Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
47. Juragan Epul


__ADS_3

Setelah David pergi ke kantornya, Lea pun membersihkan rumahnya yang sudah dua bulan di tinggalkan. Dia menarik nafas berat, jika masuk ke dalam rumah itu lagi Lea akan ingat ibunya. Tak terasa air matanya menetes, Lea duduk di kursi yang biasa ibunya duduk.


"Hik hik hik, ibu. Lea kangen." ucap Lea lirih.


Dia menunduk, kedua tangannya menutupi wajahnya lalu menangis terisak agak keras. Membuat ibu Marni yang sedang menyapu di halaman rumah mendengar Lea terisak. Dia pun menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Lea, masuk ke dalam rumahnya.


Bu Marni melihat Lea duduk berjongkok di kursi dan menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Lea." panggil bu Marni pelan dengan menghampiri Lea.


"Lea kangen ibu, bu Marni. Hik hik hik." kata Lea.


Ibu Marni memeluk Lea, dia merasa kasihan sekali dengan Lea. Di tinggal oleh ibunnya dalam keadaan sedang labil, apa lagi dulu di tinggalkan ayahnya masih kecil. Apa lagi ayah tirinya yang bajingan sekali, mengambil surat tanah milik almarhum ayahnya.


"Sabar, Lea. Kamu bisa datang ke pemakaman ibumu. Berdoa untuk ibumu, dan kamu harus tegar. Ada ibu di sini yang akan selalu membantumu Lea." kata bu Marni.


Lea melepas pelukannya pada bu Marni, dia menghapus air mata yang menetes di pipinya. Lea tersenyum, dia pun mengangguk.


"Sore ini aku akan ke makam ibu, bu Marni." kata Lea.


"Nanti ibu carikan bunga untuk taburannya ya." kata bu Marni.


"Tidak usah bu, nanti aku akan membeli saja di pemakaman. Ibu Marni tidak usah repot." kata Lea.


"Tidak Lea, ibumu adalah teman ibu sejak lama. Jadi untuk mencarikan bunga untuknya itu tidak merepotkan." kata bu Marni.


"Ya udah, terima kasih bu Marni. Aku bingung jika tidak ada bu Marni, harus apa."


"Sudahlah Lea, jangan sungkan minta bantuan pada ibu. Anggap saja aku ibumu." kata ibu Marni.


"Iya."


Kini Lea pun merasa lega, dia pun akan memberskan rumahnya. Setelah selesai dia akan ke makam ibunya.

__ADS_1


_


Dua hari Lea menginap di rumahnya, sore ini dia akan kembali ke rumah David untuk bekerja lagi. Dia senang bisa pulang ke rumah dan beristirahat. Sebenarnya tidak istirahat, tapi tidak melakukan pekerjaan seperti biasanya di rumah David. Apa lagi dia juga bisa berkunjung ke makam ibunya selama dua hari ini.


Lea bersiap untuk pergi, dia membawa barang seperlunya saja. Namun tiba-tiba, pintu rumah di dobrak oleh seseorang dengan kencang. Membuat Lea terkejut dan keluar dari kamarnya.


Dia melihat dua orang laki-laki bertubuh kekar dan wajah menyeramkan. Dan satu laki-laki berkumis tebal dan kepala bagian depannya botak. Dia tersenyum penuh misteri lalu memilin kumisnya yang panjang. Laki-laki itu memerintahkan pada dua bodyguardnya untuk mendekat pada Lea.


"Siapa kalian?!" tanya Lea menatap tajam pada kedua orang itu.


"Kamu harus mengosongkan rumah ini! Kalau tidak, kamu yang akan kami bawa. Hahah!" ucap salah satu bodyguard itu dengan tertawa.


"Mau apa kalian!" teriak Lea.


Membuat bu Marni yang di dalam rumahnya pun keluar dan masuk dalam rumah Lea.


"Lea, ada apa?" tanya bu Marni.


"Aku tidak tahu bu, mereka siapa juga Lea tidak tahu." kata Lea.


