
Sesuai perjanjian, Yudha dan Kania. Kini Kania sedang mencari tahu dari ponsel Nathalie, dia mencuri informasi tentang penggemar yang selalu meneror Nathalie. Di tanya siapa orangnya dan seperti apa ancaman dan teror yang di terima Nathalie, tetap tidak mau memberikan informasinya.
Nathalie ingin Yudha sendiri yang mencarinya, memangnya dia detektif? Detektif saja harus mendapatkan informasi dari pihak pelapor lebih dulu, baru di tindak lanjuti. Tapi Nathalie tidak mau memberitahu bentuk pesan atau teror serta ancaman pada Kania yang di suruh untuk melapor pada Yudha.
Hingga tidak sadar dari pertemuan dan kerja sama itu membuat nyaman Kania pada Yudha, pun sebaliknya.
Kini Kania sedang mencoba memgambil ponsel Nathalie yang ada di dalam tasnya. Dia sebenarnya sangat takut melakukan itu, tapi dia harus melakukannya demi mendapatkan informasi siapa yang sering meneror Nathalie yang katanya membuat gadis itu sering marah-marah.
Nathalie ada di kamar mandi, waktu yang tepat ketika Kania mengambil ponselnya. Karena Nathalie jika sudah mandi, maka akan sangat lama. Satu jam lebih, entah apa yang di lakukannya di kamar mandi.
Kemudian Kania membuka ponsel Nathalie, cerobohnya Nathalie tidak membuat kata sandi pada ponselnya. Jadi, Kania bisa leluasa melihat apa yang ada di ponsel Nathalie.
Pertama dia melihat isi pesan, ada beberapa pesan wathsap yang memang tidak di kenal. Tapi setiap pesan, Kania membukanya. Beberapa nomor tak di kenal berjejer sangat banyak sekali. Dia melihat nomor tersebut, tidak ada foto profilnya, tapi setiap pesan sepertinya memberi ancaman atau sebuah ledekan kecil.
Tidak di balas oleh Nathalie, hanya pesan di bagian bawah ada balasan. Dan dia menjawab pesan itu hanya menggertak.
"Siapa ya orang ini?" gumam Kania.
Dia melihat ke kamar mandi, masih tetap tenang Nathalie mandi. Terdengar Nathalie memanggil Kania, karena Kania memang sedang membersihkan kamar Nathalie ketika dia mandi.
"Kania!" teriak Nathalie.
Kania kaget, buru-buru dia memasukkan lagi ponsel Nathalie. Dia mendekat ke arah kamar mandi dan bertanya.
"Ya nona, apa yang anda butuhkan?" tanya Kania.
"Sabun mandiku kurang banyak, ambil stok di lemari. Cepat!"
"Iya nona, tunggu sebentar."
Kania menuju lemari yang memang khusus perakatan mandi dan make up bagian bawah. Dia mengambil botol besar dan segera mengetuk pintu, agar Nathalie mengambilnya. Tapi Nathalie menyuruh Kania masuk dan menuangkan sabun di bethapnya.
"Tuangkan sedikit saja, itu masih baru jadi wanginya masih ada di atas." kata Nathalie masih di dalam bethap berendam.
Setelah menuangkan sabun, Kania meletakkan sabun itu di westafel. Lalu dia pun keluar lagi, melanjutkan pencariannya mengambil data orang yang sering meneror Nathalie. Dia harus cepat sebelum Nathalie selesai mandi dan mengetahuinya menggeledah ponselnya.
Beberapa pesan sudah dia foto, termasuk nomor yang menerornya. Dia melihat ada kiriman video, ragu dia ingin membuka. Tapi karena penasaran, dia melihatnya, dan betapa terkejutnya dia melihat video tersebut.
__ADS_1
Sebuah adegan ranjang yang sangat panas, antara Nathalie dan laki-laki yang tidak di kenal itu. Durasinya cukup lama, delapan menit dan membuat Kania menelan ludah sendiri. Sangat tidak senonoh video tersebut.
Dengan cepat Kania menutup video tersebut, pikirannya kacau. Hatinya berdegup kencang, baru sekali dia melihat adegan mesum itu oleh Nathalie. Entah di mana itu, tapi yang jelas bukan di rumah Nathalie. Karena Nathalie tidak pernah membawa laki-laki ke rumahnya sepanjang dia bekerja di rumah Nathalie.
"Mungkinkah peneror itu yang selalu mengganggunya? Pantas saja dia tidak mau memberitahu siapa dan nomor ponsel penggemar yang selalu menerornya itu." gumam Kania.
Dia membereskan lagi ponselnya, menghapus riwayat pembuka ponsel. Tak lupa dia juga menyimpan foto beberapa percakapan sebelum Nathalie malas membalasnya lagi. Setelah rapi, Kania pun keluar dari kamar Nathalie. Pikirannya entah bagaimana harus mengatakan pada Yudha mengenai pesan-pesan itu.
_
Malam kedua, Yudha di beritahu oleh Kania kalau malam ini Nathalie ada di rumahnya. Dan akhirnya Yudha datang tanpa di undang oleh Nathalie. Kania yang menerimanya, dia sebenarnya merasa takut. Tapi Yudha meyakinkannya tidak akan membuat Kania di marahi oleh Nathalie.
"Nona Nathalie sedang mandi pak Yudha, biasanya kalau pulang langsung mandi." kata Kania.
