
Lea masuk dalam mobil David, setelah berpamitan pada bu Marni. Mobil keluar dari gang rumah Lea, dia melihat Lea baik-baik saja. Namun sedikit lecet tangan David ketika tadi memukul kedua bodyguard juragan Epul.
"Kenapa mereka bisa berurusan denganmu, Lea?" tanya David.
"Kan aku udah bilang, surat rumah itu di gadaikan juragan Epul sama ayah tiriku. Dia memang brengsek om, ibu meninggal juga karena dia. Jani itu, ayah tiriku mengambil surat rumah di kamar itu. Ibu berusaha mencegahnya, tapi malah di bentak dan di tendang. Hik hik hik, aku tidak terima om. Tapi tetap saja dia bawa surat itu untuk di gadaikan." ucap Lea sambil terisak.
David menatap Lea, dia hentikan mobilnya. Lalu tangannya menarik tubuh Lea untuk menenangkan gadis itu. Di hapusnya air mata yang meleleh di pipinya, dia ikut sedih mendengar cerita Lea itu.
Baru kali ini Lea terlihat bersedih, dia tidak pernah melihat Lea sedih. Bahkan satu minggu meninggalnya ibunya itu, tak terlihat sedih.
"Jangan sedih, kamu harus sabar Lea." kata David.
"Aku sendirian om, ngga ada ibu lagi di sisiku. Apa lagi rumah peninggalan ibu satu-satunya di ambil surat rumahnya." ucap Lea.
"Nanti aku bantu ambik surat tanah itu lagi, bila perlu ayah tirimu akan masuk ke penjara." kata David kesal sendiri mengingat tadi ayah tiri Lea dan istri genitnya.
"Memang om bisa?"
"Tentu saja, kamu lupa aku punya sahabat pengacara." kata David penuh keyakinan.
Lea menarik tubuhnya dari David, dia mengusap sisa air matanya di pipi meskipun sudah kering. David melihat Lea kembali lagi dengan wajah semula, dia menjalankan mobilnya untuk pulang sore ini.
"Kamu sudah makan?" tanya David.
"Belum om, kan belum sampai rumah om David." jawab Lea.
"Kalau begitu, kita makan di luar aja. Di restoran, bagaimana?" tanya David.
"Terserah om aja." kata Lea.
"Kita ke restoran Jepang." kata David.
"Tapi aku ngga ngerti om, cara pegang sumpit. Mana makananya banyak, satu meja ada semua." kata Lea.
"Memang kamu tahu restoran Jepang?" tanya David.
"Ya ngga sih, tapi ada teman aku kerja di restoran Jepang dan harus pakai baju kimono kalau kerja di sana. Bikin ribet dan repot kata aku sih."
"Hahah! Ya sudah, kita cari tempat apa yang kamu suka aja di mana mau makannya." kata David dengan tawa kecilnya.
"Kalau aku sih seneng jajan di kaki lima om, ada di alun-alun pinggir kota. Di sana ada tempat kuliner yang murah tapi makanannya enak-enak." kata Lea dengan antusias.
__ADS_1
"Boleh kita kesana."
"Tapi, om ngga apa-apa makan di kaki lima?" tanya Lea.
"Kenapa tidak? Aku bukan laki-laki rewel kalau makan, apa saja aku suka. Dan makan seseoranf juga bisa." ucap David dengan senyum misterinya.
"Ih, om makan orang?"
"Nanti, kalau sudah waktunya. Aku akan makan orang." kata David.
Membuat bergidik Lea dan memiringkan badannya, ngeri dia mendengar ucapan David.
"Om menakutkan."
"Hahah!"
_
Di kantor, David senyum-senyum sendiri. Dia membayangkan Lea yang ceria. Hingga dia tidak sadar kalau Imelda sudah ada di depan mejanya.
"Tuan David sepertinya sedang senang hatinya." kata Imelda membuat David kaget.
"Lima menit lalu tuan, apa ada yang anda pikirkan?" tanya Imelda.
