Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
22. Menunggu Telepon


__ADS_3

Setelah mendapatkan nomor ponsel Seruni, Jho sangat senang. Dia segera pulang ke hotel kembali karena malam ini ada pekerjaan yang harus di kerjakan. Jho menghampiri ketiga temannya yang masih asyik duduk di bar sambil menikmati musik yang berdentum.


"Eh, gue balik ke hotel ya." kata Jho.


"Lho, kok buru-buru banget?" tanya Yudha.


"Gue mau kirim email, ada kerjaan yang harus selesai malam ini. Biar besok gue pulang ngga buru-buru." jawab Jho.


"Lo udah dapat nomor telepon Seruni?" tanya Dion.


"Udah dong, gue paksa dia. Hahah!" ucap Jho dengan tawa senangnya.


"Paksa buka baju?" tanya Yudha tersenyum sinis.


"Gila aja, gue paksa dia buka baju di kafe. Memangnya gue psikopat. Gue ancam aja sebenarnya." kata Jho.


"Mengancam mau cium dia di depan orang-orang?"


"Iya. Hahah!"


"Kacau lo, ya udah. Ayo kita pulang juga, udah capek sih. Tadi siang kita main banana boat sampe tiga jam, gila. Kalau gue ikutan terus, bisa mual gue." kata Nathan.


"Ya, lo kan anak rumahan. Yang ada kalau liburan cuma di rumah doang." kata Yudha.


"Ish, gue males. Semenjak harus jaga Kevin, gue males keluar rumah." kata Nathan.


"Ya udah, jadi sekarang lo punya baby sitter. Lo bisa santai sekarang." kata Dion menimpali.


"Ngga tahu juga sih, ya udah ayo kita pulang." kata Nathan.


Mereka pun keluar dari kelab malam itu, pulang ke hotel karena merasa lelah juga setelah seharian mereka bermain di pantai dan banana boat. Banyak yang memandang aneh ketika ke empat sahabat itu bermain banana boat, ada yang memandang seperti empat orang gay.

__ADS_1


Ada juga yang menganggap seperti seorang pria macho. Namun tidak sedikit yang memandang mereka aneh. Tapi mereka tidak peduli pandangan tersebut, karena memang niatnya hanya bersenang-senang. Tak ada keromantisan yang di perlihatkan, hanya saja memang agak aneh di kota seperti Bali banyak sekali laki-laki akrab sekali.


Nyatanya, mereka adalah pasangan gay, bukan hanya yang berlibur ke Bali. Tapi lebih banyak di kota-kota besar, terutama di kelab malam mereka bertebaran. Dan orang-orang tidak tahu, jika ke empat dudua itu semuanya normal. Menyukai seorang perempuan dan pernah menikah. Meski pernikahan mereka semua gagal.


_


Jho, Nathan, Dion dan juga Yudha kini kembali ke Jakarta lagi. Mereka harus bekerja lagi setelah empat hari berlibur di Bali. Jho yang kini dapat tambatan hatu, yaitu gadis pelayan bernama Seruni. Dia sudah mendapatkan nomor ponselnya, dan nanti setelah sampai di Jakarta dia akan menghubungi Seruni.


Seruni sendiri merasa gelisah, dia bukannya menunggu Jho meneleponnya. Tapi, apakah benar laki-laki itu benar-benar akan menghubunginya? Seruni menatap ponselnya, saat ini dia sedang libur. Bergantian dengan temannya.


"Dia meminta nomor teleponku, tapi kenapa tidak meneleponku?" gumam Seruni masih menatap ponselnya.


Wajahnya berubah memerah karena malu sendiri, kenapa dia menunggu telepon laki-laki bernama Jho.


"Ish, aku kenapa? Kenapa harus menunggu dia meneleponku. Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang pelanggan saja." gumam Seruni lagi, menghela nafas berat.


Sedang melamun tentang Jho, pintu kamar kosnya di ketuk dari luar. Seruni pun bergegas membukakan siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Dan dia pun tersenyum ramag sambil memperailakan tamu tersebut.


"Kamu kapan bisa bayar kontrakkan ibu?" tanya wanita berusia hampir lima puluh tahun itu.


"Kamu nanti-nanti saja jawabnya." kata ibu kontrakan ketus.


Dia lalu pergi dari hadapan Seruni dengan wajah kesal. Setiap di tagih pasti jawabnya nanti, dan memang Seruni belum dapat gajian bulan ini. Minggu depan bisa dapat gajian, dia pun menghela nafas panjang..Menutup pintu kamarnya dan kembali ke ranjangnya untuk berbaring.


Dia pun memejamkan matanya, menghilangkan rasa kesalnya pada ibu kontrakan karena setiap haridi tagih terus. Padahal dia sudah mengatakan minggu depan, tapi tetap saja setiap hari menagih.


Ting!


Satu pesan masuk di pesan layanan wasthap. Nama orang ganteng di sana, Seruni mengerutkan keningnya. Belum sadar jika itu adalah nomor Jho.


Tuuut!

__ADS_1


Akhirnya nomor itu memanggilnya, Seruni mengangkatnya dengan ragu. Baru saja dia memikirkan Jho, kini laki-laki itu pun menghubunginya.


"Halo?"


"Kenapa lama mengangkat teleponku?"


Seruni mengerutkan dahinya lagi, kenapa laki-laki itu sok akrab dengannya?


"Anda siapa?" tanya Seruni pura-pura tidak tahu.


"Ish, kamu lupa beneran atau sengaja lupa padaku?" tanya Jho di seberang sana.


"Memang anda siapa? Sok akrab lagi di telepon." kata Seruni ketus.


"Hahah! Baiklah, kamu sedang merajuk. Kupikir kamu sedang menunggu teleponku. Aku sudah kembali ke Jakarta, aku hanya bisa menghubungimu melalui telepon saja." kata Jho, membuat Seruni tersenyum.


"Lalu, anda mau apa?"


"Hanya menanyakan kabarmu. Apa kamu sedang di kafe?"


"Hari ini saya libur tuan, besok bisa berangkat kerja lagi." ucap Seruni.


Percakapan terus berlanjut hingga Jho memutuskan dia sedang ada tamu untuk sebuah pekerjaan. Seruni pun hanya mengiyakan saja ketika Jho memutus teleponnya.


"Nanti aku hubungi lagi."


Klik!


Setelah selesai menerima telepon dari Jho pun tersenyum, dia tidak menyangka Jho benar-benar menghubunginya. Dia letakkan ponselnya di meja kecil, lalu dia ingin tidur saja karena dia tidak tahu harus melakukan apa.


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2