"Itu bukan milik Jani! Itu milik Lea, jangan sembarangan kalian ya!" teriak bu Marni membela Lea.


"Aku tidak peduli! Yang jelas surat tanah ini sudah ada di tanganku. Dia surat tanah ini adalah jaminannya untuk membayar hutang-hutang Jani padaku. Jadi kamu harus pergi dari rumah ini, atau kalau kamu mau mempertahankan rumahmu ini. Kamu bisa menyerahkan tubuhmu padaku, hahah!" kata laki-laki berkumis dan berkepala botak itu dengan tertawa lebar.


Lea menatap tajam pada laki-laki itu, dia marah sekali pada Jani. Yang sudah seenaknya saja menggunakan surat tanah itu untuk keperluannya sendiri dan berfoya-foya.


Tak lama, Jani pun masuk ke rumah Lea dengan istrinya yang bahenol itu. Lea menatap keduanya dan mendengus kesal, bu Marni juga ikut geram dengan kelakuan Jani. Namun dia hanya diam saja, karena itu bukan urusannya.


"Apa ayah tega menjualnya rumah ini? Ini peninggalan ayahku?! Kenapa menjaminkan pada rentenir itu?!" teriak Lea dengan geramnya.


"Kalau kamu tidak mau rumah ini di ambil, serahkan dirimu pada juragan Epul. Dia juga akan memberikan kehidupan yang enak sama kamu jika kamu mau menikah dengan juragan Epul." kata Jani dengan sinis.


"Laki-laki tidak tahu diri, sudah numpang di rumah ini dan ibunya Lea. Justru kamu malah mengambil surat tanah itu untuk di jual pada juragan mata keranjang itu!" kata bu Marni dengan marah.

__ADS_1


"Diam bu Marni! Jangan ikut campur urusanku dengan anak sambungku. Tapi, akan lebih baik kalau Lea ikut dengan juragan Epul. Aku akan dapat uang lagi lebih banyak, hahah!" ucap Jani.


Lea geram sekali, dia maju ke depan menghampiri Jani dan memukulinya. Tapi istri Jani yang bahenol itu menarik tangan Lea dan mendorongnya kuat.


"Gadis sialan! Kamu mau mencelakai suamiku?! Kamu tidak tahu di untung!" ucap istri Jani dengan marah.


Lea hanya menatap tajam pada istri Jani itu, dia berdiri di bantu oleh bu Marni.


"Cepat kamu pergi dari rumah ini! Dan bawa semua barang-barangmu yang tidak berguna itu." kata Jani.


"Jani, tidak usah buru- buru. Aku ingin memiliki anak sambungmu itu, dia ternyata cantik juga ya. Hahah, pasti tubuhnya juga sangat menyenangkan jika dia bermain di ranjangku. Hahah!" kata juragan Epul dengan tawa kerasnya.


"Oh, begitu ya juragan. Hahah! Kalau begitu, anda harus membayarku lagi juragan Epul. Dan rumah ini juga bisa juragan miliki, dengan gadis itu. Hahah!" kata Jani, di seriangi oleh istrinya yang bahenol itu.


"Kamu menjualku?! Laki-laki macam apa kamu, ayah tidak berguna!" teriak Lea, dia kalap dan menyerang Jani dengan membabi buta.


Juragan Epul pun menyuruh anak buahnya untuk membawa Lea dengan paksa.


"Bawa dia! Gadis seperti ini sangat menyenangkan jika di ranjang. Hahah! Aku suka sekali, ayo bawa dia ke dalam mobil. Dan gembok rumah ini." kata juragan Epul dengan senyum kemenangannya.


"Juragan jangan lupa ya, kita transaksi lagi di rumah." kata Jani.


"Tentu saja Jani. Aku akan memberimu uang lagi. Hahah!"


"Oh ya, baiklah juragan. Hahah!"


Lea pun di bawa paksa oleh dua bodyguard juragan Epul, bu Marni berusaha menolong Lea. Lea di bawa keluar untuk di masukkan ke dalam mobil.


"Hei, lepaskan dia!"


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2