
"Saya terima nikah dan kawinnya Kania Senja binti bapak Duri dengan mas kawin uang sebesar dua juta di bayar tunai!" ucapan ijab kabul Yudha dengan lantang dan satu tarikan nafas membuat yang hadir kagum.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Saah!!"
Teriakan kata sah menggema di dalam masjid itu. Yudha sangat lega sekali, dia tersenyum dan menyalami mertuanya. Sedangkan Kania pun langsung keluar dari persembunyiannya. Dia di dandani dengan mak up sederhana, namun sangat cantik.
Dia duduk di sebelah Yudha, lalu keduanya menghadap penghulu mendengarkan apa yang di ucapkan oleh sang penghulu sebagai khotbah nikah. Setelah itu mereka pun menanda tangani surat nikah, lalu Kania menyalami tangan Yudha. Yudha mencium kepala Kania dengan lembut.
Setelah semua selesai, mereka yang hadir menyalami Yudha dan Kania sambil mengucapkan selamat pada kedua pengantin baru itu. David dan Nathan pun menghampiri Yudha, mereka menyalami dan memeluk Yudha mengucapkan selamat padanya.
"Selamat ya bro, lo sekarang sudah bukan duda lagi sama kayak gue." kata Nathan.
"Terima kasih, gue ngga menyangka dan juga merasa bersalah sama Jho dan Dion." kata Yudha.
"Ngga apa-apa." kata Nathan.
"Lo ngga merasa bersalah sama gue, Yudh?" kata David.
"Hahah! Gue minta maaf bro, gue yakin lo pasti bisa menaklukkan Milea." kata Yudha memberi semangat pada David yang menyukai gadis remaja, tidak seperti sahabat yang lainnya.
Tapi mereka menyadari satu hal, bahwa Lea membawa dampak positif pada David. Yang dulunya David itu kaku, tapi sekarang dia sering sekali banyak senyum dan tertawa.
Kini kedua mempelai ke rumah Kania, menerima ucapan selamat dari tetangga dan saudara yang hadir. Banyak yang mempertanyakan kenapa permikahannya sangat sederhana, dan Yudha menjawab akan ada resepsi di gedung yang sudah dia pesan di awal tahun ini.
Tuuut!
Suara dering telepon David berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Jho.
David tersenyum, dia pun menjawab telepon Jho.
"Halo?"
"Bro, lo di mana?" tanya Jho di seberang sana.
"Gue di tempat pernikahan Yudha." jawab David santai.
"Apa?! Yudha menikah hari ini? Gila! Kenapa gue ngga di kasih tahu?!" kata Jho mengumpat.
"Gue aja baru tahu dari Nathan." ucap David lagi.
"Sialan si Yudha, ternyata dia maksa juga ya, ck ck ck." umpat Jho di seberang sana.
"Gue juga kesal, tapi mau gimana lagi. Ya udah sih, biarin aja. Tinggal nanti kita kerjain aja dia nanti di Lombok." kata David mengusulkan.
"Benar juga. Oke, gue udah mendarat di bandara. Rencananya gue mau minta tolong lo jemput gue kalau ngga sibuk." kata Jho.
__ADS_1
"Iya nih, masih di tempat Yudha. Apa lo kemari aja? Gue kirim alamatnya."
"Oke, gue kesana sama Seruni." kata Jho.
Klik!
Sambungan telepon terputus, David mengirim alamat rumah Kania pada Jho. Setelah itu, dia pun ikut dalam rombongan Yudha ke rumah Kania. Hanya iring-iringan pengantin ke rumah Kania, karena masjid tempat ijab kabul tidak jauh dari rumah Kania. Jadi tidak perlu naik mobil.
"Lo telepon siapa tadi?" tanya Nathan.
"Jho, dia kusuru kemari." jawab David.
"Waaah, bakal perang lagi ini. Hahah!" kata Nathan.
"Ngga, kukira Jho tidak akan melakukan itu. Tapi nanti entah di Lombok." kata David dengan senyum mengembang.
