Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
60. Makan Siang


__ADS_3

Nathan kesal sekali dengan gagalnya malam pertama dengan Nayra. Dia berbering membelakangi Nayra yang sejak tadi diam, merasa bersalah. Tak ada kata apa pun dari Nathan pada Nayra.


"Maaf bang, aku ngga bilang dulu sama bang Nathan." kata Nayra.


"Harusnya tadi kamu bilang sejak di pelaminan. Kan aku bisa ngobrol sepuasnya sama sahabat-sahabatku." kata Nathan.


"Ya, kan sekarang juga bisa. Tadi kulihat mereka masih kok di kafe." kata Nayra.


"Ih, malulah. Nanti abang di ketawain mereka, kalau malam pertamaku gagal karena kamu sedang datang bulan." kata Nathan.


"Ya kenapa? Memang mereka mau meledek abang?" tanya Nayra.


"Pastilah, mereka pasti meledek abang. Karena abang sudah bilang akan makan kamu sampai pagi. Tapi sekarang malah gagal." kata Nathan lagi.


Nayra menarik lengan Nathan agar berbalik, tapi Nathan bertahan. Nayra pun berganti posisi, dia melewati Nathan dan berada di depan suaminya yang masih kesal padanya.


"Bang, kok marah terus sih. Kan bukan salahku kalau datang bulan itu datang. Emang siklusnya sekarang, jadi ya ngga bisa di hindari." kata Nayra menenangkan suaminya itu.


"Kenapa sih selalu saja ada halangannya buat senang-senang." kata Nathan masih mode kesal.


"Sabar bang, orang sabar di sayang Tuhan." kata Nayra.


"Kamu ngga sayang?"


"Ya sayang dong bang, kan bang Nathan suamiku dan cinta pertamaku." kata Nayra dengan senyum manisnya.


Membuat Nathan pun diam, dia menatap Nayra lalu tersenyum padanya. Dia menarik tubuh Nayra agar mendekat dan juga menarik wajah Nayra, lalu mencium bibirnya lembut. Keduanya pun larut dalam suasana malam pengantin dan kegagalan malam pertama pada keduanya.


Nathan melepas ciumannya dan mengecup kening Nayra. Nayra senang, lalu tersenyum pada Nathan. Mereka saling memeluk satu sama lain.


"Maafkan abang, aku terlalu bersemangat ingin malam pertama sama kamu Nayra." kata Nathan masih memeluk istrinya itu.


"Iya bang, ngga apa-apa. Aku juga ngerti kok, kalau pengantin baru pasti ingin segera melakukan itu. Tapi mau bagaimana lagi." kata Nayra menenangkan suaminya itu.


Keduanya masih saling berpelukan, lalu tanpa sadar mereka pun terlelap karena memang sudah sangat lelah. Sejak semalam tidak bisa tidur karena harus mempersiapkan pesta pernikahan meski tidaklah sebesar dulu pertama Nathan menikah.


_


Yudha di hubungi oleh salah satu model terkenal, dia di minta untuk menangani kasusnya yang sedang di alaminya. Dan sekarang Yudha sedang menunggu model tersebut di salah satu restoran mahal, karena dia yang meminta bertemu di restoran itu.

__ADS_1


Ada perempuan yang mendekat pada Yudha, dia cantik dan mansi dari pandangan Yudha. Perempuan itu tersenyum pada Yudha dan menyalami tangaan Yudha. Yudha tahu perempuan itu adalah asisten model yang akan dia tangani kasusnya.


"Maaf pengacara Yudha, nona Nathalie belum sampai di sini. Katanya ada pertemuan dengan produser dulu, jadi dia mengutus saya untuk menemui anda." kata perempuan itu.


"Ooh, begitu." kata Yudha.


"Ya, dan kenalkan. Saya Kania Indah Sari, asisten pribadi nona Nathalie." kata Kania memperkenalkan diri..


"Oh ya, salam kenal nona Kania. Saya Yudha, tentu anda tahu itu kan. Heheh." kata Yudha.


"Oh ya, tentu saja. Hahah."


"Baiklah, apa yang nona Nathalie inginkan dari bantuan saya?" tanya Yudha.


Kania lalu memberikan berkas yang dia bawa dan menjelaskan apa yang harus di tangani Yudha nantinya. Dia menjelaskan secara gambalang, dan sesekali Yudha menatap Kania dengan serius lalu mengangguk tanda mengerti.


"Emm, memang sebaiknya nona Nathalie yang datang, tapi tidak mengapa. Nanti kita atur jadwal pertemuan dengan nona Nathalie agar permasalahannya lebih jelas. Karena jika bertemu dan bicara langsung dengan orangnya itu akan tahu bagaimana nanti saya membantunya." kata Yudha.


