Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
36. Omelan Di Restoran


__ADS_3

David makan dengan tenang, dia tidak merasa harus terburu-buru selesai makan. Karena tidak ada yang perlu dia kerjakan lebih cepat. Makan kali ini entah kenapa dia merasa enak dan sangat terasa di mulut.


Biasanya dia makan hanya untuk memenuhi perutnya yang lapar. Tapi dia merasa nikmat dan kenyang. David melihat sekeliling, ternyata masih ramai. Milea sedang melayani salah satu pengunjung yang ingin makan.


Terlihat pengunjung itu banyak bicara, sepertinya ada beberapa yang dia pesan namun banyak pantangannya. Membuat Milea terlihat bingung, tapi dia menuliskannya saja. David tersenyum dan menggeleng kepala.


"Dia terlihat cerdas, tapi kenapa terlihat bingung menghadapi pengunjung itu. Apakah terlalu banyak permintaan?" gumam David.


Milea masuk ke belakang dengan mimik wajah bingung, teman satu pelayan heran dengan kebingungan Milea.


"Kamu kenapa? Bingung banget kelihatannya." tanya temannya.


"Iya nih, tuh orang pesan makanan ngga terlalu banyak. Tapi permintaannya banyak banget, bingung saya takut salah dan dia ngomel-ngomel lagi. Makanya saya catat biar jelas, tapi tadi ada yang lupa deh. Apa ya?" ucap Milea.


"Coba di ingat-ingat lagi, barangkali kamu lupa di tulis."


"Nah itu dia, kebanyakan permintaan jadinya saya lupa mencatat. Duh gimana ya?" ucap Milea bingung.


"Ya sudah, jangan khawtir. Nanti saya bantu kalau dia komplen sama kamu." kata teman Milea, dia pun mengangguk.


Lama dia menunggu, ternyata dia kesal juga. Karena memang makanan yang di minta pelanggan itu cukup sulit, apa lagi catatan yang di berikan oleh Milea sangat banyak. Jadi chef mengerjakannya harus hati-hati dan benar-benar sesuai dengan keinginan pelanggan tersebut.


Tak lama kemudian, chef menyodorkan makanan yang di pesan lalu Milea mengambilnya.


"Lea, ini terlalu rumit. Saya sudah berusaha sesuai pesanan, jika dia orangnya cerewet maka siapkan telingamu dengan ocehan orang itu." kata chefnya dengan tersenyum, membuat Milea jadi bingung.


Tapi kemudian dia mengantarkan makanan pada pelanggan itu. Dia tersenyum lebih dulu dan meletakkan semua pesanan di meja. Pelanggan itu memperhatikan isi piring yang tersaji, matanya menyipit melihat salah satu piring sepertinya tidak sesuai dengan perkiraannya.


"Mbak, ini kok tidak sama dengan apa yang saya katakan?" tanya pelanggan itu dengan menunjuk salah satu piring..


"Itu sesuai dengan pesanan ibu kok." jawab Milea.


"Apa?! Ibu?! Saya masih lajang ya, jangan panggil ibu!" ucap pelanggan itu menatap tajam pada Milea.


"Maaf mbak, saya tidak tahu kalau anda masih lanjang." kata Milea.


"Hah! Mbak lagi, saya bukan seorang pembantu. Jangan panggil mbka, pelayan tidak becus! Makanan salah, ini kenapa jadi makanan seperti itu. Dan pedas lagi, saya tidak suka pedas. Kenapa kamu memesan makanan itu pedas?!" katanya dengan pongah.

__ADS_1


"Tapi tadi minta kakaknya yang pedas, jadi saya tulis pedas." ucap Milea membela diri.


"Kakak? Siapa kamu manggil saya kakak. Saya tidak sudi punya adik sepertimu, pelayan!"


Milea menarik nafas, matanya menatap tajam pada pelanggan itu. Tapi dia masih bersabar dan diam.


"Sis, itu makanan sesuai dengan apa yang anda pesan tadi sama saya. Jadi, bukan salah saya tapi anda yang meminta terlalu banyak permintaan. Jadi saya bingung, tapi itu sesuai catatan yang ada di saya." kata Milea dengan sabar.


Pelayan yang lain maju setelah melihat Milea di maki oleh pelanggan perempuan itu, mereka melihat apa yang tersaji di meja makan. Tidak ada yang aneh pada makanan itu, tapi kenapa di komplen dengan keras seperti itu.


