Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
71. Menyelidiki


__ADS_3

Setelah makan di warung bebek goreng, kini Yudha mengantar Kania pulang ke rumah ayahnya. Dia juga berpikir, Kania pasti tidak punya pekerjaan setelah ini. Jadi dia akan menawarkan pekerjaan padanya di kantornya.


"Terima kasih pak Yudha, saya sangat tidak enak sekali pada pak Yudha." kata Kania.


"Jangan sungkan, aku senang bisa membantumu. Jadi, statusku sebagai pengacara jadi berguna telah menolong gadis sepertimu." kata Yudha mencoba menggombal.


"Eh, memangnya sebelumnya tidak ada yang berarti? Bukankah orang yang di tolong pak Yudha orang penting semua?" tanya Kania heran.


"Hahah! Sudahlah, jangan di pikirkan. Aku hanya bercanda." kata Yudha.


Mereka masih di dalam mobil, Kania tersenyum. Yudha masih menatapnya, ternyata laki-laki itu sudah tertarik lebih dulu pada Kania. Kania, yang sejak tadi di tatap Yudha jadi salah tingkah, entah apa yang di pikirkan Yudha tentangnya.


"Emm, pak Yudha. Saya turun dulu ya, terima kasih tumpangan dan makan bebek gorengnya." kata Kania membuyarkan lamunan Yudha.


Yudha menarik nafas panjang, lalu tersenyum. Ingin dia memegang kepala gadis itu, tapi di tahannya.


"Setelah ini, kamu mau kerja di mana?" tanya Yudha.


"Saya belum tahu pak Yudha, belum berpikir akan mencari kerja di mana." jawab Kania.


"Kamu mau kerja di kantorku? Sebagai staf." kata Yudha.


"Tapi, saya bukan lulusan hukum pak Yudha. Mana bisa?" kata Kania.


"Tidak masalah, staf itu tidak harus lulusan hukum. Ada juga yang lulusan pendidikan, yang di terima di sana." kata Yudha.


"Waaah, benarkah? Saya lulusan bahasa, pak Yudha." kata Kania.


"Bahasa?"


"Ya, apa ada juga yang lulusan seperti saya di terima di sana?" tanya Kania


"Banyak, maksudnya banyak yang selain lulusan hukum di sana. Dan mungkin hanya di bagian staf saja, ada juga sih di bagian IT agar bisa menerjemahkan hasil penemuan di sana. Lulusan bahasa mungkin nanti menerjemahkan yang sulit itu." kata Yudha memberi alasan.


Dia berharap Kania mau bekerja di kantornya, nanti dia akan menyelidiki semua kasus kecelakaan dua tahun silam yang di alami ayah Kania.


"Saya sih tidak masalah pak Yudha kerja di kantor pak Yudha, tapi nanti Nathalie semakin mencibirku masalah itu." kata Kania.


Dia khawatir apa yang di katakannya itu akan terjadi, menjadi gundik Yudha? Laki-laki tampan nan rupawan juga baik hati dan tajir pula? Kalau pikiran gadis tidak waras, pasti mau jadi gundik Yudha.


Kalau gundik itu kan semacam gadis simpanan, apa Kania akan jadi gadis simpanan Yudha?


"Tidak mau!" teriak Kania tidak sadar.


"Kamu bicara apa?" tanya Yudha.


"Pak Yudha, bapak menawarkan saya bekerja di sana agar saya jadi ....?"

__ADS_1


"Apa?"


"Emm, tidak. Maafkan saya, saya hanya melamun. Heheh."


"Jadi, bagaimana?"


"Apanya?"


"Kamu menerima bekerja di kantorku?" tanya Yudha.


"Saya pikirkan pak Yudha. Soalnya saya merasa minder, karena bukan lulusan hukum." kata Kania mencoba menolak tawaran Yudha.


"Jangan berpikir lama, aku tunggu jawabannya." kata Yudha.


Hari sudah malam, pukul sebelas mereka masih ada di dalam mobil. Kania melihat sekeliling tampak gelap, dia pun bersiap untuk turun.


"Saya keluar dulu pak, terima kasih atas bantuannya." kata Kania.


"Ya, jangan sungkan. Aku siap bantu kamu kok kapan aja." kata Yudha dengan bahasa santai.


Kania tersenyum, dia lalu keluar. Yudha pun ikut keluar, menatap sekeliling rumah Kania yang tampak sederhana. Yudha lalu menuju bagasi mengambil koper Kania, dan membawanya sampai di depan pintu. Kania semakin tidak enak dengan sikap baik Yudha itu, tapi dia hanya diam saja.


"Terima kasih pak Yudha."


"Ya, sama-sama. Kapan-kapan, aku bolehkan main ke rumahmu?" tanya Yudha.


"Ya bertamu, menemuimu." jawab Yudha tersenyum.


"Tapi, pak Yudha kan sibuk." kata Kania lagi.


"Ya makanya, kapan-kapan. Dan aku akan menunggu jawaban kamu siap kerja di kantorku." kata Yudha lagi.