"Tidak ada. Hanya memang hatiku sedang senang saja." jawab David.
"Apa ini masalah seorang gadis?" tanya Imelda curiga.
Karena selama dia bekrja dengan David sebagai sekretarisnya, Imelda baru kali ini dia melihat David tersenyum dan wajahnya ceria. Bahkan dulu sewaktu masih punya istri model itu, dia tidak pernah terlihat ceria sebelumnya.
"Apa aku kelihatan sedang jatuh cinta?" tanya David, membuat Imelda pun tersenyum.
Benar dugaannya, kalau David sedang jatuh cinta lagi pada gadis lain.
"Ya, karena wajah anda yang menjawabnya. Saya baru melihat anda begitu bahagia sekali hari ini." kata Imelda.
"Hahah! Ya baiklah, kamu tahu aku bagaimana dulu. Jadi sangat kentara sekali ya kalau aku sedang jatuh cinta lagi." kata David.
"Ya benar tuan, kalau boleh tahu. Siapa gadis beruntung itu?" tanya Imelda.
"Emm, dia ART di rumahku. Gadis itu polos dan, dia masih remaja." kata David, menghela nafas panjang.
__ADS_1
Membuat Imelda mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan bosnya itu.
"Maksud anda, dia masih sekolah SMA?" tanya Imelda ragu.
Pikiran Imelda langsung mengarah pada gadis SMA, karena dia cerdas. Jadi bisa menebak apa yang di katakan David.
"Tepatnya baru lulus SMA, apa aku terlalu tua untuknya?" tanya David.
Dia ingin tahu pendapat dari sisi wanita, bagaimana tentang pilihannya pada gadis remaja. Yang umurnya terpaut jauh, dan Imelda pun hanya tersenyum saja. Dia merasa bosnya lebih cocok memang mendapatkan jodoh gadis yang jauh umurnya dari dia, agar senyum David terus saja mengembang. Begitu kira-kira pemikiran Imelda.
"Saya rasa cocok saja tuan, jangan memandang umurnya. Yang terpenting anda bahagia dan selalu tersenyum." kata Imelda, membuat David menatap tajam pada Imelda.
"Apa selama ini aku kurang tersenyum?" tanya David.
"Maaf tuan David, kalau saya jujur. Memang anda terlalu serius dan dingin pada perempuan, dan gadis yang anda cintai itu cocok untuk anda." kata Imelda.
"Ya baiklah, terima kasih atas sarannya Imelda. Kurasa juga memang aku harus banyak senyum, kalian semua menganggapku pria dingin kan?" kata David.
"Bahkan aebelum anda berpisah dengan mantan istri model pun, saya belum pernah melihat anda sebahagia ini dan sering tersenyum." kata Imelda lagi.
"Hahah! Baiklah Imelda, cukup komentar dan saranmu. Ada apa kamu kemari?" tanya David.
"Hanya meminta tanda tangan saja, tadi bagian keuangan meminta saya memberikan berkas ini. Dan bagian lapangan juga minta proposal pengajuan pembelian peralatan bisa di setujui." kata Imelda.
"Bukankah bagian lapangan sudah mengajukan?" tanya David.
"Ya, dan anda belum menanda tanganinya. Baru minggu lalu anda memeriksa proposalnya. Dan anda minta di revisi. Lalu sekarang minta di tanda tangani oleh anda tuan." kata Imelda.
"Ya baiklah, suruh membeli barang yang penting saja. Kurasa peralatan.kontraktor yang ada di tempat proyek juga sudah cukup. Kita bisa kembalikam jika sudah selesai proyek itu." kata David.
"Baik tuan." kata Imelda.
Imelda pun keluar setelah mendapatkan tanda tangan dari sang bos.
Setelah menanda tangani berkas yang di bawa Imelda tadi, David pun kemali mengerjakan pekerjaannya lagi. Sesekali dia memeriksa ponselnya, dan mengirim pesan pada Lea. Hanya sekedar bertanya sedang apa, atau memasak apa malam ini untuk makan malam.
_
_
~~~`
__ADS_1