
Milea menimang kartu nama David. Dia memperhatikan kartu nama tersebut, lalu tersenyum tipis. Membaca nama yang tertera di kartu itu dan menyebutnya dengan pelan.
"Jadi om itu namanya David?" gumam Milea.
Dia duduk di sisi ranjangnya, meletakkan kartu nama itu di mejanya. Dia kemudian membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Karena hari sudah malam, dia ingin segera tidur. Besok dia akan datang ke alamat yang ada di kartu nama David.
Baru saja Milea memejamkan matanya, terdengar suara benda jatuh di luar kamarnya. Dia terbangun, duduk dan menatap keluar, lalu terdengar lagi suara benda jatuh. Kali ini di barengi dengan suara teriakan ibunya dan ayah tirinya.
Rupanya kedua orang tua Milea sedang bertengkar. Milea diam, dia tidak mau melihat langsung pertengkaran kedua orang tuanya itu. Namun, Milea menangis dalam diamnya, hatinya berontak ingin menghampiri ibunya. Dia tahu pasti ibunya sedang sedih dan sakit hati.
Tanpa ragu lagi, Milea pun keluar dari kamarnya. Dia menuju kamar ibunya yang terbuka dan terdengar suara isakan tangis ibunya.
"Mas, jangan bawa itu. Aku harus bagaimana nanti jika kamu tidak bisa membayarnya. Hik hik hik!" ucap ibu Milea.
"Kamu diam! Aku hanya pinjam, nanti aku ambil lagi dan kasih sama kamu. Uangnya juga nanti aku kasih kok ke kamu!" ucap ayah tiri Milea.
Milea berdiri di depan pintu, terlihat ibunya sedang bersimpuh menarij kaki suaminya itu. Milea menatap ayah tirinya dengan geram, beralih di tangannya yang memegang sebuah map hijau.
"Bapak mau apa bawa surat itu?!" teriak Milea.
"Diam kamu anak kecil! Tidak perlu tahu urusanku!" ucap ayahnya.
"Bapak mau jual itu kan? Untuk istri baru bapak?!" teriak Milea lagi.
"Diam kamu! Sudah aku bilang anak kecil tidak usah ikut campur. Lagi pula memangnya kenapa? Bapak ini masih gagah, mencari istri cantik dan memberinya banyak uang itu wajar. Tidak seperti ibumu yang sakit-sakitan. Cuiih!"
Dia ingin merebut surat rumah yang ada di tangan ayahnya. Milea maju mendekat pada ayahnya, meraih map berisi surat rumah itu. Namun tangan ayahnya menghindar dan malah memukul Milea dengan kasar.
Plak!
"Diam kamu! Awas kamu!" ucap ayahnya.
Milea tersungkur jatuh. Dia menatap tajam pada ayahnya yang tidak tahu diri itu. Entah sejak ibunya sakit, perangainya berubah. Apa lagi setelah dia menikahi janda ganjen di gang sebelah itu. Ayahnya semakin berubah dan bersikap kasar pada ibunya dan Milea.
"Surat rumah itu bukan milikku, Janu! Itu milik almarhum suamiku dulu!" teriak ibunya Milea, dia benar-benar marah.
__ADS_1
"Aku tidak peduli! Surat ini sudah jadi milikmu, jadi aku pinjam dan nanti aku kasih kamu uang! Orang miskin susah sekali di kasih tahu. Cuiih!" ucap Jani sambil berlalu pergi, dan sebelum pergi dia menendang ibunya Milea dengan keras.
"Aawh!"
"ibu!"
Jani pergi begitu saja, dia tidak peduli keadaan istrinya itu yang kesakitan karena dia tendang tadi. Ibu Milea meringis dan menangis tersedu, Milea memeluk ibunya.
"Surat rumah itu peninggalan ayahmu satu-satunya Milea. Ibu akan merasa sangat bersalah jika surat rumah itu sampai di gadaikan oleh Jani. Nanti kamu akan tinggal di mana?" kata ibunya.
Peninggalan satu-satu almarhum suaminya itu di ambil oleh suami jahatnya. Dia tahu kalau Janu adalah laki-laki berperangai tidak baik. Namun saat itu dia butuh laki-laki itu untuk melindungi Milea dari keluarga ayahnya dulu.
Kini sifat Jani kembali seperti semula. Milea juga sering melihat ibunya di bentak dan di marahi oleh Jani, ayah tirinya. Motor Milea satu-satunya barang berharga untuk pulang pergi ke sekolah sudah di rebut. Sekarang surat rumah juga mau di ambil.
