Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
37. Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Wanita itu pun minum dengan cepat, mulutnya terasa panas. Dia memang mencoba minta makanan pedas pada Milea, agar rasa kesalnya hilang. Tapi entah kenapa lagi-lagi dia marah.


"Mbak punya masalah apa?" tanya David.


"Eh? Mas kenapa tanya-tanya tentang masalah saya?" tanya wanita itu masih terpesona pada David.


"Kenapa mbak marah-marah pada pelayan itu? Bukankah mbak yang salah tadi." ucap David.


"Heh, mas jangan membela pelayan seperti itu. Dia tidak becus kerjanya, salah sendiri dia di pecat karena kerja tidak becus sebagai pelayan." kata wanita itu lagi kesal.


"Tahu mbak siapa dia?" tanya David.


Kali ini dia memang benar-benar kesal, sombong dan angkuh. Kenapa bawa-bawa pekerjaan juga, bahkan dia yang salah tapi malah menyalahkan orang lain, bahkan membuat orang sampai kehilangan pekerjaan.


"Memang siapa dia? Anaj pejabat yang nyamar jadi pelayan? Atau anak artis terkenal? Hahah!" ucap wanita itu kini tidak lagi merasa malu pada David.


Milea pun keluar dari ruangan manajernya, membawa tasnya dengan wajah lusuh serta pasrah. David melihat itu, dia diam melihat Milea yang berjalan lunglai dengan menundukkan kepala. Orang-orang juga melirik acuh bahkan masa bodo dengan yang di alami Milea.


David mendekat pada Milea dan menariknya lalu mendekat pada wanita tadi yang memaki Milea. Milea pun terkejut, dia menatap David dan beralih menatap wanita tadi dengan kesal.


"Mbak minta maaf ngga sama dia?" kata David.


"Buat apa aku minta maaf, memang salah dia." kata wanita itu sinis.


"Tapi mbak makan makanan pedas tadi kan, jadi yang salah mbak. Bahkan mbak makan dengan lahap makanan pedas tadi." kata David.


"Itu karena saya ..., lapar."


"Heh, mau minta maaf tidak?!"


"Om, sudahlah. Jangan di perpanjang, buat apa juga dia minta maaf. Semua juga sia-sia karena saya sudah di pecat." ucap Milea.


"Syukurlah kamu di pecat, memang tidak becus kerjaan kamu!"


"Songong banget sih jadi orang, kalau di luar udah aku lempar pakai batu wajahnya." ucap Milea kini emosi.


"Kamu siapa? Sana pulang ke kolong jembatan, di sana kan tempat kamu tinggal. Hahah!"


"Orang gila!"


Milea pergi meninggalkan David dan wanita sombong itu. David benar-benar geram dengan wanita di depannya, terlihat di bagian kantong blazernya tanda pengenal. Dia ambil lalu membaca nama ID cardnya. Marshanda SH, pengacara firma hukum Keadilan.


"Anda terkejut dengan tanda pengenal saya?" kata wanita bernama Marshanda.


"Oh ya, saya terkejut dengan firma hukumnya. Baiklah, terima kasih anda menunjukkan identitasnya." kata David.


Dia segera keluar setelah bicara pada Marshanda itu. Dia mengejar Milea, tapi sialnya sudah tidak ada di depan. Berlari menuju jalan tapi tetap juga tidak ada.


Akhirnya David masuk ke dalam mobil, mencoba mengejar Milea di sepanjang jalan trotoar. Berharap Milea ada, matanya melihat kanan kiri jalan trotoar mencari Milea.


"Kemana dia, kok cepat banget ya perginya." gumam David.

__ADS_1


Mobilnya terus melaju dengan pelan, dia berharap melihat Milea berjalan di jalan trotoar. Karena dia yakin jika berjalan tidak akan jauh. Tapi jika naik angkot, akan sulit menemukannya.


"Milea, kemana kamu." gumam David lagi.


Mata David terus melihat-lihat, matanya memicingkan ke salah satu toko elektronik. Ada salah satu gadis yang berdiri sambil berjongkok melihat sebuah gawai laptop di stiker besar di kaca toko itu. David berhenti, melongok keluar jendela mobil dan dia pun tersenyum.


Di parkirnya mobil di pinggir jalan, lalu keluar mobil dan mendekat pada seorang gadis yang sedang berjongkok itu. Dia senang akhirnya bisa bertemu Milea lagi.


