Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
59. Main Ular Tangga


__ADS_3

Meskipun terbatas yang di undang dan acara kecil-kecilan resepsi pernikahan Nathan dan Nayra, tapi mereka sangat senang. Nayra juga tidak masalah acara pernikahannya tidak semeriah kebanyakan orang, dia tahu Nathan sudah dua kali menikah.


Para tamu undangan sudah mulai sepi, hanya teman-teman semasa kuliah yang masih berkumpul. Ada juga memang teman satu kuliah yang masih lajang dan sudah duda juga. Nathan ikut bergabung dengan mereka, apa lagi teman semasa KKN dulu.


"Jadi lo nikah dua kali?" tanya Samsul, karena dia baru di undang kali ini oleh Nathan.


"Ya, yang pertama gagal. Semoga saja kali ini gue langgeng pernikahannya. Karena gue ngga mau lagi melajang." kata Nathan.


"Hemm, padahal dulu ada gadis yang suka sama lo waktu KKN itu lho." kata Samsul.


"Ya, namanya juga bukan jodoh. Lagian gadis itu terlalu pede sama gue." kata Nathan.


"Ya kan lo suka banget ngobrol dan sering ladeni dia juga, jadi dia kepedean lo suka sama dia." kata Dion.


"Ngga gitu, gue cuma mau beramah tamah aja sana warga di sana. Emang salah?"


"Ngga juga, tapi lo tahu ngga? Sebelum KKN selesai itu, dia kirim surat lo sama gue." kata Jho.


"Kirim surat? Kok lo ngga bilang kalau gadis itu kirim surat?" tanya Nathan.


"Ya lagian buat apa? Gue juga bahkan lupa di bawa, jadi nasib surat itu tertinggal di kamar waktu gue nginep." kata Jho dengan santai.


"Ish, lo lupa dapat surat buat gue. Tapi baru sekarang lo bilang sama gue?" tanya Nathan kesal.


"Woi! Jangan kesal, itu masa lalu. Lagian ya, gue sempat baca dikit surat itu. Dan gadis itu ngajak ketemuan di belakang pabrik sebelum kita pulang." kata Jho lagi.


"Ish! Kalian ya."


"Udah, Than. Lo udah dua kali nikah, dan sekarang lo dapat cewek cantik juga." kata Yudha.


"Ya lagi pula, gadis itu juga udah meninggal kabarnya." kata Samsul.


"Yang benar?" tanya semuanya.


"Iya, gue sempat ke desa itu. Dan bertemu dengan kepala desanya, gue kan kasih penyuluhan masalah lingkungan di sana. Dan cerita dari orang-orang di sana, ada gadis yang di bunuh sama kekasihnya sendiri. Gara-gara kekasihnyab itu nemu surat yang dulu mau di kasih ke lo, Than." kata Samsul.


"Waah, gila. Itu kan udah lama, kenapa jadi begitu?" tanya David.


"Mungkin si cowoknya itu terlalu posesif. Dan juga surat itu ada namanya gadis itu, dia menanyakan tentang surat itu pada pacarnya dan di jelaskan juga. Tetap aja dia ngga terima dan akhirnya ya, begitu." kata Samsul lagi.


"Ngeri juga ya." kata Nathan.


Obrolan demi obrolan semasa kuliah dan KKN terus saja di lakukan oleh teman-teman Nathan. Hingga waktu sudah menunjukkan sore hari dan acara resepsi pun selesai, tinggal hanya keluarga saja daj sahabat-sahabat Nathan yang masih.


Mereka masih betah ngobrol dengan Nathan, Nathan sendiri sudah terbiasa berkumpul dan senang. Namun, hingga waktu menjelang malam, mereka belum juga pulang.


"Woi! Kalian ngga mau pulang? Kenapa masih di sini terus?" tanya Nathan ketika dia sudah kembali lagi ketika mengantar Nayra.

__ADS_1


"Gue masih betah di sini." kata Yudha, dia masih asyik ngobrol dengan Jho.


"Ck, gue mau masuk kamar. Mau main ular tangga." kata Nathan.


"Ya sana main. Cuekin aja, kita." kata David.


Mereka masih asyik minum di bagian kafenya di hotel itu. Nathan sedikit kesal, dia ingin masuk ke kamar hotel yang dia pesan. Tapi sahabat-sahabatnya tetap belum juga pulang. Justru dengan sayiknya mereka santai di bagian kafenya.


"Lo takut kita gangguin lo main ular tangga sama Nayra?" tanya Jho.


Nathan diam, dia mendengus kesal. Menatap tajam pada Jho yang sedang mengambil rokok di saku jasnya.


