Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
32. Jadilah Kekasihku


__ADS_3

Pukul sebelas lebih, kafe sudah tutup. Jho menunggu Seruni di depan gedung kelab malam, karena kafe tersebut memang berada di atas gedung berlantai lima. Meski berada di atas dengan mengambil dua lantai, kafe itu sangat ramai.


Karena kelab malam juga setiap malam selalu di datangi oleh orang-orang yang mencari hiburan malam, ada juga yang hanya ingin makan saja atau ingin hiburan saja. Tergantung kebutuhan mereka.


Jho sudah menunggu setengah jam, dia tidak sabar menunggu Seruni keluar dari kafe tersebut. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Seruni, namun Seruni keluar lebih dulu sebelum panggilan telepon tersambung.


Jho melambaikan tangannya pada Seruni yang baru keluar dari gedung itu. Seruni tersenyum dan melangkah menuju mobil sewaan Jho dari pihak hotel di mana dia menginap.


Seruni masuk ke dalam mobil, Jho menjalankan mobilnya dengan santai. Meski malam semakin larut, waktu juga sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit. Jadi sudah masuk waktu tengah malam, dan udara sudah mulai dingin.


"Kamu setiap hari pulang malam terus?" tanya Jho.


"Ya, setiap hari." jawab Seruni.


"Apa tidak mau cari pekerjaan yang tidak menyita banyak waktu saja? Waktumu terlalu banyak di kafe, buka jam sebelas siang dan tutup jam sebelas malam. Dua belas jam kamu bekerja, rata-rata jam kerja itu paling banyak sepuluh jam. Kenapa kafemu memberikan waktu sebanyak itu?" tanya Jho.


"Ada kok pembagian jamnya, sift bagi para pelayan dan juga chefnya. Tidak murni dari jam sebelas siang sampai jam sebelas malam, biasanya di bagi lagi. Tapi jika hari Sabtu dan Minggu itu semua bekerja dari jam sebelas sampai jam sebelas. Setiap tiga hari sekali di waktu, jika ada yang masuk siang hari. Maka menjelang petang dia pulang, begitu juga sebaliknya." kata Seruni.


"Hemm, jadi tidak ada waktu untuk malam Minggu bagi yang punya kekasih? Untuk pacaran dan kencan." kata Jho.


"Kalau ada yang seperti itu, ada juga waktunya. Tapi harus izin dulu sebelumnya pada manajer." jawab Seruni.


Obrolan demi obrolan terus berlanjut, semakin dekat dengan kontrakan Seruni, mereka semakin santai mengobrol. Hingga tidak terasa mobil berhenti di depan kontrakan Seruni, Jho menghela nafas panjang. Menatap Seruni yang terlihat kelelahan, ingin dia bicara berdua lebih lama. Tapi sepertinya Seruni lelah.


"Minggu besok, kamu bisa izin untuk tidak masuk kerja?" tanya Jho.


"Kenapa?"


"Aku ingin mengajakmu kencan. Kamu belum pernah izin pergi kencan kan?" tebak Jho, membuat Seruni malu.


Karena memang selama ini dia tidak pernah pergi kencan dengan laki-laki. Dia belum pernah punya seorang kekasih. Jho tersenyum, dia tahu berarti Seruni belum pernah punya pacar.


"Kamu bisa kan?" tanya Jho.


"Ya, besok aku akan izin sama manajer." kata Seruni, wajahnya masih memerah lalu menunduk malu.


"Ya sudah, kamu istirahat aja malam ini. Besok malam aku jemput kamu di kontrakan." kata Jho lagi.

__ADS_1


"Ya."


Seruni pun keluar dari mobil Jho, dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jho. Jho membalasnya, lalu Seruni pun melangkah pergi menunu kontrakannya, senyumnya mengembang. Dia akan berkencan untuk pertama kalinya dengan Jho.


_


Seruni minta libur hari malam Minggu, sore hari dia pulang ke kontrakan. Karena malam ini dia ingin pergi dengan Jho. Entah mau di ajak kemana, yang jelas Seruni senang sekali. Ini pertama kalinya dia di ajak kencan dengan laki-laki.


