Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
29. Di Rumah Sakit


__ADS_3

Beberapa kali telepon dari David, Nathan tidak menjawabnya karena dia sedang cemas dengan keadaan anaknya. Baby sitter anaknya meneleponnya bahwa Kevin sakit panas. Akhirnya di bawa langsung ke rumah sakit sebelum Nathan sampai di rumahnya.


Nayra, baby sitter Kevin yang sudah bekerja selama satu bulan, menurut Nathan sangat bagus dan cekatan. Gadis itu selalu di pantau oleh cctv yang Nathan pasang di ruang khusus bermain dan juga kamar tidur Kevin.


Nathan melihat Nayra begitu cekatan dan seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Kevin di asuh dengan baik oleh Nayra. Dan kini Nayra membawa Kevin ke rumah sakit sendiri, lalu menghubungi Nathan secara mendadak.


Ada rasa kesal sebenarnya Nathan pada Nayra, membawa anaknya ke rumah sakit tapi tidak memberitahunya lebih dulu. Sampai di rumah sakit, Nathan langsung menuju UGD, dia berharap anaknya baik-baik saja.


"Bagaimana kondisi Kevin?" tanya Nathan ketika dia sampai di UGD melihat anaknya lemah.


"Sudah di tangani oleh dokter, sedang menyiapkan kamar inap tuan." jawab Nayra melihat kondisi Kevin yang lemah.


Kedua orang tua Nathan juga langsung datang. Mereka menghampiri cucunya yang sedang lemah. Dia menatap Nayra, ada rasa kesal juga kenapa memberitahunya setelah berada di rumah sakit.


"Kenapa kamu memberitahu kami setelah di rumah sakit?" tanya mamanya Nathan.


"Maaf nyonya, karena keadaan Kevin sangat lemah. Saya hanya berpikir harus menyelamatkan Kevin dulu." kata Nayra merasa bersalah.


Dia menunduk dalam, Nathan mendengus kesal. Dia juga marah pada Nayra, tapi dia tahan agar tidak ikut memarahi Nayra seperti mamanya. Dokter pun datang membawa sampel hasil lap yang tadi di ambil darah Kevin.


"Bagaimana dengan anak saya dokter? Apa sakitnya?" tanya Nathan langsung pada dokternya.


"Untung istri anda langsung membawa anak anda ke rumah sakit, jika telat saya tidak bisa menolongnya. Sebenarnya anak anda dehidrasi dan juga terkena Bronkhitis Pnemounia, tapi sudah di tangani secepatnya. Nanti di ruang rawat inap si pasang oksigen ya, harus di awasi karena biasanya anak akan risih dengan selang oksigen." kata dokternya.


Nathan merasa lega, dia menatap Nayra yang terlihat khawatir melihat keadaan Kevin. Nathan juga khawatir, tapi tidak menunjukkan seperti Nayra. Kedua orang tuanya pun merasa lega, memang tindakan Nayra mementingkan kesehatan dan keselamatan anaknya.


Setelah dokter memberikan informasinya, kini Kevin di bawa ke ruang rawat inap. Semua ikut kemana brangkar itu di bawa, tak lupa Nayra yang selalu mendampingi Kevin sejak tadi.


"Mama khawatir banget sama Kevin, makanya mama sama papa langsung kemari setelah Nayra memberitahu mama. Biasanya mama setiap hari datang ke rumah kamu, tapi kok mama sibuk banget. Maafkan mama, Nathan." kata mamanya.


"Ngga usah menyalahkan diri sendiri ma, kita harus berterima kasih sama Nayra. Dia dengan gerak cepat membawa Kevin ke rumah sakit." kata suaminya.


Nathan masih diam saja, dia memegangi tangan Kevin yang lemah. Satu telepon masuk ke ponsel Nathan, dia mengambilnya. David.


"Halo Vid, kenapa?"


"Lho ada di mana?"


"Gue di rumah sakit, anak gue sakit. Kenapa? Apa ada yang penting?" tanya Nathan.


"Oh, anak lo sakit apa? Ngga penting, cuma tadi gue datang ke kantor lo ngga jadi masuk."


"Dehidrasi dan sesak nafas. Gue juga baru tahu setelah masuk rumah sakit." kata Nathan.

__ADS_1


"Ya udah, semoga cepat sembuh anak lo. Nanti kalau ada waktu gue mampir ke rumah sakit."


"Oke, terima kasih bro."


Klik!


