Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
63. Sia-Sia


__ADS_3

Siang ini Yudha bersiap untuk bertemu dengan Kania. Dia berjanji bertemu di restoran dulu pertama kali bertemu dengan Kania itu, berbagai pertanyaan dia kumpulkan di pikirannya untuk gadis asisten seorang model terkenal tersebut.


Yudha melirik jam di tangannya, sudah pukul satu siang. Tapi tidak ada tanda-tanda Kania muncul.


"Apa dia mengingkarinya? Tapi tidak ada pesan kalau dia batal bertemu denganku." kata Yudha.


Dia gelisah, jika sampai jam satu tiga puluh Kania tidak juga datang. Maka dia akan pergi dan mengabaikan semua laporan Kania tentang peneror Nathalie itu. Tak lama, Kania datang dengan tergesa dan menghampiri Yudha.


Dia tersenyum, tangannya mengelap lehernya yang terlihat ada keringatnya. Yudha mengerutkan dahinya, kenapa dia berkeringat? Apa jalan kaki?


"Maaf pak Yudha, tadi macet jalanannya. Jadi saya turun dan jalan kaki kemari." kata Kania masih dengan senyumannya.


"Oh, nona Kania jalan kaki? Anda tidak naik mobil sendiri?" tanya Yudha.


"Oh, iya. Kemarin itu mobilnya belum sempat di ambil, jadi terpaksa saya naik taksi. Dan tadi di jalan sangat macet, mobil tidak bisa bergerak. Katanya tadi ada kecelakaan, jadi saya minta turun saja. Untung sudah dekat jaraknya, heheh." kata Kania.


Yudha tersenyum, kasihan juga Kania harus jalan kaki untuk menemuinya. Wajahnya masih terlihat lelah, Yudha menyodorkan minum air putih pada Kania.


"Minumlah nona, mungkin anda haus." kata Yudha.


"Oh ya pak Yudha, terima kasih. Heheh." kata Kania.


Pertanyaan Yudha yang sejak tadi kini menguap, dia merasa kasihan pada Kania. Seperti kelelahan, entah karena apa. Yudha menunduk, memikirkan lagi pertanyaan yang tadi tiba-tiba hilang.


"Nona, ceritakan kenapa penggemar satu itu bisa meneror nona Nathalie? Apa anda kenal dia? Maksudnya nona tahu dia?" tanya Yudha yang kini berubah jadi detektif.


"Saya tidak kenal pak Yudha, tapi saya tahu dia. Karena setiap ada fashion show atau syuting produk iklan, dia selalu ada di sana. Pernah saya menemukan surat berisi ancaman di mana dia pernah berdiri sewaktu melihat nona Nathalie fashion show. Karena waktu itu saya curiga, dia selalu melihat ke arah nona Nathalie saja." kata Kania.


"Emm, apakah nona Nathalie pernah di teror oleh penggemar itu melalui telepon atau lewat pesan singkat misalnya?" tanya Yudha lagi.


"Sepertinya pernah, dia pernah memperlihatkan pesan singkat pada saya. Dan dia memfotonya untuk buktinya." kata Kania lagi.


"Kalau begitu, coba kirim ke saya. Itu bukti kalau dia suka mengancam kan." kata Yudha.


"Pesan itu masih ada di ponsel nona Nathalie, pak Yudha." jawab Kania.


Yudha menghela nafas panjang, dia bingung bagaimana menangani kasus yang sebenarnya mudah tapi rumit karena yang bersangkutan tidak bertemu langsung dengannya.


"Nona Kania, sebenarnya saya banyak sekali kasus dan klien yang lebih berat kasusnya. Dari pada kasus nona Nathalie, sedangkan nona Nathalie sendiri tidak mau bertemu dengan saya. Atau nona Kania sengaja tidak mempertemukan saya dengan nona Nathalie?" tanya Yudha dengan penuh kecurigaan dan memancing Kania menceritakan masalah sebenarnya.


Membuat Kania diam, menatap Yudha. Lalu dia menghela nafas panjang, dia bingung bagaimana menceritakannya. Sedangkan beban semua itu dia yang mengurusnya, bahkan untuk membayar Yudha nanti juga harus jadi tanggungannya.

__ADS_1


"Nona Kania, ceritakan apa yang terjadi sebenarnya? Apakah benar nona Nathalie meminta kasus penggemar yang mengancamnya itu ingin di selesaikan?" tanya Yudha.


"Itu benar pak Yudha, hanya saja saya yang harus mengurusnya dan mencari bukti sendiri. Saya bingung harus bagaimana, kupikir saya memberikan laporan pada anda itu bisa menjadi bukti yang cukup tanpa harus menemui nona Nathalie. Dia tidak mau terlibat katanya, jadi saya pun bingung dengan keinginannya itu." jata Kania dengan menunduk dalam.


