
Yudha memikirkan Kania yang sepertinya ketakutan dia pulang ke rumah Nathalie, sang model itu. Mengingat lagi waktu di tepi jalan, Kania menelepon seperti sedang gelisah. Bahkan dia mendengar umpatan Nathalie di seberang telepon Kania.
"Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku memikirkan asisten model itu ya." gumam Yudha.
Dia memarkirkan mobilnya di halaman kafe, dia melihat empat mobil sahabatnya sudah ada di parkiran depan itu. Dengan bergegas, Yudha masuk ke dalam kafe. Di sambut lambaian tangan David padanya di kursi agak jauh dari pintu masuk.
Yudha berjalan mendekat pada mereka yang sedang bercanda.
"Hei, lo tumben banget telat datang." kata David.
"Hem, ya. Tadi habis menolong orang dulu, mengantar dia pulang." kata Yudha.
"Siapa? Cewek?" tanya Jho.
"Ya, dia asisten klien yang mau gue tangani kasusnya." jawab Yudha mengambil cemilan kacang di meja.
"Lo udah makan?" tanya Dion.
"Belum, gue dari kantor dan langsung kemari." jawab Yudha.
"Ya, gue juga baru sampai. Kita bisa pesan makanan, mereka sudah makan lebih dulu." kata Dion.
"Ya, lo aja yang pesan. Samakan aja." kata Yudha lagi.
"Oh ya, klien lo yang katanya model itu? Apa kasusnya?" tanya Jho.
"Kasusnya ringan, dia hanya di teror oleh penggemarnya sendiri. Dan gue sarankan sama asistennya untuk melapor saja ke polisi, bukan ke kantor pengacara." kata Yudha.
"Kenapa asistennya yang meminta lo menangani kasusnya?"
"Nah itu dia, gue minta besok ketemu sama model itu. Kalian tahu kan model Nathalie, di depan kamera dia sangat baik banget dan ramah, gila sama asistennya itu galak banget dan tega tahu." kata Yudha.
"Lo tahu dari mana?" tanya Nathan yang sejak tadi hanya main ponsel karena sedang chatingan dengan istrinya.
"Gue ngga sengaja dengar itu asisten di marahi di telepon gara-gara mobilnya mogok dan itu karena belum di servis selama tiga bulan. Padahal asistennya itu ramah dan sopan banget sama gue. Tapi dia di perlakukan tidak baik sama itu model." kata Yudha lagi.
__ADS_1
"Lalu, lo antar dia pulang?" tanya David.
"Iyalah, gue kasihan sama dia. Karena udah petang juga, dan gue sempat dengar dia tidak boleh pulang ke rumah sebelum mobilnya selesai di perbaiki. Dan akhirnya gue yang bantu dia bawa bengkel ke bengkel langganan gue." kata Yudha lagi.
"Hemm, jadi masih banyak ya orang-orang yang bekerja dengan artis terkenal tapi di perlakukan tidak baik. Bahkan merendahkan." kata Nathan.
"Ya, dan besok gue minta ketemu sama model itu. Selain menyangkut masalah kasus itu, juga ingin tahu dia berhadapan dengan pengacara kondang dan ganteng seperti gue dia gimana." kata Yudha dengan bangganya.
"Preet! Lo kondang tapi masih aja jomblo." ucap Nathan.
"Ish, siapa tahu setelah kasus ini Yudha dapat jodohnya. Si model itu barangkali suka sama Yudha." kata Jho.
"Kagak, asistennya bilang dia sudah punya kekasih. Dan lagi gue ngga respek sama dia, karena gue lihat dia marahi asistennya di rumahnya. Dan Kania minta di turunkan agak jauh dari rumah model itu, mungkin dia tidak enak sama gue kalau di rumah Nathalie dia di marahi." kata Yudha.
"Gila, ternyata semakin tenar orang semakin sombong juga ya." kata Nathan.
"Lo ngga mau bantu dia gitu, Yudha? Kali aja nasib asisten dia jadi sama kayak David." kata Jho.
"Sama gimana?" tanya David pada Jho.
"Jodoh, dan lo suka sama gadis remaja itu. Berasa jadi sugar dady ngga lo?" cibir Jho pada David.
"Gue yakin Yudha sedang memikirkan ucapan lo tadi Jho." kata Dion.
"Hemm, gue belum yakin. Tapi Kania juga cantik dan sopan juga, mungkinkah di balik sikap ramahnya ada sesuatu yang dia tutupi ya." ucap Yudha.
"Kania?"