"Bu, apa yang salah pada teman saya?" tanya teman Milea.


"Heh! Saya masih muda ya, jangan panggil ibu!"


"Maaf tante."


"Apa?! Panggil manajermu, cepat!"


Semua mata orang yang ada di restoran itu melihat kejadian itu. Ada yang merekam ada juga yang mencibir, tapi kembali lagi dengan makanan mereka. Memang resiko jadi pelayan, harus di marahi oleh pelanggan. Begitu sebagian berpikir, tapi tidak dengan David.


Dia melihat dari jauh perlakuan pelanggan yang memarahi Milea. Dia bisa saja membantu Milea, tapi dia ingin tahu apakah gadis itu bisa melawannya. David tersenyum miring, masih melihat pemandangan itu dati jauh.


"Kamu jangan diam saja, panggil manajermu!" kata pelanggan itu memerintah teman Milea, namun Milea menahannya.


"Cepat panggil!" teriaknya.


Milea masih diam, dia sejak sore sudah banyak yang di kerjakan. Ini ada komplen dari pelanggan yang belum juga memakan masakan di mejanya, tapi sudah komplen bahkan mau melaporkan pada manajernya.


Tak lama, seorang laki-laki menghampiri keduanya. Entah siapa yang memanggil, tapi teriakan wanita itu membuat semua pengunjung terganggu dan ada yang memaksa memanggil sang manajer.


"Milea ada apa?" tanya sang manajer.


"Dia mau membunuhku." kata wanita itu.


"Jangan lebay bu, siapa yang mau membunuh ibu!"


"Jaga mulutku, lihatlah manajer. Saya sudah katakan kalau saya tidak suka pedas, tapi makanan satunya itu di buat pedas. Berarti dia sengaja kan mau membuatku sakit dengan makanan pedas itu." kata wanita itu.

__ADS_1


"Ibu membalikkan fakta, ibu yang pesan tapi kenapa saya yang di salahkan?"


"Milea, diam!" ucap manajer Milea itu.


"Benar, pelayan tidak tahu etika. Sama yang lebih tua berani berteriak. Tolong pecat dia, pelayan tidak berguna!" ucapnya.


"Wanita songong!" teriak Milea karena dia sudah tidak tahan.


Sejak tadi dia di marahi terus, wanita itu bahkan sengaja memancingnya marah. Jiwa anak mudanya keluar, ingin membalas perlakuan tidak adil padanya.


"Milea! Kamu yang sopan!" ucap manajernya.


"Tapi dia yang salah, pak." kata Milea membela diri.


"Kamu saya pecat!"


Setelah berkata seperti itu, sang manajer itu berlalu. Milea menyusul manajer tersebut, dia bingung kenapa di pecat. Sedangkan wanita tadi meringis, lalu duduk lagi. Melihat sekeliling orang-orang menatapnya sinis.


Tapi dia diam saja, menatap meja tersebut. Niatnya tadi mau makan, tapi entah kenapa moodnya ingin memarahi seseorang. David yang berada jauh pun melangkah mendekat pada wainta tadi, dengan pesonanya dia duduk di depan wanita tadi dengan tenang.


"Mbak sedang makan?" tanya David pelan, membuat wainta itu mendongak.


"Eh, iya mas. Heheh." jawab wanita itu takjub dengan wajah David yang tampan, sampai dia duduk salah tingkah.


"Sudah mencicipi masakannya? Enak lho." kata David.


"Iya ini saya mau coba makan kok." kata wanita itu mengambil makanan yang ada di meja.


David melihat dari cara wanita itu mengambil makanan dan menyuapinya. Terus menyuapi makanan ke dalam mulutnya, wanita itu sebenarnya grogi di tatap laki-aki tampan yang tidak di kenalnya itu. Antara menjaga imej makan dengan anggun dan menahan rasa pedas di mulutnya.


Tapi wainta itu terus makan, sambil di lihat oleh David.


"Enak ya mbak makanannya, sampai habis begitu." kata David dengan senyum ramahnya.


Dia sendiri tidak tahu kenapa melakukan itu, padahal dia selalu dingin pada orang. Entah karena ingin membantu Milea atau memang kesal sekali pada wanita di hadapannya yang mengusik ketenangan orang makan di restoran itu.


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2