Yudha menghela nafas panjang, dia melihat Kania mempunyai masalah besar dan merasa takut pada Nathalie.


"Nona Kania, apa anda punya masalah?" tanya Yudha.


"Emm, tidak pak Yudha." jawab Kania lirih.


"Nona Kania, jika seperti ini terus dan nona Nathalie tidak mau bertemu dengan saya, maka saya akan membatalkannya bantuan saya pada nona Nathalie." kata Yudha.


"Tidak pak Yudha, tunggulah nona Nathalie pulang dari Singapura. Aku pasti akan membujuknya juga." kata Kania lagi.


Yudha menghela nafas panjang, dia sebenarnya malas harus berurusan dengan klien yang menganggap sepele pekerjaannya. Yudha menatap tajam pada Kania, seperti mempunyai beban berat.


"Begini saja, sekarang coba hubungi nona Nathalie. Saya ingin bicara dengannya." kata Yudha.


Kania menatap Yudha, ragu dia mau menghubungi Nathalie. Tapi akhirnya dia mengambil ponselnya dan menghubungi Nathalie dengan nomor internasional negara Singapuea.


Tuuut


"Halo nona Nathalie, maaf ini pak Yudha minta bicara dengan anda." kata Kania pelan dan ragu.


"Aku sudah bilang, urus semuanya sama kamu! Jangan menghubungiku jika tidak penting!" kata Nathalie kasar.


Yudha meminta ponsel Kania dengan isyarat, ragu Kania menyerahkannya. Tapi Yudha mengangguk cepat, dia ingin bicara dengan Nathalie. Kania pun menyerahkan ponselnya pada Yudha.


"Halo nona Nathalie, anda ada di mana?" tanya Yudha.


"Maaf pak Yudha, semuanya sudah saya serahkan pada asisten saya Kania. Dia yang mengurusnya, jadi jangan mengganggu waktuku." kata Nathalie..


"Oke, kalau begitu. Saya tidak akan meneruskan laporan anda dan tidak akan membantu anda sebagai pengacara anda dalam menangani kasus peneroran penggemar anda. Saya tidak bisa menerimanya karena anda tidak menghargai saya." kata Yudha dengan kesal.


"Terserah, tapi nanti Kania yang akan aku buat dia menyesal."


"Hei! Kenapa anda mengancamnya? Bukankah dia asisten anda?" tanya Yudha melirik Kania yang menunduk malu.


"Asisten atas dasar prrjanjian. Tanyakan saja sama dia, aku tidak perlu bicara banyak dengan anda. Jika anda mau membatalkan bantuan anda memprekarakan penggemar sialan itu, aku tidak masalah. Tapi nanti Kania yang akan menerima akibatnya!"


Klik!

__ADS_1


Sambungan telepon di tutup, Yudha terdiam. Dia tidak mengerti kenapa Nathalie bicara seperti itu. Menyerahkan ponsel Kania pada pemiliknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi nona Kania?" tanya Yudha.


Kania diam saja, dia masih bingung dan malu harus ceita atau bagaimana.


"Nona Kania?"


"Maafkan saya pak Yudha, sebenarnya saya tidak tahu pengacara mana yang handal dan saya kenal untuk membantu saya dan mengusut penggemar yang selalu mengganggu nona Nathalie. Saya hanya tahu anda dan kantor firma hukumnya, saya juga tidak tahu anda seorang yang sangat sibuk." kata Kania.


Ucapan Kania justru membuat Yudha bingung, tidak ada yang membuat dia aneh dari cerita Kania itu. Dia pusing dengan kasus Nathalie itu.


Tuuut


Ponsel Yudha berdering, dia mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon. Sekretarisnya.


"Halo?"


"Maaf pak Yudha, ada klien di kantor menunggu anda. Katanya sudah punya janji dengan anda siang ini." kata sekretaris Yudha.


"Ya, saya segera kembali ke kantor." kata Yudha.


"Baik pak Yudha, maaf mengganggu."


"Ya."


Klik!


"Maaf nona Kania, saya ada klien di kantor dan sudah menunggu saya. Saya harus kembali." kata Yudha.


"Ah ya, pak Yudha. Maaf saya belum bisa membawa nona Nathalie bertemu dengan anda." kata Kania.


"Tidak apa, saya juga tidak menganggap ini penting. Jadi saya tidak masalah." kata Yudha.


Kania hanya tersenyum kaku, dia sebenarnya malu dengan Yudha karena dia sepertinya mempermainkan pengacara kondang itu. Yudha berpamitan dan pergi meninggalian Kania. Kania pun ikut pergi juga dari restoran itu.


_


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧

__ADS_1


__ADS_2