
Setelah berdiskusi dengan kedua sahabatnya, lebih tepatnya dia curhat pada David dan Yudha. Tanpa memberikan solusi yang menurutnya, mereka hanya memberikan pendapat yang tidak sesuai keinginannya.
"Kenapa mereka malah mendukungku, aku hanya ingin mencari yang terbaik." ucap Nathan.
Nathan kembali ke kantornya pukul sebelas siang. Dia juga sudah memberitahu pada sekretarisnya kalau hari ini dia datang telat.
"Siang tuan Nathan." sapa sekretaris Nathan hormat.
"Siang, Rida. Ada apa?" tanya Nathan masuk ke dalam ruang kantornya.
Rida mengikuti dari belakang, dan menutup pintunya. Nathan duduk di kurs kerjanya dan memeriksa berkas yang sudah siap dia periksa dan tanda tangan.
"Apa ada hal penting?" tanya Nathan.
"Tidak sebenarnya, tapi nanti setelah makan siang akan ada tamu dari Kanada." jawab Rida.
"Kanada? Mau apa?"
"Katanya mau ada survei perusahaan kita, dan kita bisa melakukan kerja sama dengannya tuan. Tap sebelumnya kita harus menemani tamu kita itu untuk survei di perusahaan kita." jawab Rida..
"Emm, begitu ya. Baiklah, apa semua sudah di beritahu tentang masalah ini pada karyawan dan staf?" tanya Nathan lagi.
"Sudah tuan, makanya tadi saya menyuruh kepala bagian untuk mempersiapkan semuanya. Agar ketika di survei, terlihat rapi. Para karyawan juga sudah di beritahu memakai pakaian sopan, terutama karyawan perempuan." kata Rida lagi.
"Bagus, tapi kenapa tadi pagi kamu tidak mengingatkan saya kalau siang ini akan ada kunjungan survei? Kalau begitu saya tidak usah pergi ke kantor temanku." kara Nathan."
"Maaf tuan, saya pikir ini hanya persiapan biasa. Dan tidak membutuhkan berkas yang harus di periksa."
"Ya, tetap saja. Saya harus melakukan apa yang harus saya lakukan, Rida."
"Maaf tuan, saya tidak mengingatkan anda."
"Sudahlah, lalu apa yang harus saya kerjakan untuk penyambutan itu?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Saya rasa hanya anda bisa berbahasa Inggris, itu yang perlu di siapkan saja tuan. Heheh!"
"Haish, ya sudah. Ini sudah waktunya makan siang kan? Kamu boleh istirahat, dan tolong pesankan makanan seperti biasa."
"Baik tuan. Saya permisi dulu."
"Hemm."
_
Nathan pulang ke rumahnya malam ini, ternyata setelah dia mengobrol dengan David dan Yudha di kantor Yudha. Pekerjaan di kantornya juga menunggunya, bahkan ada tamu dari luar negeri yang ingin survei ke kantornya. Mau tidak mau, Nathan harus meladeninya.
Sampai di rumah, dia melihat rumah sangat sepi. Tak ada teriakan Kevin menyambut kedatangannya. Mungkin sudah tidur, pikir Nathan. Dia pun menuju kamar anaknya, niatnya ingin melihat anaknya yang mungkin sudah tidur dan mencium saja.
Dia membuka pintu kamar pelan, melihat sekeliling ternyata Kevin sudah tidur. Dia melangkah masuk lebih dalam, tanpa menimbulkan suara. Mencari Nayra di mana dia berada, dan wajah Nathan tertegun. Menatap sosok gadis yang sedang memakai handuk saja di pintu kamar mandi Kevin.
Dengan membelakangi di mana Nathan berada, gadis itu sepertinya tidak menyadari kalau di kamar itu ada Nathan yang sedang terpaku melihatnya. Sambil berdendang dan berbalik, Nayra ingin mengambil baju yang dia letakkan di sisi ranjang Kevin.
Dia terkejut melihat Nathan sudah ada di dalam. Menutupi bagian dadanya yang memang tertutup di bagian buah dada. Nathan menelan ludahnya melihat Nayra seperti itu, dia berbalik dan Nayra pun lari cepat masuk ke dalam kakar mandi Kevin.
