara mereka bertiga terdiam mencari solusinya jika mereka kembali lagi dari awal maka akan memakan waktu bahkan bisa tersesat, tetapi jika mereka harus lurus ke depan sama sekali tidak ada jalan apalagi ini sangat membahayakan.


Ketika dudul Ling Ling yang merasa bosan mengambil kerikil-kerikil kecil dan melemparnya ke arah jurang, tetapi hal aneh terjadi tiba-tiba Dia mendengar suara yang begitu dekat.


"Ehh... ada suaranya kok,"Ling Ling Sagala berdiri dan mengambil kerikil-kerikil lagi untuk melemparnya ke dalam.


Trakk....


KRETAKKK ...

__ADS_1


"Iya, memang ada suaranya tetapi ini terlalu dekat dan yang aku lihat di bawah masih ada jurang yang dalam,"kata Rey yang membuatnya bingung.


__ADS_2