
Penguburan jasad ibunya Milea sudah selesai, kini Milea masih bersimpuh setelah pembacaan doa oleh pemuka agama selesai. Milea masih menangis di pusara ibunya, dia sedih harus bagaimana dengannya nanti. Setelah lulus sekolah harus hidup sendiri tanpa ibunya.
Ibu Marni mendekat pada Milea yang masih tersedu. Dia ikut bersimpuh du hadapan makam ibunya Milea.
"Lea, yang sabar ya, semoga ibumu tenang di siniNya." kata ibu Marni memberikan kekuatan pada Milea.
"Iya bu Marni, tapi aku sedih bu. Ngga ada lagi ibu dan nanti aku sama siapa? Hik hik hik." kata Milea kembali menangis.
"Ada bu Marni, Lea. Kamu bisa kok sama ibu, jangan sedih terus. Ibumu juga nanti ikut sedih kalau kamu sedih terus, tetap semangat Lea." kata ibu Marni.
"Iya bu, terima kasih." ucap Milea.
"Ibu pulang dulu ya, sudah siang. Takut suami ibu nyariin. Apa kamu mau pulang juga?" tanya ibu Marni.
"Nanti saja bu, Lea masih ingin di sini temani ibu." kata Milea.
"Baiklah, tapi nanti kamu pulang ya. Ibu akan siapkan makan siang untuk kamu kalau nanti lapar." ucap bu Marni.
"Iya bu, terima kasih."
Bu Marni lalu pergi meninggalkan Milea di depan pusara ibunya. Memandang Milea sekali lagi, dia merasa kasihan pada gadis itu, hidupnya menyedihkan. Tapi dia salut sama Milea, meski hidupnya sangat menyedihkan dia selalu ceria.
"Kasihan sekali kamu Lea." gumam bu Marni.
Sementara itu, Milea masih menangisi keprgian ibunya. Dia kembali terisak dan tertunduk di pusara yang masih basah itu. Satu sosok laki-laki berdiri di belakang Milea, dia belum menyadari kalau ada ayah tirinya berdiri di belakangnya.
"Jangan menangisi orang yang sudah pergi. Kamu bisa kok tinggal sama ayah dengan istri ayah di rumah." kata Jani.
Milea menoleh, dia menatap tajam pada ayah tirinya itu. Dia marah pada ayah tirinya, gara-gara Jani. Ibunya meninggalkannya.
"Aku tidak sudi tinggal dengan orang yang membunuh ibuku!" ucap Milea dengan sengit.
"Heh! Kamu jangan menuduhku sembarangan! Ibumu sendiri yang payah, sudah sakit-sakitan masih saja berpikir aku mau meladeninya di ranjang!" ucap Gani lebih sengit lagi.
"Jaga bicaranya! Ibuku bukan wanita murahan, ibuku sakit-sakitan juga karena ayah sering memarahi dan memukulinya. Aku tahu ibu sering menangis, tapi ibu tidak pernah cerita buruk tentang ayah." ucap Milea.
"Hah! Makanya dia terlalu cinta sama ayahmu ini. Jadi, siapa yang salah? Dia yang salah karena sakit-sakitan, jadi ayah cari istri baru yang lebih segar dan menggoda. Dan ibumu? Sudah sakit, bau tidak sedap pula." kata Jani lagi.
"Pergi sana, ayah tidak berhak datang ke pemakaman ibuku!"
"Kamu pikir aku akan memberi penghormatan terakhir? Cuih! Gadis tidak berguna!" ucap Gani kesal pada Milea.
Dia lalu pergi meninggalkan Milea sendiri, Milea menatap kepergian Jani. Dia tidak habis pikir, kenapa Jani seperti itu.
__ADS_1
_
Seminggu setelah kepergian ibunya, Milea kini datang ke rumah David. Dengan membawa kartu nama di tangannya, dia menunjukkannya pada satpam.
"Pak, ini benar rumah om David?" tanya Milea ragu, karena dia melihat rumah itu sangat besar dan mewah.
Satpam itu memicingkan matanya, melihat kartu nama yang di tunjukkan oleh Milea dan mengambilnya.
"Dari mana kamu punya kartu nama itu?" tanya satpam menyelidik.
"Dari om David sendiri." jawab Milea.
"Yakin dari tuan David sendiri? Jangan-jangan kamu cuma mengada-ada saja."
"Beneran pak satpam. Ngapain saya bohong." ucap Milea agak kesal.
