Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
78. Mengungkap Skandal Nathalie


__ADS_3

Setelah memastikan tentang kecelakaan dua tahun lalu, memang benar Nathalielah yang menenggor mobil truk milik ayahnya Kania. Karena ayahnya Kania tidak sadarkan diri pada waktu kejadian itu, Nathalie memanfaatkannya dan memerasnya.


Benar-benar licik Nathalie itu, memanfaatkan orang yang tidak tahu hukum dan mengancamnya juga. Yudha geram dengan kelakuan Nathalie itu, dia akan meminta Nathalie untuk mengembalikan uang yang pernah dia transfer dan memberi kompensasi pada Kania atas pemanfaatan Kania dengan tenaga sebagai asisten rumah tangga di rumahnya.


"Kita sudah mendapatkan bukti-buktinya, Heri?" tanya Yudha.


" Sudah pak, orang yang mengancam Nathalie dengan menyebarkan video asusilanya juga sudah saya temui dan menanyakan masalah Nathalie. Dan pak Yudha pasti kaget dengan jawaban dari laki-laki yang mengancam Nathalie ingin menyebarkan video tersebut." kata Heri.


"Apa kata laki-laki itu?" tanya Yudha penasaran.


"Ternyata dia sangat kesal pada Nathalie, selalu memakai jasa pemotretannya di setiap kali dia memposting kegiatannya sehari-hari di media sosial. Tapi tidak pernah di bayar, hanya sekali mereka melakukan asusila. Dan cerdiknya laki-laki itu memvideonya, karena dia tahu Nathalie tidak akan membayar semua hasil fotonya yang di posting di media sosialnya. Padahal, setiap kali posting dia dapat endors dari produk-produk yang dia posting itu." kata Heri.


"Ooh, jadi begitu. Ternyata dia licik juga ya. Lalu, bagaimana bisa laki-laki itu tidak meneruskan lagi ancamannya pada Nathalie?" tanya Yudha semakin penasaran.


"Dia juga di ancam balik sama anggota polisi, entah siapa dia." kata Heri.


"Itu anak buah kombes pol Derdi." kata Yudha.


"Pak Yudha tahu?"


"Tahu dari papanya temanku, dia pensiunan polisi yang berpangkat irjen. Dan punya teman yang masih bertugas di kepolisian, dan lumayan untuk menggertak Nathalie. Besok aku akan ketemu dengan jenderal polisi dengan papanya temanku itu. Dia sudah menyelidiki siapa kombes pol Derdi, dan ternyata semuanya yang terjadi pada Nathalie dia yang mengurus." kata Yudha.


"Waah, menarik sekali ini. Apa Nathalie tidam tahu kalau pak Yudha punya dekingan dari jenderal?" tanya Heri.


"Kemungkinan tidam tahu, karena aku meminta bantuan baru beberapa minggu lalu. Ketika aku di buntuti seseorang." ucap Yudha.


"Hemm, jadi kita harus bagaimana selanjutnya pak Yudha?" tanya Heri.


"Kumpulkan semua bukti, dan orang-orang yang pernah kita tanyakan sebagai saksi itu. Aku akan menemuinya nanti, dan mengancamnya. Aku ingin uangku kembali." kata Yudha.


"Eh, uang apa pak?" tanya Heri bingung.


"Uang yang pernah aku transfer pada Nathalie, untuk mengganti rugi atas kecelakaan palsu itu. Dia memeras ayahnya Kania, karena dia tidak punya uang sebanyak empat ratus juta. Maka Kania bekerja padanya dan sudah dua tahun, aku meminta Kania keluar dari rumah Nathalie. Tapi dia menghina Kania dan meminta ganti rugi, akhirnya aku yang menggantinya." kata Yudha.


"Lho, kok bisa?"


"Ya, karena aku ingin Kania lepas dari dia. Dan sekarang terbukti, kerugian itu hanya palsu dan menipu. Aku akan mengenakan pasal penipuan padanya nanti." kata Yudha lagi.


"Ck ck ck, dia benar-benar licik ya pak. Memang harus di ungkap masalah skandal dia itu, dan saya juga mendapatkan informasi kalau Nathalie punya hubungan gelap dengan seorang polisi itu." kata Heri.


"Ya, dia pacar simpanan kombes pol Derdi. Makanya semua skandalnya tertutup rapi karena kombes pol Derdi selalu menutupinya." kata Yudha lagi.


"Lalu, apakah kombes pol Derdi ini akan di panggil oleh jenderal polisi nantinya?" tanya Heri.

__ADS_1


"Ya, aku meminta pada om Dani kalau kombes pol itu di ancam. Semua kesalahan Nathalie harus di ungkap, kombes pol akan memilih apakah mempertahankan jabatannya atau memilih Nathalie. Pastinya dia akan memilih jabatannya, karena istrinya dan anaknya akan terkejut kenapa suaminya di turunkan jabatannya. Belum lagi nanti di pindah tugaskan di pelosok daerah. Itu semua hampir di takuti oleh kepolisian yang sudah berpangkat, meski memang harus di lakukan." kata Yudha lagi.


"Jadi seperti itu, Nathalie bukan hanya punya skandal itu saja, tapi dengan oknum polisi juga." kata Heri.


