
Jho, Nathan, Yudha dan Dion ini sudah berada di kelab malam seperti kemarin. Mereka bersenang-senang sebelum besok harus kembali lagi ke Jakarta, untuk mempersiapkan rutinitas seperti biasa. Bekerja di kantor.
Kali ini Jho punya misi, harus mendapatkan nomor ponsel Seruni sang pelayan kafe yang berada di rooftof. Tapi, saat ini dia menemani ketiga sahabatnya lebih dulu. Tidak mau terburu-buru, meski dia sangat ingin pergi ke kafe.
"Lo kelihatan gelisah banget Jho?" tanya Dion menenggak koktailnya.
"Gue pengen ke kafe itu." jawab Jho melirik jam di tangannya.
Sudah jam sembilan malam, dia harus segera ke kafe tersebut. Dion tahu maksud Jho mau ke kafe tersebut.
"Lo mau minta nomor ponsel Seruni." kata Dion.
"Iya. Besok gue kan harus pulang ke Jakarta, kalian juga. Pekerjaan sudah menunggu, gue ngga mau apa yang sudah gue mulai harus berhenti begitu saja." kata Jho.
"Bilang aja lo suka sama Seruni kan." kata Dion.
"Lo tahu, kenapa harus tanya lagi. Udah deh, gue mau ke kafe." kata Jho beranjak dari duduknya.
Dia melangkah menuju tangga, hatinya benar-benar berbunga-bunga saat ini. Meski besok dia harus pulang ke Jakarta lagi. Sampai di kafe, dia meliat sekeliling, mencari tempat duduk yang nyaman. Dan kebetulan dia menemukan tempat duduk kosong dekat dengan jendela.
Sebenarnya di luar juga ada, di bagian balkon. Tapi dia tidak memakai jaket. Udara makin malam makin dingin, Jho tidak terlalu suka di laur ruangan jika tidak memakai jaket. Dia duduk di pojok dekat jendela yang mengarah keluar.
Suasana malam yang gelap terlihat jelas dari saja. Kelap-kelip lampu di setiap sudut kota terlihat. Seorang pelayan menghampiri, tapi bukan Seruni. Jho kecewa, dia pun hanya diam saja.
"Selamat malam tuan, ada yang ingin anda pesan?" tanya pelayan itu.
"Emm, bisa kamu panggilkan temanmu bernama Seruni?" tanya Jho, membuat pelayan itu mengerutkan keningnya.
"Aapa, anda punya masalah dengan temanku itu?" tanya pelayan memberanikan diri.
"Tidak, ada sesuatu yang tertinggal milikku sama dia. Dan maaf jangan tanya lagi, tolong panggilkan saja." kata Jho malas mejawab pertanyaan selanjutnya.
"Baik tuan, maafkan saya."
Pelayan itu pun pergi menuju belakang memanggil Seruni. Aneh memang, ada pelanggan kafe begitu dekat dengan pelayan kafe. Begitu pikirnya, namun mungkin saja apa yang di katakannya benar.
"Seruni, ada yang memanggilmu itu pelanggan." kata pelayan tadi.
"Siapa?" tanya Seruni bingung.
"Saya tidak tahu, dia di pojokan saja tuh yang sedang sendiri. Katanya ada miliknya yang tertinggal sama kamu, memang apa Seruni yang kamu ambil?" tanya pelayan itu.
"Eh, ngga kok. Aku ngga ambil milik dia, dia aja kali yang modus sama aku." kata Seruni yang tahu sepertinya Jho laki-laki itu.
"Emm, dia mungkin suka sama kamu tuh. Cepat samperin dia, dia terlihat geliash tuh." katanya lagi.
Seruni menarik nafas panjang, ingat kemarin malam di antar oleh Jho. Dia benar-benar di buat deg-degan, wajahnya tiba-tiba memerah. Dia pun menunduk.
"Cepat Seruni!"
__ADS_1
"Iya." jawab Seruni dengan malas.
Dia pun melangkah dengan membawa katalog menu pergi menuju di mana Jho duduk sambil memandang ke arah jendela. Semakin dekat Seruni memelankan langkahnya, Jho belum menyadarinya. Dan Seruni pun berdiri tepat di depan Jho.
"Malam tuan, apa anda ingin memesan sesuatu?" tanya Seruni, Jho mendongak lalu tersenyum.
"Malam Seruni. Aku pesan seperti kemarin saja." kata Jho dengan lembut membuat hati Seruni meleleh.
Dia baru tahu jika Jho punya suara lembut menggetarkan hatinya. Jho masih tersenyum menatapnya, membuat Seruni salah tingkah lagi. Dia pura-pura mencatat apa yang di pesan Jho.