"Ya benar, pengacara Yudha. Saya pun demikian, tapi nona Nathalie sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi belum bisa menemui anda. Akhirnya saya yang harus maju dan bertemu dengan anda." kata Kania. Yudha terdiam, memang seorang model itu sangat sibuk sekali.


"Oh ya, kita makan siang dulu. Saya sudah terlanjur memesan makanan juga,." kata Yudha.


"Hanya sebentar, mungkik setengah jam saja." kata Yudha sedikit memaksa Kania untuk mau makan siang dengannya.


Karena dia sudah memesan juga, jadi dia merasa sayang jika di tinggalkan begitu saja. Dan Kania tampak berpikir, dia melirik jam di tangannya. Mungkin ada waktu jika hanya setengah jam saja, pikir Kania.


"Baiklah pengacara Yudha. Saya bisa menemani anda makan siang, tapi tidak minta di suapi kan? Hahah!" kata Kania dengan bercanda.


"Hahah! Nona Kania bisa saja kalau bercanda. Ya baiklah, terima kasih mau menemani saya makan siang. Karena sayang jika makan di restoran mahal lalu di tinggalkan begitu saja. Heheh." kata Yudha.


"Heheh, benar pengacara Yudha. Jangan membuang makanan, itu tidak baik. Apa lagi makanan yang harganya mahal seperti di restoran ini. Masih banyak orang-orang yang kelaparan karena kekurangan makanan, jadi kita harus menghargai makanannya juga ingat akan orang yang kesusahan itu dalam mencari makanan." kata Kania seperti berceramah.


Sedangkan Yudha tertegun dengan kalimat panjang Kania itu. Sejenak dia diam, menatap Kania yang ternyata bukan hanya cantik dan manis. Tapi juga hatinya peka terhadap orang-orang sekitar. Yudha tersenyum lalu menunduk.


Makanan yang di pesan pun datang, Yudha dan Kania menunggu pelayan selesai menyajikan makanan. Setelah selesai, Yudha mempersilakan Kania makan. Kania pun mengangguk, mereka makan dengan santai.


"Jadi nona Kania asisten pribadi nona Nathalie?" tanya Yudha.


"Ya, saya sudah mengatakannya tadi pak Yudha." jawab Kania.

__ADS_1


"Oh ya, maaf. Saya hanya berbasa basi saja, hahah." katq Yudha tertawa garing.


Karena dia tidak tahu harus bicara apa pada Kania. Kania pun tersenyum, dia mengerti dengan Yudha yang baru saja kenal dengannya.


"Saya sudah dua tahun jadi asisten pribadi nona Nathalie, dia sangat profesional dalam bekerja. Saya suka kerja dengannya, ya meski asisten itu pekerjaan bagus di mata orang. Tapi sebenarnya asisten artis itu sebagai pesuruh yang tidak pernah berhenti dalam bekerja." kata Kania.


"Begitu ya, tapi memang seperti itu jika bekerja dengan orang super sibuk seperti nona Nathalie." kata Yudha.


Mereka akhirnya mengobrol santai, hingga Kania pun ingin berpamitan kembali pada Nathalie yang sudah meneleponnya itu.


"Maaf pak Yudha, saya harus kembali. Nona Nathalie membutuhkan saya." kata Kania.


"Ya, baiklah. Nona Kania bisa minta nomor nona Nathalie? Agar saya bisa menghubunginya jika kasus ini terlalu rumit. Saya bisa meminta keterangan atau bukti lain nantinya." kata Yudha.


"Emm, nona Nathalie tidak mau ada orang yang menghubunginya ketika dia bekerja. Begini saja, nomor saya saja ya pak Yudha. Anda bisa hubungi saya nantinya jika ada yang penting, bagaimana?" tanya Kania.


"Oh, tentu saja. Baiklah, berikan nomor nona Kania." kata Yudha menyodorkan ponselnya pada Kania.


Kania menyambut ponsel Yudha dan menulis angka nomornya. Setelah selesai, dia berikan ponsel Yudha lagi dengan tersenyum.


"Ini pak Yudha, anda bisa menghubungi nomor saya yang itu." kata Kania.


"Terima kasih nona Kania, nanti saya kabari jika ada yang penting." kata Yudha memasukkan ponselnya ke saku jasnya.


"Saya pamit dulu pak Yudha." kata Kania menyalami Yudha.


"Semoga kita bertemu lagi." kata Yudha dengan tersenyum ramah.


"Hahah! Sudah pasti pak Yudha."


Setelah berkata seperti itu, Kania pun pergi meninggalkan Yudha yang masih berdiri dan menatap kepergian Kania.


"Dia ramah dan sopan, cantik pula."


_


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧

__ADS_1


__ADS_2