
Setelah bicara sama mamanya Nayra, Nathan pun pergi dari rumah Nayra dengan lesu. Dia tidak menyangka akan di pisahkan dulu, Nayra tidak boleh kembali lagi ke rumahnya lagi. Nayra hanya menatap kasihan pada Nathan, dia mengantarkan kembali ke rumah mamanya.
Sekalian berpamitan pada Kevin dan juga calon mertuanya juga. Mereka memasuki rumah besar itu, masuk ke dalam. Terlihat Kevin sedang bermain dengan Kikan, sedangkan mamanya ada di dapur menyiapkan makan malam.
"Hai Kikan, kamu baru datang?" tanya Nayra.
"Heh! Basa basi." kata Kikan mencibir.
"Hahah! Sini aku gendong Kevin." kata Nayra.
"Iya suster, sebentar lagi jadi mamanya Kevin ya? Ih, bang Nathan ngebet banget sih pengen nikah sama kamu." kata Kikan.
"Ya ngga tahu, tanya dia tuh yang lagi uring-uringan." kata Nayra melirik Nathan duduk diam di ruang tamu.
"Kenapa?"
"Emm, aku ngga boleh lagi tinggal di umah abangmu." jawab Nayra.
"Apa? Jadi karena itu? Hahah!" kata Kikan tertawa lepas.
"Ish! Jangan begitu. Kasihan dia." kata Nayra.
"Eh, mbak Nayra yang akan berubah statusnya dari babysitter jadi mamanya Kevin. Biarin aja, dia emang gitu. Kayak anak kecil." kata Kikan.
Nayra menatap Nathan dari jauh, lalu tersenyum. Dia mengajak Kevin bermain. Mama Sofie pun menghampiri mereka berdua dan bertanya pada Nayra.
"Bagaimana keputusan mama kamu, Nay?" tanya mama Sofie.
"Di terima sih tante, tapi harus menunggu papa pulang. Nanti di bicarakan lagi." jawab Nayra.
"Ya, tante juga tunggu papanya Nathan. Papanya harus tahu kalau anak dudanya minta kawin cepat-cepat. Hahah! Tante jadi pusing kalau Nathan minta nikah secepatnya." kata mama Sofie.
"Iya tante, semua di buat kaget sama bang Nathan. Mama bahkan melarangku bekerja lagi di rumahnya, dan sekarang mau pamitan juga sama Kevin." kata Nayra.
"Eh? Jadi Manda melarang kamu tinggal di rumah Nathan lagi?"
"Iya tante, karena mama khawatir. Heheh!" jawab Nayra merasa malu.
"Bagus itu, biar mama yang akan jaga Kevin jika Nathan berangkat ke kantor." kata mama Sofie.
"Jadi, Kevin setiap hari kesini tante?" tanya Nayra.
"Iya, nanti Nathan setiap pagi antar Kevin kemari. Dia berangkat ke kantor, Kevin di sini."
"Berarti aku bisa ketemu Kevin setiap hari dong." kata Nayra.
__ADS_1
"Iya, sama aku juga." kata Nathan menanggapi ucapan Nayra.
Mereka semua duduk di bawah menemani Kevin bermain.
"Ya, pagi hari aja kan bang?"
"Ngga, setiap pagi dan malam. Aku akan mengapelmu, kan dekat jaraknya." kata Nathan santai.
"Lho, kok?"
"Ya, aku juga akan pindah ke rumah mama tinggalnya." kata Nathan lagi.
"Apa?!"
Mama Sofie dan Kikan berbarengan dengan suara kencang. Kikan yang lebih kaget, dia tidak mau kakaknya tinggal di rumah mamanya, bisa-bisa semuanya di omeli jika sedang kesal.
"Ngga mau! Bang Nathan ngga boleh tinggal di rumah mama!" kata Kikan dengan keras.
"Eh, ngga peduli sama kamu."
"Tapi abang tuh punya rumah sendiri, kenapa pindah ke rumah mama sih." kata Kikan protes.
"Sebelum nikah, harus tinggal dulu sama mama. Itu harus, kan nikah harus di antar juga sama mama papa. Udah jangan bawel! Abang akan tinggal di rumah mama sampai mama sama papa menentukan pernikahanku dengan Nayra." kata Nathan dengan tegas.
Membuat Kikan cemberut, sedangkan Mamanya hanya menggeleng kepalanya saja. Nayra? Dia hanya tersenyum lucu melihat sikap kekanak-kanakan calon suaminya itu.
"Iih, mama! Kenapa bang Nathan kayak anak kecil sih. Udah, besok suruh nikah aja tuh sama Nayra." kata Kikan.
