Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
43. Kembali Ceria


__ADS_3

Milea kini belajar mengerjakan pekerjaan rumah oleh asisten David yang lainnya. Ketiga asistennya merasa Milea masih sangat muda, tapi mau bekerja jadi ART.


"Kamu umur berapa, Lea?" tanya Leni ketika mereka sedang berada di tempat ruang laundry mencuci baju-baju David.


"Delapan belas tahun, mbak." jawab Milea.


"Muda banget, kebanyakan seusia kamu itu kuliah atau senang-senang dengan teman-temanmu." kata Leni.


"Aku butuh duit mbak Len, jadi aku kerja." kata Milea lagi.


"Kamu baru lulus sekolah ya?"


"Belum lulus juga, tapi udah selesai. Tinggal menunggu pengumuman lulus dari sekolah."


"Ooh, kok bisa kamu jadi ART tuan David. Ketemu di mana?"


"Emm, gimana ya ceritanya." ucap Milea bingung.


"Cerita aja, kenapa bingunh sih."


"Soalnya ketemu pertamanya sih ngga enak. Om David itu .."


"Eh, om David? Kamu panggil tuan David itu om? Memang ada kerabat jauh ya sama tuan David?"


"Ngga kok, Lea salah ucap. Maksudnya tuan David itu pernah menolongku sewaktu aku di pecat gara-gara ada perempuan membuat ulah, dia marah-marah sama aku. Sampai aku di pecat kerja di reatoran, dan tuan David mengajakku kerja jadi ART di sini." kata Milea dengan singkat saja.


"Ooh, gitu ya."


"Ya, begitu." kata Milea.


Kini kedua gadis beda usia itu terus berkecimpung di mesin loundry, memcuci baju-baju David dan juga beberapa kain seprei dan juga lainnya. Milea memperhatikan apa yang di lakukan Leni, memisahkan baju dengan kain lainnya jika mau di cuci. Serta sabun apa yang di gunakan untuk mencuci.


Milea mengangguk ketika Leni memberitahu semuanya. Sampai keduanya itu sibuk dan tidam terasa obrolan dan candaan terus terjadi. David yang kebetulan sedang lewat dekat dengan ruangan loundry pun tersenyum. Dua hari setelah kedatangannya, Milea banyak murung dan diam.


David ingin bertanya kenapa dia bersikap murung dan terlihat sedih, tapi itu belum dia tanyakan. Karena sekarang dia melihat Milea sudah kembali seperti dulu bertemu dengannya.


"Tuan David, apa ada yang harus di bawa ke laundry lagi bajunya?" tanya bi Kokom.


"Eh, tidak bi. Aku sedang melihat Milea, kemarin dia terlihat murung. Sekarang sepertinya sudah ceria lagi." kata David kaget ada bi Kokom di belakangnya.


"Ooh, mungkin dia masih merasa canggung. Karena baru datang ke rumah ini tuan." kata bi Kokom.


"Mungkin juga. Oh ya, nanti kalau Lea selesai di laundry suruh ke ruang kerjaku ya bi. Dia bereskan buku-buku di lemari dan rak buku." kata David lagi.


"Ya tuan."

__ADS_1


David pun melangkah pergi, naik tangga menuju kamarnya. Dia ingin tidur karena dia baru pulang dari luar kota. Proyek di pulau Seribu kerja sama dengan Mr. James harus segera di rampungkan. Bulan depan Mr. James akan datang berkunjung dan melihat proyek yang sedang di garap oleh perusahaan David.


_


Sesuai perintah David, Milea merapikan buku-buku di rak buku dan juga lemari. Dia harus hati-hati membereskannya, karena buku-buku itu sangat tebal. Jadi Milea harus hati-hati merapikannya.


Sudah satu minggu Milea bekerja di rumah David. Memang awalnya dia canggung dan masih sedih karena kepergian ibunya. Setiap sore dia pulang ke rumah, kadang di antar oleh David jika sekalian keluar untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya jika hari Sabtu.


"Lea, kamu sudah ada di ruangan ini." tanya David menghampiri Milea.


"Oh, tuan David. Iya, kan tadi di suruh beresi buku-buku di lemari." kata Milea.


