
Satu minggu Kania masih diam saja pada Yudha, dan Yudha tahu itu karena dia belum mendapat jawaban darinya masalah pembicaraan dengan ayahnya. Dan mungkin Kania juga tidak mendapatkan jawaban dari ayahnya apa yang di bicarakan Yudha itu.
Yudha tahu Kania kesal padanya, beberapa kali dia mendapati Kania sudah pulang lebih dulu sebelum dirinya menghampiri ke perpustakaan. Atau menunggu di lobi.
"Dia marah? Hahah! Baiklah, aku akan buat kejutan manis untuknya." ucap Yudha.
Kemudian dia membuat rencana manis dan melakukan sesuatu untuk Kania dan dirinya. Memesan cincin untuk melamar nanti.
Beberapa hari Yudha tidak bertemu dengan Kania, di samping dia sibuk juga Kania menghindarinya sejak seminggu lalu. Rasa rindunya tidak bisa terobati karena pekerjaannya.
Hingga hari Sabtu, dia ada waktu luang dan menemui Kania di perpustakaan. Dengan wajah senang akhirnya dia bisa bertemu dengan Kania.
"Kania ada kan mbak?" tanya Yudha.
"Ada pak, sedang membereskan buku-buku yang baru datang." kata penjaga perpustakaan.
"Terima kasih." jawab Yudha.
Dia lalu masuk lebih dalam, suasana sepi di perpustakaan. Hanya beberapa orang saja yang sedang membaca buku. Yudha mencari sosok Kania, matanya mencari ke semua arah. Terlihat Kania sedang merapikan buku dan memasukkan buku ke dalam rak buku.
Yudha menghampiri Kania, dia berjalan pelan mendekat pada Kania. Kania tidak menyadari kalau Yudha sedang berdiri di belakangnya sambil bersedekap dan memperhatikan dirinya sejak tadi. Sudah lima menit, Kania tidak juga sadar.
"Ehem!"
Kania menoleh, dia menatap Yudha yang tersenyum padanya. Dia mendengus kasar, lalu meneruskan pekerjaannya merapikan buku-buku.
"Masih lama beres-beresnya?" tanya Yudha.
"Masih." jawab Kania.
"Biar aku bantu agar cepat selesai. Setelah ini kita pergi ke suatu tempat." kata Yudha.
"Mau kemana?" tanya Kania.
"Ada pokoknya." jawab Yudha mengambil buku-buku di letakkan di rak.
"Dari minggu lalu jawabannya selalu membingungkan." kata Kania ketus.
"Kok kesalnya lama banget." kata Yudha.
"Siapa yang kesal?"
"Kamu."
"Dih, aku hanya tanya. Bukan kesal."
"Sudah selesai, ayo kita pergi." kata Yudha.
"Masih banyak di kantor, mau di beresi sekalian." kata Kania menolak ajakan Yudha.
"Besok Senin lagi, sudah seminggu kamu memghindariku terus. Aku jadi kangen sama kamu." kata Yudha menegakkan dagu Kania dan menatapnya dalam.
Kania menoleh ke samping, membuat Yudha semakin lucu dengan sikap Kania itu. Dia lalu mencium cepat bibir Kania, membuat dia pun terkejut dan cemberut.
"Hahah! Kamu lucu banget sih. Udah yuk kita pergi." kata Yudha menarik tangan Kania.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Ada pokoknya, aku mau buat kejutan buat kamu." kata Yudha dengan senyum teka tekinya.
Akhirnya Kania pun diam dan menurut, dia melangkah cepat karena Yudha menarik tangannya dengan cepat.
"Mas, jangan cepat-cepat. Kan capek." kata Kania.
"Maaf."
Kania meminta izin pulang lebih dulu pada teman sejawatnya untuk ikut dengan Yudha. Setelah mengambil tasnya, dia pun segera pergi dengan Yudha. Masuk ke dalam lift menuju lantai dasar dan langsung menaiki mobil ketika mereka sudah ada di halaman parkir.
_
Yudha membawa Kania ke pantai, di sana dia mengajak empat sahabatnya juga. Namun tidak satu meja, dia ingin sahabat-sahabatnya menjadi saksi kalau dia akan melamar Kania di pantai itu dengan suasana romantis.
Kania masih diam, dia tidak bertanya meski dalam hatinya penasaran sekali mau di bawa kemana dirinya itu oleh Yudha.
Sampai di sebuah pantai, Yudha menghentikan mobilnya di parkiran. Dia melihat empat mobil sahabatnya sudah ada di sana. Yudha mengajak Kania masuk ke area pantai, suasana pantai cukup ramai sore ini. Karena mereka juga menunggu menyaksikan matahari tenggelam.
