
David menelepon Yudha sebelumnya, kalau dia akan ke kantornya. Entah untuk apa David mau datang ke kantornya, karena tidak biasanya David datang ke kantor Yudha.
Yudha menunggu David datang siang ini, dia juga akan memesan makanan melalui aplikasi pesan antar. Karena memang Yudha sedang santai di kantor, urusan klien yang beberapa permasalahannya ringan di tangani oleh anak buahnya saja.
Saat ini Yudha pengacara senior, dia sering sekali berhasil menangani kasus berat, jadi jika ada kasus ringan maka anak buahnya yang menangani, baru setelah ada kasus berat dia yang maju.
Tok tok tok
"Masuk."
Pintu terbuka, David masuk dengan wajah santai. Dia melihat Yudha sedang menanda tangani sebuah dokumen, entah apa. David duduk di sofa, Yudha melihat ke arah David dan tersenyum.
"Tumben lo datang sendiri, memang ngga ngajak yang lain?" tanya Yudha.
"Gue ngajak Nathan, tapi dia ada tamu katanya. Jho lagi sibuk dengan pacar barunya." kata David.
"Lha, memangnya pacarnya itu datang ke Jakarta?"
"Ngga juga, katanya sore ini dia mau ke Surabaya. Mau ketemu dengan orang tua pacarnya." kata David.
"Ooh, dia serius dengan gadis pelayan kafe itu?" tanya Yudha menghampiri David.
"Sepertinya dia serius, dan dua bulan kemarin kan dia datang ke Bali. Dia juga ngajak kita kan, kebetulan kita semua sibuk. Jadi dia datang sendiri dan pulang-pulang katanya sudah melamar gadis itu." kata David.
"Hemm, jadi Jho sudah dapat pengganti Mila ya. Baguslah, dia pantas bahagia kan. Kita juga harus bahagia dengan pasangan kita nantinya."
"Ya, itu benar. Nathan juga sepertinya suka sama baby sitter anaknya, heh. Lucu juga ya, jodoh kita semua tidak ada yang sama dengan yang dulu." kata David.
"Eh? Lo memangnya udah punya gebetan juga?" tanya Yudha.
"Belum, entahlah. Masih belum ada." kata David.
"Oh ya, lo kesini mau apa?" tanya Yudha.
"Gue mau minta tolong, di kantor lo ada pengacara bernama Marshanda kan?" tanya David.
"Iya, ada. Memang kenapa? Lo naksir sama pengacara Marshanda?" tanya Yudha.
"Ish, gue sebel banget sama dia." kata David.
"Eh, lo kenal dia di mana?"
"Gue tadinya ngga kenal. Tapi dia semena-mena sama gadis pelayan restoran. Dia marah-marah pada pelayan itu, sampai dia di pecat dari pekerjaannya. Jadi gue suruh itu pelayan bekerja di rumah gue, ya kasihan aja." kata David, membuat Yudha bingung.
"Lo cerita tentang Marshanda atau gadis pelayan?"
"Ck ngga dengar, Marshanda itu membuat orang jadi kehilangan pekerjaannya karena kesombongannya." kata David, Yudha menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ceritakan awal mula kenapa lo kesal sama pengacara Marshanda." kata Yudha.
David mendengus kesal tapi akhirnya dia pun bercerita. Yudha mendengarkan cerita David masalah Marshanda dan pelayan yang di pecat lalu di ajak kerja oleh David di rumahnya. Yudha mengerutkan dahi ketika David mengajak gadis pelayan bekerja di rumahnya.
"Lo ajak gadis itu kerja di rumah lo itu?" tanya Yudha.
"Ya, gue kasihan sama dia. Tapi dia hebat sekali, dengan santai tidak membalas perlakuan Marshanda padanya." ucap David dengan senyum tipis.
"Ck, bilang aja lo suka sama gadis itu." kata Yudha meledek.
"Eh? Gue suka gadis SMA itu? Yang benar aja, masa selera gue gadis SMA." kata David mengelak.
"Hahah! Gue yakin lo suka sama gadis itu, ck dari cerita lo aja gue udah tahu. Tapi ngga masalah sih lo suka sama gadis SMA itu, memang lo harus bergaul sama anak muda. Biar sikap dingin lo itu bisa mencair, hahah!"
"Sialan lo. Jadi gimana dengan Marshanda, lo tahu dia kan?" tanya David.
"Emm, ya. Bahkan dia bawahanku, tapi memang bukan masuk di timku. Dia di tim kedua yang menangani kasus sepele tapi butuh pengawalan pengacara." kata Yudha.
"Lo bisa intimidasi dia?"
"Maksud lo apa?"
