
Yudha sudah siap untuk menuju masjid yang sudah di tentukan oleh ayahnya Kania untuk menikah. Hanya keluarganya saja yang datang dengannya, karena keluarga Yudha tidak banyak dan kedua orang tua Yudha sudah tidak ada. Jadi kerabat saja yang ikut.
Dia rencananya mau mengundang sahabat-sahabatnya tapi dia takut mengacaukan acara nikahannya dengan Kania. Ada rasa bersalah dalam benak Yuha, tapi biarlah. Yang penting dia sudah sah menjadi suami Kania dan bisa berbuat apa saja nanti di Lombok.
Saat dia ingin masuk ke dalam mobil, dua mobil masuk ke dalam halaman rumah Yudha. Semua menatap Yudha, dan dia sendiri tersenyum dengan datangnya dua mobil itu.
Dia tahu pasti kedua sahabatnya itu akan memarahinya. Dia sudah siap dengan omelan kekesalan Nathan dan David.
"Yudha, keluar lo!" teriak Nathan yang merasa paling kesal.
Setidaknya dia mengatakan pada Nathan, karena memang sama-sama tidak sabar menahan gejolak kelelakiannya. Tidak dengan ketiga sahabatnya yang masih sabar dan mau menunggu.
Yudha keluar dari mobilnya, tampang datarnya dia perlihatkan dan menatap Nathan juga David. Dia berdiri di samping mobilnya.
"Ada apa?" tanya Yudha tenang.
"Gila lo, brengsek banget mau nikah ngga bilang-bilang. Lo pikir kami serius dengan ucapan waktu itu?!" tanya Nathan dengan kesal.
"Santai bro, gue emang udah merencanakan semuanya. Gue pikir kalian sibuk, jadi ya ngga gue kasih tahu. Maaf." kata Yudha masih dengan sikap tenang.
"Maaf, dengan begini lo udah tidak menganggap persahabatan kita Yudh. Apa karena ucapan Jho terus di setujui kita semua jadi lo membangkang? Gue tahu lo itu ngga sabaran, saka kayak gue. Tapi setidaknya lo kasih tahu gue dong." kata Nathan masih kesal.
David maju, dia menengahi kesalah pahaman Nathan dan Yudha. Semua orang yang siap untuk berangkat ke masjid untuk acara ijab kabul jadi diam menyaksikan perselisihan Nathan dan Yudha.
__ADS_1
"Udah Than, lo ngga usah kesal begitu. Seharusnya gue yang kesal, kenapa mesti ngga ngomong. Bukankah lo bisa bicarakan baik-baik." kata David yang beralih menyalahkan Yudha juga.
"Hak gue mau nikah atau ngga kan?" kata Yudha.
"Berarti lo ngga menghargai kita, Yudh." kata David mulai emosi.
Kenapa Yudha jadi egois dengan sikapnya itu. Setidaknya dia memberitahu kalau dia tetap akan menikah meski sahabat-sahabatnya itu melarangnya.
"Terus, gue harus batalin pernikahannya?" tanya Yudha ikut kesal dengan ucapan David itu.
"Jangan gitu, lo udah siap untuk ikrar janji di depan penghulu dan ayahnya Kania. Masa harus di batalkan, itu lebih egois lagi jika lo lakukan pembatalan hanya karena sikap kami ini." kata Nathan bijak.
"Ya gue minta maaf kalau ngga kasih tahu sama kalian semua, gue hanya tidak mau kalian kecewa. Lo Nathan, tahu gue kan sama kayak lo?" kata Yudha.
"Ya, gue tahu. Makanya gue ngga mau menghalangi lo nikah sekarang. Tapi setidaknya lo bilang sama gue, bukan gue tahu dari sekretaris lo kalau hari ini lo mau menikah. Dan parahnya sekarang lo udah siap berangkat ke acara itu." Nathan kembali emosi.
"Yudha, kamu minta maaf sama mereka. Kamu yang salah tidak memberitahu pada mereka, om tidak tahu apa alasan kamu tidak memberitahu acara pernikahanmu ini. Tapi, seoarang sahabat tidak akan melakukan hal yang membuat rugi sahabatnya itu." kata om Yudha dengan bijak.
Memang Yudha terlalu khawatir akan hal di luar pikirannyan, terkadang dia tidak bisa di kontrol pikirannya. Makanya dia lebih baik secepatnya menikah, meski sahabat-sahabatnya itu memaksa jangan dulu menikah sebelum liburan bersama.
Boleh membawa pasangan, tapi menikah nanti dulu. Toh hanya tiga hari liburan bersama di Lombok, lalu kenapa Yudha tidak bisa menunggu seperti itu? Apa dia iri pada Nathan? Membawa istrinya pergi ke Lombok, sudah pasti akan merasa senang dan akan meninggalkan mereka. Dan lebih memilih berdua dengan istrinya di kamar.
Yudha menghela nafas panjang, dia menatap Nathan dan David secara bergantian. Lalu melangkah mendekat dan memeluk keduanya. Dia merasa bersalah, memang jika apa yang di katakan Jho itu adalah gurauan yang di tanggapi Yudha secara serius. Tapi dia benar-benar ingin secepatnya menikah dengan Kania.
__ADS_1
"Gue minta maaf." kata Yudha lirih masih memeluk kedua sahabatnya itu.
"Ya, sama-sama. Gue juga minta maaf, karena emosi tadi. Gue tahu lo sama halnya dengan gue, Yudha." kata Nathan menepuk pundak laki-laki itu.
"Gue juga minta maaf, Yudh. Nasib lo memang bagus mendapatkan gadis yang lebih dewasa. Selamat deh." kata David melepas pelukan Yudha dan tersenyum padanya.
"Jangan khawatir, Lea juga pasti bisa di ajak seperti gadis dewasa. Dia gadis mandiri, jadi untuk di beritahu tentang apa itu menikah pasti dia ngerti kok." kata Yudha yang paham betul David itu takut Lea belum mengerti apa itu nikah.
David tersenyum, setelah liburan ke lombok. Dia memastikan akan melamar Lea, setidaknya dia samakan nanti pernikahannya dengan Jho. Jho menikah empat bulan lagi, dan lagi Dion juga belum mendapatkan pasangan. Jadi dia lebih beruntung.
Entahlah, pikiran sahabat itu terkadang menular. Ketika ada sahabatnya yang sudah menikah lebih dulu. Dan yang lainnya sudah ada pasangan, kenapa tidak secepatnya menikah. Biar sama dengan sahabat yang lainnya, berbeda dengan yang belum punya pasangan.
"Terus, lo sekarang mau nikah di mana?" tanya Nathan, akhirnya dia bisa menerima.
"Di masjid dekat rumah Kania, ayahnya minta di sana. Dan sekarang gue harus kesana, mau ijab kabul." jawab Yudha.
"Ya udah, ayo berangkat. Lo nanti di tanyakan lagi kenapa belum juga sampai di masjid tempat ijab kabul itu." kata Nathan.
"Gue akan bilang, di cegat dua pengacau di jalan." kata Yudha sengan santainya.
Paman Yudha pun senang, dia ikut tersenyum dan lega juga karena masalahnya selesai. Masalah sepele yang perlu di selesaikan dengan kepala dingin. Yudha naik mobilnya kembali, Nathan dan David masuk ke mobil masing-masing. Dan iring-iringan mobil pun melaju ke masjid yang akan di jadikan tempat untuk acara sakral Yudha dan Kania.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