
Sampai di Jakarta siang hari, Dion dan Amelia sudah berada di dalam mobil jemputan supir Dion untuk kembali ke rumah. Amelia sangat takjub dengan beberapa bangunan di kota Jakarta yang megah itu. Sekeliling jalanan banyak gedung tinggi dan dia takjub.
"Waah, sangat megah ya gedung-gedung itu. Apakah mereka bisa berada di sana?" gumam Amelia.
"Tentu saja, kamu belum pernah naik ke gedung tinggi seperti itu ya." kata Dion.
"Mana pernah kak, kan aku tinggal di daerah. Di Makassar juga tidak pernah kemana-mana." kata Amelia lagi.
"Nanti aku akan bawa kamu ke kantorku, biar kamu bisa merasakan gedung tinggi seperti itu." kata Dion.
"Kantor kakak Dion di gedung seperti itu?" tanya Amelia berbinar.
"Ya, tapi nanti setelah semua pekerjaanku kuatasi. Sudah sepuluh hari aku tinggalkan, jadi harus mengejar semuanya." kata Dion.
"Terserah kakak aja." jawab Amelia.
Mobil yang membawa mereka pun akhirnya sampai di rumah Dion. Rumah tidak besar, tapi sangat nyaman dan cukup untuk Dion yang sendirian. Di rumahnya itu hanya ada satu pembantu, tidak seperti di rumah David atau Nathan. Ada lebih dari dua pembantu.
"Ayo masuk." kata Dion mrmbawa masuk koper Amelia.
"Rumah kak Dion tidak berubah ya seperti dulu. Hanya ada tamannya saja yang rindang." kata Amelia.
"Ya, almarhum istriku yang suka tanaman, jadi aku buatkan taman." kata Dion mengantar Amelia ke dalam kamarnya.
"Mama Yuna juga suka menanam bunga, jadi aku ikut suka menanam juga." kata Amelia.
"Kalau begitu, kamu bisa meneruskan mengurus taman jika tidak ada kesibukan."
"Aku mana sibuk di sini kak. Waktuku banyak, Pa lagi kak Dion pasti kerja sampai sore atau malam kan?"
"Ya. Oh ya, kamarmu di sini ya. Aku kamar di depan sana." kata Dion mengantarkan Amelia di kamarnya nanti.
Rumah Dion tidak bertingkat, tapi kamarnya ada beberapa. Satu kamar utama, dua kamar tamu. Dan satu kamar pembantu. Pembantu Dion pun mendekat, dia melihat Amelia.
"Selamat datang tuan Dion, turut berduka cita atas meninggalnya mama tuan Dion." kata mbak Na.
"Iya mbak Na, terima kasih." jawab Dion.
"Apa nona ini adik tuan Dion? Akan tinggal di sini?" tanya mbak Na.
"Ya, mbak Na layani dia sepertiku ya. Dan juga tolong apapun yang dia tidak tahu, bisa mbak Na kasih tahu." kata Dion lagi.
__ADS_1
"Baik tuan."
"Kamarnya sudah di bereskan kan?"
"Sudah tuan, nona bisa istirahat lebih dulu. Nanti mbak Na siapkan makan siang." kata mbak Na.
"Ya mbak Na. Amel, kamu bisa istirahat dulu. Nanti waktunya makan siang, mbak Na akan panggil kamu."
"Iya kak Dion."
Dion lalu meninggalkan Amelia pergi ke kamarnya sendiri. Dia juga merasa lelah sekali, sedangkan Amelia pun masuk ke dalam kamarnya. Melihat sekeliling kamar yang rapi, lalu duduk di ranjang dan berbaring.
_
Dua minggu sudah Dion kembali bekerja dan melupakan kesedihannya dengan kematian ibunya. Amelia juga sudah bisa beradaptasi di rumah Dion dan lingkungan baru itu. Dion senang, Amelia bukan gadis yang pendiam. Tapi dia lebih memilih menyibukkan diri membantu mbak Na pembantunya.
Kini Dion dan empat sahabatnya berkumpul seperti biasa di kafe langganan mereka. Sahabat-sahabatnya ingin tahu tentang gadis bernama Amelia pada Dion.
"Yon, lo bawa gadis itu ke rumah lo itu?" tanya Nathan.