"Ibu tenang aja, Milea bisa tinggal di mana aja. Besok Milea mulai kerja jadi ART di rumah orang kaya bu. Ibu jangan sedih, nanti Milea cari uang untuk beli obat ibu dan makan sehari-hari." kata Milea.
"Tapi kalau jadi ART itu harus tinggal di rumah majikan kamu, Lea."
"Nanti Lea minta pulang sore hari bu. Biar malam itu tidak sendirian." kata Milea menenangkan ibunya.
Kini kondisinya semakin lemah karena penyakit yang menggerogotinya itu. Milea tidak sadar jika kondisi ibunya sudah lemah. Tapi dia pun menuntun ibunya ke ranjangnya untuk tidur. Karena hari sudah malan.
"Ibu tidur ya. Jangan pikirkan lagi surat rumah itu. Nanti Lea tebus dengan uang gaji Lea, pasti laki-laki itu akan menggadaikannya ke juragan Rudi." kata Milea.
"Jangan Lea, sudah biarkan saja."
"Tidak bu, itu peninggalan ayah satu-satunya. Anggap saja laki-laki brengsek itu meminjamnya. Nanti Lea akan minta lagi surat rumah itu." kata Milea lagi.
Tidak ada tanggapan dari ibunya, dengan pelan matanya terpejam. Milea mengira ibunya sudah mengantuk, dia pun menutup selimut di tubuh ibunya. Menatap sejenak, ada rasa sedih di hatinya. Namun akhirnya dia keluar dari kamar ibunya sebelum dia membereskan kekacauan di kamar ibunya.
Milea masuk kamar lagi, dia rebahkan tubuhnya. Lupa bahwa besok akan datang ke rumah David untuk bekerja di sana sebagai asisten rumah tangga.
_
Pagi hari, Milea sudah bersiap pergi ke rumah David. Karena ini hari Minggu, dia santai melakukan pekerjaan rumahnya. Ibunya belum sempat dia bangunkan, karena dia pikir membiarkan ibunya istirahat lebih lama.
__ADS_1
Setelah selesai membuat sarapan, Milea pun masuk ke dalam kamar ibunya. Hendak membangunkan ibunya yang masih tidur. Dia ibunya masih diam, dengan wajah tenang. Milea duduk di sisi ranjang, memegang tangan ibunya yang terasa dingin.
"Bu, bangun. Ayu kita sarapan dulu." kata Milea membangunkan ibunya, tangannya memegang lengan ibunya yang memang terasa dingin.
Tiba-tiba hati Milea sedih, dia memegang pipinya, wajah Milea berubah cemas. Tangannya terus meraba dada dan juga pergelangan tangan, memeriksa denyut nadinya.
"Ibuuu!" teriak Milea.
Dia menggoncangkan tubuh ibunya bebera0a.kali, air matanya mengalir deras. Kembali dia menggoncangkan tubuh ibunya, namun tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh yang sudah dingin dan kaku.
Milea keluar dari kamar ibunya, dia juga keluar mencari bantuan tetangganya agar memeriksa keadaan ibunya.
"Bu Marni! Tolong ibu saya, hik hik hik!"
"Ada apa Lea? Kenapa dengan ibumu?!" tanya bu Marni.
"Tolong ibu saya, tadi aku bangunkan tidak mau bangun. Hik hik hik! Aku takut bu Marni, tolong ibuku." ucap Milea dengan berderai air mata.
Ibu Marni, tetangga Milea segera pergi ke rumah Milea. Dia masuk ke dalam kamar ibunya, memeriksa keadaannya. Dari pergelangan tangannya juga wajahnya sudah mulai pucat. Bu Marni menduga kalau ibunya Milea sudah meninggal.
Ibu Marni menoleh ke arah Milea yang sedang menangis. Lalu di pegangnya lagi tangan tubuh ibu Milea, tidak ada pergerakan sama sekali.
"Ibumu sudah meninggal, Lea." kata bu Marni.
"Tidak bu Marni! Ibu masih hidup, hik hik hik."
"Yang sabar Lea, ibumu sudah tiada." kata bu Marni lagi memeluk Milea.
Milea menjerit histeris, dia menangis di pelukan ibu Marni. Ibu Marni merasa kasihan pada Milea, tadi malam dia mendengar teriakan suami ibu Milea itu bertengkar dengan Jani. Entah apa yang di ributkan.
Sejak dulu bu Marni tahu, ibunya Milea itu sering di kasari oleh suami keduanya. Namun dia diam saja, demi untuk Milea yang dia jaga. Sekarang Milea di tinggal oleh ibunya, siapa yang menjaganya. Tidak mungkun Jani mau menjaga Milea, bahkan bu Marni merasa takut jika Milea tinggal dengan Janj, akan di manfaatkan tenaganya saja.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