"Ya, dia melakukan itu untuk menutupi semua skandalnya. Banyak sekali, seperti pada fotografernya itu. Hanya di iming-imingi tidur dengannya, lalu mengancamnya dia bahkan diam sekarang. File video di serahkan pada Nathalie."


"Tapi katanya dia punya salinannya lho pak, aku bahkan di perlihatkan video tersebut. Tapi heran, dia tidak malu ya seperti itu." kata Heri.


"Orang tidak punya otak beres ya akan melakukan hal itu." kata Yudha dengan geram sekali.


Heri diam, dia memikirkan ada saja orang seperti itu di dunia ini. Memakai segala cara agar bisa selamat dan tidak tercemar nama baiknya. Tapi, serapat apa pun, pasti akan tercium juga keburukannya.


"Kamu siapkan dulu semuanya Heri, tunggu aku bertemu dengan jenderal polisi untuk memastikan kalau oknum polisi kombes pol Derdi sudah di beri peringatan. Nanti setelah itu aku ingin menemui Nathalie, kamu cari tahu jadwalnya juga." kata Yudha.


"Baik pak."


_


Yudha berada di perpustakaan, dia ingat jika di perpustakaan ini pasti ada orang yang melihat dan memperhatikannya bersama dengan Kania. Dia sudah mencari tahu siapa yang memata-matainya di kantor. Dan ternyata anak magang, dia di bayar Nathalie untuk memfoto Kania dan Yudha ketika sedang bersama.


"Kania." sapa Yudha.


"Eh, pak Yudha. Cari buku lagi?" tanya Kania.


"Cari kamu." jawab Yudha.


"Kita makan sama-sama yuk di kantin." ajak Yudha.


Kali ini, dia tidak akan menyembunyikan apa pun ketika menyukai Kania. Banyak yang tahu kalau Yudha sering menemui Kania dan sepertinya memang menyukainya, Yudha akan mengajak Kania makan siang. Tidak peduli orang-orang di kantor memperhatikan dan membicarakannya.


Dia sudah merasa tenang karena masalah Nathalie sebentar lagi akan dia selesaikan. Semua bukti sudah dia dapatkan, tinggal bantuan dari teman pak Dani di kepolisian.


"Di kantin?"


"Ya, kenapa? Kamu ngga suka?" tanya Yudha.


"Bukan begitu, nanti ada yang bergosip lagi." jawab Kania, Yudha tersenyum.


"Gosip tentang apa?" tanya Yudha lagi.


"Emm, di kira aku pacaran sama pak Yudha.


"Hahah, biarkan saja. Anggap saja gosip itu benar." jawab Yudha.

__ADS_1


"Tapi, aku malu pak." kata Kania.


"Tapi mau kan?" goda Yudha.


"Ish! Ya ngga begitu." kata Kania merasa malu, dia menunduk, pipinya memerah menahan malu.


"Sudahlah, jangan tanggapi gosip itu. Semuanta memang butuh pembicaraan, dan kebetulan yang jadi pembicaraan itu aku dan kamu. Jadi ayo kita ke kantin luar saja, di depan kantor kita makannnya." kata Yuha langsung menarik tangan Kania.


Dia tidak peduli kini orang-orang yang akan menggosipinya dengan Kania. Toh bukan Kania yang mendekatinya, tapi dirinya yang selalu datang pada Kania di perpustakaan. Jadi, bukan salah Kania. Tapi dia yang menyukai Kania.


Kania diam saja, dia malu sebenarnya. Tapi Yudha sepertinya tidak peduli dengan tanggapan orang-orang yang menatap mereka berdua.


"Jangan pikirkan omongan orang." kata Yudha ketika mereka berada di dalam lift.


"Aku hanya tidak mau nanti ada orang menguntitnya dan Nathalie tahu pak." kata Kania.


Dia menjaga diri agar Yudha juga tidak selalu di buntuti dan di teror terus. Karena dia mendengar dari karyawan lain kalau Yudha sering mendapat teror.


"Ooh, jadi kamu khawatir sama aku?" tanya Yudha.


"Ya, kan gara-gara aku juga pak Yudha sering di teror oleh Nathalie kan?"


"Tapi sebentar lagi skandal Nathalie akan aku bongkar. Jadi jangan takut lagi, apa lagi mengkhawatirkan aku. Aku hanya khawatir sama kamu Kania." kata Yudha.


"Aku tidak perlu di khawatirkan, Nathalie tidak berbuat apa-apa kok sama aku."


"Tetap saja, aku takut kamu jadi sasaran dia. Dan kamu belum ceritan tentang pertemuanmu dengan Nathalie." kata Yudha.


Kania diam, dia menatap Yudha sekilas. Karena Yudha menatapnya balik, membuat dia gugup. Yudha tersenyum, lalu mendekat dan berbisik padanya.


"Aku menyukaimu, Kania."


Lift terbuka, Yudha menarik tangan Kania gar cepat keluar. Sedangkan Kania masih diam, dia menatap Yudha dari samping, dadanya bergetar. Yudha menoleh dan tersenyum lalu menyentil dahi Kania.


Tik


"Kamu terpesona padaku?"


"Ish!"


"Hahah!"


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2