
Benar saja, esok harinya Dion dan Amelia di ajak ke gereja katedral di kota Surabaya. Jho punya kenalan pastor yang sering menikahkan pasangan pengantin di gereja. Malam hari Jho menelepon sang pastor tersebut untuk meminta bantuannya menikahkan Dion dan Amelia di gereja.
"Pastor bisa kan membantu saya?" tanya Jho dalam telepon.
"Bantu apa Jho?"
"Bantu nikahkan teman saya, mereka ingin menikah secepatnya. Ala kadarnya juga tidak masalah. Yang penting mereka berdua sah menjadi suami istri." jawab Jho.
"Kenapa mendadak?" tanya pastor.
"Mereka pasangan yang serasi, dan banyak tantangan. Jadi mumpung mereka mau dan jangan di tunda lagi."
"Kapan menikahnya?"
"Besok."
"Apa?! Jangan main-main Jho masalah pernikahan. Tidak bisa menikah secara mendadak." kata pastor kaget.
"Tapi kalau di pikirkan sekarang tidak mendadak pastor. Dia ingin menikah cepat, dan ...." kata Jho menggantung, bingung mau memberi alasan apa lagi.
Masa dia membohongi seorang pastor. Tidak mungkin juga membohongi pastor, Seruni mendekat. Dia melihat suaminya menelepon tapi bingung.
"Halo Jho?"
"Pokoknya saya minta bantuan pasto, besok ya pastor?" kata Jho memaksa.
"Ya baiklah, aku juga tidak boleh menolak keinginan baik untuk menikah. Maaf kalau aku terkejut tadi, apa pun alasan temanmu menikah mendadak. Itu urusan dia, jadi jam berapa dia datang ke gereja?"
"Oh ya, siang tidak apa pastor. Mungkin harus ada persiapan sedikit. Heheh." kata Jho lega juga pastor itu memahami keinginannya.
"Ya ya ya, aku tunggu sehabis jam makan siang. Karena pagi, aku juga ada perwakilan pernikahan di gereja lain." kata pastor.
"Aah, terima kasih pastor. Maaf ya, kalau saya merepotkan anda. Heheh." kata Jho lagi.
"Ya, tidak masalah. Aku hanya kaget saja, ada permintaan mendadak seperti itu. Biasanya satu bulan sebelumnya aku di hubungi untuk menikahkan dua pasangan." kata pastor lagi.
"Ya sudah pastor, saya tutup dulu teleponnya. Selamat malam."
"Ya, selamat malam."
Klik!
Jho tersenyum, dia senang akhirnya Dion akan menikah juga besok siang. Tidak mengapa dia menikah secara mendadak juga. Seruni sejak tadi memperhatikan suaminya jadi penasaran.
"Kenapa mas? Kok senyum-senyum sendiri sih?" tanya Seruni sudah berganti pakaian.
__ADS_1
Jho memandangi istrinya dari atas sampai bawah. Dia tersenyum, istrinya memakai piama lembut dan tipis. Tanpa menjawap pertanyaan Seruni, dia membopong tubuhnya dan membawanya ke ranjang pengantinnya.
"Aaah mas! Tadi belum jawab pertanyaanku. Ada apa tadi kamu telepon lalu senyum-senyum sendiri." kata Seruni.
Lagi Jho tidak menggubris pertanyaan Seruni, dia langsung meraup bibir istrinya itu. Malam ini dia akan langsung mengeksekusi Seruni, sudah satu tahun dia menunggu untuk mengasah kejantanannya lagi.
Begitu sabar Jho mencumbu istrinya, dengan lembut dan penuh perasaan. Setiap lekuk tubuh Seruni dia sentuh, membuat gadis itu pun terlena dan mengeluarkan lenguhan panjang.
"Kamu tahu, aku begitu sabar menanti seperti ini. Kenapa?" tanya Jho dengan nafas terengah menahan gairahnya.
"Kenapa?" tanya Seruni malu-malu.
"Karena aku sangat mencintaimu, ketiga sahabatku tidak sabar. Mereka langsung menikah setelah tahu pasangannya mau di ajak nikah cepat. Terkadang aku iri, tapi aku tidak merusakmu dan juga sangat mencintaimu." kata Jho.
"Terima kasih mas, kamu dengan sabar menungguku. Maafkan aku ya, aku harus membantu ayah dan ibuku dulu." kata Seruni.
"Ya, kamu gadis yang baik dan juga berbakti pada orang tua. Makanya aku bersabar menunggu kamu membalas kebaikan orang tuamu, meski aku juga bisa membantumu. Tapi kamu tidak mau, jadi aku semakin cinta dan sayang sama kamu Seruni. Cup." kata Jho.
"Jadi?"
"Kita lanjut."
"Hahah!"