"Itu yang aku inginkan, besok menikah sama Nayra." kata Nathan dengan berlalu pergi ke kamarnya.
"Ish! Dasar duda manja!" umpat Kikan.
"Sudahlah Kikan, abangmu juga ngga bakal lama kok tinggal di rumah mama." kata mamanya.
"Tapi ma, bang Nathan kalau lagi kesal tuh aku yang di omelin. Dia tuh di buat dari apa sih ma? Dari jauh kelihatan pendiam, tapi bawelnya minta ampun kalau lagi kumat."
"Hush! Begitu juga abang kamu, dia juga baik sama kamu kan. Liburan ke Bali waktu itu, kamu di ajak juga." kata mamanya, Kikan cemberut.
"Nayra, lihat kan sendiri. Calon suamimu itu, kayak anak kecil. Kamu harus tahan sama dia kalau lagi kesal." kata Kikan.
"Ya, aku tahu." kata Nayra.
"Nay, bantu aku rapikan kamar dong!" teriak Nathan pada Nayra.
"Rapikan kamar?"
__ADS_1
"Iya."
"Suruh bibi aja, Nathan. Kita makan malam dulu, mama udah siapkan semua di meja." kata mamanya.
"Ngga ma, aku pengen calon istriku yang beresin." kata Nathan.
Nayra menurut, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan.
"Modus dia tuh ma, jangan-jangan mau mesra-mesra di kamar." kata Kikan ketus.
"Berisik! Kalau udah tahu jangan bawel!" kata Nathan, membuat Kikan semakin cemberut.
Nayra mengikuti kemana Nathan pegi, Nathan masuk ke kamar di bawah. Karena memang kamarnya ada di bawah. Dia membuka pintu kamar lalu menarik tangan Nayra dan menutup kembali pintu kamarnya.
Nathan memeluk Nayra dari belakang, rasanya sangat merindukan gadis manis yang akan jadi istrinya itu. Entah dia sepertinya tidak mau berpisah dengan Nayra, memeluk erat Nayra. Membuat gadis itu pun tak bisa berkutik.
"Bang, katanya mau beresin kamar." kata Nayra.
"Sebentar, aku ingin peluk kamu. Rasanya ngga rela kalau kamu sehabis ini harus pulang ke rumah tante Manda." kata Nathan masih memeluk Nayra.
"Ya, tapi tadi mama Sofie ngajak kita makan malam. Kalau begini terus, kapan beresin kamarnya. Di tunggu di ruang makan juga, makan malam bersama." kata Nayra berusaha lepas dari dekapan Nathan.
Nathan pun melepas pelukannya dan membalik tubuh Nayra menghadap ke arahnya. Dia menatap lembut wajah Nayra yang ternyata memang manis dan cantik di matanya. Dia tersenyum, kenapa baru menyadari kalau Nayra itu sangat manis.
"Ada apa bang?" tanya Nayra.
"Emm, maafkan aku. Aku memintamu menikah secara mendadak, tapi percaya sama aku. Kalau aku selalu memikirkanmu, dan saat ini aku benar-benar jatuh cinta sama kamu Nayra." kata Nathan dengan pelan dan seperti keluar dari lubuk hatinya paling dalam.
"Bukan karena kemarin malam kan?" tanya Nayra.
"Emm, sebagian memang dari tadi malam. Aku hanya takut khilaf sama kamu, dan sekarang aku benar-benar merasa kehilangan kamu. Kamu akan tinggal lagi di rumah mamamu, aku akan kesepian jika di rumah sendirian tidak ada kamu." kata Nathan seolah menggombal.
"Biasanya juga kesepian, aku tidur dan menemani Kevin tidur malam hari. Ngga pernah merasa kesepian, kadang juga pergi sama sahabat-sahabat abang yang duda juga. Kok bisa hari ini begitu sendu dan merasa kehilangan aku?" tanya Nayra.
"Karena aku baru menyadari, betapa berharganya dirimu."
"Buat Kevin?"
"Ish! Jangan memancingku sayang. Kamu berharga bagiku, meski perasaanku kilat sama kamu. Tapi aku benar-benar mencintaimu, aku bahkan merasa senang. Akhirnya anak kecil yang selalu aku lihat sekarang mau jadi istriku." kata Nathan membelai pipi Nayra.
Wajahnya maju ke depan dan mencium bibir Nayra yang lembut itu. Mereka meluapkan perasaan masing-masing, hingga teriakan keras membuyarkan kegiatan mereka.
"Nathaan! Cepat keluar!"
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