
Ayah Nathan adalah pensiunan jenderal bintang dua di kepolisian. Setelah pensiun dari kepolisian, ayah Nathan bekerja di perusahaan yang dia bangun sebelum pensiun dari pekerjaannya sebagai abdi negara.
Setelah pensiun, ayahnya Nathan menjalankan perusahaannya. Sampai Nathan juga punya perusahaan sendiri dan semakin berkembang.
Kini, Yudha sudah berada di kantor David. Dia ingin membicarakan masalah kasus Nathalie dan ayahnya Kania. Dia hanya ingin agar oknum polisi yang melindungi Nathalie, jangan sampai terus melindunginya lagi.
Yudha menceritakan semuanya pada sahabat-sahabatnya tentang masalah teror dan juga ingin melindungi Kania. Semuanya mengerti kenapa Yudha begitu sibuk dengan masalah Nathalie.
"Jadi begitu ya, benar-benar ini kasus yang harus hati-hati menyelesaikannya. Soalnya Nathalie memang bukan orang sembarangan di belakangnya." kata David.
"Ya, makanya gue lagi mikir. Mau minta bantuan siapa jika gue bertindak lebih cepat, gue mikir mau secepatnya selesai. Dan dia tuh minta uang sama gue tiga ratus juta buat ganti rugi ayahnya Kania, gila ngga dia? Benar-benar pemerasankan?" kata Yudha.
"Kenapa lo langsung bayar aja sama dia?" kata Nathan.
"Gue pikir harus menyelamatkan Kania, dia di hina habis-habisan waktu itu. Jadi tanpa pikir panjang, aku menyetujui membayar gantk rugi sebesat tiga ratus juta." kata Yudha.
"Tapi sebanding ngga dengan orangnya? Gue kira lo suka sama gadis itu." kata Jho.
"Ya, gue suka gadis itu. Dia manis, heheh." kata Yudha.
"Lalu, lo udah nembak dia?" tanya Jho lagi.
"Belum, kupikir nanti setelah semuanya selesai. Baru gue mau mengatakan padanya." kata Yudha.
"Dia suka ngga sama lo?" tanya Dion kali ini.
Yudha berpikir, sejak dia sering bertemu dengan Kania, gadis itu memang lebih banyak terlihat senang dan merasa nyaman dengannya. Apa lagi sekarang hampir setiap hari dia mengantar pulang selepas pulang kerja.
"Gue ngga tahu." jawab Yudha.
"Cih! Seorang pengacara belum bisa memastikan kalau gadis bersamanya suka atau tidak sama lo. Lo kan hampir setiap hari mengantar pulang?" kata David mencibir Yudha.
"Eh, lo sialan. Gue juga tahu, dia belum menunjukkannya. Tapi gue pikir dia juga suka sama gue, tapi memang gue sengaja tidak mengatakan dulu. Karena gue pikir di kira gue mengambil kesempatan kan, kalian tahu apa yang di katakan Nathalie padanya? Dia mengira Kania gundik gue, jadi gue takut aja dia berpikiran seperti itu. Gue mau dia nyaman dulu jalan sama gue, lo kira menyatakan cinta sama dengan beli gorengan? Lha lo sendiri?" kata Yudha panjang lebar.
"Lo jangan sindir-sindir teman dong, Vid. Lo kan belum menyatakan cinta juga sama Lea." kata Nathan.
"Ya, kan gue udah bilang. Lea tunggu dia kuliah dulu, sekarang dia sudah mulai kuliah. Umurnya tunggu dua puluh tahunanlah." kata David.
"Eh, kalau lo nunggu dia masuk kuliah. Nanti yang ada ada lagi yang naksir sama dia, mending lo bilang sama dia kalau lo itu cinta. Dan langsung menikahnya, lo lelet banget jadi orang." kata Jho yang gregetan dengan David itu.
"Ck, lo kenapa menyalahkan gue? Lha, Yudha aja sama kayak gue." kata David.
"Tapi lo udah benar-benar cinta kan sama dia? Mau tunggu apa lagi, gue dengar mama lo udah terima dia." kata Jho lagi.
__ADS_1
"Berisik lo, iya gue nanti bilang sama dia." kata David.
"Heh! Lo kayak anak kecil aja bro. Gue dapat jatah setiap hari sama Nayra, apa kalian ngga iri sama gue?" ucap Nathan meledek sahabat-sahabatnya yang belum juga ada yang menyusul menikah lagi.
"Kalian kenapa cerita masalah itu sih? Gue kesini mau minta tolong sama lo, Nathan." kata Yudha.
"Minta tolong apa?"
"Papa lo kan pensiunan kepolisian. Gue minta papa lo bantu untuk melobi teman-teman di kepolisian, menyelidiki siapa yang membeking Nathalie di kepolisian. Gue yakin Nathalie juga punya hubungan gelap sama oknun polisi ini." kata Yudha..
"Kalau itu, lo datang aja sama papa gue. Papa sedang santai terus di rumah, kantornya ada yang kelola sendiri sama asistennya." kata Nathan.
