
Dion sedang asyik menyaksikan artis ibu kota menyanyi riang untuk menyambut malam pergantian. Dia tidak peduli sahabat-sahabatnya itu berbahagia dengan pasangan masing-masing.
Bunyi telepon sangat nyaring di saku celananya, kemudian dia mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon.
Amelia.
Dahinya mnegerut, kenapa gadis itu meneleponnya?
Tanpa membuang waktu lagi, dia mengangkat telepon nama Amelia itu.
"Halo?"
"Halo kakak Dion, bisa pulang lagi ke Makassar?" tanya seseorang bernama Amelia itu.
"Kenapa Amelia?"
"Emm, ibu sekarat. Apa kakak bisa pulang cepat?"
"Apa? Kenapa bisa sekarat lagi?!" tanya Dion mulai panik.
Dia bisa datang ke Lombok itu karena merasa ibunya baik-baik saja. Setelah melakukan operasi di rumah sakit besar di sana, dia dapat kabar kalau ibunya sudah baik. Jadi makanya dia bisa datang ke Lombok.
"Kakak, cepat pulang ya." kata Amelia di
seberang sana.
"Iya, baiklah. Lalu mama ada di mana?" tanya Dion.
"Sudah di bawa lagi ke rumah sakit."
"Aku segera pulang. Tolong kamu jaga mamaku ya, Amelia."
"Iya kaka, Amel selalu jaga mama kakak Dion."
Klik!
Sambungan telepon Dion tutup, dia pun bergegas keluar dari kafe dan menuju kamar hotelnya. Secepatnya dia ingin pulang ke Makassar, mengetahui keadaan ibunya yang tiba-tiba kembali masuk rumah sakit.
Kenapa masuk rumah sakit lagi? Dion tidak mengerti. Dia langsung membereskan baju-bajunya dalam koper, setelah selesai dia segera membeli tiket pesawat secara online. Lalu segera chek out dari hotel tersebut.
Setelah selesai, dia langsung memesan taksi, meski malam larut. Tapi taksi online masih ada sampai pergantian malam tahun baru. Sekarang pukul sembilan malam lebih, jadi dia masih bisa mendapatkan taksi online.
Setidaknya dia sudah memesan tiket pesawat secara online, jadi bisa dengan mudah mendapatkannya. Karena ke wilayah timur sepertinya sebentar lagi pergantian tahun.
_
Hampir satu jam perjalanan menuju Makassar dari Bali. Dion sangat panik, perasaannya gelisah. Kenapa harus masuk rumah sakit lagi, kalau masih kurang sehat seharusnya dia tidak datang ke Lombok untuk bersenang-senang dengan sahabat-sahabatnya itu.
Dia terus berjalan menelusuri koridor rumah sakit, dengan menanyakan di rumah sakit mana dan kamar berapa ibunya di rawat. Tapi kata Amelia justru ibunya masuk ruang ICU. Itu benar-benar membuat Dion semakin merasa bersalah.
Sampai di depan ruang ICU, dia melihat gadis yang sedang duduk. Merasa khawatir dan menunduk, Dion menghampiri dan berdiri di depannya.
"Bagaimana mamaku?" tanya Dion pada gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu bernama Amelia pun mendongak, dia lalu berdiri dan tersenyum segaris saja. Lalu menjawab pertanyaan Dion.
"Mama Rika, mendadak pingsan kakak. Beliau langsung aku bawa ke rumah sakit, lalu memberitahu kakak Dion." kata Amelia.
"Apa kata dokter?" tanya Dion.
Amelia diam, dia menatap Dion. Terlihat wajah cemas, namun masih bersikap tenang.
"Koma kakak."
"Apa?! Koma?"
"Iya kakak, aku minta maaf tidak menjaga mama Rika dengan baik." kata Amelia tiba-tiba terisak.
Dia duduk dan menangis kencang. Dion pun duduk, dia menepuk pundak Amelia.
Amelia adalah gadis anak tetangga, sejak kecil dia bermain di rumah ibunya Dion. Hingga dewasa dia masih sering bermain di rumah mamanya Dion. Sewaktu masih sekolah SMA, Dion sebenarnya sudah akrab dengan gadis itu.
Gadis keturunan Melayu Makassar sebenarnya, wajah bundar namun kulitnya kuning dan dia sangat manis. Ibu Amelia sudah meninggal, jadi untuk menjaga Amelia ibunya Dion menyuruh Amelia tinggal di rumahnya.
Sampai Dion lulus kuliah dan dia punya usaha sendiri dari rintisan semenjak kuliah dan besar. Dia tidak lupa pulang ke Makassar. Ketika dia menikah dengan mantan istrinya dulu, ibunya dan Amelia ikut menghadiri pernikahan itu di Jakarta.
Bisa di bilang, Amelia itu anak asuh ibunya Dion. Dia sangat baik dan usianya terpaut lima tahun dari Dion.
Dokter dari dalam ruang ICU pun keluar, Dion menghampiri dan bertanya pada dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana dengan mamaku?" tanya Dion cemas.