"Kamu sedang melihat apa?" tanya David berdiri di samping Milea.


Milea menoleh, dan terkejut. Di tegakkannya badanya kemudian tersenyum malu.


"Om belum pulang?" tanya Milea.


"Cari kamu, aku takut kamu nangis dan bunuh diri di jalan raya." kata David.


"Memangnya aku gadis patah hati, harus bunuh diri segala karena di pecat. Kalau di pecat ya udah cari kerja yang lain, ngga di sana aja pekerjaan yang ada kok." kata Milea dengan cueknya.


Membuat David merasa heran, tadi di restoran Milea sangat marah pada wanita bernama Marshanda itu. Dan sekarang justru terlihat biasa saja.


"Kamu masih mau kerja?" tanya David.


"Om punya lowongan kerja buat aku?" tanya Milea.


"Kalau kamu mau kerja sama aku." kata David.


"Memang kerja di mana?"


Milea tampak berpikir, dia melirik David yang menatap padanya.


"Tapi aku masih sekolah om." kata Milea.


"Katanya sudah kelas dua belas."


"Iya, bulan depan ujian nasional. Jadi kalau kerja di rumah om nanti banyak bolosnya karena aku sekolah, kan pulangnya siang jam dua." kata Milea.


"Terus, kamu kerja di restoran itu bisa kok." kata David.


"Itu kan sore, aku berangkat kerja sore. Pulang jam sepuluh malam, gajiannya juga ngga seberapa."


"Ya makanya gajian kerja di restoran ngga seberapa, tapi tetap kerja juga di sana. Mending sama aku kerja santai, kamu bisa kok kerja dari pulang sekolah sampai malam juga." kata David.


"Emm, boleh pikir lagi om?"


"Tentu, kamu kan punya pikiran."


"Ish, kalau ngga punya pikiran mana bisa aku sekolah dan kerja."


"Hahah! Kenapa kamu ada di depan toko ini?" tanya David.


"Emm, sebenarnya aku itu pengen laptop om. Setelah punya laptop aku bisa cari tempat kuliah di melalui internet di laptop, dan juga bisa untuk kuliah juga." kata Milea.

__ADS_1


"Kamu kalau di tanya suka membingungkan jawabannya. Yang benar mau beli laptop atau mau kuliah?" tanya David.


"Dua-duanya sih om, kalau bisa kuliah dan beli laptop. Ya, aku pikir sih beli laptop aja dulu. Nanti setelah kerja udah lama kan tahun depan bisa daftar kuliah." kata Milea.


David tersenyum, dia terenyuh dengan jawaban Milea. Kenapa gadis seperti dia bisa memikirkan hidupnya sendiri, tanpa meminta uang pada orang tuanya. David melirik jam di tangannya, sudah jam sembilan malam lebih.


"Ayo aku antar pulang, ini sudah malam." kata David.


"Nanti aja om, kalau om mau pulang ya tinggal pulang aja." kata Milea.


"Memang kamu mau kemana lagi?" tanya David.


"Mau jalan-jalan aja om." jawab Milea berjalan santai ke arah kanan.


"Oh ya, tadi kamu bisa pertimbangkan tawaranku."


"Tawaran bekerja di rumah om?"


"Ya, kamu mau?"


"Tapi boleh ngga tunggu ujian selesai. Satu bulan lagi sih." kata Milea.


"Kenapa ngga minggu depan aja. Kamu bisa kok pulang sekolah kerjanya."


"Memang boleh?"


"Boleh kalau untuk kamu sih."


"Oke deh, tapi emm boleh ngga om aku minta sekarang uang gajinya. Heheh." ucap Milea dengan tawa lucunya.


"Ck, belum juga kerja sudah minga gaji." ucap David, tapi dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan dua lembar uang warna merah.


"Pinjam deh, nanti kalau aku gajian dari om aku balikin lagi deh."


"Buat apa sih uangnya?"


"Ada deh om."


"Nih, tapi aku antar pulang sekarang ya. Sudah malam, anak gadis tidak boleh keluyuran malam-malam." kata David.


"Tapi uangnya sini dulu, nanti pulang."


"Masuk ke mobil dulu, aku antar kamu pulang sekarang."


"Ish, om maksa. Sini uangnya." kata Milea.


Dia merebut uang di tangan David dan melangkah menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil. David tersenyum, dia pun ikut masuk. Melirik ke arah Milea yang sedang memasukkan uangnya ke dalam dompetnya.


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2