
Kania dan Yudha makan dengan santai, mereka mengobrol seputar pekerjaan baru Kania di perpustakaan kantor Yudha. Yudha senang Kania bisa betah di perpustakaan, dan bisa mengerjakan apa yang dia sukai.
"Terima kasih ya pak Yudha, aku jadi ngga enak di bantu terus sama pak Yudha. Belum lagi uang pengganti pada nona Nathalie, itu besar banget lho." kata Kania.
"Jangan di pikirkan, aku tulus bantu kamu. Dan ngga minta gantinya sama kamu, udah kamu kerja aja yang tenang. Dan masalah kecelakaan itu sedang aku selidiki." kata Yudha.
"Terima kasih sekali lagi pak Yudha." kata Kania.
"Hemm, ya. Sekarang ayo kita masuk kantor, sudah habis waktu jam makan siang." kata Yudha.
"Ya pak."
Yudha membayar soto dua porsi, dia lalu mengajak Kania masuk kantor lagi. Beberapa menit lalu dia mendapat pesan singkat dan entah dari siapa. Pesan itu tertulis dengan pesan mencurigakan.
'Hati-hati kam**u'
Itu pesan di ponsel Yudha. Dia ingin menyelidiki siapa yang mengirim pesan seperti itu padanya. Sejak masuk lift, Yudha diam saja. Membuat Kania heran, ada apa dengan Yudha?
Ingin bertanya, tapi dia ragu. Hanya menatapnya sesekali, dan terlihat wajah Yudha begitu datar.
"Pak Yudha baik-baik saja?" tanya Kania.
"Ya, nanti aku antar kamu pulang Kania." kata Yudha.
"Ngga usah pak Yudha, aku bisa pulang sendiri kok." kata Kania.
Mereka berpisah di lantai lima, Yudha di lantai tujuh.
"Aku akan tetap mengantarmu pulang!" teriak Yudha ketika Kania keluar dari lift.
Kania tersenyum, lalu dia melangkah pergi menuju perpustakaan. Yudha menghela nafas panjang, dia mengambil ponselnya dan melihat pesan yang tadi. Moodnya berubah jadi tidak enak ketika sedang makan siang dengan Kania.
Setelah sampai di lantai tujuh, Yudha segera keluar dan menuju ruang kantornya. Dia menhubungi Heri agar bisa melacak siapa yang mengiriminya pesan seperti itu.
"Pak Yudha, ada amplop untuk anda." kata Heri yang kebetulan bertemu.
"Ah ya, aku juga ingin kamu melacak nomor ponsel untukku." kata Yudha.
Mereka kini masuk ke dalam ruangan Yudha. Yudha pun membuka amplop cokelat itu dan mengambil isinya. Dia terkejut, kenapa ada fotonya dan Kania di rumah Kania, keadaan malam hari.
Yudha menarik nafas kasar, ternyata selama ini ada yang mengikutinya.
"Apa isi amplop itu pak Yudha?" tanya Heri.
"Lihat saja, hanya sebuah fotoku dan Kania sewaktu aku mengantar Kania pulang." kata Yudha.
__ADS_1
"Waaah, ternyata pak Yudha sudah ada kemajuan nih. Heheh." kata Heri melihat foto Yudha berdiri tepat di depan Kania.
"Ck, itu sewaktu aku mulai menyelidiki kasus Nathalie. Dan Kania kuantar pulang malam-malam karena dia keluar dari rumah Nathalie malam hari, mana tega aku biarkan pulang malam hari sendirian. Dan sekarang aku juga dapat pesan peringatan, coba kamu selidiki nomor ponselnya Heri." kata Yudha.
"Anda dapat kiriman pesan? Dari siapa?" tanya Heri.
"Makanya kamu cari tahu nomor siapa itu, kenapa dia tahu nomorku." kata Yudha menyodorkan ponselnya pada Heri.
Heri mengambilnya dan mencatatnya, dia juga mensecreen shot pesan tersebut dan di kirim padanya.
"Saya akan cari pak, dan kemarin sewaktu saya pulang kantor ada mobil yang terparkir mencurigakan di depan kantor. Kupikir mobil itu punya karyawan di instansi di depan kantor, tapi orang dalam mobil itu seperti memperhatikan gedung kantor kita." kata Heri.
"Jadi, Nathalie sudah bergerak lebih dulu ya untuk membuntutiku. Baiklah, kamu harus cepat dan berhati-hati dalam menyelidiki semuanya Heri." kata Yudha.
Tugas Yudha kini semakin bertambah, dia juga harus melindungi Kania. Ternyata Nathalie lebih berbahaya juga, jadi dia harus hati-hati dengan gadis model tersebut.