"Ya, nama asistennya itu Kania. Nathalie itu model yang minta di tangani kasusnya itu sama gue. Tapi dia sendiri tidak mau bertemu langsung sama gue, jadi asistennya yang bernama Kania itu yang selalu ke kantor gue dan bertemu dengan gue terus. Kasus ringan sebenarnya sih, tapi kenapa dia meminta gue yang nangani?" tanya Yudha.
"Lo tanyakan aja sama asistennya itu. Kenapa ngga ke polisi aja jika buktinya sudah ada." kata Jho.
"Gue udah bilang sama Kania, dan menyuruhnya lapor polisi saja. Kan ada beberapa bukti yang gue terima berkasnya, terus gue mau mengurus apa?" tanya Yudha.
"Biasanya kan banyak itu artis yang menyewa pengacara kondang untuk menangani kasus fitnah dan juga pencemaran nama baik. Mungkin dia ingin seperti itu, di dampingi sama lo Yudha." kata Jho lagi.
__ADS_1
"Iya, memang ada yang selalu di tunjuk oleh mereka. Tapi gue hanya minta dia ketemu sama gue, nanti gue mau selidiki lagi itu kasus. Baru nanti setelah semua jelas, bisa kan di laporin ke kantor polisi. Gue maksudnya mau mengegaskan dan memberi saran aja dulu, sebelum langsung di bawa ke pengadilan. Kan harus lapor ke polisi." kata Yudha.
Semua nampak diam, memang benar ucapan Yudha. Nathalie harus membuat laporan pada polisi kalau dia di teror dan di ancam oleh penggemarnya sendiri. Nanti Yudha yang akan mendampingi. Suara telepon Yudha berbunyi, dia mengambilnya dan melihat nama Kania.
"Halo nona Kania, ada apa?" tanya Yudha.
"Maaf pak Yudha, besok nona Nathalie tidak bisa bertemu dengan anda. Katanya besok harus bertolak ke Singapura, ada pekerjaan di sana. Jadi besok tidak bisa bertemu dengan anda, sebagai gantinya saya yang akan bertemu anda pak Yudha." kata Kania di seberang sana.
Yudha menghela nafas panjang, dia diam saja. Sangat susah menghadapi orang seperti itu.
"Pak Yudha?"
"Ya, nona Kania. Tidak masalah dengan itu, tapi anda bisa membawa beberapa berkas yang saya minta juga ya. Kalau bisa nanti anda menelepon nona Nathalie agar saya bisa berkomunikasi dengannya. Ada beberapa pertanyaan untuk nona Nathalie." kata Yudha.
"Ya pak Yudha, saya usahakan nanti bisa menghubungi nona Nathalie. Saat ini nona Nathalie sudah bersiap pergi ke Singapura." kata Kania lagi.
"Baiklah nona Kania." kata Yudha.
Klik!
Sambungan terputus, Yudha memasukkan lagi ponselnya ke dalam jasnya. Semua nampak menatap Yudha, dia seperti kebingngan sendiri.
"Gue sebenarnya banyak kasus yang harus di tangani, tapi ini seolah menyepelekan laporannya. Malah pergi ke Singapura, sebenarnya dia berniat ngga sih kasusnya di tangani?" ucap Yudha.
"Lo tanya aja sama asistennya itu, kasusnya itu benar atau tidak. Gue jadi curiga, apa jangan-jangan itu hanya akal-akalan asistennya aja agar bisa ketemu lo dan bisa menipu lo itu." kata Nathan yang kini lebih peka dengan masalah Yudha.
Semua menatap Nathan, memang ada benarnya juga. Yudha pun membenarkan ucapan Nathan itu.
"Lo ketemu aja sama asisten Nathalie itu, lo tanyakan benar ngga kasusnya yang meminta itu Nathalie sendiri atau hanya akal-akalan asistennya aja. Lo harus lebih waspada Yud, gue juga sependapat dengan Nathan. Mungkin itu akal-akalan asistennya aja, agar bisa bertemu lo dan desak dia motifnya apa." kata Jho yang ikut curiga juga.
"Ya, benar. Baiklah, gue besok temui dia sekali lagi. Kenapa Nathalie tidak mau bertemu gue sama sekali, dan kenapa Kania berbuat seperti itu." kata Yudha lagi.
Mereka kini bersantai lagi setelah membahas masalah Yudha. Bercanda dan kembali mengobrol tentang masing-masing pasangan, terutama Nathan yang selalu bercerita mendapatkan jatah setiap malam dari istrinya. Membuat sahabat-sahabat yang lainnya mencibir dan merasa iri dengan Nathan yang sudah bisa tenang dan bahagia ularnya memiliki kandang.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