
Sesampainya di hotel yang mereka buking sebelumnya. Banyak para turis dari berbagai negara dan juga dari berbagai kota. Mereka sengaja datang ke Lombok untuk mengisi libur akhir tahun.
Nathan memesan satu kamar, juga Yudha. Dan yang lainnya Jho dan David dua kamar, karena mereka belum menjadi suami istri. Jadi harus kamar terpisah, Tapi tidak mengapa, kamar mereka juga berdekatan agar bisa memantau kedua gadis yang mereka cintai.
"Apa kita pesan satu kamar lagi untuk Dion?" tanya Jho.
"Kurasa sebaiknya begitu. Biar dia datang langsung bisa istirahat." kata Nathan.
"Baiklah, gue pesan satu kamar lagi buat Dion. Besok dia datang kan?" tanya Jho lagi.
"Ya, nanti gue pastikan Dion lagi. Sampai kamar gue telepon dia." kata Nathan.
"Oke."
Mereka lalu menerima kunci kamar, Nayra membawa tas selempang suaminya. Dia melihat Milea sangat senang berada di hotel tersebut, lalu Nayra pun mendekat.
"Kamu senang liburan di sini?" tanya Nayra.
"Iya kak. Emm, berapa hari kita liburan?" tanya Milea.
"Kurang tahu, mungkin empat hari atau tiga hari." jawab Nayra.
"Oh ya, kakak udah punya anak?" tanya Lea lagi.
"Belum, tapi ada anaknya bang Nathan. Ngga boleh di bawa sama neneknya, katanya biar kita bulan madu aja. Dari menikah belum bulan madu katanya, heheh. Lucu banget, bulan madu kok bareng-bareng sama sahabatnya bang Nathan. Tapi seru sih." kata Nayra.
Ini adalah liburan paling menyenangkan menurutnya, bisa kenalan dengan pasangan masing-masing sahabat. Dan juga nanti bisa mengobrol asyik dengan mereka. Hanya mungkin Milea yang masih sulit untuk bicara lebih pribadi, karena dia belum resmi jadi pacar David.
"Sayang, ayo kita ke kamar. Istirahat, besok kita melakukan senang-senang. Sekarang waktunya senang-senang di kamar." kata Nathan memeluk istrinya dan mencium pipinya
Membuat Nayra canggung di depan semua di sana, tapi Nathan tidak peduli. Paling yang iri itu David, yang lainnya sudah mempunyai pasangan. Dan mungkin sebentar lagi.
Mereka lalu pergi ke kamar masing-masing, Jho dan David mengantar kedua gadisnya. Sedangkan Nathan dan Yudha masuk ke dalam kamar mereka sendiri dengan istrinya.
Yudha senang, dia akhirnya bisa liburan dengan istrinya kali ini. Dia langsung masuk kamar dan mengunci pintunya, menarik tangan Kania dan menciumnya dengan rakus.
Jika dulu saat masih berpacaran mencium Kania adalah dengan kelembutan. Tapi sekarang lebih bergairah, karena dia sudah bebas melakukan apa saja dengan istrinya itu.
Kini mereka berada di ranjang, mencumbu dan mrmberikan sentuhan lembut. Kania merasa ini adalah cinta yang harus dia berikan pada suaminya. Yang dulu tidak pernah dia sangka kalau sekarang sudah menikah, bahkan dengan seorang pengacara terkenal.
"Emm, mas." ucap Kania lirih karena Yudha bermain-main di bagian dadanya.
"Kenapa sayang?" tanya Yudha tanpa mengalihkan wajahnya.
"Euuh, udah mas. Aku lapar." kata Kania menahan geli di bagian bukit kembarnya.
Yudha menghentikan aksinya lalu mencium bibir Kania. Menatapnya lembut dan tersenyum.
"Apa kita makan dulu di restoran?" tanya Yudha berubah posisi jadi duduk.
"Iya, keluar dulu. Aku lapar banget." kata Kania.
"Baiklah, aku akan telepon teman-teman dulu. Barangkali mereka juga ada yang mau makan juga." kata Yudha.
Yudha mengambil ponselnya dan menghubungi Jho dan yang lainnya. Panggilan grup.
__ADS_1
"Halo, ada apa?"
"Kalian udah pada lapar ngga?" tanya Yudha.
"Iya nih, kita makan di restoran sama-sama?" tanya David.
"Ya boleh, gimana Nathan?" tanya Yudha.
"Sori, gue lagi nanggung. Eeuh!"
"Sialan Nathan, bikin gue pengen aja." umpat Jho.
"Hahah! Fungsinya bawa istri ya untuk menuntaskan hasrat, Jho. Lo makanya cepat deh." kata Yudha.
Dia justru menarik tubuh Kania dan menciuminya. Dia juga merasa ingin seperti Nathan, tapi Kania lapar dan ingin makan dulu.
"Tutup aja teleponnya, kalau mau makan gue tunggu di restoran. Gue sama Seruni sudah ada di restoran lebih dulu."
Klik!