Yudha membawa Kania duduk di kursi yang sudah di sediakan pihak pengelola pantai. Dia duduk dan di susul Kania, agak aneh sih bagi Kania. Tapi dia tetap diam saja, menurut apa yang akan di lakukan oleh Yudha.
Satu pelayan datang membawa dua minuman air kelapa muda. Dengan beberapa cemilan kecil.
"Kita di sini mau kencan mas?" tanya Kania.
"Ya, bisa di katakan kita kencan. Kamu suka di pantai?" tanya Yudha.
"Suka aja sih." jawab Kania.
"Kenalkan dia Kania." kata Yudha ketikan empat sahabatnya itu sudah ikut bergabung di meja Yudha.
"Hai Kania. Gue Nathan, udah duda sould out ya. Heheh." sapa Nathan lebih dulu.
"Hai juga pak Nathan." balas Kania.
"Kalau gue David, bentar lagi menyusul Yudha." kata David dengan tersenyum.
"Hai juga pak David."
"Jho, tahun depan menyusul Nathan. Kamu nanti akan kenalan sama calonku juga, Kania." kata Jho.
"Hai pak Jho."
"Gue Dion masih jomblo. Jika menikung Yudha, bolehlah dari belakang." kata Dion membuat Yudha memukul pundak Dion di barengi suara tawa yang lainnya.
Kania hanya tersenyum saja, sejenak dia merasa lucu. Meski tadi dia merasa malu ketika Yudha memanggil keempat sahabatnya itu.
"Lo mau kapan sih lamar dia. Gue udah lapar banget ini." kata Nathan, membuat semuanya mendelik padanya.
Tentu saja Kania kini tahu, kenapa Yudha membawanya ke pantai. Niat Yudha ingin romantis melamar Kania justru di gagalkan oleh Nathan.
"Ish! Lo merusak rencana gue aja sih?!" ucap Yudha.
"Ya lagian kenapa kayak anak muda aja. Tembak aja langsung, kan lo udah dapat restu juga." kata Nathan lagi.
__ADS_1
"Haish! Gue salah bawa kalian kemari yam harusnya gue ngga ajak kalian!" kata Yudha kesal.
"Udah, cepat lo lamar Kania." kata David menimpali.
"Ck, teman ngga ada akhlak kalian!" ucap Yudha kesal.
"Udah sih mas, aku juga udah tahu ini." kata Kania dengan tersenyum.
"Lalu?"
"Lalu apanya?"
"Kamu mau menikah denganku Kania?"
Kania menatap Yudha, lalu menatap semua sahabat Yuha dan menuduk.
"Terima Kania, kasihan dia. Pengen segera menyelamatkan adiknya." kata Nathan.
"Adik? Siapa?"
"Jangan dengarkan dia. Kamu terima ngga?"
"Ya, aku mau."
"Aseek! Jadi bulan depan kita menikah." kata Yudha dengan tegas.
"Apa?!" ucapan kekagetan dari keempat sahabatnya itu membuat Kania dan Yudha bingung.
"Kenapa? Kalian iri?"
"Ck, ini sama aja dengan Nathan. Ngga tahan ya membiarkan junior bertapa terus." kata David,di cibiri oleh Dion dan Jho.
"Jangan sirik, gue emang mau secepatnya menikah." kata Yudha.
Dia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Kania. Dia ingin berdua saja dengan Kania sambil jalan-jalan di pinggir pantai. Ada yang harus dia berikan pada Kania, tanpa ada yang mengganggunya kali ini. Biar saja acara melamar Kania di saksikan sahabat-sahabatnya, tapi memberikan cincin padanya harus dengan suasana romantis.
Mereka pun sudah agak jauh, sambil menunggu sunset tenggelam. Mereka berdiri menghadap laut sambil bergandengan. Tangan Yudha sudah menggenggam kotak cincin lalu dia menghadap pada Kania.
"Kania, mau kamu menikah denganku?" tanya Yudha.
Kali ini dia benar-benar serius di banding tadi di depan teman-temannya. Kania menatap Yudha lama, lalu mengangguk pasti.
"Iya mas, aku mau." kata Kania.
Yudha tersenyum senang, dia pun membuka kotak cincin itu dan mengambilnya. Dia sematkan cincin bermata berlian di jari manis Kania. Sangat romantis, di sinari sunset yang mulai menghilang. Kini cincin itu sudah melingkar di jari Kania.
Yudha mencium tangan Kania itu, lalu menatap wajah gadis itu. Wajahnya mendekat dan mencium bibir gadis yang sudah dia lamar itu. Kania memejamkan matanya, dia juga menyambut ciuman manis dan lembut dari Yudha.
Matahari tenggelam di ufuk barat, tenggelam di lautan luas dan gelap. Menjadi saksi Yudha dan Kania untuk menuju kehidupan bahagia selanjutnya.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1