"Than, lo jangan pedulikan kita. Kita cuma pengen bersenang-senang aja kok di sini. Mumpung ketemu dan banyak waktu sampai malam, besok harus sibuk lagi dengan rutinitas pekerjaan." katq Dion meyakinkan Nathan.


"Benar ya, kalian jangan ganggu gue main ular tangga." kata Nathan.


"Ngga." jawab mereka kompak.


Meski dia tidak percaya, Nathan akhirnya pergi juga ke kamar hotelnya. Rasanya dia tidak sabar ingin memakan Nayra malam ini juga. Nathan menaiki lift ke lantai tiga, di mana kamar hotelnya berada. Dengan senyum mengembang, dia segera masuk ke dalam kamar setelah keluar dari dalam lift.


Pintu kamar tidak di kunci dari dalam, Nathan masuk. Dia melihat baju Nayra sudah tergeletak di ranjang pengantin. Nathan senang, ternyata Nayra sedang mandi di kamar mandi, dia mendekat pada pintu kamar mandi..


"Nayra, kamu masih di dalam?" tanya Nathan.


"Ya bang." jawab Nayra.


"Baru masuk bang." jawab Nayra lagi.


"Buka dong pintunya, aku juga mau mandi." kata Nathan.


Dia sudah melepas jas pengantin dan juga celananya. Di buka juga bajunya, tinggal celana kolornya saja.


"Ya, sebentar. Aku selesaikan dulu." kata Nayra.


"Eh, jangan. Biar kita mandi sama-sama aja."


"Ish, ngga mau!"


"Kenapa?"


"Malu, bang."


Nathan diam, dia memaklumi kalau istrinya masih merasa malu. Tak lama Nayra keluar dari kamar mandi, dengan memakai baju piama panjang. Nathan tertegun, di dalam pikirannya Nayra keluar dengan memakai handuk saja. Tapi ternyata Nayra sudah memakai baju piama.


"Sudah mandinya?" tanya Nathan.


"Udah, katanya bang Nathan mau mandi juga. Jadi aku buru-buru seleai." kata Nayra.

__ADS_1


"Ya udah, aku mandi dulu. Kamu jangan dulu tidur, tunggu aku selesai mandi." kata Nathan.


Dia masuk kamar mandi dan Nayra menuju meja di depan jendela kamar. Dia menyiapkan benda seperti permainan anak-anak. Kata David, yang dia kenal itu Nathan mau main ular tangga. Jadi sahabatnya itu membawakan mainan ular tangga.


Nayra bermian sendiri permainan ular tangga itu, hingga Nathan selesai mandi. Dia masih bermain sambil makan cemilan. Nathan melihat Nayra begitu senang di meja, dia heran. Apa yang membuat Nayra begitu senang.


"Kamu sedang apa?" tanya Nathan mengelap rambutnya.


"Main ular tangga." jawab Nayra.


"Ooh, jadi kita mau main ular tangga. Yuk sekarang main?"


"Ya abang sini. Ini seru lho mainnya."


"Bukan main ular tangga itu."


Nathan mendekat pada Nayra, dia melihat Nayra begitu senang bermain ular tangga sendirian.


"Lalu, main ular tangga yang bagaimana?"


"Sini aku praktekin." kata Nathan dengan senyum mengembang.


Dia mendekat pada Nayra, mencium bibirnya dan tangannya memegang kedua pipi Nayra. Keduanya hanyut dalam suasana mesra itu, hingga tangan Nathan bergerilya ke bagian sisi sensitif Nayra. Lenguhan panjang dari bibir Nayra, membuat Nathan bersemangat.


Dia melepas satu persatu kancing baju piama Nayra, hingga semua terbuka dan tangannya menangkup kedua bukit kembar Nayra. Lagi-lagi Nayra melenguh panjang ketikan Nathan mau hampir memegang bagian bawahnya. Tapi tangan Nayra mencegah tangan Nathan memegang bagian sensitif itu.


"Bang, main ular tangga dulu yuk?" kata Nayra.


"Ini kita sedang main ular tangga, kan aku yang lain mainin kamu." kata Nathan.


"Tapi aku ngga mau main ular tangga beneran." kata Nayra lagi.


"Ya ini main ular tangga beneran sayang, aku sebentar lagi menang kok." kata Nathan, nafasnya sudah memburu melihat bagian bukit kembar Nayra sudah terpampang nyata di depannya.


Nathan tidak mau menunda lagi malam pertamanya dengan Nayra, dia harus memasukkan ularnya di sarangnya. Membopong Nayra di bawa ke ranjangnya, dan Nayra kaget. Dia berusaha menolak Nathan karena dia tidak bisa meladeni Nathan malam ini.


"Bang, aku ngga bisa." kata Nayra.


"Kenapa?"


"Karena aku lagi datang bulan."


"Apa?!"


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2