"Ish! Mereka semua kesal dengan Nathan." kata Yudha dengan senyum kecilnnya. Membuat Kania heran dan bertanya.
"Kenapa mas?" tanya Kania.
"Nathan, dia sedang bercinta dengan istrinya." jawab Yudha santai, tapi Kania memerah wajahnya dengan ucapan Yudha.
"Kamu kenapa sayang?" Yudha beringsut mendekat pada Kania.
Kania mencoba menghindar, dia malu karena suaminya menatapnya lain. Penuh gairah sepertinya, tapi Yudha tahu istrinya malu. Dia pun hanya menarik tangan Kania saja dan mengajaknya keluar dari kamar untuk makan malam dengan kedua sahabat-sahabatnya.
_
Saat ini mereka sedang berjalan-jalan setelah makan malam. Milea yang ceria kini merasa David terlihat lebih romantis.
"Lea, apa kamu tahu Jho mau menikah?" tanya David.
"Ngga om." jawab Lea singkat.
"Aah, iya. Aku belum memberitahumu. Empat bulan lagi dia akan menikah dengan Seruni. Gadis yang dia cintai." kata David mencari tema pembicaraan agar nyambung ke hal dirinya itu.
"Oh, kak Seruni itu pacar om Jho?" tanya Lea.
"Iya, dan aku juga pengen menikah lagi seperti Yudha, Nathan dan sebentar lagi Jho." kata David.
"Emm, tapi katanya ada satu lagi ya om?"
"Iya, Dion namanya. Dia masih di kampung ibunya." kata David.
"Om Dion juga belum punya pacar juga ya?"
"Belum."
"Kalau om mau menikah? Siapa calonnya om? Nanti kalau menikah, apa aku harus tetap tinggal di rumah om lagi?" tanya Lea.
David berhenti, dia berbalik dan menatap Lea. Mereka saling berhadapan, Lea menatap balik David. Dia menangkap kalau David ada yang berbeda.
__ADS_1
"Om David?"
"Lea, apa selama ini kamu tahu dengan hatiku?" tanya David.
"Eh, maksudnya apa om?" tanya Lea bingung.
"Aku mengajakmu liburan ke Lombok kamu tahu maksudku?" tanya David menatap lembut pada Lea.
Dada Lea berdebar, dia menatap David lalu menunduk. David memegangi pundak Lea di angkatnya dagu Lea agar menatapnya terus.
"Jawab Lea."
"Jajawab apa om?" tanya Lea gugup.
"Kamu tahu maksudku membawamu ke Lombok kalau sebenarnya, aku ingin kamu jadi kekasihku Lea. Aku mencintaimu." kata David masih menatap mata Lea.
Dia juga menatap mata Lea dan ada yang berbeda. Lea menunduk , tapi David kembali mengangkatnya. Wajahnya maju ke depan dan mencium bibir Lea.
Lea terkejut, tubuhnya mematung. Itu pengalaman pertama baginya, meski dia pernah melihat adegan ciuman seperti itu di film-film romantis di televisi.
David senang, Milea tidak menolaknya. Itu artinya gadis itu menerimanya. Namun begitu, dia akan memastikan Milea menerima pernyataan cintanya.
"Lea, aku mencintaimu. Kamu menerimanya?" tanya David.
"Emm, om. Om tahu siapa Lea kan?" tanya Lea.
Dia tahu dirinya tidak pantas menjadi gadis spesial David. Karena latar belakang yang berbeda dengan David.
"Tahu, tapi aku tidak peduli. Keluargamu sudah tidak ada, ayah tirimu juga sudah masuk penjara. Makanya, aku ingin menjagamu dan melindungimu juga mencintaimu sepanjang usiaku." kata David.
"Jadi, om menerima Lea yang anak orang biasa?"
"Ya. Kamu istimewa bagiku." kata David.
Dia tidak pernah mengatakan hal romantis sebelumnya, tapi entah kenapa berhadapan dengan Lea rasanya hal seperti itu ingin dia lakukan. Mungkin karena Milea gadis ceria dan dia terpengaruh dengan sikap Lea selama ini.
"Om?"
"Ya?"
"Nanti om menikah juga?"
"Ya. Denganmu. Apa kamu mau?"
"Tapi Lea masih kuliah om. Nanti om lama tunggu Lea selesai kuliah, kalau om tidak mau menunggu lama. Om bisa kok cari istri yang lain." kata Lea.
"Kamu itu bicara apa. Kita bisa menikah dan kamu bisa kuliah kok." kata David.
"Eh, memang boleh sudah menikah kuliah juga?"
"Banyak. Sudah jangan di bahas masalah itu, kita nikmati saja malam ini. Di Lombok jadi saksi kalau kamu sekarang jadi pacarku." kata David meraih tangan Lea.
Dia membawa Lea berjalan-jalan di sepanjang pantai dekat dengan hotel mereka menginap. Rasa bahagia yang kini David rasakan, tidak menyangka akan mudah untuk menyatakan cinta pada gadis terpaut sepuluh tahun itu. Namun begitu, dia sangat bahagia. Biarlah nanti merencanakan pernikahan dengan Lea.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