Mereka berada di teras rumah, Yudha tidak mau di ajak masuk. Alasannya belum kenal dengan Nathalie, tapi sebenarnya dia senang bisa berduaan dengan Kania. Entah sejak kapan dia merasa Kania adalah jodohnya kelak.
"Ya, biarkan saja. Aku menunggu di sini saja, tapi kamu temani ya." kata Yudha.
Cara perpakaian Yudha juga santai, tidak memakai jas yang akan pergi ke kantor. Justru obrolan mereka tidak menyinggung masalah Nathalie, dan satu jam mereka mengobrol santai. Tidak ada kecanggungan bagi Kania mengobrol dengan Yudha.
Hingga Nathalie memanggil Kania dengan suara lantang seperti biasanya.
Kania kaget, begitu juga Yudha. Dia kesal kenapa Nathalie memanggil Kania begitu kasar dan berteriak.
"Ya nona." jawab Kania.
"Di mana kamu?!"
"Saya di luar, ada pak Yudha ingin bertemu nona Nathalie." jawab Kania mendekat pada Nathalie.
"Heh! Kamu mengundang pengacara itu?" tanya Nathalie kesal.
"Ya, hanya untuk mewawancarai anda. Karena anda selalu meminta saya untuk menyelesaikan laporan nona masalah penggemar yang selalu meneror nona Nathalie itu." kata Kania.
"Aku sudah tidak butuh lagi, cepat kamu suruh pergi pengacara itu!" kata Nathalie.
"Nona Nathalie."
__ADS_1
Kali ini Yudha masuk dan mendekat pada Kania dan Nathalie. Dia ingin membantu Kania kali ini, menatap datar pada Nathalie.
"Kania ini manusia, nona. Jangan menganggap dia sebagai orang rendah. Dari cara anda menyuruh dan memanggilnya seperti seorang yang tidak di hargai pekerjaannnya. Apa tidak lebih sopan padanya jika ingin memanggil dan menyuruhnya?" tanya Yudha.
"Hei! Siapa anda? Anda datang tanpa di undang ya, dan saya sudah tidak mau mengurus kasus penggemar yang menerorku itu pada anda. Kenapa anda masih ngotot membela gadis yang punya hutang ini?!" kata Nathalie dengan mata sedikit melebar.
Dia tidak suka kenapa Yudha datang ke rumahnya, dan itu sudah pasti Kania yang mengundang Yudha datang ke rumahnya.
"Meski Kania punya hutang, tapi bukan berarti anda memperlakukan asisten anda seenaknya. Dia juga manusia, butuh di hargai. Seenaknya saja anda memperlakukan orang hanya karena dia punya hutang dan seorang asisten?" kata Yudha.
Yudha tidak bisa melihat orang di tindas di depan matanya. Nathalie mendengus kesal, dia menatap tajam pada Kania yang sedang menunduk merasa bersalah karena memanggil Yudha.
Jika seperti itu jadinya, dia tidak akan memanggil Yudha untuk menyelidiki kasus penggemar yang meneror Nathalie lewat pesan. Bahkan Kania belum membicarakan masalah penemuannya itu pada Yudha.
"Maafkan saya nona Nathalie, memang saya yang mengundang pak Yudha kemari. Agar bisa bertemu dengan anda, anda bilang mau secepatnya mengusut penggemar yang selalu meneror anda itu. Jadi saya menyuruh pak Yudha datang dan bicara dengan anda." kata Kania masih menunduk.
"Heh! Kamu pembantu tidak sopan. Sudah bagus aku tidak melaporkan ayahmu ke polisi, tapi justru kamu membawa masalah baru. Aku sudah tidak butuh pengacara lagi, sudah kuselesaikan sendiri kasusku itu. Jadi kamu jangan lagi sembarangan memanggil orang. Bahkan aku sendiri tidak pernah membawa teman laki-lakiku ke rumahku, dan kamu?" kata Nathalie membuat Kania semakin membisu karena merasa bersalah.
Yudha di sana hanya diam saja, dia sebenarnya kesal dengan sikap Nathalie itu. Tapi memang salah Kania memanggil Yudha datang ke rumah Nathalie yang pemiliknya saja tidak pernah membawa seorang laki-laki ke rumahnya.
"Atau bahkan kamu ingin berpacaran dengannya? Heh! Pelacur!"
"Nona Nathalie! Jaga bicara anda ya. Anda tahu saya ini pengacara, saya bisa menuntut anda karena menuduh sembarangan pada Kania." kata Yudha dengan geram dan menatap tajam pada Nathalie.
"Silakan saja, bawa dia sekalian. Jadi gundikmu juga tidak masalah, tapi dia harus bayar kerugian yang aku alami akibat ulah ayahnya itu!" kata Nathalie.
"Saya akan bayar kerugian anda nona." kata Yudha semakin geram dengan kesombongan Nathalie itu.
"Heh! Kamu membayar dia? Jadi jangan marah jika aku menyebutnya seorang pelacur!"
"Nona sangat kasar sekali!"
"Bawa barang-barangmu pergi Kania, dan aku menunggu bayaran dari pengacara sok baik itu!" kata Nathalie.
Dia masuk ke dalam rumahnya, Kania diam. Dia tidak menyangka akan seperti itu jadinya. Yudha menghampiri Kania, dia merasa kasihan pada gadis. Mendekat dan memeluknya untuk memberi kekuatan pada gadis itu.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