
Tim IT Yudha sudah bergerak cepat, dan benar saja kalau Nathalie sudah memblokir dan menghapus semua jejak keburukannya di sosial media. Namun, tim Yudha sudah dapat menemukannya lebih dulu.
Kini tinggal mencari nomor yang selalu meneror Nathalie dengan nada ancaman di pesan wathsapnya. Mereka terus mencarinya, dan ketemu. Heri memberitahu jika orang itu sudah dia temukan alamatnya.
"Hemm, kamu hebat Heri. Nanti tim kamu temui dia untuk bicara masalah itu, kamu bisa mengancam dia atau memberinya uang. Suruh dia bicara masalah Nathalie." kata Yudha.
"Baik pak, nanti tim investigasi akan bergerak." kata Heri lagi.
"Ya, kumpulkan bukti semuanya. Setelah itu, cari berita dan kejadian tentang kecelakaan dua tahun lalu yang melibatkan Nathalie itu." kata Yudha lagi.
"Baik pak."
Setelah bicara itu, Heri keluar. Yudha mengirim pesan pada Kania, kalau dia ingin datang ke rumahnya. Bertanya masalah kecelakaan dua tahun yang di alami ayahnya itu.
Tidak menunggu jawaban dari Kania, Yudha langsung mengambil jasnya dan keluar dari ruang kantornya. Hari ini ada kasus yang dia lemparkan pada timnya saja, jika ada yang lebih rumit baru dia yang akan menanganinya.
Kebetulan tidak ada pekerjaan berat, jadi dia akan menyelesaikan kasus Nathalie dan ayahnya Kania. Dia akan mengusutnya dengan cepat, sambil menunggu kabar dari tim Heri.
Mobil melaju kencang menuju rumah Kania, memang jauh rumah gadis itu. Kania belum berani menerima tawaran pekerjaan di kantor Yudha. Alasannya dia ingin menghindar dari Nathalie yang menyangkanya adalah gundik Yudha.
Meski Yudha meyakinkan Kania, bukan itu tujuannya. Dia hanya ingin menolong gadis itu dan dia sendiri memang menyukai Kania.
Suasana jalanan kota Jakarta kali ini lumayan lancar, karena jam kerja jadi kesibukan berganti di dalam kantor. Bukan di jalanan, jadi dia cepat sampai di daerah rumah Kania. Memasuki jalan kecil dan sampailah dia di depan rumah Kania yang terlihat sepi.
Yudha turun dari mobilnya, dia melangkah menuju rumah berpagar bambu itu. Mengambil ponselnya, bersiap untuk menelepon Kania. Tapi, belum sempat dia menelepon pintu rumah sudah terbuka. Muncul Kania dengan tersenyum manis, Yudha pun duduk di kursi teras.
"Gimana kabar kamu?" tanya Yudha.
"Aku baik pak Yudha." jawab Kania.
"Emm, ayahmu bagaimana?" tanya Yudha lagi.
"Ya, masih sering berobat. Tapi sudah lebih baik, karena saya mengurus langsung jadi ayah sudah lebih baik." jawab Kania lagi.
"Oh ya, kamu tahu video yang ada di pesan singkat milik Nathalie?" tanya Yudha.
"Ya, dan video itu sesuatu yang tidak bisa di tonton sembarangan pak Yudha. Aku merasa malu melihatnya." ucap Kania.
"Video tentang apa? Apa video tidak senonoh?"
"Ya."
__ADS_1
"Siapa yang ada di dalam video itu?"
"Nona Nathalie dan entah siapa laki-lakinya. Mereka melakukan itu sepertinya di sebuah hotel dan tidak di daerah sini. Karena seperti melihat ruangannya terbuka." kata Kania mengingat tempat di mana Nathalie dan laki-laki itu melakukan perbuatan tidak senonoh itu.
"Hemm, jadi begitu. Ada lagi yang kamu temukan dari ponsel Nathalie itu?" tanya Yudha.
"Tidak, hanya itu saja. Dan percakapan ancaman dari nomor tak di kenal." kata Kania.
"Hmm, ya aku sudah dapat screen shotnya. Dan aku juga mau bertanya pada ayahmu mengenai kecelakaan dua tahun lalu itu." kata Yudha.
"Jadi, mau menggali keterangan dari ayahmu masalah kecelakaan itu. Kamu bisa panggil ayahmu?" tanya Yudha.
"Baiklah."
Kania masuk ke dalam rumah, dia memanggil ayahnya dan membawanya ke depan bertemu dengan Yudha. Mereka bersalaman dan ayah Kania duduk di depan Yudha.