Nathan menutup sambungan teleponnya, dia masukkan ke dalam saku jasnya. Dia melihat anaknya masih terpejam, di sebelahnya Nayra masih diam. Nathan melihat Nayra yang diam, kedua orang tuanya sudah kembali lagi. Waktu sudah semakin gelap, Nathan merasa lapar.


"Kamu sudah makan?" tanya Nathan.


"Belum tuan." jawab Nayra.


"Kalau begitu, aku mau cari makanan dulu. Kamu mau makan apa?" tanya Nathan.


"Terserah tuan saja, saya makan apa pun yang anda bawakan." kata Nayra.


"Baiklah, nanti jika Kevin bangun kamu hubungi saya." kata Nathan.


"Ya tuan."


Nathan lalu pergi dari kamar inap anaknya mencari makanan di kantin. Tapi dia pun kembali lagi ke dalam kamar inap tersebut, sampai di depan pintu dia melihat anaknya sedang di gendong oleh Nayra. Nathan tertegun, dia merasa Nayra seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.


Nathan menunduk dan menghela nafas panjang, apakah dia tertarik dengan Nayra? Nathan kembali memperhatikan pengasuh anaknya itu, jika di perhatikan lebih lama. Nayra sangat cantik, hidungnya mancung dan kulitnya putih. Dan yang terpenting dia keibuan, meski seorang pengasuh terlihat sekali dia sangat menyayangi anaknya.


"Papaa!"


"Iya sayang, mana yang sakit? Kevin cepat sembuh ya." ucap Nathan menenangkan anaknya yang menangis.


Nayra hanya melihat saja dan kini dia merapikan tempat tidur Kevin.


"Apa yang dia rasakan, Nayra?" tanya Nathan.


"Mungkin dia risih dengan selang oksigennya tuan." jawab Nayra.


"Apa dia boleh di kasih makan?" tanya Nathan.


"Kata dokter belum boleh, tapi jika dia menangis kencang itu berarti nafasnya sudah teratur lagi."


"Tapi suara tangisannya masih lemah, apa dia harus terus di oksigen?"


"Ya, pernafasannya masih sesak. Jadi harus di oksigen terus."


"Papa, eppas!" ucap Kevin menarik selang oksigen di hidungnya.

__ADS_1


"Jangan sayang, nanti Kevin susah ngomongnya. Sabar ya, besok kalau sudah sehat bisa di lepas kok." kata Nathan menenangkan anaknya.


"Eppas papa, sus epas!"


Nayra mengambil alih Kevin dari tangan Nathan, dia menenangkan balita berusia satu tahun setengah itu. Dia menimang Kevin dan memberi pengertian secara lembut pada anak kecil itu, menepuk bagian pantatnya agar tidak menangis lagi


Nathan terus memperhatikan apa yang di lakukan Nayra, entah kenapa dia merasa tenang Kevin berada di tangan Nayra. Tak lama Nayra bisa mendiamkan Kevin dan kembali terpejam. Senyum Nathan mengembang, rasanya dia menemukan sosok seorang ibu bagi anaknya.


Meski dia belum menyukai Nayra sebagai seorang wanita, tapi dia menemukan kecocokan untuk menjaga dan mengasuh anaknya Kevin. Dia lupa tadi di lorong rumah sakit memesan makanan melalui aplikasi pesan antar.


Tok tok tok


"Permisi, apa benar ini kamar Mawar VIP?" tanya kurir di depan pintu.


"Ya benar." kata Nathan menghampiri kurir tersebut dan mengeluarkan uang di dompetnya.


"Berapa semuanya?"


"Seratus dua puluh lima pak."


"Ini, kembaliannya ambil aja."


"Waah, terima kasih pak. Saya permisi dulu."


"Ya."


Setelah menerima paket makanan, Nathan duduk di sofa. Dia melihat Nayra masih menggendong Kevin.


"Kevin sudah tidur?"


"Baru saja, tapi saya takut menidurkannya di ranjang tuan."


"Ya, tunggu sebentar. Setelah selesai, kamu cepat makan. Saya sudah pesankan makanan untukmu."


"Tuan Nathan saja yang makan duluan, nanti saya makan setelah anda tuan." kata Nayra.


Nathan pun menurut, dia membuka kotak berisi makanan dan segera memakannya. Karena nanti dia akan bergantian menjaga Kevin di ranjangnya, dan Nayra makan.


_


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧

__ADS_1


__ADS_2