Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
67. Akhirnya Cerita


__ADS_3

Kania sedang mandi, dia sangat lelah sekali hari ini banyak sekali pekerjaan di rumah Nathalie. Karena kemarin malam ada pesta di rumah Nathalie. Pukul satu siang baru dia bisa bersantai, setelah makan siang sebelum mandi. Kini Kania ingin beristirahat tidur beberapa menit atau satu jam kedepan.


Tuuuut


Ponselnya berbunyi, dengan malas Kania mengambil ponselnya dan menjawab teleponnya.


"Halo?" Kania menjawab tanpa melihat di layar siapa yang menelepin.


"Nona Kania, apa anda lupa dengan mobil di bengkel?" tanya seseorang di sana.


Kania terduduk, dia melihat nama di ponselnya. Pengacara Yudha bibirnya meringis. Dia lupa dengan mobil yang di bengkel. Seingat dia mobil itu ada di bengkel langganan Nathalie, jadi bengkel itu akan menghubunginya jika sudah selesai.


"Ya pak Yudha. Maaf, saya lupa. Heheh." kata Kania tertawa kecil karena malu.


"Tukang bengkelnya menanyakan terus kenapa mobilnya belum di ambil. Saya sudah mengirimo nona Kania pesan, mobilnya sudah beres dan alamatnya sudah saya kirim juga. Apa nona belum memeriksa isi pesan saya?" tanya Yudha.


"Eh, pesan? Maaf, saya belum lihat pesan hari ini." kata Kania.


"Bukan hari ini, tapi dua hari yang lalu saya kirim pesan pada nomor nona Kania."


"Ooh, saya belum lihat pesan dari pak Yudha. Ya sudah nanti saya lihat pesannya, dan saya akan kesana." kata Kania.


"Kapan nona Kania mengambilnya? Saat ini saya lewat kompleks perumahan nona Nathalie. Jika mau saya antarkan anda ke bengkel sekalian, saya juga mau kesana." kata Yudha.


"Oh, oke kalau begitu. Saya akan menunggu di luar, dalam sepuluh menit saya sudah di depan pak Yudha." kata Kania.


"Ya, saya tunggu."


Klik!


Sepuluh menitan, Kania sudah selesai berdandan dan membawa tas selempangnya. Berpamitan pada pembantu di sana untuk mengambil mobil yang ada di bengkel langganan Yudha.


Dia keluar dari pagar rumah dan menunggu di depan jalan. Dia bukan menunggu, tapi di tunggu oleh Yudha. Yudha sudah berada di depan rumah Nathalie.


"Eh, pak Yudha ada di depan?" tanya Kania merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Baru saja kok. Ayo masuk, nanti sekalian saya antar ke bengkelnya." kata Yudha membuka kunci mobilnya.


Kania hanya tersenyum kaku, satu minggu tidak ketemu Yudha karena dia malas meneruskan laporan kasus Nathalie. Sejak makan siang itu Yudha mengabaikan pertemuannya, Kania tidak menghubungi Yudha lagi. Dia juga sedang bingung dengan sakit ayahnya, jadi melupakan mobil yang ada di bengkel.


Untung saja Nathalie memberikan gaji cukup untuk membeli obat dan juga memgambil mobil yang di servis di bengkel karena mogok.


"Saya mengirim pesan pada nona Kania, apa belum di baca?" tanya Yudha membuka obrolan.


"Belum sepertinya pak Yudha. Dan maaf pak Yudha, jangan panggil saya nona. Saya bukan seorang majikan, tapi hanya asisten rumah tangga saja." kata Kania.


"Lalu, saya harus panggil apa?" tanya Yudha.


"Kania saja, tidak apa." kata Kania.


"Baiklah, Kania. Bagaimana dengan nona Nathalie, sepertinya kamu tidak meneruskan laporannya." ucap Yudha.


"Saya malas pak Yudha. Dia memaksa tapi, tapi tidak mau bertemu dengan pak Yudha. Jadi saya bingung sendiri, akhirnya saya juga mengabaikannya." kata Kania.


"Emm, kamu sudah lama bekerja dengan Nathalie?" tanya Yudha akhirnya dia ingin mengorek seperti apa Nathalie itu dan bagaimana Kania bekerja.