"Kenapa aku tidak tahu jika tuan Nathan masuk. Aku bahkan dengan santai berdiri di depan pintu. Duuh, kapan dia masuk kamar Kevin? Apa sejak tadi?" ucap Nayra merutuki dirinya yang lalai.
Sedangkan Nathan tidak langsung keluar, dia melihat baju piama Nayra tergeletak di ranjang Kevin. Dia tersenyum dan berbalik keluar kamar Kevin.
"Aku keluar, Nayra." ucap Nathan memberitahu Nayra agar dia bisa bebas memakai baju piamanya.
Setelah keluar, Nayra pun keluar dari kamar mandi. Melihat ke arah pintu, apa benar Nathan sudah pergi. Dan dia lega sekali, pintu sudah di tutup lagi. Nayra pun mengambil baju piamanya lalu masuk lagi ke dalam kamar mandi untuk mengenakan baju tersebut.
Sementara itu, Nathan sudah berada di kamarnya. Tiba-tiba dadanya bergemuruh, berdetak kencang sekali. Membayangkan tubuh mulus Nayra itu hanya di balut handuk putih saja.
"Kenapa dia mandi di kamar mandi Kevin?" ucap Nathan melepas dasinya dengab cepat.
Dia masih memikirkan Nayra yang hanya memakai baju. Melepas bajunya, celananya dan juga kaos dalamnya juga dia lepas. Hanya sempakk yang tersisa di tubuhnya, segera dia masuk kamar mandi untuk bersih-bersih. Berharap pikirannya juga bersih karena matanya sudah melihat tubuh hampir polos milik Nayra.
__ADS_1
"Haish, kenapa pikiranku kacau begini. Apa aku harus memenuhi permintaan mama, menikahi Nayra." kata Nathan dalam guyuran air shower.
Semakin dia mencoba menghilangkan bayangan tubuh Nayra, semakin dia bergejolak hatinya. Semakin dia terus memikirkannya. Dia pejamkan matanya dan mendongak ke atas agar bisa hilang pikiran tentang Nayra tadi.
Tapi gagal, Nathan justru berpikir lain, dengan cepat dia menyelesaikan mandinya. Setelah selesai, dia buru-buru keluar dan segera memakai baju.
Memilih baju kaos yang adem dan celana pendek seperti biasanya. Dia berusaha untuk tenang kembali, mengusir bayangan Nayra yang hanya memakai handuk saja. Nathan mengambil berkas yang sengaja dia bawa pulang dari kantornya.
Sebisa mungkin untuk tidak memikirkan Nayra, namun gagal. Di letakkannya berkas di atas ranjang, menarik nafas kasar dan membuangnya.
"Baru tadi pagi aku menolak pendapat David dan Yudha. Kenapa sekarang aku memikirkan gadis itu terus." ucapnya sambil mengacak rambutnya.
Tiba-tiba Nathan pun bangkit dari duduknya, dia berjalan keluar kamar dan menuju kamar anaknya. Dia membuka dengan cepat pintunya. Di ranjang, Kevin sedang tidur. Matanya menyapu segala penjuru kamar. Namun tidak menemukan sosok Nayra.
Nathan pun menutup kembali pintu kamar Kevin, hatinya benar-benar bergejolak. Dia menuju kamar Nayra yang bersebelahan dengan kamar Kevin. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Nathan masuk. Karena kebetulan belum di kunci.
Nathan melangkah masuk, melihat Nayra sudah memakai baju piama sedang merapikan ranjangnya. Nathan mendekat dan berdiri di belakang Nayra, dadanya memburu.
Nayra berbalik, dia kaget Nathan sudah ada di belakangnya.
"Tuan Nath ...."
Kalimat Nayra terputus karena satu ciuman mendarat di bibirnya dari Nathan. Ya, Nathan mencium cepat bibir Nayra dan ********** lembut. Nayran sendiri tidak bisa bergerak kepalanya karena Nathan menekan tengkuknya.
Lama Nathan mencium bibir Nayra, hingga puas baru dia melepasnya. Menatap wajah Nayra yang memerah kemudian menunduk malu. Nathan tersenyum, dia memegang kedua lengan atas Nayra lalu tangan satunya mengangkat dagu Nayra.
"Ayo kita menikah, Nayra."
"Eh?"
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