"Oke, hari Minggu besok gue datang ke rumah papa lo." kata Yudha.
"Siip, gue juga mau je rumah mama. Nayra pengen ke rumah mamanya Minggu ini." kata Nathan.
Pembicaraan mereka pun terhenti, karena Dion yang sejak tadi diam kini harus kembali ke kantornya. Nathan dan Jho juga sudah selesai bicara pada David tentang kerja sama perusahaannya. Mereka mau kerja sama membuat proyek baru.
Yudha di tawari masalah proyek itu, tapi dia tidak bisa fokus dengan masalah itu. Jadi dia ikut dalam proyek kerja sama tersebut, hanya tidak bisa ikut dalam pembangunannya. Dia serahkan pada keempat sahabatnya saja.
_
Yudha kembali mendapat teror lagi. Kali ini dia di buntuti sampai rumahnya, sudah dua hari ini ada mobil yang membuntutinya. Dia kesal sekali, kenapa dengan cara menerornya san juga menyuruh orang untuk membuntutinya terus.
Dia sengaja tidak langsung pulang ke rumahnya, tujuannya berubah arah ke rumah kedua orang tua Nathan. Dia ingin meminta bantuan secepatnya pada papanya Nathan, karena sejak dia berkumpul dengan keempat sahabatnya itu. Selalu saja di buntuti.
"Sial! Dia benar-benar mau main kasar ternyata." umpat Yudha.
Dia melajukan mobilnya dengan kencang, menghindar dari kejaran mobil di belakang yang mengejarnya. Tak lama Yudha sampai di perumahan kompleks elit, berhenti di depan pintu pagar dan menglaksonnya.
Satpam keluar dan Yudha meminta pagar di bukakan untuknya. Pintu pagar besi itu di buka, mobil Yudha segera masuk dan meminta satpam menutupnya lagi agar tidak di ketahui kalau mobilnya masuk ke dalam rumah orang tua Nathan.
Ibu Sofie keluar dari dalam rumah, dia heran kenapa ada mobil Yudha masuk ke dalam halamab rumahnya. Yudha keluar dan menyalami ibu Nathan yang sedang bingung itu.
"Lho, Yudha? Kok kemari, ada apa?" tanya Sofie ibu Nathan.
"Saya mau ketemu om, tante. Ada kan?" tanya Yudha.
"Ada, lagi ngasih makan burung di halaman belakang." jawab ibu Sofie..
"Syukurlah, om Dani ada di rumah."
"Memang ada apa, Yudha?" tanya ibu Sofie.
__ADS_1
"Mau ada perlu tante, mau minta tolong aja. Heheh." kata Yudha sambil tertawa kecil.
"Tante kaget kamu datang tiba-tiba, mana Nathan kan ngga ada di sini."
"Iya tante, saya mendadak kesini aja. Ya udah, saya masuk ya tante ketemu om Dani." kata Yudha.
"Ya, tante mau ke rumah besan dulu." kata ibu Sofie.
"Iya tante."
Yudha masuk ke dalam rumah ibu Sofie dan langsung menuju ke belakang rumah. Berharao dia tidak mengganggu papanya Nathan itu, tapi seharusnya sih tidak mengganggu. Sampai di belakang, dia melihat pak Dani sedang memandikan burungnya, Yudha mendekat dan memberi salam.
"Sore om Dani." sapa Yudha.
"Eh, Yudha. Kamu kemari? Tumben." kata pak Dani.
"Iya om, mau minta tolong sama om Dani." kata Yudha duduk di kursi.
"Minta tolong apa?" tanya pak Dani.
Yudha pun langsung menceritakan apa yang dia alami selama ini. Dan juga kecelakaan dua tahun lalu. Dia bukannya tidak bisa mengusutnya, tapi dia masih melindungi Kania dan juga Nathalie yang sulit untuk di tindak.
"Jadi begitu. Nanti om minta sama teman om yang ada di kepolisian, mencari tahu siapa itu oknum yang dekat dengan gadis model itu. Memang itu tidak benar, tapi harus di usut secara pelan-pelan dan yang berpihak sama dia itu siapa lagi." kata pak Dani.
"Iya om, tadi saya juga di buntuti mobil ngga di kenal. Jadi saya langsung saja kemari." kata Yudha.
"Oke, nanti om minta bantuan pada teman om di kepolisan. Kamu tenang saja, teman om akan menyelidiki siapa yang membantu Nathalie itu sampai tidak terungkap masalah itu dan semua skandalnya." kata pak Dani.
"Terima kasih om sebelumnya, saya jadi ngerepotin om Dani." kata Yudha.
"Ngga apa-apa, om juga sudah lama tidak ketemu dengan teman om itu."
"Baiklah om, saya pamit pulang dulu."
"Ya. Nanti tunggu kabar aja dari om ya."
"Ya om."
Yudha pun melangkah pergi dari halaman belakang di mana papanya Nathan sedang memandikan burung-burung kesayangannya itu.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