Setelah sampai di rumah kontrakannya, Seruni pun segera mandi setelah beristirahat sepuluh menit. Karena tadi di kafe sangat banyak pengunjung, jadi dia sibuk sekali. Tidak enak sebenarnya dia meninggalkan pekerjaannya ketika kafe sedang ramai, tapi teman-temannya mendukungnya untuk libur dan berkencan dengan laki-laki bernama Jho.


Berdandan rapi setelah mandi dan segar, kini Seruni sedang merapikan tempat tidurnya dan juga baju-baju kotornya. Makan cemilan untuk mengganjal perutnya, baru setelah selesai semua dia berdandan tidak seperti biasanya. Di gerai rambutnya yang biasanya di kuncir.


Kriiing!


Suara ponselnya berdering, Seruni buru-buru mengangkatnya.


"Halo?"


"Kamu sudah siap?" Jho di seberang sana.


"Ya, sudah." jawab Seruni.


"Iya, tunggu lima menit."


"Iya sayang."


"Eh?"


Klik!


Seruni tertegun, dia lalu memasukkan ponselnya dalam tas selempangnya. Menarik nafas panjang, menetralkan hatinya yang berdebar dengan ucapan Jho di telepon tadi. Setelah mematut di depan cermin, memastikan penampilannya sudah oke Seruni memakai sepatu flatnya berwarna cokelat.


Dia suka sepatu flat, karena tidak membuatnya sakit. Lagi pula kencan malam ini entah tidak tahu mau apa, dia tidak berharap Jho mengatakan sesuatu yang di harapkan setiap gadis. Seruni pun keluar dari kamarnya, beberapa mata menatapnya heran.


Tidak seperti biasanya Seruni berpakaian seperti mau kencan. Namun Seruni cuek saja, dia terus melangkah keluar dari kontrakannya. Mobil sewaan Jho sudah menunggu di seberang sana, Jho menatap Seruni dari jauh.


Dia terkesima, Seruni nampak berbeda penampilannya dari biasa dia bekerja di kafe. Memakai rok selutut, blous putih agak tipis. Namun di tutupi oleh blazer warna pastel, menambah ceria dan cantik penampilan Seruni.

__ADS_1


Dia mendekat ke mobil Jho, dan Jho membukakan pintu mobil untuknya. Dengan senyum mengembang di bibir Seruni membuat Jho sangat terpesona. Ada keinginan dia melakukan sesuatu, namun dia tahan.


"Kamu cantik malam ini." kata Jho dengan lembut, semakin melebar senyum Seruni.


"Memang mau pergi kemana?" tanya Seruni.


"Emm, ke pantai Kuta. Kudengar di sana sangat indah dan ramai jika malam hari. Apa lagi malam Minggu, banyak orang berkunjung dengan pasangannya. Kamu juga belum makan kan?" tanya Jho.


"Iya."


Mobil Jho pun meluncur ke arah pantai Kuta. Hanya butuh lima belas menit sampai di pantai Kuta. Dan benar saja, di sana sangat ramai pengunjung. Terutama pengunjung berpasangan, menikmati keindahan alam dan laut sekaligus bersama kekasih mereka atau teman.


Jho memarkirkan mobilnya di parkiran, dia mengajak Seruni untuk jalan-jalan lebih dulu ke pantai. Karena masih petang, jadi Jho ingin melihat sunset di pantai Kuta bersama Seruni. Dia menggandeng Seruni menyusuri tepi pantai.


"Emm, tuan Jho." panggil Seruni ragu.


"Apa aku majikanmu?" tanya Jho.


"Bukan, tapi aku bingung memanggilmu apa." kata Seruni, Jho menatap Seruni lalu tersenyum.


"Panggil aku nama juga boleh." kata Jho.


"Tidak bisa, emm kamu itu lebih tua dariku." kata Seruni.


"Kalau begitu, panggil mas Jho." ucap Jho.


Mereka terus menyusuri pantai, menunggu sunset yang sebentar lagi datang. Menunggu beberapa menit lagi dan terjadilah keagungan Tuhan itu di pantai Kuta, di saksikan banyak pasangan dan juga orang-orang yang menunggunya setiap sore hari.


"Seruni."


"Ya?"


"Jadilah kekasihku."


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2