"Tunggu di sini, saya mau tanya dulu sama tuan David." kata satpam itu.
Milea pun diam saja, dia menunggu di luar pagar. Satpam tadi tidak mau membukakan pintu gerbang untuk Milea, meski dia kesal. Tapi Milea menunggu dengan sabar.
Tak berapa lama, satpam itu menghanpiri Milea lagi dan bertanya padanya.
"Kamu siapa namanya?" tanya saptam.
Tujuh menit menunggu, satpam kembali lagi dengan David di belakangnya. Dia tersenyum melihat Milea yang sedang membelakanginya melihat jalanan depan.
"Milea!" panggil David.
Milea berbalik dan melihat David menghampirinya. Satpam pun membuka pintu gerbang sebelum tuannya memintanya membuka. David menghampiri Milea, dia berdiri di depan Milea.
"Kenapa kamu ingkar janji? Katanya waktu itu besok datang, tapi ngga jadi datang. Kukira kamu membatalkan niatmu mau bekerja di rumahku." kata David.
"Maaf om, saya ada urusan penting minggu kemarin itu. Jadi tidak bisa datang." kata Milea dengan datar.
David mengerutkan dahinya, sikap Milea dari sebelumnya berbeda. Sekarang sepertinya lebih pendiam, apa ada yang di pikirkannya?
"Ayo masuk, kita bicara di dalam rumah saja." kata David.
Milea mengangguk, dia mengikuti David dari belakang. Membuat David berhenti dan berbalik, sampai Milea berjalan tanpa melihat di depan dan akhirnya menabrak David.
Bug!
"Lea? Kenapa kamu banyak diam? Sampai melamun dan menabrakku." kata David.
__ADS_1
"Ngga om, mungkin sedang datang bulan aja. Jadi bawaannya agak sensitif." kata Milea berbohong.
"Ooh, jadi kamu sedang tidak baik? Sakit?" tanya David memperhatikan Milea.
"Ngga om, aku hanya kurang tidur juga." kata Milea risih di lihat seperti itu oleh David.
"Kurang tidur kok datang kemari."
"Saya hanya ngga enak sama om, kan janjinya minggu kemarin."
"Ya, baiklah. Ayo masuk ke dalam rumah." kata David.
Dia melangkah masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh Milea. Tampak ragu Milea masuk ke dalam rumah besar milik David, dia diam tidak melanjutkan langkahnya. David menoleh padanya lalu menghela nafas panjang.
"Lea, ayo masuk!" kata David, tapi Milea masih melihat betapa besar dan mewahnya rumah David.
Hingga akhirnya David kembali lagi dan menarik tangan Milea untuk masuk. Dia membawa Milea ke ruang tamu, di suruh duduk Milea di sana. Dia kemudian pergi ke belakang, memberitahu asisten rumah tangga lainnya, kalau di rumahnya ada asisten baru.
Tak berapa lama, David kembali ke ruang tamu itu. Dia duduk di sofa menatap Milea yang duduk canggung.
"Lea, aku kok merasa aneh sama kamu sekarang?" tanya David.
"Aneh kenapa om?" tanya Milea.
"Kamu seperti bukan kamu yang aku temui. Biasanya kamu ceria dan kalau bicara suka ceplas ceplos." kata David, Milea tersenyum dan menunduk.
Para asisten rumah tangga David pun menghampiri David dan Milea. Tiga orang asisten itu, satunya tukang cuci baju. Dua lagi membantu di dapur. Mereka berdiri menatap Milea dan David, bingung apa maksud dari David memanggil ketiganya.
"Bi Kokom, mba Santi dan Leni. Kenalkan, dia Milea. Dia akan membantu kalian di dapur atau membersihkan apa saja di rumah ini. Jadi, dia ART baru di rumah ini. Kalian harus mengajarinya mengenai semua pekerjaan di rumah ini. Kalian paham?" kata David.
"Baik tuan." jawab ketiganya.
"Nah, Milea. Kamu nanti bisa kenalan sama mereka semua ya, mereka lebih tua darimu. Jadi hormati dan patuhi apa yang harus di patuhi. Karena rumah ini besar, aku mengambil asisten rumah tangga lagi." kata David.
"Baik ooommm, eeh tuan David." ucap Milea.
Karena dia sekarang jadi asisten rumah tangga, jadi harus memanggil David tuan sebagai majikannya. David tersenyum, ingin dia menyangkal Milea mengatakan tuan. Tapi dia harus menyama ratakan panggilan semua ART padanya.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1