
"Halo?"
"Lo kemana?"
"Gue pulang ke Makassar, sori mama gue masuk rumah sakit. Dan sekarang sudah tidak ada." jawab Dion, kini dia terisak.
"Gue sama yang lain ke sana. Ke Makassar."
"Tapi kalian sedang liburan."
"Ngga apa-apa. Kami akan kesana, tunggu ya."
"Baiklah."
Klik!
Dion menutup sambungan teleponnya lalu memasukkan ke dalam saku celananya. Dia melihat Amelia sangat sedih dengan meninggalnya mamanya, sama halnya dirinya. Karena mungkin sudah dekat sekali Amelia dan mamanya itu, jadi kesedihan yang di alami Amelia sama dengannya.
Apa lagi dia tinggal sendiri, tidak mempunyai siapa-siapa selain mamanya. Tentu saja dia memahami kenapa mamanya memintanya untuk menjaga Amelia.
"Kita kremasi kapan kakak?" tanya Amelia.
"Besok saja, teman-temanku mau datang kemari." jawab Dion.
Amelia diam, dia menatap kembali wajah orang yang selama ini dekat dengannya. Sekaligus yang selama ini dia rawat. Entah bagaimana jika dia hidup sendiri di rumah mamanuya Dion nantinya.
"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Dion.
"Aku tidak tahu kakak, mungkin akan mengurus rumah mama kakak Dion." jawab Amelia.
"Kamu ikut aku aja ke Jakarta. Setelah kremasi mama, kamu bersiap ikut denganku." kata Dion.
"Tapi nanti siapa yang mengurus rumah mamanya kak?" tanya Amelia.
"Biar aku cari orang untuk mengurusnya, atau di kontrakkan saja." jawab Dion.
"Tapi sayang kakak, biar Amel aja yang mengurus." kata Amelia.
"Ngga usah, kamu ikut denganku." kata Dion lagi.
"Pak Dion, bagaimana dengan jenazahnya? Apa di bawa ke rumah atau langsung ke tempat kremator?" tanya petugas rumah sakit.
"Bawa ke rumah aja dulu. Besok siang bisa di kremasi." kata Dion lagi.
"Baiklah."
Setelah semuanya sudah beres, merias jenazah ibunya Dion. Kini jenazah itu di masukkan ke dalam peti dan di bawa ke dalam mobil ambulans. Dion dan Amelia ikut dalam mobil itu, karena tidak membawa mobil sendiri.
__ADS_1
Tepat pukul dua malam, mobil ambulans yang membawa jenazah ibunya Dion pun sampai di rumah ibunya. Para pertugas membawa masuk ke dalam rumah itu, masih terasa sepi karena orang-orang sedang merayakan tahun baru di luar sana.
Malam tahun baru kali ini bagi Dion sangat menyedihkan. Ibunya meninggal tepat ketika orang-orang sedang merayakan malam pergantian tahun baru. Rencananya pagi hari dia akan mengkremasi jasad ibunya, tapi sahabat-sahabatnya akan datang. Jadi dia undur beberapa jam untuk penghormatan terakhir kalinya.
_
Pukul empat pagi hari, David, Yudha, Nathan dan Jho sudah berada di Makassar. Mereka tidak membawa istri atau kekasih mereka, karena akan sangat repot. Jadi keempat perempuannya itu di tinggal di lombok.
Setelah kremasi selesai beberapa jam, mereka akan kembali lagi ke Lombok. Begitu rencana mereka.
"Kalian tahu rumah mamanya Dion?" tanya David pada yang lain.
"Ngga, tapi kan kita bisa hubungi Dion sebelum naik taksi." jawab Jho.
Jho lalu mengambil ponselnya, menghubungi Dion untuk meminta alamat rumah ibunya. Setelah mendapatkan alamatnya, kini mereka memesan taksi online yang kapasitasnya muat untuk empat orang.
Satu jam perjalanan dari bandara Sultan Hasanudin ke rumah ibunya Dion. Kini mereka sudah sampai di rumah yang tidak terlalu besar itu, namun asri terlihat. Tampak orang-orang sudah ada yang datang. Ada juga yang sedang berdoa dan juga membantu Amelia menyambut tamu yang datang.
