Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
87. Hati Lea


__ADS_3

Setelah mereka berdua, Yudha dan Kania sudah resmi akan menikah bulan depan. Kini David yang merasa ketinggalan oleh sahabat-sahabatnya itu. Dia masih belum menyatakan cinta pada Milea.


Milea kini sudah kuliah, mengambil jurusan ekonomi. Karena nanti dia berniat akan bekerja di kantor David. Dia masih tinggal di rumah David sebagai ART. Para pembantu rumah David tahu kalau sang majikan itu menyukai Milea. Makanya mereka selalu memberitahu pada Milea, sebaiknya jangan jadi ART di rumah itu. Tapi jadi asisten pribadinya David.


"Bagaimana kuliahmu Lea?" tanya bi Kokom.


"Lumayan susah, bi. Apa aku berhenti aja ya?" tanya Lea.


"Eh, jangan. Nanti tuan David marah sama kamu." kata bi Kokom lagi.


"Ngga akan, om David ngga marah." kata Lea lagi.


"Tuan David ngga marah, tapi nyonya besar yang akan marah. Beliau tidak mau punya mantu biasa saja." kata bi Kokom keceplosan.


"Punya mantu? Siapa? Apa om David mau menikah?" tanya Lea.


"Oh, salah bicara bi Kokom. Sudah, jangan di pikirkan. Yang jelas, kamu harus semangat kuliahnya." kata bi Kokom lagi.


Milea diam, wajahnya bingung. Dia sebenarnya tidak enak. Di ajak kerja oleh David di rumahnya, kamarnya juga berbeda sendiri dari pembantu lainnya. Dia juga di beri laptop oleh David untuk kelancaran belajarnya. Dan lagi, ibunya David.


Dulu tidak terlalu suka padanya, karena dia ART baru dan masih lulusan SMA. Entah sejak kapan dia jadi baik, mungkin David menyukainya?


Lea yang acuh dan tidak memperhatikan lebih jelas semua perhatian David padanya, kini jadi berpikir.


"Apa om David suka padaku?" gumam Lea ketika dia sedang duduk di samping rumah.


Langkah pelan mendekat padanya, tidak membuat Lea sadar. Kalau ada seseorang sedang mendekatinya dan berdiri di belakangnya.


"Kamu sedang apa?"


Suara laki-laki yang berdiri di belakang Lea, membuat gadis itu terkejut. Dia menoleh ke belakang, terlihat David sedang menatapnya. Lea menangkap tatapan David memang berbeda padanya, apa arti tatapan itu? Seperti menyejukkan hatinya.


"Lea?"


"Eh, iya om. Ada apa?" tanya Lea gugup.


"Kamu sedang apa? Melamun?" tanya David.


"Emm, ngga om. Aku sedang mikir, libur akhir tahun mau kemana." jawab Lea berbohong.


"Ikut aku aja, aku ada rencana liburan akhir tahun dengan sahabat-sahabatku. Kamu ikut ya?" kata David.


"Liburan kemana om?" tanya Lea.


"Ada deh pokoknya. Mau ya?" tanya David.


"Boleh om, tapi akhir tahun banyak tugas sih sebelum libur awal tahun baru." kata Lea.


"Tugas apa?" tanya David.

__ADS_1


"Emm, membuat sampel pembukuan perusahaan. Aku di suruh survey ke perusahaan gitu, dan minta contoh copyannya." kata Lea.


"Itu gampang nanti aku ambil dari kantor aja. Jadi kamu ngga usah survey lagi ke perusahaan lain." kata David.


"Benar om?"


"Iya, jadi akhir tahun ini kamu liburan denganku." kata David.


"Oke deh om. Tapi pasti kan itu contoh laporan keuangannya?"


"Iya, kamu butuh apa saja. Bilang sama aku, pasti aku bantu." kata David.


Lea merasa ada yang lain dengan ucapan David, kenapa dia menggunakan panggilan aku. Tidak seperti biasanya, memanggil dirinya om ketika bicara dengan Lea. Lea masih menatap David, ada pesona yang di tampilkan David. Membuat Lea semakin kagum.


"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya David.


"Eh, en ngga kok om. Heheh." ucap Lea merasa malu David menyadari kalau dia mengaguminya.


David tersenyum, dia mengusap kepala Lea. Lalu pergi dan masuk ke dalam rumah. Lea bernafas lega, hatinya benar-benar aneh saat menatap David.


