Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
58. Sah!


__ADS_3

Satu minggu menunggu keputusan papanya Nayra, akhirnya dia setuju juga. Meski masih tidak rela menyerahkan anaknya pada Nathan. Itu juga berkat istrinya dan juga anaknya, meyakinkannya agar tidak usah khawatirkan anaknya yang akan jadi istri Nathan.


"Papa masih ngga rela kamu mau nikah sama Nathan. Kamu nanti ngga bisa lagi bebas datang ke rumah." kata papanya.


"Papa terlalu berlebihan, Nathan ngga seperti itu kok. Lagi pula kan kedua orang tua Nathan ada di depan rumah kita, kalau dia ada di rumah Sofie. Pasti datang ke rumah ini juga kok." kata istrinya menenangkan suaminya itu.


Laki-laki paruh baya itu menghela nafas panjang, masih belum ikhlas. Tapi dia juga tidak bisa melarang anaknya untuk tidak menikah, karena cepat atau lambat pasti anaknya akan enikah juga dengan pilihannya. Dan sekarang pilihannya itu Nathan, laki-laki yang sejak dulu jadi idola anaknya. Bahkan mencintainya sejak dulu, bisa di bayangkan betapa bahagianya Nayra bisa bersambut rasa cintanya pada Nathan.


Bahkan akan menikahinya, meski statusnya duda beranak satu. Tapi bagi Nayra itu tidak masalah, selama dia bahagia dan Nathan juga menyayanginya. Dia akan hidup bahagia dengan pilihannya itu.


"Terus, kapan pernikahannya di laksanakan?" tanya papanya Nayra.


"Belum tahu pa, tapi Nathan ingin secepatnya menikah. Mama yakin dia minta besok saja, hadeh. Mama jadi ngeri sama anak itu." kata Manda.


"Kenapa? Apa Nayra akan di hajar setiap malam sama laki-laki duda itu?" tanya suaminya.


"Ish, kalau pengantin baru sih mungkin itu hal biasa pa. Papa juga dulu sama mama, ngga pernah absen kok setiap malam." kata Manda.


"Ya, kan namanya juga pengantin baru ma. Maunya selalu bermanja-manja di kamar." kata papanya Nayra.


"Nah itu papa tahu, Nathan juga begitu. Sudaah pa, jangan berpikir terlalu jauh. Nathan tidak akan mengekang Nayra kok, dia juga bekerja seperti biasanya. Meski pengantin baru kan tetap saja harus bekerja. Baru sore pulang kan." kata Manda.


Diam, laki-laki paruh baya itu diam. Membenarkan dalam hatinya apa yang di katakan istrinya. Manda tahu, suaminya itu terlalu sayang sama anaknya, meski dulu Nayra di tawari oleh Sofie ibunya Nathan jadi babysitter anaknya. Dulu dia tidak setuju, tapi akhirnya setuju juga.


"Bagaimana pa?" tanya Manda.


"Ya, terserah Nayra aja deh. Papa setuju dia nikah cepat." kata suaminya.


"Oke, jadi besok aku akan temui Sofie dan mengatakan kalau papa Nayra setuju Nathan menikahi Nayra secepatnya." kata Manda senang.


"Iya, mseki papa masih ngga rela." kata suaminya bermuka masam.


"Ngga apa-apa, yang penting Nayra dan Nathan bisa menikah. Papa juga senang kan anaknya bahagia?"


"Ya senanglah ma. Mana ada seorang ayah sedih anaknya bahagia." kata suaminya itu.

__ADS_1


"Kalau senang, harusnya papa mukanya jangan masam begitu. Senyum dong."


"Suka-suka papalah, ma."


"Hahah!"


_


Dua minggu yang di beri restu oleh papanya Nayra, Nathan harus menikahinya. Permintaan Nathan tiga hari setelah Manda memberitahunya kalau papanya setuju dengan Nayra menikah. Jika tidak mau menunggu dua minggu lagi, maka pernikahan tidak di setujui. Begitu ancaman papanya Nayra.


Tapi akhirnya Nathan setuju juga, yang penting mereka menikah. Begitu kata mamanya membujuk anak laki-laki dudanya. Terkadang heran kedua orang tuan Nathan itu dengan sikap kanak-kanak Nathan, maunya serba cepat jika ada keinginannya.


Namun demikian, mereka juga ikut senang. Seperti sekarang, sudah di persiapkan pernikahan di sebuah hotel. Hanya sederhana saja, tapi tidak terlalu biasa. Bagaimana pun, Nayra itu baru pertama kali menikah. Sedangkan Nathan sudah pernah, jadi memang harus ada resepsi setelah acara ijab kabul.


