Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
93. Surprise


__ADS_3

"Lo sembunyikan istri gue kan?!" kata Yudha menuduh Dion yang baru datang.


Terang saja Dion bingung, namun wajahnya berubah kesal. Kenapa baru datang seperti jadi tersangka begitu.


"Lo kenapa?" tanya Dion.


Yang lain masih diam, Yudha mendekat pada Dion. Dia masih mencurigai sahabat yang datang terlambat itu, melihat kopernya juga masih di tenteng di tangannya. Dengan malas Dion melangkah duduk di kursi lobi.


Orang-orang yang lewat merasa aneh dengan kelima sahabat seperti bermusuhan, dan tiga perempuan duduk juga di kursi sofa. Jho mendekati Yudha dan menepuk pundaknya.


"Lo yakin istri lo itu hilang? Coba periksa di kamar lo itu? Kali aja dia ada di kamar mandi. Gue yakin lo baru bangun tidur terus kaget karena istri lo sedang di kamar mandi. Pastikan dulu di kamar lo itu tidak ada Kania." kata Jho.


Yudha tampak diam, dia berpikir benar juga apa yang di katakan Jho. Dia memang langsung pergi dari kamarnya, tidak mencari di kamar mandi atau di ruang ganti. Kemudian dia mendengus kesal, berbalik lalu menuju kamarnya.


Semua mata sahabatnya mengikuti kemana Yudha pergi. Ada senyuman tipis, ada juga wajah keheranan dan kebingungan.


"Dia kenapa?" tanya Dion.


"Gue ngga tahu. Tanya Jho tuh." jawab David melirik Jho yang tersenyum tipis.


Nathan menatap Jho, dia curiga oada Jho. Namun dia diam saja, dia tahu mungkin itu ulah Jho. Karena dia ingat Jho kesal ketika Yudha menikah tanpa memberinya kabar padanya. Dan memang Yudha harus di beri pelajaran juga, pikir Nathan.


"Dion, lo ke kamar gue aja." kata Jho.


"Lho, bukannya udah pesan kamar buat gue?" tanya Dion heran.


"Sebentar aja, kamar lo sedang di bersihkan." jawab Jho.


"Jho, lo berhasil." ucap David.


"Gue kesal. Dan lagi gue mau buat kejutan sama dia." kata Jho.


Yang lain diam, memang hilangnya Kania ada rencana dari semua sahabat-sahabatnya. Itu pikir Nayra, gadis yang tidak tahu apa rencana sahabat suaminya itu. Apa lagi Lea atau Seruni. Yang tidak tahu apa-apa juga jadi tuduhan Yudha telah menyembunyikan istrinya.


Tak lama, Yudha datang lagi dengan wajah cemasnya. Dia mendengus kesal, menatap semua sahabatnya yang terlihat bingung juga.


"Udah deh, gue minta katakan di mana istri gue!" ucap Yudha kesal.


Satu persatu semua sahabatnya pergi dengan wajah kesal juga. Mereka tidak meladeni apa yang di ucapkan Yudha, membuat laki-laki itu ingin menjerit memanggil nama istrinya Kania.


Dia bisa gila kalau tidak juga menemukan istrinya, apa lagi sahabatnya terlihat santai dan acuh.


"Woi! Mau pada kemana kalian, sialaan!" teriak Yudha.

__ADS_1


"Cari istrimu sendiri sana! Menuduh orang tidak tahu apa-apa." kali ini Dion yang menjawab.


Dia ikut dengan Jho ke kamarnya, nafas Yudha memburu. Namun dia tarik nafas panjang, memejamkan matanya. Duduk di sofa lobi, berpikir bagaimana bisa istrinya pagi-pagi tidak ada di kamarnya.


Kembali Yudha menatap kepergian keempat sahabatnya dan kemana mereka pergi. Tapi mereka memang sepertinya masuk ke kamar masing-masing. Namun dia merasa ada yang janggal, kenapa Dion pergi ke kamar Jho?


Tanpa membuang waktu lagi, dia berlari menuju kamar Jho. Namun dia urungkan lalu berbalik.


"Oke gue harus tenang, gue akan cari tahu sendiri. Ini keahlianku, biasa menyelidiki kasus-kasus besar. Bagaimana bisa menyelidiki keberadaan istri gue dan keterlibatan mereka semua tidak bisa gue pecahkan. Bodohnya gue harus marah-marah begini." ucap Yudha.


Dia lalu pergi ke bagian resepesionis. Berpikir bagaimana bertanya tentang satu kamar yang di pesan oleh salah satu sahabatnya.