_
Pastor yang di minta oleh Jho tadi malam pun sudah hadir. Dia memberitahu pihak gereja akan ada pernikahan mendadak, dan mereka kaget. Tentu saja bingung, karena mempersiapkan semuanya butuh banyak waktu.
Tapi pastor memaksa menyiapkan semuanya secara sederhana dan seadanya saja. Karena permintaan Jho hanya menikah saja, yang pusing adalah pastor harus menghubungi bagian grup nyanyi gereja. Dan itu yang bisa hadir juga lima orang, tapi tidak mengapa.
"Jho, sudah siap temanmu itu? Yang mana?" tanya pastor.
"Sudah pastor, dia ada di depan. Kan nanti setelah acara di mulai mereka datang." jawab Jho.
"Ck, kamu itu ada-ada saja." kata pastor.
"Heheh, maaf pastor. Merepotkan ya?"
"Tidak."
Pastor lalu kembali ke tempatnya, segala persiapan sudah siap semua. Kini Dion yang sejak tadi duduk berdiri dan menuju altar. Menunggu Amelia datang. Dia sudah membeli cincin pernikahan tadi pagi, berburu dengan cepat dan sederhana saja.
Hati Dion berbunga-bunga, sebentar lagi dia tidak lagi menyandang duda. Tapi sudah beristri, dan akan merasakan malam pertama lagi dengan Amelia. Senyumnya merekah, terlihat jelas kalau dia sudah tidak sabar dengan pernikahannya itu.
"Lo gugup?" tanya Jho.
__ADS_1
"Ya, kenapa Amelia datangnya lama sekali?" tanya Dion.
"Sabar, mereka sedang di dandani oleh istri-istri kita. Kamu tenang aja." kata Jho lagi.
Dion menoleh ke belakang terus, rasanya sangat lama sekali. Dia pun menghela nafas panjang dan menatap pastor lagi. Tak lama, iringan musik berbunyi. Dion tersenyum, menoleh ke belakang lagi.
Tampak dari arah pintu, Amelia datang dengan baju pengantin sederhana. Polesan wajah juga natural dan tidak menor, berjalan pelan dengan menatap Dion. Dia tersenyum lalu menunduk malu, tidak percaya dia akan menikah dengan anak orang yang selama ini dia tinggal bersama.
Sampailah Amelia di depan Dion, Dion mendekat dan menarik tangannya untuk serega naik altar dan berdiri di depan pastor. Pengiring pengantin wanita, Kania dan Nayra ikut duduk di samping suaminya.
Nyanyian-nyanyian pun selesai, kini tinggal pastor mengambil pengucapan janji suci pernikahan Dion dan Amelia. Dia memberikan wejangan pernikahan lebih dulu pada kedua mempelai, untuk bekal di kehidupan rumah tangga keduanya nanti.
"Dion Pramuwijaya, apakah bersedia Amelia Benu menjadi istrimu yang akan selalu di jaga dan setia padanya?"
"Saya bersedia."
"Amelia Benu, apakah bersedia Dion Pramuwijaya menjadi suamimu dan selalu setia dan menyayanginya?"
"Saya bersedia."
"Atas nama Tuhan, kalian di persatukan menjadi suami istri yang sah. Silakan kalian sematkan cincin dan mencium pasangan kalian sebagai tanda sudah sah menjadi suami istri." kata pastor.
Dion mengambil cincin yang di bawa oleh Milea lalu di sematkan ke jari manis Amelia, kemudian bergantian kini Amelia yang menyematkan cincin pada jari manis Dion. Lalu keduanya tersenyum dan wajah mereka mendekat. Saling menatap bibir dan akhirnya berciuman dengan lembut dan lama.
Tepuk tangan menggema di dalam gereja tersebut. Kini pernikahan Dion dan Amelia pun selesai, sahabat-sahabat Dion pun menyalami kedua mempelai. Saling berpelukan dan memberikan semangat.
"Akhirnya sudah tidak lagi menyandang duda lagi. Kita sudah punya pasangan masing-masing." kata Nathan.
"Ya, kita sudah bukan duda lagi. Semoga istri-istri kita setia selamanya." kata Yudha.
"Gue yakin istri-istri kita setia dan sangat mencintai kita. Karena kita dulu terlalu membanggakan mendapatkan gadis yang sepadan dengan kita. Gue pikir mungkin itu suatu kesalahan, jadi gue memilih gadis biasa." kata Jho.
"Benar, dan meski pun belum lama kita mengetahui pasangan kita. Gue rasa kali ini akan langgeng pernikahan kita." kata David menyambungi.
"Baiklah, kita bukan lagi genk duda. Duda sudah sould out, jadi kita ganti nama genk kita."
"Memang siapa yang menamai genk duda?"
"Kikan and the genk."
"Hahah!"
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