
Tinggal menunggu beberapa hari pernikahan Jho, Mila sering sekali ke rumah Jho. Beberapa kali dia datang, tapi Jhonatan tidak menggubrisnya. Hingga Jho akan bersiap untuk pergi ke bandara, akan bertolak ke Surabaya. Mila sudah ada di depan rumahnya.
Jho kesal sekali, tapi akhirnya dia pun menemui Mila untuk yang terakhir kalinya. Dan dia akan memberitahu kalau mulai sekarang jangan dirinya.
"Tuan, ibu Mila tidak mau pergi. Bagaimana jadinya?" tanya satpam.
"Sudah, nanti aku temui dia. Kamu sekarang tunggu saja di pos, selama seminggu nanti aku ada di Surabaya. Jadi jaga rumahku." kata Jho berpesan pada satpam rumahnya.
"Baik tuan." kata satpam.
Jho pun pergi menemui Mila di depan rumah. Dia ingin tahu apa yang di inginkan mantan istri tidak tahu diri itu.
"Kamu sudah lama di sini?" tanya Jho.
"Oh iya mas." jawab Mila.
"Kamu mau apa?" tanya Jho lagi.
"Aku minta maaf mas."
"Ya, aku maafkan."
"Emm, bisa tidak ngobrol dulu mas. Aku ingin ngobrol sama kamu, banyak." kata Mila mencoba untuk bicara panjang lebar tentang nasibnya sekarang ini.
"Tidak bisa, aku harus pergi." kata Jho yang pasti tahu maksud Mila.
"Kamu ... Mua nikah lagi ya mas." kata Mila ragu.
"Ya." jawab Jho singkat.
"Kamu gampang sekali melupakan aku mas." kata Mila mulai bicara agak sinis.
"Tentu, karena hal menyakitkan tidak perlu di ingat lagi. Aku ingin bahagia dengan istriku nanti." kata Jho masih bersikap datar.
"Kamu akan yakin bahagia?"
"Ya."
Mila diam, dia menatap Jho masih berwajah dingin. Dia menunduk, rasanya tidak mungkin Jho mau kembali padanya. Beberapa saat Mila percaya diri kalau Jho memaafkannya itu mau mendengarkan keluh kesahnya nanti tentang nasibnya. Tapi kelihatannya Jho tidak bersikap ramah padanya.
"Maaf Mila, aku harus pergi. Carilah laki-laki lain yang mungkin nanti bisa membahagiakan kamu dan mencintaimu dengan tulus. Berikan cinta dan ceritamu itu pada orang lain, jangan lagi padaku. Karena aku sudah mencintai gadis lain." kata Jho.
Setelah berkata seperti itu, Jho masuk lagi ke dalam rumahnya. Mengambil kopernya untuk segera pergi ke bandara. Telat beberapa menit tidak masalah, jika tidak di tanggapi dan bersikap tegas, Mila akan terus datang lagi dan lagi.
Cukup baginya tentang Mila, tidak akan ada lagi kesempatan untuk Mila kembali padanya. Dia pun keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya, sejak tadi supirnya menunggu untuk mengantar Jho ke bandara. Dan mobilpun keluar pagar, Mila masih ada di saja. Menatap kepergian mobil Jho yang sudah tidak peduli lagi padanya.
_
__ADS_1
Pesta pernikahan Jho sudah di mulai, semua sudah hadir sejak akad nikah tadi pagi itu. Memang tidak banyak yang di undang, meski pesta pernikahannya mewah, tapi Jho tidak mengundang banyak teman.
Hanya rekan bisnis yang jadi langganannya bekerja sama dan juga keempat sahabatnya. Meski begitu, acara cukup meriah dan santai. Kini kedua mempelai sudah melewati rangkaian adat pernikahan jawa. Dan di sambung dengan acara pesta mengusung pernikahan internasional.
Semua tampak gembira, mereka bersalaman memberi ucapan selamat. Ada juga bos dan teman-teman Seruni dari kafe di mana dia bekerja di undang. Sangat menyenangkan bagi Seruni teman-teman sesama pelayan kafe datang ke pernikahannya.
"Kamu beruntung sekali Seruni, meskipun duda. Tapi dia tajir lho." kata temannya Seruni.
"Terima kasih, dia juga sabar menunggu selama satu tahun menikah denganku. Kalau ketiga sahabatnya itu semua tidak sabar dan mendadak menikahnya." kata Seruni menatap suaminya yang sedang mengobrol dengan sahabat-sahabatnya.
"Oh ya? Bukankah kamu cerita suamimu ada empat sahabat duda. Jadi satunya belum menikah? Boleh tuh buat aku. Heheh." katanya lagi.
"Iya belum, tapi mungkin sebentar lagi. Lihatlah yang di ujung sana. Itu tiga istri sahabat mas Jho, dan satunya yang masih terlihat pendiam adalah calon istrinya mas Dion." kata Seruni menunjuk kumpulan istri sahabat suaminya.
"Waah, ngga ada kesempatan ya. Tapi itu ada yang masih muda sih istrinya."