Semua menunggu di hotel, yang memang khusus bagian ruangan itu untuk acara ijab kabul. Tampak juga di belakang Nathan ada empat sahabat dudanya, Dion, David, Jhonatan dan Yudha.


Mereka menunggu sang penghulu dan Nathan berjabat tangan mengucapkan ijab kabul. Sedangkan Nayra berada tidak jauh dari tempat itu, tapi di tempatkan tersembunyi. Baru setelah selesai ijab kabul, Nayra bisa keluar dan menyalami suaminya.


"Lo yakin mau nikah, Than?" tanya Jho di belakang Nathan.


"Ciih! Ular lo itu seharusnya jangan lihat yang mulus-mulus. Nanti mematok setiap daerah kekuasaan." kata David mecibir Nathan.


"Tapi daerah kekuasaan ular gue, bebas ular gue mau matok di mana aja. Biar dia juga bisa bersarang dengan nyaman. Makanya cepat kalian ularnya cari sarang, bisa-bisa ngamuk melihat ular kawannya udah punya sarang sendiri." kata Nathan balik mencibir David dan sahabat-sahabatnya dengan senangnya.


"Lo pikir ular lo aja yang bisa matok, gue juga bisa. Cuma belum ketemu sarangnya aja." kata Yudha tak mau kalah.


Semuanya tersenyum kecut, pemghulu datang dan segera akan mengucapkan ijab kabul. Semua sudah siap, di depan Nathan papanya Nayra. Di belakang semua keluarganya, dan kedua orang tua Nathan serta cucunya.


Mendadak semua diam, mendengarkan suara khotbah pernikahan dari penghulu. Mendengarkan dengan khusyuk dan khidmat. Setelah setengah jam membacakan khotbah pernikahan. Kini saatnya pengambilan ijab kabul.


Suasana tegang dan harap-harap cemas kalau ijab kabul yang akan di ucapkan Nathan berjalan lancar. Memang seharusnya lancar, karena dia sudah mau dua kali ini.


Pak penghulu pun mengucapkan ijab kabul, Nathan bersiap untuk menyambut dan menjawab kalimat sakral tersebut. Baru setelah selesai mengucapkan, Nathan menjawab dengan lantang dan lancar dalam satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana saksi? Sah?"

__ADS_1


"Saaaaah!!"


Seluruh orang yang hadir di sana menjawab lantang dan semangat kalau ijab kabul itu sudah sah. Nathan lega, begitu juga Nayra yang ada di tempat lain merasa lega. Kini dia sudah resmi menjadi istri Nathan, dan sebentar lagi mengadakan resepsi pernikahan di hotel itu juga.


"Ular sudah punya sarang, ular mau main ular tangga." ucapan sahut menyahut dari sahabat-sahabatnya itu mengiringi langkah Nathan menuju pelaminan.


Nathan kesal dengan tingkah sahabat-sahabatnya, tapi dia diam saja. Rupanya memang semua bersekongkol untuk membuat Nathan malu. Semua menatap keempat sahabat Nathan, lalu beralih pada Nathan. Mereka yang mengerti pun pada senyum-senyum sendiri.


"Berisik kalian! Diam ngga?!" teriak Nathan dengan menatap tajam pada semua sahabatnya.


"Yaelah, lo kan senang ularnya udah dapat sarang. Tinggal tunggu aja tuh sarang di kamar." kata Jho mencibir.


"Tapi ini di tempat ramai, kalian ya bikin malu gue."


"Santai bro, lo tinggal balas aja mereka nantinya."


"Oh, tentu saja. Gue mau balas kalian semua nantinya."


Kini waktunya bertemu dengan mempelai wanita, Nayra terlihat sangat cantik dengan memakai pakaian adat Jawa. Karena papanya Nayra berasal dari Jawa. Nathan begitu takjub dengan istrinya itu, jika bukan di tempat ramai begitu dia ingin mencium Nayra secepatnya.


"Sabar bro, ularnya di simpan dulu." kata Jho dengan berlalu pergi menuju tempat makanan.


"Ular?"


"Ya, ular Nathan mau main ular tangga di sarangmu." jawab David ikut berlulu pergi menyusul Jho.


"Apa sih maksud mereka bang?" tanya Nayra.


"Jangan dengerin omongan duda lapuk itu." kata Nathan.


Mereka duduk di pelaminan, menunggu ucapan selamat dari keluarga, kerabat dan juga karyawan Nathan di perusahaannya. Serta teman-teman Nayra.


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2