"Ya, itu pesan terakhir dari mama gue." jawab Dion menyesap rokoknya.
"Apa lo ngga berniat mencari pacar gitu, Yon? Lo itu ganteng lho. Mungkin ada karyawati yang menarik perhatianmu." kata Yudha.
"Ngga, gue belum bisa move on dari istri gue." kata Dion.
Keempat sahabatnya itu saling pandang, mereka sepertinya lupa tentang perasaan Dion yang begitu dalam pada almarhum istrinya itu. Jho menepuk pundak Dion.
"Sewaktu masih di Makassar, lo di tanya tentang Amelia itu jodoh yang di siapkan mama lo. Lo jawab mungkin, itu artinya lo sudah bisa dong melupakan almarhum istri lo itu." kata Jho.
"Atau mungkin lo merasa ngga mau menghianati almarhum istri lo itu?" tanya David.
"Gue ngga tahu. Tiba-tiba gue ingat almarhum istri gue. Segala tingkah Amel di rumah itu mirip istri gue, jadi gue ingat dia." kata Dion.
"Itu artinya gadis itu memang untuk menggantikan almarhum istri lo. Mungkin juga Tuhan sangat tahu apa yang lo butuhkan, agar lo ngga terlalu kecewa dengan kejadian kecelakaan. Dan menggantinya dengan gadis bernama Amel itu. Coba lo renungkan." kata Yudha.
Nathan, Jho dan David membenarkan ucapan Yudha. Mereka menatap Dion yang masih setia dengan rokoknya.
"Gue ngga tahu." jawab Dion.
"Meskipun gadis itu mirip sekali tingkahnya, tapi gue rasa ada kok perbedaannya. Bisa jadi tentang masakannya yang beda, atau senyumnya juga beda. Lebih manis dan ceria, gue lihat seperti itu." kata Nathan.
__ADS_1
"Lo merhatiin gadis itu? Suka ya?" tanya Jho.
"Yaelah, gue lihat sekilas doang Jho. Ya apa salahnya gue beri penilaian tentang gadisnya Dion. Biar dia juga memikirkan apa yang gue katakan. Lagian, kenapa gue suka gadis lain, istri gue aja cantik dan sebentar lagi juga mau punya anak dariku." kata Nathan bersungut-sungut.
"Istri lo hamil?" tanya Yudha.
"Iya, katanya sih udah telat." jawab Nathan.
"Waah, Kania juga udah hamil dia. Gue ternyata tokcer juga. Hahah!" kata Yudha dengan senangnya.
Membuat yang lain jengah, dia merasa bahagia sendiri. Sedangkan Dion sedang menghadapi dilema tentang perasaannya pada almarhum istrinya. Jho menepuk pundak Yudha agar diam dan tidak memikirkan tentang dirinya saja yang sedang bahagia.
"Dion, coba lo perhatikan baik-baik gadis itu. Gue rasa banyak perbedaannya kok dengan almarhum istri lo itu. Dulu Lea memang sangat periang dan mudah bergaul. Kita belum tahu bagaimana gadis itu jika bertemu kita semua dan juga pasangan kita." kata Yudha kali ini memberi saran.
"Gue tahu di rumah, Yudh. Jadi gue tahu bagaimana miripnya dia dengan almarhum istri gue itu. Segala tingkahnya, menyukai tanaman, memasak dan dia tidak canggung juga langsung beradaptasi dengan keadaan. Makanya gue bingung dan bimbang." kata Dion.
"Tapi lo belum tahu dia bergaul dan bertemu kita kan? Bagaimana kalau kita buat jadwal, bawa pasangan masing-masing. Biar lo tahu bagaimana gadis itu bergaul dengan pasangan kita." kata David.
"Setuju."
"Gue ngga bisa bawa Seruni." kata Jho.
"Ya udah, yang ada aja. Biar Dion melihat dan memperhatikan sendiri, bagaimana gadis itu berinteraksi. Apakah sama dengan almarhum istrinya. Lagi pula, pasangan kita berbeda kan."
"Terserah kalian." jawab Dion.
"Oke, di acara pernikahan gue aja." kali ini David yang bicara.
Semua menatap David heran dan kaget.
"Lo mau menikah cepat?" tanya Yudha.
"Iya, minggu depan." jawab David.
"Apa?!"
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1