"Mbak, maaf. Saya mau bertanya, adakah dua kamar atas nama satu orang yang di pesan?" tanya Yudha.


Maksudnya apa mas?" tanya bagian resepsionis.


"Emm, maksudnya ada satu orang pesan dua kamar dengan nama dia sendiri. Bisa saya tahu siapa dan nomor berapa mbak?" tanya Yudha.


"Maaf mas, kamar yang di pesan oleh pelanggan tidak bisa kami beritahu oleh kamar pelanggan lain." kata resepsionis itu.


"Tolong mbak, ini darurat. Istri saya tidam ada di kamar saya. Saya mencurigai satu kamar untuk menyekap istri saya, saya ingin menyelamatkan istri saya itu. kata Yudha.


"Waah, kalau begitu lapor satpam aja mas."


"Ya kan belum tahu kamarnya di mana, saya ngga mau buat keributan. Kalau buat keributan, nanti istri saya di celakai. Tolong ya mbak, cari tahu satu nama yang memesan dua kamar dan itu kamar berapa. Saya yakin istri saya di kamar salah satunya." ucap Yudha berbohong.


"Ya pesan kamar kemarin malam lho mbak, yang baru datang itu." kata Yudha.


"Baik mas, saya cari dulu di komputer."


Yudha tersenyum, dia akan membongkar motif kenapa bisa sahabatnya itu berbuat seperti itu. Dia memperhatikan pegawai tersebut masih mencari, lalu dia pun mendongak pada Yudha.


"Emm, mas. Di sini ada dua kamar dengan satu pemesan, tapi satu kamar itu akan di gunakan dengan atas nama Dion." kata pegawai itu.


"Oh, begitu. Siapa pemesannya mbak? Dan kamar nomor berapa?" tanya Yudha bersemangat.


"Nama pemesananya Jhonathan, dan kamar akan di gunakan oleh nama Dion. Nomor kamarnya dua kosong empat." kata pegawai itu.


"Ada di mana itu mbak?"


"Di lantai bawah juga, tapi agak paling ujung mas." kata pegawai itu.


"Bisa berikan kuncinya?" tanya Yudha.

__ADS_1


"Waah, kuncinya sudah di ambil tuh mas." kata pegawainya.


Yudha diam, dia mendengus kesal. Lalu menatap pegawainya lagi.


"Apa ada kunci duplikatnya ngga mbak? Saya takut istri saya di sana di apa-apakan sama penghuninya. Saya yakin istri saya ada di sana, dan ..." kata Yudha membuat drama.


"Sebentar, saya tanya dulu." kata pegawainya.


Sang pegawai menelepon seseorang, dia menanyakan apakah kamar dua kosong empat duplikatnya ada di bagian penyimpanan kunci. Dia juga menjelaskan masalah yang di hadapi Yudha itu. Setelah selesai, pegawai itu pun memberitahu Yudha.


"Mas, katanya ada kuncinya. Mas ambil aja pada pegawainya ya, katakan saya yang memberitahunya." kata pegawai itu.


"Baiklah. Terima kasih ya mbak." kata Yudha dengan senang sekali.


"Iya mas, semoga benar istrinya di kamar itu ya. Kalau belum ketemu juga, mas lapor ke bagian sekurity." kata pegawai tersebut.


"Oke mbak."


Yudha langsung menuju bagian penjagaan kunci kamar, dia tidak sabar mau memarahi Jho. Karena sudah pasti itu kelakuan Jho.


"Kunci nomor dua kosong empat mas." kata Yudha.


"Anda yang tadi di bagian resepsionis?"


"Ya."


"Apa perlu saya beritahu pada bagian penjagaan?"


"Tidak usah, nanti jika istri saya tidak ada di sana saya akan memberitahu bagian penjagaan." kata Yudha.


"Oke, ini kuncinya pak. Hati-hati ya, barangkali pelakunya itu memang jahat dan bawa senjata tajam."


"Ya, terima kasih."


Yudha lalu pergi ke kamar dua kosong empat, dengan berlari dia cepat menuju kamar itu. Senyumya mengembang, dia yakin kali ini menemukan istrinya. Dengan hati tenang dan berpikir jernih, semuanya bisa di pecahkan.


Tak berapa lama, dia sampai di depan pintu kamar dua kosong empat. Tampak sepi juga, kunci dia masukkan dan membukanya. Tanpa ada orang yang curiga, Yudha sudah membuka kuncinya.


Dia masuk ke dalam kamar itu, tampak sepi sekali. Lalu dia pun mencari stop kontak listrik karena suasana kamat tampak. Setelah menyala, dia terkejut bukan main.


"Surprise!"


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2