
David sampai di kantor Nathan, tapi dia belum turun dari mobilnya. Menelepon Nathan pebih dulu sebelum masuk ke dalam kantor Nathan.
Tuuut!
Sambungan masuk, tapi belum di jawab. David mencoba menghubungi Nathan, namun tidak juga di jawab.
"Kenapa Nathan ngga jawab teleponku ya? gumam David.
David menghela nafas panjang, di pandangi gedung kantor Nathan. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat, David akan kembali ke kantornya. Dia akan memesan makanan lewat pesan antar di aplikasi, setelah selesai dia kembali melajukan mobilnya. Memang pikirnya memesan makanan sekarang di antar ke kantornya, sampai di kantor langsung makan.
Mobil melaju dengan pelan, karena jalan yang di lalui David ternyata menggenang. Dia lewat jalan seperti tadi, pandanganya lurus dan menoleh ke kanan kiri. Dia menoleh ke arah bengkel yang gadis SMA tadi menunggu, namun sudah tidak ada. Mobil David terus melaju, namun di sebuah pohon besar di bawahnya dia melihat gadis yang tadi pagi motornya dia tabrak.
Mobil David berhenti, dia mengambil payung dan keluar dari mobilnya. Gadis di bawah pohon itu kaget David mendekatinya, dia menatap David dengan datar.
"Kamu nanti sakit, ayo masuk saja ke dalam mobilku." katq David pada gadis yang masih berseragam itu.
"Ngga usah om, saya di sini saja." kata gadis itu menolak bantuan David.
"Cepat masuk, lihat tubuh kamu bergetar karena dingin kan? Jangan menolak bantuanku!" ucap David dengan dingin.
Gadis itu menatap kesal pada David, dia pun akhirnya masuk ke dalam mobil David. Setelah duduk dia diam saja, memperhatikan mobil David yang nyaman dan hangat. David masuk, duduk di sebelah gadis tersebut.
"Motor kamu belum beres?" tanya David.
"Belum, kan motor saya rusak di tabrak mobil om." katanya lagi.
"Apa parah rusaknya?" tanya David menoleh ke arah gadis itu.
"Kata tukang bengkel sih lumayan." jawabnya lagi.
"Kamu pulang kemana? Siapa nama kamu?" tanya David.
"Ke kampung Baru om, masuk gang."
"Agak jauh ya."
"Lumayan dari sini jauh banget kalau jalan kaki."
"Kamu jalan kaki pulangnya?"
"Iya."
"Teman kamu yang membonceng kenapa ngga antar kamu pulang?"
"Om tahu saya bonceng sama teman? Jangan-jangan om menguntit saya lagi."
"Hahah, ngapain nguntit kamu? Saya banyak pekerjaan, buang-buang waktu ngintit kamu itu."
Gadis itu diam, dia merasa lapar perutnya. Memegangi perutnya yang perih karena lapar, David melirik padanya. Di ambilnya satu bungkus siomay dan di serahkan pada gadis tersebut.
__ADS_1
"Makanlah, ini ada siomya. Lumayan buat mengganjal perut kamu yang lapar." kata David.
Gadis itu diam, dia menoleh ke arah David. David menganggukkan kepalanya, dan dia pun mengambil bungkusan plastik siomay itu. Dia mengambil satu, karena di dalamnya ada dua. Tiba-tiba perut David pun berbunyi, meminta di sini.
"Tuh, om juga kelaparan. Makan tuh siomay satunya."
"Saya sedang menyetir."
"Berhenti dulu om, makan dulu nanti sakit." ucapnya penuh perhatian, David pun tersenyum.
Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan yang hujannya masih deras. Di dalam mobil keduanya pun makan siomay untuk mengganjal perut masing-masing yang sedang kelaparan.
"Tadi kamu belum jawab pertanyaanku, siapa nama kamu?" tanya David memakan siomaynya.
"Untuk apa om tanya namaku?"
"Hanya ingin tahu saja, dan nanti motornya biar saya yang membayarnya jika sudah beres."
"Yakin om?"
"Ngga yakin jika kamu tidak sebut nama kamu." ucap David.
"Milea, om nama saya." jawab Milea mengunyah siomay terakhirnya.