"Kamu mencatat apa?" tanya Jho.
"Eh, pesanan yang anda pesan tuan." jawab Seruni gugup.
"Tapi kan kamu ingat apa yang aku pesan kemarin." ucap Jho masih bersuara lembut, benar-benar membuat Seruni semakin salah tingkah.
"Berikan ponselmu." kata Jho akhirnya.
"Mau apa?" tanya Seruni heran.
"Aku ingin mengenalmu lebih jauh." jawab Jho tenang.
"Tapi, itu terlalu ...."
"Berikan."
"Tuan, jangan memaksa."
"Ish, anda selalu mengancam!"
"Aku serius, cepat berikan!" ucap Jho semakin gemas juga Seruni selalu menolaknya.
Seruni menarik nafas panjang, dia mengambil ponselnya di saku celemek. Lalu menyerahkan pada Jho dengan kesal, mau apa dia meminta ponselnya. Jho pun mengambil ponsel Seruni yang sudah lama, bagian pinggirnya sudah retak. Dia membuka layarnya. Tapi terkunci, ternyata ada sandinya.
"Apa sandinya?"
"Tuan?"
Jho mencoba membuka layar dan di dekatkan pada wajah Seruni. Dia senang, ternyata pengenalan wajah Seruni kata sandinya, Jho tersenyum. Seruni semakin kesal, Jho tahu kata sandinya. Setelah ini pun dia akan mengganti kode sandinya.
Jho memasukkan nomor ponselnya pada ponsel Seruni. Dan memanggil ke nomornya, setelah masuk nomor Seruni dia pun memberi nama nomornya.
"Ini, sudah ada nomorku. Aku pasti akan menghubungimu." kata Jho menyerahkan ponsel Seruni.
Seruni kesal, dia pun memasukkan lagi ponselnya dan pergi begitu saja. Dia merasa aneh dengan Jho, baru kenal dua kali sudah memaksa begitu.
Tak berapa lama, ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponselnya, heran siapa yang meneleponnya. melihat di layar kaca nama orang ganteng, membuat Seruni mengerutkan dahinya. Seruni pun menoleh ke arah Jho, terlihat Jho melambaikan tangan dari jauh sambil tersenyum padanya.
"Apa-apaan ini, dia aneh banget sih!" ucap Seruni mematikan ponselnya.
__ADS_1
Lalu pergi ke dapur untuk menyerahkan kertas pesanan Jho. Masih dengan wajah kesal, membuat temannya jadi heran.
"Eh, kamu kenapa?" tanya temannya itu.
"Ngga apa-apa. Aku lagi kesal." jawab Seruni.
"Kesal sama siapa?"
"Tuh, orang di pojok sana." jawab Seruni lagi dengan ketus.
"Pelanggan itu?
"Ya, dia meneleponku tidak jelas."
"Eh, jadi dia memanggilmu mau minta nomor ponselmu? Waaah, ini sangat menakjubkan Seruni. Dia suka sama kamu." kata temannya antusias.
"Ish, dia terlalu narsis."
"Ya ngga apa-apa, kan dia ganteng. Kelihatannya dia orang kaya."
"Mau orang kaya atau bukan, dia suka mengancamku."
"Mengancam bagaimana?"
"Sudahlah, jangan pedulikan. Dia memang membuatku kesal saja."
"Hati-hati kamu, nanti kamu bisa jatuh cinta sama dia. Jika aku sih, mending manis-manis di depan dia."
"Ya udah, kamu aja sana."
"Emm, laki-laki itu maunya sama kamu."
"Pesanan meja nomor 17!" teriak koki di dalam dapur.
Seruni pun mengambil pesanan itu, dia juga menunggu jus dan juga salad untuk pesanan Jho. Karena dia meminta menu seperti kemarin dengan David.
"Seruni, semangat!" kata temannya sambil tertawa, membuat Seruni semakin kesal.
Dia pun membawa nampan berisi makanan pesanan Jho, menarik nafas panjang dan kembali dengan muka manis. Tapi tidak bisa menghilangkan rasa kesalnya pada Jho.
"Ini tuan pesanan anda." kata Seruni.
"Ya, terima kasih."
Seruni menata piring-piring di meja Jho. Dan Jho ternyata sibuk dengan ponselnya, entah dia sedang apa. Seruni melirik sekilas apa yang di tulis Jho, sebuah pesan di email. Setelah selesai, Seruni pun pamit.
Tapi Jho hanya diam saja, Seruni pun kembali ke dapur. Dan tentu saja ledekan dari temannya kembali dia dapatkan. Membuat dia kesal, namun dia melirik ke arah Jho yang masih sibuk dengan ponselnya.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