"Ya, terserah anda saja. Saya masuk dulu, sudah malam. Tidak baik seorang gadis masih mengobrol dengan laki-laki asing." kata Kania.


"Hahah! Baiklah, tapi nanti aku bukan laki-laki asing buat kamu kok. Aku pergi ya, nanti aku hubungi kamu." kata Yudha.


Dia segera pergi dan masuk ke dalam mobilnya, melambaikan tangannya pada Kania yang masih berdiri di depan pintu. Yudha sangat senang sekali malam ini, meski tadi dia bersitegang dengan Nathalie di rumah gadis model tersebut.


_


Yudha memanggil tim IT di kantornya, dia benar-benar serius akan mengusut tuntas masalah kecelakaan ayahnya Kania dan juga tentang Nathalie. Sedikit dia punya rekam jejak tentang Nathalie, dan memang gadis itu suka sekali mabuk-mabukan.


Hanya saja semuanya di tutupi oleh sikap pendiamnya dari media wartawan. Jadi dia di anggap model yang tidak banyak mengalami skandal. Padahal skandalnya cukup banyak, tapi dia berlindung di balik teman-teman yang punya pengaruh pada.masyarakat.


"Apa yang harus kami cari pak Yudha?" tanya Heri, ahli dalam IT dan sekaligus hacker.


"Kamu cari tahu tentang model Ntahalie, semua rekam jejaknya. Dan juga siapa saja orang yang di belakang Nathalie itu. Gadis itu banyak sekali punya skandal, tapi selalu tidak tercium oleh media." kata Yudha.

__ADS_1


"Baik pak Yudha. Ada lagi?" kata Heri.


"Oh ya, dia pernah mengalami kecelakaan dua tahun silam. Dan katanya mobilnya rusak parah bagian belakangnya, bisa jadi mobil itu sudah di jualnya. Cari tahu siapa yang membelinya juga, kamu juga kerja sama dengan tim pencari fakta tentang masalah ini. Ini menyangkut kasus seorang ayah dari anak yang dia pekerjakan dengan tidak manusiawi." kata Yudha.


"Hemm, sepertinya ada bau-bau kasmaran nih pak Yudha. Hahah!" kata Heri meledek Yudha.


"Berisik! Jangan bicara sembarangan, gadis itu bukan gadis biasa. Ya, meskipun aku memang suka sama dia." kata Yudha.


"Tuh kan benar, hahah! Sebentar lagi masa duda berakhir. Heheh!"


"Ish! Kamu meledek saya?"


"Tidak, saya melihat itu dari mata bapak." kata Heri lagi.


"Ya, ya ya. Oh ya, aku lupa meminta foto sreen shot pesan yang di dapat Kania. Sebentar, saya telepon dia untuk mengirim hasil fotonya." kata Yudha.


Dia lalu menelepon Kania, tak lama tersambung dan di jawab.


"Halo pak Yudha? Ada apa?" tanya Kania di seberang sana.


"Kamu kirim foto yang kemarin aku minta, mau kuselidiki nomor ponsel yang ada di foto tersebut." kata Yudha.


"Ah, ya baik pak Yudha. Saya tutup ponselnya."


Klik!


Sambungan terputus, kini Yudha menunggu kiriman foto dari Kania. Dan tak berapa lama, foto terkirim. Yudha segera membukanya, beberapa percakapan di sana memang ada nada ancaman. Dia membaca ada sebuah ancaman video yang akan di sebarkan melalui media sosial tentang skandal video tersebut.


Yudha mengerutkan dahinya, dia menebal video yang di maksud adalah video penting yang memang mungkin tidak senonoh di lakukan oleh Nathalie atau tentang kecelakaan itu?


"Aku kirim foto-foto ini ke nomor kamu, Heri. Selidiki nomor ponselnya dan cari orangnya. Akun akan menemuinya jika sudah tahu siapa pemilik nomor tersebut." kata Yudha.


"Baik pak."


"Dan ingat,Nathalie pintar. Jadi dia juga kemungkinan akan menghapus semua rekam jejak tentang skandalnya. Kamu harus bergerak cepat, sebelum dia menghapus dan membuat berita baru tentang kebaikan atau prestasinya selama ini. Aku yakin teman satu profesinya banyak yang tahu tentang skandal dan sikap prilaku Nathalie. Kamu juga cari tahu siapa teman dekat Nathalie yang bisa kita korek informasinya." kata Yudha lagi.


"Baik pak Yudha. Ada lagi?" tanya Heri.


"Sementara ini, cukup. Aku masih penasaran tentang percakapan video itu, Kania pasti tahu video tersebut. Aku akan tanya dia nanti." kata Yudha lagi.


"Baik pak Yudha, saya permisi dulu."


Setelah Heri pergi, dia melihat jam di tangannya. Yudha ada janji bertemu dengan sahabat-sahabatnya di kantor Jho kali ini. Laki-lali itu berencana akan menikah dua bulan lagi, jadi mereka akan membicarakannya bersama sambil mengobrol seperti biasanya.


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2