"Ck, gue pengen kasih dia pelajaran. Agar tidak semena-mena sama orang." kata David.
"Kata timnya, dia memang kadang seperti itu. Entah maksudnya apa, sama lawan dari orang yang di perkarakan saja dia suka somobong. Terkadang sikapnya bisa membuat menaikkan pamornya, tapi satu timnya kadang kudengar tidak suka. Yaa, mau bagaimana lagi." kata Yudha.
"Bantu apa? Pecat dia?" tanya Yudha.
David diam, memang bukan hak dia memecat pekerjaan orang. Tapi dia ingin Marshanda mendapat teguran, kalau dengan orang lain jangan semena-mena. Apa lagi melimpahkan kesalaham pada orang lain.
"Gini aja, lo panggil dia. Gue duduk manis di sini, gue pengen tahu apakah dia kaget gue ada di sini denganmu. Reaksinya bagaimana? Dan lo juga kasih dia SP lah." kata David, Yudha tampak berpikir.
"Oke, gue panggil dia." kata Yudha.
Dia menuju meja kerjanya, menelepon seseorang di bagian tim kedua.
"Halo, Firman."
"Halo pak Yudha, ada apa?"
"Tolong kamu kasih tahu Marshanda suruh masuk ke ruanganku sekarang ya."
"Baik pak Yudha."
Klik!
Yudha menutup sambungan teleponnya, dia kembali duduk di sofa. Menunggu Marshanda masuk ke dalam ruangan, sedangkan David diam. Duduk dengan tenang sambil memeriksa email yang baru saja masuk dari Imelda, sekretarisnya. Tak berapa lama, pintu di ketuk dari luar.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk!"
Pintu terbuka, muncul wanita dengan rambut di gerai berjalan mendekat pada Yudha dan David. Marshanda, dia belum menyadari ada David di sana. Marshanda tersenyum ramah pada Yudha.
"Ada apa ya pak Yudha memanggil saya?" tanya Marshanda.
"Kamu duduk, Marshanda." kata Yudha.
Marshanda pun mengangguk, dia duduk dengan sopan dan di buat anggun. Di tariknya rambut ke belakang telinganya dan tersenyum tipis pada Yudha.
"Marshanda, kamu kenal laki-laki itu?" tanya Yudha menunjuk David yang sedang bersedekap, menatap Marshanda datar.
Marshanda pun menoleh ke arah David, dia terkejut kenapa ada David di kantor Yudha. Wajahnya berubah pias dan merasa malu.
"Emm, maafkan saya pak Yudha. Saya tidak tahu." kata Marshanda menunduk.
"Dia sahabatku, dia punya teman yang kamu aniaya sampai dia di pecat dari pekerjaannya." kata Yudha, David diam saja menatap Marshanda masih dengan tatapan datar.
"Maafkan saya pak, saya tidak tahu kalau anda adalah teman pak Yudha." kata Marshanda, dia malu telah terpesona pada David ketika di hampiri di mejanya.
"Kamu seharusnya minta maaf pada gadis itu, bukan pada saya." kata David.
"Marshanda, jika egomu yang kamu kedepankan hanya karena kamu seorang pengacara. Citra burukmu akan terlihat sebagai pengacara sombong, terlebih lagi akan menyangkut masalah firma hukum kita. Itu akan berpengaruh pada firma hukum ini, jaga sikapmu itu Marshanda. Jangan sekali-kali kamu sombong dan merasa hebat pada orang lain." kata Yudha mengingatkan.
"Baik pak Yudha, maafkan saya. Saya juga minta maaf pada teman anda pak ..."
"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Saya kesal dengan sikapmu itu, jangan karena anda itu seorang pengacara harus semena-mena pada orang lain di bawah kamu." ucap David.
Marshanda diam saja, dia merasa malu. Terlebih laki-laki di dekat Yudha itu adalah sahabat dari atasannya. Jika dia mengadu yang bukan-bukan pada Yudha, sudah pasti dia akan di pecat mungkin dari timnya.
"Untuk itu, saya peiringatkan sama kamu hanya dengan lisan saja. Tidak dengan surat SP resmi, itu untuk memperbaiki sikapmu di tengah masyarakat terutama kalangan bawah. Jangan tunjukkan arogansimu lagi, kamu mengerti?" kata Yudha memberi peringatan pada Marshanda.
"Baik pak, saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Bagus, sekarang kamu boleh keluar." kata Yudha.
"Iya pak, terima kasih tidak memberiku surat peringatan resmi pada saya." kata Marshanda.
Yudha mengangguk, Marshanda pun keluar dari ruangan Yudha dengan lega. Dia tidak menyangka laki-laki di depannya itu adalah sahabat atasannya.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1