"Cukup lama, dan bisa bertahan juga ya."


"Kenapa pak Yudha mengatakan seperti itu?"


"Karena saya tahu setiap karakter orang secara tidak sengaja. Ya meski memang ada yang meleset juga." kata Yudha.


"Memang di mata pak Yudha, nona Nathalie itu seperti apa?" tanya Kania.


"Sombong."


"Eh? Anda yang belum tahu nona Nathalie mengatakan sombong? Lha, aku malah menjuluki dia si kejam." kata Kania tidak sadar.


"Kejam? Kenapa?"


Jiwa penasaran Yudha muncul, berbagai spekulasi yang dia hadapi sebagai pengacara. Sering sekali melihat dan menebak seperti apa kliennya itu. Kadang juga memang ada yang seperti Nathalie, sombong karena merasa dia kaya dan punya banyak harta. Jadi bisa seenaknya mengatur bahkan menyepelekan orang lain. Padahal orang tidak selalu butuh di hargai, tapi menghargai pekerjaannya itu yang penting.

__ADS_1


"Ya, dia mempekerjakanku dengan begitu banyak pekerjaan. Apa saja, untuk melunasi hutang atas kerusakan mobilnya yang di tabrak oleh ayahku secara tidak sengaja." kata Kania.


"Maksudnya bagaimana? Nona Nathalie pernah mengalamii kecelakaan dan dia terluka lalu menuntut ayahmu?" tanya Yudha.


Akhirnya Kania pun bercerita tentang awal mula dia menjadi asisten dari Nathalie. Memang Nathalie itu sombong dan angkuh, tidak mempedulikan penderitaan orang sekitar. Di lihat dari televisi atau di media sosial itu sangat ramah dan selalu saja membantu yayasan yatim piatu.


Itu semua di posting di media sosialnya agar dia selalu di sorot oleh masyarakat di pandang baik dan peduli sosial. Tapi pada kenyataannya,dia sangat kejam pada orang di sekitarnya.


"Padahal yang rusak hanya mobilnya, dia dan adiknya selamat. Bahkan tidak mengalami cidera apa pun, tapi ayahku? Beliau harus di rawat dan mengganti rugi juga truk. Dan dia meminta ganti rugi mobil yang di tabrak ayah. Dan itu jumlahnya sangat besar, bagi ayahku tidak akan bisa menggantinya. Akhirnya aku yang menawarkan diri untuk jadi asistennya, gaji di bayar hanya separuh selama lima tahun. Sekarang baru dua tahun lebih saja." ucap Kania.


"Hemm, agak rumit juga masalahnya. Lalu, apa yang membuatmu khawatir?"


"Kalau saya tidak menuruti apa yang dia inginkan, ancamannya selalu akan melaporkan ayahku ke pihak berwajib. Saat itu memang mau di laporkan, tapi polisi menyarankan di selesaikan secara kekeluargaan. Karena tidak ada yang terkena masalah serius, dan itu kecelakaan antar dua pihak saja." kata Kania.


Mobil Yudha akhirnya sampai di bengkel, mereka pun turun dari mobil. Melangkah mendekat pada seorang laki-laki yang Yudha kenal. Mereka bersalaman dan mengobrol sebentar, laki-laki itu melirik pada Kania yang diam melihat-lihat mobil di servis di bengkel itu.


"Pak Yudha sudah bawa gandengan ya. Heheh." kata laki-laki itu meledek Yudha.


"Dia itu awalnya klien, dan mobil kemarin di bawa kemari itu miliknya. Bukan miliknya tapi milik bosnya." kata Yudha melihat Kania.


"Ooh, tapi masih sendiri kan dia?" tanya laki-laki itu.


"Aku tidak tahu, sudah jangan urusi pelangganmu. Punyaku juga itu di servis, suaranya sudah kurang adem." kata Yudha.


"Oke pak pengacara, tapi bolehlah kirim-kirim salam sama gadis yang di bawa itu. Heheh!"


"Haish! Sudah punya pacar juga masih aja lirik perempuan lain." kata Yudha.


"Hahah!"


_


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧

__ADS_1


__ADS_2