"Milea? Jadi kamu pacarnya Dilan? Kemana si Dilan, kenapa ngga jemput pacarnya yang kehujanan." ucap David berusaha bercanda.
"Dilan punya pacar baru."
Diam, keduanya pun diam. David mengambil payungnya dan keluar dari mobil. Dia berniat membeli minuman di mini market di seberang jalan. Dengan cepat David masuk ke dalam mini market, mengambil beberapa snack dan roti serta air mineral. Setelah sudah di dapat, dia membayar dan keluar lagi.
Masuk ke dalam mobilnya dan memberikan air mineral pada Milea. Milea mengambil minuman itu dan menenggaknya, tak lama suara telepon Milea berbunyi.
"Halo Bu?"
"Kamu belum pulang Lea, ada di mana?" tanya ibunya yang khawatir di seberang sana.
"Lea sebentar lagi pulang, hujan di jalan jadi berteduh dulu." jawab Milea.
David pun menjalankan mobilnya, dia juga dapat pesan singkat dari Imelda. Bahwa dia harus kembali ke kantor, karena asisten Mr. James mau datang lagi. Katanya ada yang harus di buat kesepakatan.
'Tunggu setengah jam lagi, saya sedang di jalan.'
Begitu balas David, dia lalu memasukkan ponselnya dan melajukan mobilnya memuju Kampung Baru. Mengantarkan Milea pulang, dan hanya butuh sepuluh menit akhirnya sampai di depan gang.
"Saya turun di sini saja om." kata Milea.
"Bawa payungku saja, rumah kamu masuk gang kan?" tanya David.
"Iya."
__ADS_1
"Ya udah, bawa payungku saja."
"Nanti om gimana?"
"Saya di mobil, ngga akan kehujanan. Cepat sana, nanti ibumu khawatir."
"Iya om, terima kasih mengantarkan saya. Dan juga siomaynya." kata Milea.
"Ya, besok siang saya akan bayarkan ongkos motor kamu di bengkel."
"Ngga usah om, uang dari om tadi pagi aja masih kok."
"Yakin?"
"Yakin, terima kasih om." kata Milea.
Dia lalu keluar dari dalam mobil David membawa payung David. Setelah Milea tidak terlihat, David pun melajukan mobilnya dengan cepat agar bisa sampai di kantornya tepat waktu.
David akhirnya sampai di kantornya, melirik jam di tangannya. Hujan belum reda, dia berlari masuk ke dalam gedung dan menuju lift. Semua pegawai melihat David berlari dengan baju sedikit basah karena kehujanan.
Lega juga akhirnya sampai di lantai di mana ruang kantornya berada. Imelda heran kenapa David hujan-hujanan ke kantornya.
"Tuan David kenapa hujan-hujanan? Bukankah di mobil anda ada payung?" tanya Imelda heran.
"Payungku di pinjam teman tadi di jalan, sudah jangan pikirkan saya. Apa asisten Mr. James sudah datang?" tanya David.
"Baru saja tuan, dia sedang di ruang kantor anda." jawab Imelda.
"Waah, saya telat ya."
"Tapi asisten Mr. James mengerti kok, karena sekarang hujan."
"Syukurlah, kalau begitu saya masuk dulu."
"Ya tuan David, saya akan buatkan anda teh hangat dan kopi buat asisten Mr. James." kata Imelda.
David hanya mengangguk dan dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Melihar asisten Mr. James sedang duduk di sofa. David menghampirinya dan menyalaminya, dan ternyata asisten kliennya itu tidak banyak basa basi, keduanya langsung membahas apa yang tadi sudah di bicarakan sama Imelda.
David menyimak dengan baik, dia pun menyetujui apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama.
"Bulan depan dana akan di cairkan ke perusahaan anda tuan David, untuk proses awal pembangunan proyek. Dan uangnya akan di transfer secara bertahap sesuai laporan yang anda kirim sejauh mana pembangunan proyek itu." kata asisten Mr. James tersebut.
"Iya tuan Mark, setiap berkala saya akan melaporkan pembangunan proyek itu melalui email dan akan saya kirim print outnya ke kantor anda melalui jasa ekspedisi." kata David.
Setelah selesai, asisten itu pun berpamitan. David menyalaminya dan dia pun keluar dari ruangan David tanpa menunggu minuman datang dari Imelda.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