"Mama anda koma, pak Dion." jawab dokternya.
"Ya, tapi ini sepertinya darah tinggi mama anda naik. Penyakit yang sudah saya katakan jangan sampai penyakit itu kambuh. Entah apa yang beliau lakukan, sehingga bisa hipertensinya naik dan tiba-tiba jatuh pingsan. Lalu di bawa kemari sudah koma." kata dokter lagi.
Dion diam, memang waktu itu mamanya pernah mengeluh kepalanya pusing. Dion memaksa agar periksa lagi ke dokter, tapi mamanya tidak mau. Selalu saja menjawab pertanyaan Dion, keadaannya baik-baik saja.
"Lalu, sekarang bagaimana dokter mama saya?" tanya Dion lagi dengan lesu.
"Berdoa saja, semoga mama anda kembali baik." kata dokternya.
"Apa boleh saya menjenguknya?" tanya Dion.
"Ya, hanya sebentar ya. Karena di dalam ruang ICU tidak boleh lama-lama." kata dokter lagi.
"Baik dokter."
Dion pun mengikuti dokter, dia melihat ibunya memang sedang terbaring lemah. Matanya terpejam, dokter menunjukkan ibunya dan pergi. Dion mengangguk lalu dia mendekati ibunya. Duduk di sisinya dan memegangi tangannya. Terasa dingin sekali, namun denyut daninya masih Dion rasakan.
"Mama, kenapa begini?" tanya Dion lirih.
Diam.
"Mama tahu, mama adalah kekuatanku. Setelah istriku meninggal, kenapa mama seperti ini ma. Hik hik hik." ucap Dion lagi.
Lama Dion bicara sendiri sambil menangis, dia menunduk masih dengan isak tangisnya. Tiba-tiba kelopak mata ibunya mengatup pelan, lalu membuka lebar dan menoleh pada anaknya yang sedang menangis.
__ADS_1
Tangannya di gerakkan untuk memberitahu kalau dia sadar.
"Di dioon." ucapnya lirih.
Dion mendongak, dia melihat ibunya dan berdiri dengan berjongkok.
"Mama, mama sudah sadar?" tanya Dion senang.
"Mama hanya minta sama kamu, setelah ini bawa Amelia ke Jakarta ya." kata mamanya secara pelan.
"Mama bicara apa? Amelia akan tinggal sama mama, bila perlu mama juga tinggal denganku. Hik hik hik." kata Dion menangis melihat mata mamanya kembali redup.
"Mama minta jaga dia selamanya." ucapnya terbata.
"Ma! Mama akan sembuh, tidak! Mama akan sembuh dan tinggal sama Dion!" teriak Dion tidak sadar.
Dokter jaga di ruang ICU itu mendengar, lalu mendekat pada Dion.
"Pak, jangan menangis. Jangan membuat ibu anda terkejut." ucap dokter jaga itu.
Dia memanggil suster untuk memeriksa keadaan ibu Dion. Mengecek denyut nadi dan juga matanya.
"Suster, panggil dokter Ade." perintahnya.
"Baik dokter."
Suster pun pergi keluar untuk memanggil dokter Ade yang menangani ibunya Dion. Dion sendiri heran, kenapa harus memanggil dokter lagi. Dia menatap ibunya lagi dan memeluknya dengan menangis.
"Mama, jangan seperti ini. Mama pasti sembuh." ucap Dion.
"Tolong turuti permintaan mama, Dion." kata mamanya untuk terakhir kalinya.
Nafas terakhir telah terembus, dokter segera menyingkirkan Dion lebih dulu dan memeriksa detak jantungnya. Dia mencoba mengambil alat kejut jantung, lalu di tempelkan. Dokter Ade pun datang, dia melihat keadaan ibunya Dion sudah tidak bergerak.
Dokter Ade juga membantu dokter jaga untuk membantu memompa jantung dengan alat kejut jantung. Namun ternyata sia-sia, kedua dokter itu saling tatap lalu menghela nafas panjang.
Dokter Ade mendekat pada Dion dan menepuk pundaknya. Dengan berat hati dia mengatakan bahwa ibunya sudah tiada.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan mama anda pak Dion." ucap dokter Ade.
"Tidak dokter! Mama saya harus sembuh!" teriak Dion.
"Maaf, kami tidak bisa membantu. Nafas terakhirnya sudah terembus." kata dokter Ade lagi.
Dion pun luruh, dia menangis dan mendekat pada jasad ibunya yang baru beberapa menit meninggal. Dia memeluknya dan menangis lalu menjerit memanggil mamanya.
Amelia, yang berada di luar pun segera masuk, dia melihat Dion memeluk ibunya dan menangis. Amelia pun mendekat, dia juga ikut menangis di sana.
Suasana haru di ruangan itu membuat dokter dan suster merasa ikut sedih. Meski mereka sering melihat adegan orang-orang menangis karena di tinggal oleh orang tercinta, tapi tetap saja mereka ikut sedih. Amelia dan Dion masih menangisi kepergian ibunya, dan dokter membiarkan mereka seperti itu untuk yang terhir kalinya.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