David, Nathan, Jho dan Yudha memasuki rumah yang tampak ramai. Ada yang merasa heran siapa mereka itu. Amelia mendekati keempat laki-laki tampan yang merasa kebingungan mencari Dion berada.
"Emm, teman-temannya kakak Dion yang dari Jakarta ya?" tanya Amelia ragu.
"Iya, Dion di mana?" tanya David.
"Ada, masuk dulu kakak. Duduk dulu di sana yuk." ajak Amelia dengan ramah.
"Sebentar ya kakak, saya panggilkan kakak Dion dulu." kata Amelia.
Mereka mengangguk, Amelia pun pergi meninggalkan keempatnya dan menuju kamar Dion. Dia mengetuk pintu pelan.
Tok tok tok
"Kakak Dion, ada teman-teman dari Jakarta." kata Amelia.
Tak lama pintu kamar terbuka, wajah Dion yang masih kusut karena tertidur itu pu akhirnya melihat Amelia berdiri dengan tersenyum manis.
"Ada apa Amel?" tanya Dion.
"Teman kakak Dion yang dari Jakarta sudah datang." jawab Amelia.
"Oh ya. Suruh tunggu dulu, aku mau cuci muka." kata Dion.
"Iya kakak."
Dion masuk ke dalam kamarnya dan Amelia pergi menuju dapur. Dia menyiapkan minuman untuk sahabat Dion itu, lalu membawanya ke ruang tamu.
"Sebantar ya kakak, kak Dion sedang cuci muka." kata Amelia.
__ADS_1
"Oh ya."
Setelah menyajikan minuman, Amelia pun menuju ruang tengah. Di mana kerabat ibunya Dion berada dan sedang menyanyikan puji-pujian untuk jenazah yang akan di kremasikan siang nanti.
Tak lama Dion datang, semua sahabatnya berdiri dan menghampiri laki-laki berkulit sawo matang itu. Mereka memelul satu persatu dan mengucapkan belasungkawa serta menguatkan hati Dion.
"Lo yang sabar ya, Dion. Kami akan selalu ada sama lo." kata Nathan.
"Terima kasih, kalian kesini ngga bawa istri kalian?" tanya Dion.
"Ngga, rencananya setelah di kremasi kami langsung ke Lombok dan besoknya pulang ke Jakarta." jawab Yudha.
"Baiklah. Memang siang ini akan di kremasikan, di kremator gereja Santo Paolo di kota. Kalian bisa ikut nanti kesana." kata Dion.
"Ya, kami akan ke peti jenazah. Untuk memberi penghormatan terakhir." kata David.
Dion mengangguk, dia membawa keempat sahabatnya itu ke ruang tengah. Di mana di sana banyak kerabat yang juga sedang berdoa dan bersenandung puji-pujian.
Ada yang memanjat doa juga sesuai keyakinan masing-masing. Hingga tak terasa siang pun akhirnya tiba. Mobil ambulans datang untuk membawa peti jenazah ibunya Dion.
Tak ada tangis di wajah laki-laki itu, dia sangat tabah. Mungkin hanya Amelia yang sesekali menangis. David merasa aneh dengan gadis yang selalu menangis itu, setahu dia Dion adalah anak tunggal. Lalu, siapa gadis yang menangis itu?
"Lo merhatiin siapa?" tanya Jho pada David.
"Gadis itu, siapa gadia yang dekat dengan peti jenazah itu?" tanya David.
"Gue juga ngga tahu, tapi gue pernah ingat gadis itu selalu dengan ibunya Dion ketika dia menikah dulu." kata Jho.
"Apakah saudaranya?" tanya David.
"Kurang tahu gue."
"Ya udah, nanti setelah acara kremasi selesai bisa kita tanyakan. Sepertinya yang paling berduka itu gadis itu." kata Jho lagi.
"Ya, lo benar. Mungkinkah dia anak asuh ibunya Dion?"
"Udah jangan bikin pusing dengan bertanya masalah gadis itu. Nanti juga kalian tahu siapa dia." kata Nathan yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan Jho dan David.
"Ck, gue pikir itu adalah jodoh yang di siapkan ibunya Dion untuk anaknya." kata David.
Membuat Jho, Yudha dan Nathan menatap padanya. Benar juga, mungkinkah dia adalah gadis yang di jodohkan oleh ibunya Dion sebelum meninggal?
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1