"Ada apa denganku?" gumam Lea, dia memegangi pipinya yang terasa hangat lalu tersenyum sendiri.


_


Setiap hari, Lea mencuri pandang David ketika dia sedang duduk di kursi atau di ruang kerjanya. Entah kenapa Lea merasa malu sendiri ketika dia berhadapan dengan David. Dia ingin bertanya pada bi Kokom atau Leni, tapi dia takut nanti di ledek sama mba Santi juga jika dia menceritakan tentang apa yang dia rasakan.


"Lea!" panggil Leni.


Lea menoleh, dia tersenyum segaris lalu melanjutkan mengetik yang sejak tadi baru dia sentuh. Leni melihat Lea sedang mengetik.


"Kamu belajar apa melamun?" tanya Leni.


"Belajar mba. Kenapa memangnya?" tanya Lea tanpa mengalihkan matanya dari laptop.


"Aku lihat kamu banyak melamunnya. Ada apa? Cerita sama mba, Lea." kata Leni.


"Emm, gimana ya. Soalnya aku malu mbak kalau cerita." kata Lea.


"Malu kenapa?" tanya Leni heran.


"Emm, tapi mba Leni jangan meledek ya. Dan jangan bilang sama bi Kokom dan mba Santi." kata Lea.


"Lho, kenapa?" heran Leni pada gadis manis itu.


"Emm, janji deh." kata Lea.


"Iya. Tapi ngga janji kalau bilang sama bi Kokom." kata Leni.


"Ish, mba Leni jangan gitu."

__ADS_1


"Iya ngga! Cepat katakan." kata Leni tidak sabar.


"Emm, aku kok suka gugup ya kalau dekat sama om David." kata Lea.


"Benarkah?" tanya Leni tidak percaya.


"Iya, mba. Entah itu sejak kapan, kok aku suka banget lihatin om David dari jauh. Tapi kalau dari dekat suka grogi." kata Lea.


"Hemm, kamu itu jatuh cinta sama tuan David Lea." kata Leni.


"Eh, mana ada mba. Kan aku cuma kagum aja sama om David." kata Lea dengan pipi menghangat karena dia kaget, apakah benar dia suka David.


"Kagum, tapi lama-lama jadi suka terus cinta. Wah wah wah, kayaknya gayung bersambut deh. Hahah!" kata Leni tertawa senang.


"Gayung bersambut apa sih mba Leni? Lea ngga ngerti deh." kata Lea.


"Udah, pokoknya tunggu tuan David menyadarinya. Dan kamu bilang aja suka gitu ya." kata Leni.


"Apa sih mba Leni, ngga jelas ngomongnya. Lea ngga ngerti." kata Lea.


"Ngga perlu ngerti. Nanti ngertinya sama tuan David. Udah ah, aku mau bergosip sama mba Santi dan bi Kokom kalau Lea sedang jatuh cinta sama tuan Dav ...."


Mulut Leni di tutup tangan Lea dengan cepat. Dia benar-benar malu dan menyesal kenapa bercerita pada Leni. Leni berontak, dia melepas paksa tangan Lea dan tertawa senang.


"Hahah!"


"Mba Leni! Jangan bilang-bilang, malu tahu!" kata Lea.


"Jangan malu. Nikmati aja, kamu sudah dewasa Lea. Wajar kalau kamu merasakan itu." kata Leni.


"Tapi, aku merasa malu mba. Lea ngga tahu diri namanya kalau suka sama om David. Udah di tolong dan di beri kerjaan di rumahnya kok ngelunjak suka sama majikannya sih." keluh Lea.


"Lea, percaya sama mba. Kamu itu beruntung, yang penting kamu ngga menggoda tuan David kan?" kata Leni.


"Menggodan gimana?"


"Ya, kayak bergoyang dengan memakai baju seksih dan menggodanya gitu."


"Ish! Memang Lea cewek apaan? Mba Leni ini ada-ada aja."


"Hahah! Bercanda Lea. Sekarang kamu renungkan, apa benar perasaanmu cuma kagum aja sama tuan David? Pikirkan itu, aku rasa dari kekaguman bisa deh berubah cinta." kata Leni.


Lea diam saja, bukannya dia berpikir membenarkan ucapan Leni. Tapi dia bingung dan tidak mengerti ucapan Leni itu, lebih baik diam dari pada menanggapinya. Begitu pikir Lea.


_


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧

__ADS_1


__ADS_2