"Iya, dia baru lulus sekolah dan di tunggu terus tuh sama mas David. Tapi dia udah menikah."
"Ooh, gitu ya. Cantik juga ya." kata teman Seruni lagi.
Perempuan-perempuan yang sedang di bicarakan oleh Seruni dan teman-teman sesama pelayan di kafe tempat kerja Seruni itu kini berjalan mendekat pada mereka. Seruni senang sekali, dia bisa berkumpul dengan para istri genk duda. Bahkan dia juga sudah menjadi istri genk duda itu.
"Aku belum mengucapkan selamat sama Seruni nih." kata Kania dengan senyumnya.
"Heheh, iya kak."
"Iya, terima kasih kak." kata Seruni.
Antara kelima pasangan genk duda, Kania dan Nayra yang usianya sama. Yaitu dua puluh empat tahun, sedangkan Seruni menginjak dua puluh tiga tahun. Milea sembilan belas tahun dan Amelia dua puluh satu tahun. Jadi mereka tidaklah jauh beda usianya, namun mereka saling menghormati.
Pesta pun semakin meriah dengan menghadirkan penyanyi ibu kota. Penyanyi kenalan Yudha yang dulu pernah di bantu dalam kasus perceraiannya dengan mantan suaminya. Dia kini menghibur para tamu undangan untuk menyanyikan beberapa lagu.
Kini tiba saatnya lagu romantis, dan mereka yang membawa pasangan pun berdansa dengan senang hati. Hanya Dion dan Amelia yang masih diam di tempat. Dion melihat keempat sahabatnya dan semua pasangan sedang berdansa.
"Apa kamu mau berdansa denganku Amel?" tanya Dion.
"Eh, kakak. Ameli tidak bisa." kata Amelia gugup.
"Tidak apa, lihat saja. Hanya gerakan maju mundur dan bergeser ke kanan dan ke kiri saja." kata Dion.
"Emm, nanti Amel menginjak kaki kak Dion." kata Amelia lagi.
Tapi Dion langsung menggaet pinggang Amelia. Dia membawanya ke lantai dansa lalu mengikuti gerakan sesuai irama musik. Apa lagi lampu-lampu di buat temaram, membuat suasana semakin romantis. Begitulah memang rangkaian acara, karena di acara dansa itu khusus untuk pasangan saja.
"Kak Dion, kok lampunya redup ya." kata Amelia.
Dion menatap Amelia, dia memang menemukan sisi yang sama dengan almarhum istrinya pada Amelia. Tapi dia juga menemukan hal baru, hal yang tidak ada pada almarhum istrinya. Kini pikiran Dion sejak dia curhat pada sahabat-sahabatnya selalu memikirkan Amelia.
__ADS_1
Dan memang benar saja, dia semakin memikirkan Amelia semakin merasakan getaran aneh di hatinya. Dia menatap wajah Amelia sekarang juga berbeda, meski Amelia setiap hari jarang memakai make up. Sekarang memakai make up, di matanya semakin cantik.
Tanpa di duga, wajah Dion mendekat pada wajah Amelia. Lalu menatap bibirnya dan menciumnya lembut. Membuat Amelia kaget, dia diam saja. Dion tersenyum, tangannya membelai rambut Amelia dan pipi gadis itu yang berubah memerah.
"Apa kamu mau menikah dengan kakak Amel?" tanya Dion.
"Eh, menikah?" tanya Amelia gugup.
"Ya, seperti sahabat kakak semua. Mereka semua sudah menikah, aku juga ingin menikah denganmu." kata Dion.
"Tapi, Amel malu kak." kata Amelia menunduk.
"Malu kenapa?"
"Tadi kak Dion cium Amel."
"Hahah."
Dion lalu mengangkat dagu Amelia, lalu dia mencium kembali bibir Amelia. Dia tidak peduli dengan pandangan sahabat-sahabatnya yang tadi sempat dia lihat sedang menatapnya. Ciuman yang lama dan lembut, lalu Dion melepasnya dan memeluk Amelia.
"Terima kasih Amelia, kakak senang kamu bisa membuat kakak beralih dari masa lalu." kata Dion memeluk Amelia erat.
Jho menghampiri Dion dan menepuk bahu laki-laki itu. Dion pun melepas pelukannya pada Amelia dan menoleh ke arah Jho.
"Mau menikah cepat?" tanya Jho.
"Eh, kenapa?"
"Gue antar lo besok ke gereja untuk menikah cepat." kata Jho.
Sahabat yang lain pun mendekat dan menatap Dion. Nathan mengedikkan bahu dan mengankat jempolnya lalu tersenyum.
"Tapi kan butuh persiapan." kata Dion.
"Tidak usah, mereka aja pada mendadak menikahnya. Lo lebih mendadak lagi juga bisa kan. Apa perlu mengadakan pesta pernikahan?"
"Tidak. Baik, gue mau menikah cepat." kata Dion bersemangat.
"Oke. Besok kita ke gereja dan menyaksikan kalian menikah." kata David.
"Hahah!"
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1