"Emm, Lea. Jangan panggil tuan sama aku, panggil seperti biasanya kamu panggil." kata David.


Rasanya dia tidak enak jika di panggil tuan oleh Lea. Dan Milea diam, menatap David lalu menarik nafas panjang.


"Lea kan ART di sini, jadi harus panggilnya tuan sama dengan bi Kokon, Mbak Santi dan juga mbak Leni." kata Milea.


"Tapi aku ngga suka kamu panggil itu. Panggil seperti dulu lagi." kata David.


"Ngga enak om, eh tuan David."


"Lea! Apa kamu mau aku ..."


"Apa?".Sudahlah, kamu turuti saja apa yang aku bilang tadi. Jangan panggil tuan."


"Nah, gitu dong. Biarkan aja, aku juga akan beritahu mereka kalau kamu manggilnya jangan tuan."


"Nanti di kira aku keponakan om David."


"Jangan pedulikan orang. Sudah, kamu nurut aja. Jangan membantah lagi." kata David.


"Iya."


"Teruskan pekerjaanmu."


"Iya."


David pun keluar lagi dari ruangan itu, dia ingin menyiapkan berkas untuk besok kerja. Karena Imelda selalu mengingatkannya untuk di bawa pulang dan membawanya kembali besok harinya.


Milea meneruskan pekerjaannya, membereskan buku-buku milik David. Ponsel di saku bajunya bergetar, Milea mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Dia tersenyum, ternyata sahabatnya. Sita.


"Halo, Sita.".


"Halo juga, Lea. Gue baru dengar, ibu kamu meninggal ya?" tanya Sita di seberang sana.

__ADS_1


"Iya, dua minggu yang lalu. Lo kenapa ngga nelepon gue lagi?" tanya Lea.


"Sori, gue sibuk daftar kuliah di Jogja. Turut berduka cita ya, Lea. Gue ngga bisa datang ke pemakaman ibu lo." kata Sita.


"Iya ngga apa-apa. Terus lo di terima di Jogja?"


"Ini lagi nunggu pengumuman, dari pada gue bete. Gue telepon lo, dan dengar kabar dari Jefri ibu lo meninggal. Gue kaget, Lea."


"Iya, ibu gue sakit udah lama juga. Dan malam sebelum meninggal, bertengkar dulu sama ayah tiri gue. Paginya ibu meninggal, gue sendirian Sita. Hik hik hik." kata Milea kini terisak.


"Jangan sedih, kuatkan hati kamu. Aku akan selalu ada buat lo kok."


"Ada gimana? Kan lo lagi di Jogja. Gue juga udah kerja kok."


"Eh, lo kerja di mana? Jadi kerja di rumah om ganteng itu?"


"Iya, om David. Udah seminggu gue kerja di rumahnya."


"Waaah, menang banyak lo. Bisa ketemu om ganteng tiap hari. Hahah!"


"Ish, gue kerja Sita. Bukan pacaran!"


"Heheh, pacaran juga ngga apa-apa. Oh ya, istri om ganteng gimana? Galak ngga?"


"Emm, ternyata om David itu duda. Dia bercerai dengan istrinya hampir satu tahun lalu. Dia tinggal sendiri di rumah besar dan mewah, cuma di temani pembantu aja tiga orang, plus satpam dan tambah gue juga." kata Milea.


"Waah, bisa tuh buat gebetan lo. Lea, hahah!"


"Berisik lo! Udah jangan bicara om David lagi, ngga enak ngomongin dia di rumahnya. Lo mau apa nelepon gue?"


"Ish, gue kangen tahu sama lo. Dan turut bela sungkawa sama kamu, sabar ya Lea."


"Iya, gue kuat kok. Udah, lo jangan nangis karena gue."


"Syukurlah, lo itu tegar dan selalu ceria. Jangan mewek terus ya, bukan sifat lo tahu."


"Hahah! Iya, gue kuat. Udah ya, gue lagi kerja nih, ngga enak kalau di lihatin sama yang punya rumah."


"Oke, selamat bekerja Lea sayaaang."


"Hahah!"


Klik.


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2