"Apa yang di cari nak Yudha dari peristiwa kecelakaan itu?" tanya ayah Kania.
"Iya pak, saya akan membantu bapak menyelesaikan masalah itu. Karena sepertinya peristiwa itu tidak terdengar dari media." kata Yudha lagi.
"Hemm, padahal waktu itu banyak yang menolong saya dan gadis itu. Saya mendengar kalau nona Nathalie juga mobilnya rusak, itu karena tabrakan waktu itu." kata ayah Kania lagi.
"Coba ceritakan sebelum kejadian pak, nanti saya mengambil kesimpulannya dan mencari taju siapa yang salah di sini. Jika Nathalie yang salah karena menyetir mobil ugal-ugalan, maka bapak tidak terlalu bersalah. Kecelakaan Nathalie adalah kecelakaan tunggal dan bapak juga seperti itu." kata Yudha.
Mobil ayah Kania berusaha menghindar, dia sudah membanting setir ke samping dan menabrak pohon besar. Selang beberapa menit suara mobil menabrak bagian belakang truknya.
"Ah, ya. Saya baru ingat, mobil truk saya sudah menabrak pohon. Dan selang beberapa menit, mobil pribadi seperti menenggor bagain belakang mobil truk saya. Tak lama ada suara benturan lagi di samping mobil truk saya, dan saya sudah tidak sadarkan diri waktu itu." kata ayah Kania.
"Kenapa ayah tidak katakan waktu itu sama noa Nathalie?" tanya Kania.
"Ya ayah pikir memang mobil ayah yang menabraknya. Ayah takut nanti dia benar-benar melaporkan pada polisi." kata ayah Kania.
"Jadi benar seperti itu kejadiannya?" tanya Yudha.
"Iya, saya baru ingat dan mengingatnya seperti itu kejadianya." katanya lagi.
"Di mana kejadian itu?"
"Di perbatasan kota, dan waktu itu memang malam hari. Jadi tidak sempat ada yang meliput."
"Bapak tidak tahu ya, kalau Nathalie tidak apa-apa waktu itu? Atau dia sedang mabuk di antar oleh adiknya?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Emm, saya tidak sempat melihat. Karena saya langsung pingsan, dan di bawa ke rumah sakit oleh polisi. Polisi juga tidak bertanya apa-apa sama saya, dia mengantarkan saya ke rumah sakit dan menghubungi Kania. Sudah itu saja." kata ayah Kania.
"Mencurigakan sekali, kenapa polisi juga menutupi kejadian itu. Apa mereka juga tidak tahu kalau Nathalie memeras bapak?"
"Saya tidak tahu. Sejak saya sembuh tidak ada yang datang, hanya waktu itu Nathalie datang menuntut kerugian mobilnya karena di tabrak oleh mobil truk saya saja." katanya lagi.
"Baiklah, saya akan terus mencari tahu. Nanti Kania ikut say untuk menyelidiki selanjutnya, berhubung bapak tidak bisa pergi jauh kan?" tanya Yudha.
"Ya, silakan saja. Saya hanya merasa bersyukur nak Yudha mau membantu saya dan anak saya, terima kasih juga mau mengganti rugi mobil yang rusak dengan yang sebesar ratusan juta pada nona Nathalie." kata ayahnya Kania.
"Saya akan membayarnya dengan mencicil pak Yudha, setelah saya sudah bekerja." kata Kania.
"Katanya nak Yudha menawarkan pekerjaan di kantornya. Kamu belum menerimanya?" tanya ayahnya.
"Aku ngga enak pak, merepotkan pak Yudha terus." ucap Kania.
"Aku tidak merasa di repotkan kok, kamu bisa bekerja di kantorku malah aku senang." kata Yudha.
"Memang masih berlaku?"
"Tentu, bagi kamu masih berlaku. Nanti saya tempatkan di bagian pengecekan berkas di sana. Ada beberapa karyawan juga yang bukan lulusan hukum ada di sana, memilah berkas yang sudah usang juga berkas yang masih di perlukan." kata Yudha lagi.
"Nanti aku buat surat lamarannya pak Yudha."
"Ya, aku tunggu itu." kata Yudha.
Yudha selesai bicara dengan ayahnya Kania, dia pun berpamitan pada Kania.
"Nanti aku akan ajak kamu ke tempat kecelakaan itu. Kita cari cctv, apakah di sana ada yang memasangnya atau tidak. Harusnya sih ada." kata Yudha.
"Baik pak Yudha."
"Saya ke kantor lagi."
"Ya."
Yudha tersenyum, dia lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Kania menatap kepergian mobil Yudha, lalu masuk lagi ke dalam rumahnya.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