
David masih berada di rumah sakit, memunggu mamanya yang masuk rumah sakit sejak dia berlibur di Bali. Sudah tiga hari mamanya berada di rumah sakit, dia menghela nafas panjang. Dia tahu kenapa mamanya masuk rumah sakit, karena mantan menantunya sudah punya kekasih baru.
Mama David sangat sayang pada mantan menantunya itu, sehingga ketika Rania memperlihatkan kekasih barunya di sosial media. Mungkin itu yang jadi alasan mamanya masuk rumah sakit. David menghela nafas panjang, dia belum menghubungi sahabat-sahabatnya yang kemarin baru pulang.
Mereka juga langsung sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing, jadi belum ada yang menelepon David. David menghela nafas panjang ketika dia melihat mamanya masih memejamkan mata.
Tuuut
Dion masuk menelepon David, laki-laki itu lebih perhatian pada siapa sahabatnya yang sedang bermasalah. Tapi bukan berarti yang lain tidak seperti itu, mungkin mereka pulang langsung di sibukkan dengan urusan pekerjaan.
"Halo, apa apa?" tanya David.
"Bagaimana kabar tante Heni? Apa masih di rumah sakit?" tanya Dion di seberang sana.
"Ya, udah tiga hari ini." jawab David
"Jadi, benar tante Heni sakit?" tanya Dion.
"Eh, lo kira mama gue sakit bohongan!" ucap David kesal.
"Hahah! Maaf, gue kira hanya sandiwara supaya lo nanti di jodohkan dengan pilihan mama lo itu, hahah!"
"Ish, ngaco aja lo."
"Ya udah, nanti gue kabari yang lain. Sepulang kerja kita jenguk mama lo. Lo masih di rumah sakit kan?" tanya Dion.
"Oke, thansk ya udah menelepon."
"Iya, gue khawatir aja sama tante Heni. Lo ngga ngasih kabar sebelumnya. Di Bali lo langsung pulang aja."
"Iya, gue di beritahu papa mendadak. Kalian kan lagi bersenang-senang, gue ngga mau ganggu kesenangan kalian."
"Iya sih, hahah!"
"Ish!"
Klik!
Sambungan David tutup karena mamanya sepertinya sudah bangun. Dia masukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan mendekat pada mamanya.
"Mama sudah enakan?" tanya David.
"Mama tidur lama banget ya?" tanya mamanya.
"Hmm, ya. Sejak aku datang, mama tidur terus." jawab David.
"Papa sudah pulang."
"Ya, kasihan papa. Biarkan papa istirahat di rumah." kata David.
"Bagaimana pekerjaanmu? Kamu meninggalkan pekerjaanmu begitu lama." kata mamanya.
"Ada sekretaris ma, dia akan datang kemari jika ada yang penting. Siang ini dia akan datang meminta tanda tanganku, mama jangan khawatir. Mama harus sembuh dan kita pulang ke rumah." ucap David dengan pelan.
__ADS_1
"Vid, kamu sudah punya pacar?" tanya mamanya tiba-tiba.
Membuat David diam, dia menghela nafas panjang lalu menggeleng.
"Aku sibuk kerja ma, mana bisa cari pacar. Pekerjaanku di kantor sedang banyak, jadi tidak sempat cari perempuan untuk di jadikan pacar. Lagi pula menjadi pacar itu harus saling mencintai." kata David.
"Iya sih, tapi si Rania itu cepat banget ya dapat pacar baru." ucap mamanya.
David sudah menduganya, ini gara-gara Rania memajang foto mesranya di sosial media. Sehingga mamanya syok dan masuk rumah sakit. David melihat mamanya memandang ke atas dengan tatapan kosong.
"Ma, jangan di pikirkan. Dia mungkin sudah tidak cocok denganku, apa mama tidak kasihan sama dia yang tidak bahagia hidup denganku. Mama harusnya senang jika dia bahagia dengan pilihannya." ucap David.
"Salah kamu apa sih, Vid? Kamu ganteng, tampan dan mapan. Punya perusahaan juga dan jadi CEO, memang dia cari yang seperti apa?" kata mamanya membuat David kaget.
"Ya mana David tahu ma, dia yang menggugat cerai sama aku. Aku sih merasa ngga punya salah, ma. Ya udah, kalau dia mau cerai. Mungkin dia ngga bahagia sama aku." kata David.