_
Setiap hari Kania pulang di antar oleh Yudha, di samping dia senang melakukannya. Tapi juga bisa menjaga gadis itu dari teror Nathalie. Dan dia belum memberitahu kalau dia sudah dapat teror dari orang yang tak di kenal.
"Kania, apa selama ini kamu merasa ada yang aneh? Maksud aku, apa ada orang yang selalu mengikutimu ketika berangkat kerja?" tanya Yudha ragu.
"Emm, ngga pak Yudha. Tapi dua hari selalu dalam mobil angkot ketemu dengan satu orang yang sama." kata Kania.
"Apa? Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Yudha cemas.
"Kamu harus hati-hati. Jika ada yang mencurigakan di rumahmu, tolong kamu beritahu aku ya." kata Yudha.
"Kenapa? Apa ada yang mengikutiku? Dan mau mencelakaiku?" tanya Kania.
"Bisa jadi, dan dugaanku adalah suruhan Nathalie." kata Yudha.
"Terus, aku harus bagaimana?" tanya Kania khawatir juga.
"Kamu bersikap biasa saja, seperti biasanya berangkat ke kantor naik angkot, jangan naik ojol ya. Biar nanti pulang aku aja yang antar, selama keadaan bisa aku atasi. Kukira Nathalie dendam padaku, atau dia tahu kalau semua informasi tentang skandalnya di ketahui olehku." kata Yudha.
Dia baru kali ini mendapat teror dari seseorang, dan orang itu ternyata bukan kliennya. Hanya klien yang gagal karena orangnya tidak mau bertemu dengannya, sialnya dia membuat Kania harus di pecat. Dan dia juga harus membayar kerugian, lalu sekarang dia dan Kania di teror bahkan di ikuti.
Kania diam saja, dia semakin merasa bersalah pada Yudha. Kali ini Yudha yang di ancam, Kania menghela nafas panjang lalu menatap le jendela mobil.
"Kania, kamu kenapa?" tanya Yudha.
"Aku merasa semakin tidak enak sama pak Yudha. Pak Yudha jadi di sibuk menangani kasus nona Nathalie dan jadi di teror karena aku."kata Kania.
"Sudahlah, jangan pikirkan aku. Aku hanya khawatir kamu kenapa-kenapa, makanya kamu harus hati-hati dan jika ada yang janggal harus hubungi aku." kata Yudha.
__ADS_1
Kania menatap Yudha, dia merasa Yudha selalu melindunginya. Berawal dari pertemuannya di restoran janjian bertemu karena Nathalie. Dia yang kini lebih dekat dan merasa Yudha menaruh hati padanya. Eh?
Yudha menatap balik pada Kania, yang menoleh ke depan. Wajah Kania memerah karena berprasangka kalau Yudha menyukainya, dia pun menunduk dan tersenyum tipis.
"Kamu kenapa?" tanya Yudha.
"Ngga apa-apa." jawab Kania menetralkan hatinya dan membuang prasangkanya itu.
"Besok aku jemput aja ya ke kantornya?" kata Yudha.
"Eh? Ngga usah pak Yudha." kata Kania gugup.
"Hahah! Jangan menolak, aku takut kamu kenapa-kenapa. Dan aku selalu berangkat lebih cepat dari yang lainnya, jadi aku bisa ke rumahmu dulu. Jemput kamu." kata Yudha dengan senyum mengembang.
"Ngga usah pak Yudha."
"Kania."
"Ya?"
"Bisa tidak jangan panggil pak gitu? Aku masih muda, baru juga tiga puluh tahun." kata Yudha yang terlihat santai bicara.
"Tapi, kan pak Yudha lebih tinggi."
"Apanya?"
"Em, maksudnya. Pak Yudha itu seorang pengacara, jadi aku lebih menghormati pak Yudha." ucap Kania malu.
"Tapi itu kalau di kantor, Kania. Panggil yang lain kalau di luar jam kerja." kata Yudha.
"Lalu, aku harus panggil apa?" tanya Kania.
"Sayang juga boleh. Hahah!"
"Heheh, ngelunjak nih pak Yudha." kata Kania tertawa kecil.
"Mas aja ngga apa-apa. Lebih akrab dengarnya." kata Yudha dengan tersenyum.
"Baiklah, maas Yudha." kata Kania dengan malu-malu.
"Hahah, terasa nyaman mendengarnya. Apa lagi kalau ..."
Kania hanya diam saja tidak menanggapi ucapan menggantung Yudha, dia menatap Yudha seklias lalu ikut tersenyum. Dalam hati dia juga senang bisa akrab dengan Yudha.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