Nathan mengerti maksud David. Mungkin mereka akan merencanakan sesuatu pada Yudha nanti, tapi entah apa. Mereka belum memikirkannya.
_
Saatnya liburan akhir tanun. Tanggal dua delapan sudah menyiapkan semuanya, mereka berangkat tanggal tiga puluh sore hari dan akan sampai di Lombok malam hari, karena transit di Bali. Ke Lombok menggunakan jalur darat saja. Menggunakan bis travel untuk memuat semua anggota genk duda beserta pasangannya.
Hanya Dion yang belum dapat kabar apakah dia ikut atau tidak. Agak susah di hubungi laki-laki itu, membuat keempat sahabat lainnya bingung dengan Dion.
"Kenapa Dion susah di hubungi ya." kata Nathan.
"Entahlah, coba gue hubungi lagi." kata Nathan.
Tuuut!
Tersambung, tapi belum di angkat. Nathan terus menghubungi Dion, mungkin dia berangkat langsung dari Makassar.
"Halo?"
"Lo ngga ikut liburan sama-sama?" tanya Nathan.
"Gue besok menyusul, ibu gue baru pulang dari rumah sakit. Mungkin bisa besok datangnya." kata Dion di seberang sana.
"Oh, oke. Kita semua sudah kumpul di bandara dan siap berangkat ke Lombok." kata Nathan lagi.
"Oke, ketemu besok d aja di Lombok." kata Dion.
"Siip.".
Klik!
Nathan menutup sambungan teleponnya, dia masukkan ke dalam saku jaketnya.
__ADS_1
"Gimana Dion?" tanya David.
"Ibunya baru pulang dari rumah sakit, besok katanya bisa menyusul." jawab Nathan.
"Kurang seru kalau kurang satu tuh." kata Jho.
"Ya, mau gimana lagi. Dion ibunya sering sakit-sakitan, jadi kita maklumi aja keadaannya. Gue pikir, apa sebaiknya kita tengok ibunya Dion aja ya ke Makassar?" kata Nathan.
"Waktu kita sesuaikan lagi dengan urusan kantor. Kan tidak bisa kita tinggalkan begitu saja pekerjaan kita di kantor." kata Yudha yang sejak tadi diam saja.
"Iya sih, gue akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan. Proyek di Pulau Seribu, pemilikinya minta pertengahan tahun ini harus rampung pembangunannya. Gue ngga tahu itu, pekerjaannya sangat kilat." kata David.
"Hemm, susah juga ya." ucap Yudha.
Mereka sudah berkumpul di bandara siap berangkat menuju bandara Ngurai Rai. Yang para pasangan masing-masing saling berkenalan. Mereka heran dengan Milea yang masih sangat muda, namun begitu tidak membuat dia canggung.
"Kamu berapa umurnya Milea?" tanya Seruni.
"Sembilan belas tahun kak." jawab Milea dengan ramah.
"Jadi baru lulus sekolah?" tanya Kania.
"Iya, kak."
"Kuliah juga?"
"Iya, om David yang nyuruh aku kuliah." jawab Milea lagi.
"Oh ya ya, masih muda harus mengejar pendidikan dulu. Tapi kalau sambil menikah juga ngga apa-apa sih." kali ini Nayra memimpali.
"Eh, menikah?" ucap Milea bingung.
"Oh, belum ya?"
"Belum apa kak." tanya Milea masih bingnug dengan ucapan Kania.
"Ngga kok, udah jangan di pikirkan." kata Nayra yang tahu akan rencana David nanti di Lombok.
Mereka akhirnya mengobrol dengan akrab, dan tak lama panggilan pada penumpang menuju bandara Ngurai Rai Bali. Dan mereka pun bergegas untuk segera masuk terminal pemberangkatan. Masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi masing-masing.
Milea duduk dengan David, dia merasa canggung duduk dekat dengan David. Padahal dulu tidak canggung, tapi kenapa sekarang malah canggung sekali?
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1