"Itu karena kamu terlalu dingin David, coba mesra-mesra dikit sama pasangan itu. Gandengan tangan aja ngga mau sama istri sendiri." kata mamanya menyalahkan anaknya itu.
"Ma, aku ngga suka di sorot sama kamera. Rania itu model, jadi dia banyak yang menyorot. Aku ngga suka seperti itu."
"Yang namanya suami istri itu harus saling dukung, kenapa kamu seakan tidak mencintai Rania."
"Udah sih ma bahas yang udah lalu, David ngga mau mengingat masa lalu." katanya.
"Baiklah, mama akan carikan jodoh untuk kamu. Yang lebih cerewet dan bawel." kata mamanya.
"Ish, mama mau anakmu ini akan mati berdiri di omelin terus sama istrinya?"
"Kata siapa ma? Ngga kok." ucap David.
"Pokoknya, jika bulan ini ngga dapat pacar. Mama mau jodohin kamu sama pilihan mama. Titik!" ancam mamanya.
David menghela nafas panjang, dia pikir mamanya sakit karena memang dia drop melihat kemesraan mantan menantunya di sosial media sama pacar barunya. David diam saja, seseorang mengetuk pintu. Ternyata sekretaris David, tapi David menyuruh sekretarisnya di luar saja.
"Mau kemana kamu?" tanya mamanya.
"Ada sekretarisku ma, dia minta tanda tangan." jawab David.
Mamanya diam saja, David pun keluar dan menemui sekretarisnya. Dia tidak mau mamanya melirik sekretarisnya yang penampilannya seksi aduhai. Malas sebenarnya David pada sekretarisnya, tapi dia butuh karena cara kerjanya bagus dan sigap.
"Selamat siang pak David." kata Imelda, sekretaris David.
"Siang Imelda, ada berapa yang harus saya tanda tangani?" tanya David.
"Ada tujuh pak, termasuk berkas uang gajihan karyawam. Minggu depan kan harus di bagikan ke rekening masing-masing pegawai, jadi sekarang harus di tanda tangani biar bagian keuangan cepat membagikannya." kata Imelda.
"Hmm, ya. Maaf ya, pekerjaanmu jadi banyak dan harus bolak balik rumah sakit." kata David.
"Iya pak, ngga apa-apa kok."
"Besok saya masuk kantor, jadi berkas kerja sama dengan PT, Utama Jaya di siapkan ya." kata David sambil membubuhi tanda tangan pada berkasnya.
"Siap pak."
__ADS_1
"Nah, sudah. Ini, bawa lagi ke kantor."
"Baik pak, oh ya. Ibu anda sakit apa?" tanya Imelda.
"Hanya kelelahan saja."
"Boleh saya menyapa beliau pak?"
"Ya,boleh. Tapi jangan lama-lama ya, mamaku baru bangun." kata David.
"Iya pak."
Imelda pun masuk ke dalam ruangan mamanya David untuk menyapanya. Mamanya David mengerutkan dahinya ketika melihat penampilan Imelda. Imelda tersenyum ramah pada ibu bosnya itu.
"Siang tante, apa kabar." tanya Imelda basa basi dan sok akrab.
"Siang, kamu sekretaris David?" tanya mamanya penuh selidik.
"Iya tante. Tante sakit apa?" tanya Imelda.
"Sakit hati."
"Eh?"
"Ma!"
"Imelda, sebaiknya kamu kembali ke kantor." kata David mencegah obrolan yang tidak penting nantinya.
"Baik pak David. Tante lekas sembuh ya." ucap Imelda.
"Hem."
Imelda pun segera keluar dan berpamitan pada David. David masuk lagi ke ruangan mamanya setelah menganyar Imelda keluar.
"Itu sekretaris kamu?" tanya mamanya.
"Iya ma."
"Kok penampilannya ngga banget sih."
"Dia emang begitu ma, tapi dia cerdas kok dan cekatan. Makanya aku ngga pecat dia."
"Alah, bilang aja kamu suka sama sekretaris berpenampilan seperti itu." kata mamanya
"Ya ngga ma, aku sudah tegur dia. Tapi dia tetap seperti itu, ya udah. Biarkan saja, aku suka cara kerjanya dia. Bukan penampilannya, udah ma jangan di bahas." kata David malas membahas Imelda sekretarisnya.
Dia juga sering mendengar sekretarisnya selalu di gunjingkan sama teman-teman kantornya. Tapi dia diam saja, tidak peduli. Yang penting dia menilai cara kerjanya, bukan penampilannya.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1